
Cerita sebelumnya:
Hari semakin gelap dan mereka memutuskan untuk beristirahat. Eva tidur di tenda yang sama dengan Reina. Awalnya Eva kira, akan ada konflik, tapi ternyata tidak. Malam pun berlalu dengan damai dan dia bisa tidur dengan nyenyak.
Sampai keesokan harinya, secara mengejutkan Rexus melukai jari Reina. Lalu dia juga tahu bahwa Reina dengan licik menggunakan ramuan pada tubuhnya. Ramuan itu bisa menarik perhatian para binatang sihir.
Lalu ternyata Reina juga melapor kepada semua orang bahwa Rexus melukainya dan menyalahkanku. Walaupun tidak ada yang peduli tentang itu.
***
Kami pun melanjutkan perjalanan dan ternyata perjalanan mereka masih sangat panjang. Hampir tengah hari mereka terbang tapi belum sampai di tempat tujuan.
"Sudah dekat" Denis berkata, mencoba menghibur semua orang.
Aku tidak tahu itu benar atau tidak, karena hanya Denis yang tahu letak tempat itu. Hanya dia yang memegang peta rahasianya.
Tapi kurasa perkataan Denis benar, karena kami melihat sebuah reruntuhan bangunan besar di depan.
Aku menatap takjub pemandangan di depanku. Bangunan itu sangat besar, bahkan lebih besar dari istana kerajaan. Tapi sayangnya bangunan itu tidak utuh, sudah hancur menjadi reruntuhan. Walaupun masih ada beberapa tiang dan dinding yang berdiri kokoh. Tetap saja bangunan itu terlihat seperti reruntuhan.
Kelihatannya seperti bangunan besar itu dihancurkan oleh sesuatu yang dahsyat sehingga bisa menjadi reruntuhan seperti itu. Apa mungkin sekelompok binatang sihir menyerang nya?
Hmm...entahlah.
"Kita sampai" Kata Denis. "Peta itu hanya menunjukkan lokasi ini. Kita harus mencarinya sendiri sekarang."
"Apa yang kau cari? Apa itu sebuah artefak? Bagaimana bentuknya?" aku bertanya.
Denis membuka ruang dimensinya dan mengeluarkan sebuah gulungan perkamen. Lalu secara perlahan dia membuka perkamen itu di hadapan semua orang.
Ada gambar sebuah piala di perkamen itu.
"Itu adalah sebuah artefak berbentuk piala. Kalau kalian menemukan nya beritahu aku. Aku tidak peduli dengan harta lainnya, tapi aku harus mendapatkan artefak ini" kata Denis serius.
Kami hanya menatap satu sama lain, sebelum mengangguk kecil.
Kami pun bersiap-siap ingin masuk, tapi tiba-tiba sekelompok orang berjubah putih muncul di depan kami. Kami semua tersentak kaget.
__ADS_1
"Siapa kalian?!" teriak Denis dengan tatapan penuh curiga
"Yang Mulia. Tenanglah...um... aku kenal mereka" kata Reina tiba-tiba.
Kelompok berjubah putih itu berjumlah sekitar sepuluh orang. Mereka terlalu banyak.
Aku mengamati mereka, kelihatannya mereka sangat tidak asing.
Tunggu!
Bukankah itu Tim Jiwa Sihir!
Tapi bagaimana mungkin penatua mereka juga ada di tempat ini?!
"Akhirnya kami menemukanmu" kata ketua tim Jiwa Sihir itu -yang pernah dihajar Robert sebelumnya.
"Aku tidak tahu kalian akan benar-benar kemari..." kata Reina gugup.
"Bagaimana mungkin kami tidak kemari. Bukankah kau bilang ada banyak harta karun di tempat ini ahahaha" salah satu penatua mereka maju sambil tertawa. "Lagipula kami sudah memasang pelacak sihir di tubuhmu. Sangat mudah mengikuti mu. Tapi terima kasih. Memang banyak sekali harta di sini. Aku bisa merasakan nya" sambung nya lagi sambil menatap reruntuhan itu dengan mata serakah.
"Itu...itu..." wajah Reina mulai pucat.
