
Cerita sebelumnya:
Para elf cahaya datang menganggu Damian karena menginginkan pusaka naganya. Yang memimpin mereka adalah seorang putri kecil raja bernama Caca.
Eva mengingat bahwa Caca adalah karakter tambahan di dalam novel. Caca berteman baik dengan Reina saat itu. Caca juga membantu Reina menyingkirkan Lena dengan mengirim semua bukti kejahatan Lena pada Ren.
Eva tidak menyangka akan bertemu dengannya. Caca, gadis kecil elf itu sibuk memprovokasi Damian. Eva mengira bahwa Damian akan marah dan terjadilah pertarungan menegangkan.
Tapi hal itu tidak terjadi. Damian melemaskan tubuhnya, kembali ke posisi tidurnya yang nyaman. Lalu dia meminta Eva dan Fram untuk menyingkirkan para elf yang menganggu itu.
***
Apa-apaan?....
Damian sudah melipat tubuh nya dengan nyaman dan naga itu benar-benar tertidur lelap setelah memerintahkan kami seperti itu.
"Hei! Kenapa kau mengabaikan ku!" Caca marah karena dia diabaikan. Naga itu bahkan kembali tidur, tidak menganggap nya sama sekali.
"Aku terganggu dengan teriakannya. Singkirkan" Damian membuka mulutnya pelan. Sebelum benar-benar tertidur pulas.
"Putri... bisakah kita berbicara sebentar?" aku menatap Caca, berharap bahwa gadis kecil ini akan menurut dan tidak melakukan hal yang absurd.
Tentu saja hal itu tidak akan terjadi. "Apa hak mu berbicara denganku manusia?" Caca memandang nya dengan tatapan jijik.
Baiklah, karena dia seorang manusia, dia benar-benar di diskriminasi di wilayah Elf. Aku tidak bisa memprotes apapun tentang ketidak adilan ini, hiks.
Caca sudah bersiap untuk berteriak lagi. Tapi aku langsung menghentikan nya. Aku dengan cepat menggunakan sihir anginku, membentuk angin topan raksasa dan mengusir sekelompok elf itu keluar goa.
"Hei, apa yang kau lakukan?!" aku bisa mendengar teriakan Caca, tapi aku mengabaikan nya.
"Damian sudah tidur, ayo pulang" kataku kemudian sambil menatap Fram dan Rexus. Rexus masih bersama ku untuk saat ini. Dia akan memulai pelatihan nya setelah aku kembali ke Kano.
Mereka mengangguk setuju. Rexus dengan cepat kembali ke tempat tidur kecilnya di dalam tas rotan milikku. Sementara aku dan Fram berjalan dengan santai, keluar dari goa.
Saat kami sampai di pintu masuk, sekelompok elf bersenjata mengepung kami.
Caca melihat kami dengan wajah marah. "Kalian, mahluk rendahan, berani memperlakukan ku seperti itu!" dia menggertakkan giginya marah setelah melihat kami.
Karena terbawa angin tiba-tiba, penampilan Caca sangat berantakan sekarang. Rambut merah nya yang panjang menjadi acak-acakan dengan beberapa helai rumput di kepalanya. Hal yang sama juga terjadi dengan elf lainnya.
Para prajurit elf sudah bersiap dengan senjata mereka dan mengepung kami.
"Bisakah kita menyelesaikan semuanya dengan damai?" aku bertanya. Aku tidak ingin bertarung. Dan bagaimana aku bisa melukai gadis yang bahkan lebih kecil dariku.
"Tidak!" Caca langsung menolaknya. "Kalian sudah mempermalukan kami! Aku tidak akan memaafkannya!" katanya. Semua prajurit elf juga menganggukkan kepala mereka setuju.
Haa~ aku menghela napas pasrah. Baiklah, kalau mereka ingin bertarung, mau bagaimana lagi. Kira-kira sudah berapa lama aku tidak menggunakan sihirku? jujur saja, tangan ku juga gatal sekarang.
"Fram, kau urus gadis kecil itu" aku tidak ingin bertarung dengan Caca. Bukannya aku meremehkan nya. Hanya saja bertarung dengan gadis kecil membuat ku tidak nyaman. "Aku akan mengurus para prajurit"
Fram mengangguk. Mereka saling percaya satu sama lain dengan kekuatan mereka. Eva yakin bahwa Fram cukup kuat. Dan Fram yakin Eva bisa menghadapi para elf itu.
Pertarungan pun terjadi tanpa aba-aba apapun. awalnya, hanya para prajurit yang maju ke arah kami, sementara sang putri masih berada di posisi belakang.
__ADS_1
Fram langsung menuju ke arah Caca yang berada di barisan belakang. Sementara aku langsung mengaktifkan sihirku untuk menghalangi para prajurit.
Ada lima belas prajurit elf. Sepuluh dari mereka menggunakan pedang. Lima orang lainnya menggunakan tongkat sihir.
Aku menggunakan sihir tanah untuk membuat formasi mereka kacau. Lalu aku mulai menggunakan sihir pada tubuhku.
Shesh! Shesh! Shesh!
