
Aku hanya menunggu dan terus menunggu. Kira-kira dua jam sampai akhirnya Ren menghampiri ku di kamar. Jujur saja, aku tidak tahu apa yang terjadi. Ren mengunciku di dalam kamar, aku bahkan tidak bisa mengakses pintu keluarnya. Aku bisa saja menyelinap keluar diam-diam. Tapi itu bukan hal yang baik bukan?
"Aku minta maaf..." kata Ren lirih. Dia meminta maaf atas semua perlakuan Lena. Lena tidak mungkin meminta maaf padaku. Jadi dia mewakilkannya. Dia merasa bersalah karena kelakuan Lena. Tapi dia tetap tidak bisa membunuh nya sejak gadis itu adalah anak dari sahabatnya. Dia juga memiliki janji kepada kedua pasangan suami istri itu untuk menjaga putri mereka saat mereka tidak ada, sejak dia mengakusisi ladang teh hitam itu. Mengusir nya adalah hukuman paling ringan, tapi dia juga tidak bisa memikirkan opsi lainnya.
"Tidak perlu..." kataku sambil tersenyum canggung. Ini pertama kalinya aku melihat Ren dengan wajah sedih seperti itu. Kelihatannya dia benar-benar syok dengan apa yang terjadi.
Dia tidak menduga bahwa Lena, gadis kecil yang sudah dia anggap adik dan dia lindungi akan melakukan hal seperti itu. Terutama terhadap orang-orang terdekatnya dan membunuh orang-orang tidak bersalah.
Ren juga menyalahkan dirinya. Lagipula Lena melakukan semua itu karena dirinya. Dia juga salah disini. Karena itu dia meminta maaf.
"Maaf..." Ren tetap meminta maaf sambil menunduk lesu. "Aku tidak bisa membunuhnya lagipula. Aku minta maaf karena hal itu. Aku juga minta maaf kepada semua orang yang meninggal karena dia..."
Pernyataan Ren sangat tidak terduga untukku! Dia meminta maaf karena dia tidak bisa membunuh Lena.
"Tidak masalah..."
Ren mengangkat kepalanya dan menatap Eva lekat-lekat. "Apa kau akan membenciku karena aku terlalu pilih kasih?"
"Tidak" aku menjawab sungguh-sungguh. "Aku tahu kau punya alasan sendiri untuk melakukan nya. Lagipula kalian sudah hidup bersama selama beberapa ratus tahun. Dan kalian sudah sangat dekat. Jangan menyalahkan dirimu sendiri."
"Terima kasih..." jawab Ren lirih.
Pembicaraan kami tentang Lena berhenti sampai disini. Lalu aku mulai memberitahu Ren, bahwa aku ingin kembali ke mansionku hari ini. Tapi Ren mencegahnya.
"Ada sesuatu yang ingin kutunjukan padamu. Jangan kembali dulu. Kau bisa kembali besok" Ren membujuk.
"Baiklah..." aku mengangguk setuju. Tapi aku menatap Ren dengan mata penasaran. Apa yang ingin dia tunjukkan padaku? Apa itu sesuatu yang penting?
"Aku akan menemuimu lagi nanti malam. Berisitirahat lah karena aku takut malam ini kau tidak bisa tidur" katanya dengan senyum mencurigakan. Sebelum akhirnya dia menghilang dari hadapanku.
Apa ini? Kenapa perasaan ku tidak enak? Seharusnya aku menolak ajakannya untuk menginap lebih lama bukan? Entah mengapa aku merasakan bahwa dia merencanakan sesuatu yang membahayakan. Apa aku lari saja?
__ADS_1
Tapi aku mengurungkan niatku untuk lari. Lagipula itu tidak sopan untuk melarikan diri tiba-tiba. Lagipula paling buruk, aku hanya harus bergadang lagi karena berhubungan dengan ide penelitian anehnya.
Begitulah yang kupikirkan...
Sampai malam pun tiba. Waktu berlalu begitu cepat. Ren pun menemuiku dan dia membawaku ke suatu tempat.
