Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Evan


__ADS_3

Cerita Sebelumnya:


Eva mengajak Vivian untuk tinggal di rumahnya selama liburan. Ini semua untuk keamanan Vivian setelah semua hal yang terjadi. Lebih baik kalau mereka tinggal bersama-sama. Vivian pun setuju.


Saat Vivian sampai di mansion, Duke dan Diana menyambut mereka Dengan antusias. Terutama Diana. Karena ini pertama kalinya mereka melihat Eva membawa sahabat perempuan nya ke rumah.


***


Setelah makan malam, aku memberitahu Vivian bahwa aku akan kembali ke kamar ku untuk mandi dan berganti pakaian. Aku juga memberitahu nya bahwa aku mempunyai beberapa urusan yang harus diselesaikan. Terutama aku harus memberitahu Diana tentang Lingkaran Sihir dan juga perjalanan ke Istana elf gelap untuk menemui Emerta. Sehingga dia mungkin akan kembali cukup larut ke kamar Vivian untuk tidur bersama.


Vivian mengangguk setuju setelah mendengar semuanya. "Aku akan menunggumu" dia tersenyum cerah.


Aku pun kembali ke kamarku untuk mandi dan memakai piyama. Setelah itu, aku langsung menuju ke kamar Duke dan Diana.


Saat aku masuk, aku tidak melihat keberadaan Duke. Hanya ada Diana seorang diri, yang sangat sibuk dengan tempat tidur bayi miliknya. Kelihatannya dia sedang sibuk mengurus Evan.


"Um? Eva, ada apa?" Diana langsung menyadari keberadaan Eva saat pintu kamar terbuka.


"Apa Evan sudah tidur?" aku bertanya sambil memanjang kan kepalaku untuk melihat ke arah tempat tidur bayi.


Evan langsung melihat ku dengan mata lebarnya yang imut. Lalu dia mulai mengarahkan tangan ke atas dan bergumam "Caca~"


Ah, imutnya~


Dia seperti malaikat.


"Dia sangat aktif. Tidak mungkin dia tertidur seawal ini" kata Diana pasrah. Dia melihat Evan dengan mata melankolis. "Tapi tentu saja Evan tidak seaktif dirimu saat masih kecil ~ Aku bahkan bingung bahwa kau seorang wanita~" kata Diana kemudian sambil menatap Eva dengan tatapan jahil.


Aku tersenyum canggung. Saat masih bayi, aku sama sekali tidak mempunyai pikiran seperti bayi. Aku mulai tertarik pada sihir dan mulai menjadi pencandu sihir. Ditambah Duke sudah melatihku sejak aku masih kecil.


Masa kecilku bisa dibilang penuh dengan pelatihan. Tidak seperti gadis bangsawan lainnya yang menghabiskan waktu mereka untuk bermain, menikmati hal-hal lucu dan indah, lalu memakan makanan manis.

__ADS_1


Tapi bukan berarti masa kecilku buruk. Aku menyukai masa kecilku. Aku bahkan tidak kekurangan mainan ataupun makanan. Jadi aku tidak mempermasalahkan semua hal itu.


Hanya ada satu kekurangan. Aku tidak suka menghadiri pesta teh yang dilaksanakan oleh bangsawan lain nya. Sehingga aku benar-benar tidak bergaul dengan mereka dan tidak mendapatkan satu teman pun sampai aku belajar di akademi. Mungkin karena itulah rumor buruk tentang ku juga menyebar dengan cepat dan semua orang mempercayai nya. Mereka berpikir rumor itu benar karena aku memang jarang terlihat di pesta-pesta bangsawan.


Tapi, aku tidak terlalu memikirkan masalah ini karena sudah terlambat juga untuk mempermasalahkan masa lalu.


"Mahluk ini sangat imut. Aku ragu dia seorang manusia. Mungkin dia seorang malaikat~" aku menatap Evan dengan kagum. Lalu menyodok pipinya dengan jari telunjukku.


Eva merespon ku dengan mengeluarkan suara cadelnya yang imut "Ca~"


Lalu dia mulai menyentuh jariku dengan kedua tangannya. Tangannya sangat lembut dan rapuh. Seakan-akan aku bisa menghancurkan nya dengan mudah kalau aku memegang nya terlalu keras. Aku harus berhati-hati agar tidak melakukan hal itu.


Evan memiliki penampilan yang berbeda denganku. Kalau aku memiliki penampilan dominan seperti duke, yaitu mata biru dan rambut emas. Maka Evan memiliki penampilan dominan seperti Diana.