Dengan gerakan cepat aku melintas di antara prajurit dan memotong pedang mereka dengan belati sihirku. Pedang para elf itu terasa seperti roti saat aku memotong nya. Belati ini benar-benar sangat tajam.
Lima elf penyihir langsung mengaktifkan sihir mereka. Aku bisa melihat sebuah penghalang menyelimuti ku.
Sepuluh elf yang menggunakan pedang itu mundur dan mengeluarkan senjata cadangan lainnya. Itu adalah panah.
Penghalang menghilang dan puluhan panah mengarah ke arahku.
Zash!
Aku melambaikan tangan ku. Dengan sihir angin yang kencang aku memblokir semua panahnya. Panahnya berhenti di udara dan terjatuh.
Ini sangat menyenangkan. Entah mengapa sekarang aku sangat menikmati pertempuran. Di masa lalu, aku hanya bisa berdiri di tempat dan menggunakan sihir tingkat tinggi untuk menghancurkan lawan. Tapi sekarang aku bisa menggerakkan tubuh ku dengan bebas seperti petarung dan juga menggunakan sihirku.
Pantas saja pendekar sihir sangat populer. Cara bertarung seperti ini lebih menyenangkan daripada harus mengcasting sihir dari jarak jauh.
Aku tidak akan menggunakan sihir tingkat tinggi untuk melawan para prajurit elf ini karena aku ingin melatih tubuh ku. Aku akan menggunakan belati dan juga sihir-sihir dasar. Sangat menyenangkan, seakan-akan aku berada dalam kelas pelatihan pertarungan.
Aku langsung bergerak menuju ke arah elf yang menggunakan tongkat sihir. panah di lemparkan lagi, kali ini panah yang berbeda berbeda. Aku bisa melihat ujung panah bercahaya dengan sinar keperakan. Ini adalah panah sihir! Sihir anginku bahkan tidak mempan untuk membuat panah-panah itu goyah.
Puluhan panah itu hanya berjarak beberapa senti dariku. Aku langsung menggunakan artefak pelindung untuk melindungi diriku. Aku berusaha menghindar dengan pelindung itu. Suara gesekan panah dan pelindung terdengar.
CRANG!
CRANG!
Pelindung kedua mulai pecah, tapi kekuatan panah itu melemah. Dan tidak mampu merusak pelindung ketiga.
Dengan senyum penuh kemenangan aku maju ke arah elf dengan tongkat sihir, lalu memotong tongkat sihir mereka dengan belati. Karena gerakanku sangat cepat, kelima elf penyihir itu bingung saat senjata mereka hancur.
Aku memanfaatkan kesempatan ini dengan memukul mereka satu per satu. Tubuh mereka terpental ke belakang dan jatuh ke tanah.
Uwoh! Kekuatan fisikku meningkat! Walaupun ini bukan kekuatan fisik sebenarnya karena aku meningkatkan nya dengan sihir, tetap saja aku takjub. seberapa baik kekuatan fisikku saat ini?
Panah Sihir terlempar lagi ke arahku. Tapi aku tidak menggunakan sihir pelindung lagi kali ini. Aku langsung maju dan memotong panah yang mendekati ku satu per satu dengan belati sihir.
Ada sepuluh orang di depan. Mereka adalah mangsaku. Mereka panik saat sadar panah mereka tidak berguna. Aku pun langsung memukul dan menendang mereka di bagian leher dan perut. Mereka langsung pingsan di tempat.
Oke, pertarungan nya berakhir dengan cepat. Ini hanya menghabiskan waktu sekitar lima menit? Pertarungan nya terasa sebentar karena lawannya terlalu lemah. Yah, mau bagaimana lagi. Mereka hanya prajurit biasa. Kekuatan seperti apa yang harus kuharapkan dari prajurit biasa?
Aku melihat ke sisi lainnya, Fram masih bertarung dengan Caca. Aku tidak akan mengganggu mereka. Lagipula kelihatannya Fram akan menang.
Aku mengambil alas kain dari ruang dimensi, meletakkan nya ke tanah. Lalu duduk di atasnya. Aku juga mengeluarkan sekantong daging kering. Sambil sesekali makan, aku memperhatikan pertarungan Fram dan Caca.
Pertarungan mereka sangat lucu. Seperti melihat dua orang anak kecil yang sedang bermain lemparan bola sihir.
__ADS_1
***
Fram berlari ke arah Caca. Caca menyadari itu , langsung membuat pelindung dan mundur. Tidak seperti Reina, yang hanya bisa menggunakan sihir cahaya untuk menyembuhkan. Sebagian besar elf cahaya menggunakan sihir cahaya mereka untuk menyerang. Bahkan pengguna sihir penyembuhan sangat langka karena sulit dipelajari. Karena itulah Reina sangat dihormati saat dia datang ke kerajaan elf cahaya.
"Apa yang kau lakukan? Berani sekali kau menyerang putri ini diam-diam" Caca menyuarakan protesnya.
"Humph!" Fram tidak peduli. Dia menggunakan sihir gelap nya untuk menyerang. Dia melempar kan peluru mana ke arah Caca. Peluru mana itu mengenai pelindung yang Caca buat.