Ren membawaku ke tempat yang cukup aneh. Aku bahkan tidak tahu dimana ini karena aku hanya mengikuti nya untuk berteleportasi kemari.
Awalnya kami sampai di sebuah hutan. Hutan saat malam hari sangat gelap dan menyeramkan. Aku tidak terlalu menyukai suasana hutan di wilayah elf. Mereka memiliki suasana berbeda dari hutan yang biasanya aku kunjungi. Terasa lebih mengancam nyawa karena ada banyak sekali binatang sihir di tempat ini.
Kami menyusuri hutan beberapa langkah sampai akhirnya menemukan sebuah goa yang gelap dan suram. Suasana gua ini berbeda seratus delapan puluh derajat dari gua milik Damian. Gua ini benar-benar terlihat biasa, kotor dan tidak istimewa sama sekali. Seperti gua-gua yang biasanya kita temukan secara acak saat berjalan kaki.
Aku berjalan di belakang Ren dan menatap punggungnya dengan cemberut. Apa yang akan dilakukan pria ini di tempat aneh seperti ini? Apa dia akan menjadikan ku bahan percobaan lagi? Cih, benar-benar kejam.
Aku terus mencibir Ren dalam hati, sampai aku masuk ke dalam gua dan membeku sesaat. Gua itu tidak seburuk penampilan nya! Saat masuk, aku bisa melihat kristal-kristal cantik di dinding dan langit-langit gua. Semua kristal ini terlihat tidak asing. Tentu saja, ini adalah kristal sihir! Item yang digunakan sebagai pertukaran dengan raja Vien.
"Ren..."
Kami terus masuk ke dalam gua dengan diliputi seluruh kristal-kristal sihir. Semakin dalam kami masuk, semakin banyak kristal sihir yang terlihat. Sampai akhirnya kami melihat sebuah danau dengan patung singa di tengahnya. Patung singa itu bukan patung biasa tapi sebuah patung kristal yang sangat bening. Aku benar-benar terkejut dengan pemandangan ini. Lalu yang lebih mengejutkannya lagi seluruh danau terisi dengan kristal-kristal biru yang mengapung.
Ren tersenyum saat dia melihat wajah melongo Eva. "Aku tahu kau sangat tertarik dengan batu-batu ini bukan?" Ren tahu bahwa Eva sangat tertarik dengan kristal sihir sejak gadis itu menginginkan nya saat pertukaran itu. Vien belum mengirimkan kristal sihir mereka dan Ren tidak mau elf bau itu memberikan kesan pertama untuk Eva. Jadi dia berinisiatif melakukan nya lebih dulu.
"Jujur saja, aku mempunyai banyak sekali kristal sihir yang ditanam di tempat ini. Dan aku tidak tertarik untuk menggunakan nya demi hal lain, hanya kugunakan untuk penelitian ku saja" jawab Ren santai.
Setelah membeku beberapa saat, aku menatap Ren dengan sedih. "Kenapa kau tidak bilang kalau kau tidak butuh? Aku akan membarternya dengan barang lain..." kataku lirih. Kristal sihir yang didapatkan dari Vien tidak akan berguna untuk Ren. Aku merasa bersalah karena menjual penelitian Ren yang berharga itu secara sia-sia.
"Aku memang ingin memberikan semua kristal itu untukmu. Tapi kau tidak percaya padaku" Ren menggeleng kecewa. "Lagipula aku menerima tawarannya karena kau terlihat sangat antusias saat melihat kristal sihir ini. Aku akan memberikan semua kristal untukmu. Baik itu hasil penjualan robot ataupun dari gua ini. Karena aku punya stok yang sangat banyak" katanya dengan nada sedikit sombong.
Wajahku langsung berubah cemberut setelah mendengar pernyataan Ren yang sedikit sombong itu. Tapi pernyataan nya benar. Dia punya banyak sekali kristal sihir. Sekarang semuanya masuk akal kenapa dia bisa membuat banyak alat sihir aneh dengan kristal sihir sebagai intinya.
"Aku memang tertarik pada awalnya. Tapi setelah melihat bahwa mereka ada banyak sekali, aku kehilangan minatku tiba-tiba" kataku kesal.