Dia memiliki rambut coklat yang sangat lembut. Matanya berwarna biru, sama seperti mataku dan Duke. Bentuk wajahnya bulat seperti Diana, tidak seperti duke -yang memiliki rahang tajam.


Mungkin di masa depan dia akan menjadi pria imut daripada menjadi pria yang dingin seperti Duke. Karena aku tidak bisa membayangkan wajah seimut itu memasang ekspresi galak seperti yang Duke lakukan.


"Kelihatannya dia sangat menyukaimu daripada aku" kata Diana kemudian.


"Eh?"


"Aku menghitung beberapa kali dia memanggil mu. Dia sudah memanggil mu kakak sebanyak lima kali. Saat bersamaku dia hanya memanggil ku sekali" jelas Diana dengan nada kecewa.


Evan memang beberapa kali memanggil ku dengan suara cadelnya. Walaupun aku tidak menghitung nya. "Aku juga menyukaimu malaikat kecilku~" kataku bahagia sambil menyentuh hidung mungilnya. Awalnya aku mengira dia akan terganggu dengan sentuhan ku, tapi bayi itu tertawa bahagia. Hal itu membuat hatiku langsung berbunga-bunga.


"Ah! Aku kemari ingin memberitahu mu sesuatu" akhirnya aku mengingat kembali tujuan awalku.


"Apa yang kau ingin bicarakan?"


"Ini tentang Ren, kastil dan nenek..."

__ADS_1


Aku pun mulai menceritakan bagaimana aku menemukan lingkaran sihir transportasi di dalam rumah pohon. Serta memberitahu Diana bahwa Ren sudah mengizinkan kami untuk menggunakan nya.


"Jadi bagaimana? Apa kita bisa pergi ke kastil elf saat liburan sekolah?" aku bertanya dengan antusias.


Diana mengangguk lembut. "Tentu saja. kita akan pergi. Aku sudah lama tidak bertemu dengan wanita itu. Aku sangat merindukan nya" kata Diana dengan nada melankolis.


"Baiklah. Aku akan menghubungi Ren nanti"


Aku bermain dengan Evan selama beberapa saat sampai bayi itu mengantuk. Lalu aku mulai keluar dari kamar Diana untuk kembali ke kamar Vivian.


"Kau terlihat sangat senang" kata Vivian kemudian. Gadis itu sudah berbaring nyaman di atas tempat tidur dengan selimut di atas tubuh nya. Dia sedang membaca sebuah buku sihir.


"Tentu saja. Aku tidak menyangka Evan akan seimut itu" jawabku bahagia sambil melompat ke atas kasur.


"Enaknya. Aku juga ingin punya adik" kata Vivian.


Bagaimana bisa Vivian mengatakan hal seperti itu dengan ekspresi datar? Aku tidak berani mengatakan apapun sekarang. Pasalnya Ibu Vivian sudah meninggal. Dia tidak akan bisa mempunyai adik. Itu adalah hal yang menyedihkan.


Kalau dipikir-pikir Eva juga tidak mempunyai adik di kehidupan masa lalu nya. Saat itu Evan tidak lahir karena kondisi tubuh Diana tidak sehat karena penyakit. Tapi sampai sekarang aku masih bisa melihat bahwa Diana baik-baik saja. Walaupun kondisi tubuhnya lemah, dia tidak memiliki penyakit apapun. Aku jadi bingung, apa alasan Diana menjadi sakit di kehidupan sebelumnya?


"Eva, kapan kau akan pergi liburan?" Vivian merubah topiknya. Dia menutup buku yang dibacanya dan memasukkan nya kembali ke dalam ruang dimensi.


Lamunanku pun buyar. "Aku tidak tahu. Tapi mungkin dua atau tiga hari lagi?" aku menjawab dengan nada tidak yakin. Aku perlu memberitahu Ren lebih dulu, karena orang itu adalah tuan rumahnya.


Mata Vivian membesar. "Kalau begitu, kita bisa menghabiskan waktu bersama bukan?"


"Tentu saja. Apa yang ingin kau lakukan? Jalan-jalan? Belanja?"


"Aku sudah bosan dengan semua hal itu" Vivian menggeleng kan kepalanya. Lalu dia meletakkan kedua tangannya di bahu Eva. "Ayo kita memasak bersama!" teriaknya kemudian.


Ini adalah sesuatu yang tidak terduga. Siapa yang mengira bahwa Vivian akan mengajaknya untuk memasak...

__ADS_1


__ADS_2