Caca berusaha menghindar karena pelindung nya akan rusak. Dia menghindar sambil melemparkan serangan balik. Itu adalah sihir cahaya yang sangat aneh. Sihir itu tidak memiliki kekuatan serangan. Tapi saat sihir dilemparkan, pandangan menyilaukan menyelimuti Fram. Sehingga Fram menyipit kan matanya karena tidak bisa melihat apapun di depan.
Caca memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang Fram dari belakang. Tapi Fram menyadari serangannya. Dia dengan mudah menyambar pergelangan tangan Caca dan melemparkan tubuhnya ke tanah. Walaupun tubuh Caca lebih tinggi beberapa sentimeter dari Fram, tubuhnya lebih ringan karena dia seorang gadis. Jadi Caca benar-benar terjatuh dengan menyedihkan.
"Menyerahlah" kata Fram. Mata mereka bertatapan.
"Tidak akan!" Caca menatap tegas Fram. Dia mengigit tangan Fram. Refleks, Fram melepaskan pegangannya. Caca langsung melompat mundur dan menyerang Fram dengan sihirnya.
Saat itulah kedua anak itu saling melempar kan sihir mereka, menyerang dan menghindar sampai mereka kehabisan napas.
"Sudah cukup" Fram mengigit bibir nya. Dia mengeluarkan sihir terkuat nya. Ini adalah salah satu sihir tingkat tinggi yang dia pelajari.
Sihir hitam yang dia keluarkan membentuk panah raksasa. Dan Fram mengarah kan panah raksasa itu pada Caca.
"Eh?" Caca membeku saat panah itu mengarah ke arahnya. Dia hanyalah seorang putri yang dimanja sejak dia masih kecil. Walaupun dia berbakat, dia tidak memiliki pengalaman untuk bertarung sama sekali. Ini adalah pengalaman pertamanya. Jadi dia benar-benar membeku ketakutan saat panah raksasa itu akan mengenainya.
Dia memejamkan matanya pasrah, hampir menangis. "Ayah..." dia bergumam kecil dengan air mata yang mengalir di pipinya.
BOM!
Panah sihir Fram berhasil melululantahkan hutan. Tapi anehnya Caca tidak merasakan sakit di tubuhnya sama sekali.
Caca perlahan membuka matanya dan melihat sesorang memegang pinggangnya. Itu adalah Fram!
Fram menyelamatkan nya di saat-saat terakhir. Sebenarnya Fram juga cukup terkejut saat melihat Caca tidak menghindar sama sekali.
"Dasar bodoh!" Fram membentak Caca dengan wajah memerah marah. "Bukankah kau punya jimat pelindung dan semacamnya untuk melarikan diri? Kenapa kau tidak menggunakan nya!" kata Fram frustasi saat melihat gadis elf bodoh ini.
Caca masih tercengang. "Aku punya..." dia menjawab dengan canggung. Ayahnya memberikan banyak sekali artefak dan jimat pelindung. Tapi dia tidak bisa menggunakan nya karena dia terlalu gugup dan tubuhnya membeku saat itu.
Saat Caca merasakan sentuhan dari tangan Fram, entah mengapa dia merasakan jantungnya berdetak kencang. "Maafkan aku..." katanya dengan wajah memerah malu.
Fram mengira dia akan mendapatkan bentakan dan teriakan lagi. Tapi gadis elf ini meminta maaf padanya? Fram melepaskan pegangannya dengan wajah canggung. "Pergilah. Eva sudah mengalahkan semua prajurit mu. Aku akan membiarkanmu pergi kali ini" Kata Fram acuh.
Saat Fram akan pergi, Caca menahannya dengan menarik celana Fram. Lalu saat mereka bertatapan, Caca membuka mulutnya dengan bibir gemetar. "aku menyukaimu" katanya malu-malu.
Fram melonggo dengan mulut terbuka. Dia merasa seperti petir menyambarnya.
Uhuk! Uhuk!
Aku bahkan tersedak saat mendengar nya. Astaga! Plot apa-apaan ini? Aku tidak ingat putri elf, Caca mempunyai orang yang dia suka saat itu!
Fram merinding ngeri. Dia melepaskan pegangannya Caca di celananya "Tidak" dia menolaknya langsung, membuat wajah Caca langsung memucat.
Fram dengan cepat menghampiri Eva. Dia mengatakan pada Eva bahwa dia ingin cepat-cepat kembali sekarang. Mereka pun terbangun menjauh, meninggalkan Caca yang sedang terduduk mneyedihkan dengan semua prajurit yang tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Caca mengengam erat gaunnya yang kotor. Dia melihat ke arah Fram yang melarikan diri dengan tatapan benci. Ini adalah penolakan pertama dalam hidupnya. Ini adalah hal yang sangat memalukan untuknya.
"Lihat saja! Aku akan melaporkan semuanya pada ayahku! Kau tidak akan bisa lolos dari tanganku!" katanya penuh tekad. Dia tidak akan kalah. Dia tidak terima bahwa dia sudah ditolak.