"Yang Mulia...dengarkan dulu. Aku hanya ingin mereka membantu kita." jawab Reina yakin. "Tempat ini berbahaya. Semakin banyak orang yang membantu maka semakin aman"
"Tapi mereka orang asing! Kenapa kau sama sekali tidak bisa menjaga rahasia!" Denis benar-benar naik pitam kali ini. Pasalnya Denis merasa sangat waspada. Kesepuluh orang ini sangat kuat karena mereka bersama para penatua. Dan jumlah mereka lebih banyak. Jadi mereka akan sulit melawannya kalau terjadi pertengkaran. Yang membuat Denis lebih tidak nyaman adalah tatapan serakah mereka.
Dan semuanya terjadi karena gadis bodoh di samping nya!
"Yang Mulia, hiks....Jangan menyalahkanku. Mereka memang orang asing. Tapi mereka temanku. Percayalah mereka akan membantu kita...hiks" kata Reina sambil terisak pelan.
"Hei, jangan membentak seorang gadis seperti itu. Kami memang kemari untuk membantumu" ketua tim Jiwa Sihir itu maju membela Reina dan menatap Denis cemberut.
Denis menatap semua orang. Lalu dia menghela napas secara perlahan untuk menenangkan dirinya.
"Baiklah, ayo kita lanjut" katanya.
Semua orang langsung menyusul nya untuk memasuki reruntuhan.
__ADS_1
Sedari tadi aku hanya menyaksikan semua drama. Jujur saja membuat ku kaget saat tahu, Reina memanggil orang-orang ini. Aku kira Reina akan memanfaatkan kesempatan ini untuk berduaan dengan Denis. Ternyata aku salah.
Kami pun menyusul masuk ke dalam reruntuhan.
Jujur saja, reruntuhan itu tidak terasa spesial. Tapi ada banyak sekali ruang rahasia. Sehingga tanpa sadar kami harus terpisah menjadi beberapa kelompok.
Aku bersama Robert dan Sayn. Kami terpisah karena kelompok kami berada di posisi paling belakang. Aku tidak tahu dimana kelompok Denis dan juga Jiwa Sihir karena ruangan ini sangat remang-remang. Tapi aku tidak terlalu peduli dengan kelompok lainnya juga.
Lalu ada banyak jebakan juga di sini. Aku hampir beberapa kali terjebak oleh panah sihir atau tali sihir. Untung saja gerakanku cepat, ditambah kewaspadaan Robert dan Sayn yang selalu membantuku. Aku benar-benar beruntung dua orang ini ikut dengan ku.
"Masta, apa benar ada harta karun di tempat ini?" aku bertanya, karena kali ini Robert yang menjadi pemimpin jalan.
"Aku tidak yakin. Tapi aura tempat ini terasa aneh dan mistis. Kita pasti akan menemukan beberapa" jawab Robert.
"Tunggu sebentar. Aku menemukan ruang rahasia lagi" Sayn tiba-tiba berkata.
Kami langsung berhenti.
Sayn mengetuk lantai dengan kakinya. "Ruangannya ada di bawah"
"Hancurkan?"
Plak! Jentikkan Robert langsung mengarah ke keningku. "Dasar otak otot. tidak heran kau suka menghancurkan barang. pikir dengan kepalamu, kalau ada pintu rahasia pasti ada kunci rahasia juga."
Aku merasa kesal karena Robert selalu menjitakku dan bahkan dia menghina ku sekarang!
"Jangan anggap aku bodoh. Aku menyarankan itu hanya karena ingin mencari jalan pintas saja. Aku tidak bodoh oke" aku membela diriku. Aku memang tidak bodoh! Hanya saja aku berpikir lebih mudah kalau langsung dihancurkan, daripada mencari kunci lagi.
"Baiklah, baiklah, mastermu ini lebih bodoh" kata Robert dengan senyum mengejek.
Mulutku berkedut. Kalau saja status orang ini bukan masterku, aku mungkin akan menarik rambut nya karena kesal.
BRAK...
Lantai di bawah kami tiba-tiba bergerak. Sayn sudah menemukan kunci nya saat aku dan Robert saling berdebat tadi.
Sayn menatapku "Orang bodoh". Lalu dia menatap Robert "Kekanak-kanakan, tidak tahu umur"
__ADS_1
Dalam sekejap bocah itu membuat dua orang menjadi musuhnya. Walaupun aku dan Robert hanya bisa menahan kekesalan kita dan memutuskan untuk masuk ke dalam ruang rahasia itu.