__ADS_1
"Kau benar-benar tidak tertarik? Yakin?" Ren mencoba menggodaku.
Arghhh! Aku memukul dadanya tanpa sadar. "Apa aku terlihat serakah seperti itu? Apa aku terlihat matre?" gumamku tak percaya.
Ren tertawa terbahak-bahak. Menurut nya, reaksi Eva sangat lucu. Dia suka menggodanya. Dia masih ingat saat pertama kali dia membawanya ke rumah pohon dan membuat gadis kecil itu tidak tidur. Wajah kesal dan cemberut nya masih tergambar jelas dalam pikiran Ren. Hal itu sangat lucu.
"Aku tidak akan mengambil apapun. Aku hanya akan mengambil bayaranku" kataku tegas. Dari awal tujuanku hanya untuk menghias istana Ren yang tampak luas dan menggunakan beberapa kristal untuk pajangan di kamarku. Tapi sekarang aku benar-benar kehilangan minat sepenuhnya saat tahu bahwa barang itu tidak langka sama sekali.
"Baiklah" Ren menyerah. Dia tiba-tiba terbang melintasi danau, menuju ke patung singa mencolok itu. Dia mengambil batu kristal merah yang menjadi mata singa itu. Menyebabkan singa itu kehilangan satu matanya.
Batu itu berwarna merah cantik dan bentuknya juga sangat kecil. Ren kembali ke tempatnya dan menyerahkan batu itu secara paksa kepada Eva.
"Apa ini?" aku sudah mendapati batu itu ditanganku, karena Ren secara paksa memberikannya.
"Untukmu. Batu itu lebih spesial dari batu lainnya" kata Ren.
Aku tidak menolak, lagipula ini hanya satu batu. Aku menyimpannya di dalam ruang dimensi.
"Batu itu mengandung energi sihir yang besar. Kalau kau menggunakan nya pada alat sihir. Alat itu bisa bekerja selama beberapa puluh tahun tanpa kehilangan energi sihirnya" Ren menjelaskan.
Ah! Dalam sekejap aku mendapatkan sebuah ide untuk menggunakan batu kristal ini. Aku baru ingat bahwa aku pernah membuat golem tanah di masa lalu. Sekarang sihir bumiku sudah stabil, aku akan mencoba untuk membuatnya lagi. Dan menggunakan batu sihir ini sebagai jantung golem. Bukankah golem yang kubuat akan menjadi robot raksasa?
Hahaha! Aku memang pintar!
Setelah itu, kami tetap berada di gua itu untuk bersantai. Tempat ini sangat indah. Bahkan lebih indah dari dunia buatan dari Menara Sihir. Pemandangan yang ada disini sangat tidak nyata.
Tanpa sadar kami menghabiskan banyak waktu untuk duduk dan bercerita tentang kisah hidup kami masing-masing. Aku menceritakan masa kecilku. Tentang bagaimana aku berlatih saat tahu bahwa aku menguasai enam elemen dan juga sedikit petualangan ku, terutama saat di domain sihir. Tentu saja ada beberapa hal rahasia yang tidak kuceritakan, seperti bahwa aku mengingat kehidupan masa laluku dan dunia ini hanyalah novel. Kalau Ren mendengar nya, dia akan berpikir bahwa aku gila.
Ren juga menceritakan beberapa kejadian yang berkesan untuknya. Terutama pertemuannya dengan Lena dan juga Emily. Saat aku mendengar cerita Emily, aku benar-benar terharu. Bahkan hampir menangis. Dia gadis kecil yang menyedihkan. Kalau aku mengalami hal seperti itu, aku mungkin berpikir untuk bunuh diri juga karena depresi mental.
Kami menghabiskan waktu seperti itu. Ren benar. Aku tidak akan tidur malam ini. Saat kami selesai, matahari sudah terbit dan aku pun bersiap untuk kembali ke kerajaan Well.
__ADS_1
"Sampai jumpa di akademi" ini adalah kata-kata terakhir Ren sebelum dia mengirimku dengan lingkaran teleportasi nya.