
Cerita sebelumnya:
Pertarungan antara Duke Court dan Jendral besar kerajaan juga berlangsung dengan intens. Saat itu keduanya langsung berhadapan satu sama lain dan Duke Court berhasil menekan sang Jendral. Tetapi Reinell tiba-tiba muncul dan berpihak kepada jendral untuk menekan Duke.
***
Reinell mengeluarkan bola-bola cahaya aneh dari tangannya. Bola-bola cahaya itu menyerang ke arah Duke.
Duke menggunakan alat sihir pertahanan dan mencoba menangkis sihir itu dengan pedangnya. Tapi anehnya, bola-bola cahaya itu tidak bisa ditangkis. Dan terasa seperti udara
Dengan mudahnya benda itu melewati pedang dan penghalang sihir milik Duke. Lalu mulai mengenai tubuhnya. Duke panik saat sihir itu mengenai tubuhnya dan dia merasa hangat saat sihir itu menyentuhnya.
"?" Duke bingung. Bola-bola cahaya itu menghilang. Dan dia tidak merasakan efek apapun.
Reinell melakukan hal yang sama ke beberapa orang. Membuat semua orang bingung dengan apa yang dia lakukan.
Lalu tak lama, Duke merasa bahwa tubuhnya sangat panas. Kemudian rasa sakit muncul dan dia muntah darah. Beberapa orang juga sama, bahkan ada yang langsung tumbang di tempat.
"Sihir cahaya bisa memanipulasi tubuh manusia. Itu tidak hanya bisa menyembuhkan, tapi juga membunuh" kata Reinell sambil tersenyum.
Duke masih berusaha menompang tubuhnya walaupun dia melihat para prajurit di sekitarnya sudah mulai berguguran. Lalu dia melihat semua musuhnya dengan mata merah.
Dia tidak akan menyerah. Dia tidak akan menyerah sampai dia berhasil melihat Diana dan putrinya keluar dari tempat ini dengan selamat. Walaupun harus mengorbankan nyawanya!
Pasukan prajurit silver itu mulai menyerang pasukan Duke yang melemah. Membuat banyak orang gugur satu persatu.
"Ini kesempatanmu. Kau bisa mengakhirinya dan mendapatkan kehormatan karena berhasil memenggal kepala musuh" Reinell menatap jenderal besar.
Pria tua itu ragu. Dia tidak suka menghabisi lawan yang sudah melemah ataupun terluka. Dia lebih suka menghabisi lawannya dengan duel yang adil. Apalagi dia sangat menghormati sang Dewa Perang, Duke Court.
Melihat Jenderal besar yang ragu, Reinell menghela napas. Dia memutar tombaknya. "Karena kau tidak mau, biar aku yang bertindak" katanya sambil maju untuk menyerang.
Tapi sebuah tekanan angin yang sangat kuat menyerangnya dari depan, membuatnya terlempar ke belakang.
"Siapa kau?" Ren tiba-tiba muncul dari atas bersama dengan yang lainnya. Ren benar-benar merasa bahwa penampilan Reinell membuatku merasa nostalgia. Tapi dia tidak tahu apa itu.
Eva langsung memegang ayahnya yang hampir tumbang dan menyembuhkan nya dengan sihir miliknya.
__ADS_1
"Ayah kau tidak apa-apa? Kenapa kau tidak minum ramuan penyembuh sama sekali" kata Eva cepat. Dia merasa khawatir.
"Aku tidak apa-apa" jawab Duke lemah. Sebenarnya dia memberikan semua ramuannya kepada para prajurit dan dia bahkan tidak menyimpan untuk dirinya sendiri. Dia merasa bersalah karena melibatkan orang-orang itu untuk kepentingan nya sendiri dan dia merasa terharu melihat mereka semua yang masih ingin mengikutinya walaupun jabatannya sudah tidak ada. Jadi Duke ingin memastikan keselamatan semua orang yang utama daripada keselamatannya sendiri.
Dia bisa melihat Diana yang tidak sadarkan diri di pelukan Emerta. Belum sempat Duke bertanya, Emerta langsung memotongnya. "Diana baik-baik saja"
Duke merasa lega setelah mendengarnya dan dia tersenyum kecil.
"Mundur!" Dia langsung memerintah semua orang. "Kita pergi dari tempat ini" katanya.
Tapi tentu saja, musuhnya tidak mengizinkannya untuk mundur. Duke merasa sangat prihatin melihat beberapa prajuritnya terluka. Dia bahkan merasa sedih saat melihat prajurit yang meninggal di tempat.
"Aku mengaku kalah, kami menyerah" dia menatap Jenderal besar dengan tatapan serius. "Mulai sekarang, aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di kerajaan ini lagi. Aku bersumpah!" katanya lantang. "Jadi biarkan kami semua pergi"
Jenderal besar merasa bahwa ada sesuatu yang aneh di hatinya saat mendengar perkataan Duke. Dia merasa sedikit sedih dan menyesal walar dia tidak tahu kenapa. Yang pastinya dia merasa bahwa kerajaan Well sudah kehilangan orang yang penting saat ini.
Jenderal ingin membiarkan Duke pergi. Lagipula perang saudara ini benar-benar tidak menguntungkan untuk mereka. Dengan kerajaan Kano yang mengawasi mereka dari kegelapan dan siap menyerang kapan saja.
Jenderal belum sempat mengatakan apapun. Reinell sudah maju menyerang dengan gegabah.
Lalu dia mengeluarkan dan melemparkan sebuah lencana. Lencana itu terbang ke langit dan mengeluarkan cahaya menyilaukan. Lalu sangkar cahaya terbentuk, mengurung Ren dan yang lainnya.
"Lakukan upacara penyucian" kata Reinell.
Lalu semua prajurit cahaya mulai mengelilingi sangkar dan mulai melemparkan mana mereka. Sangkar cahaya itu dengan cepat menyerap mana cahaya yang dilemparkan padanya.
Reinell mulai membaca mantra singkat aneh. Dan sebuah array muncul di bawah sangkar.
Eva bisa melihat bahwa tanah di bawahnya bercahaya dengan pola-pola yang aneh tapi cantik. Dan dia tidak merasa cahaya ini menyilaukan matanya. Lebih tepatnya cahaya ini benar-benar seperti cahaya agung. Eva bahkan tidak merasa bahwa semua orang di sekelilingnya mulai bertingkah aneh.
Ren dan Emerta menjadi pucat. Sihir gelap si tubuh mereka memberontak. Diana juga mengalami hal yang sama, tapi karena dia tidak sadarkam diri, dia tidak merasakan apapun.
Ssshhhh! Terdengar bunyi menguap dari tubuh ketiga orang itu.
"Apa yang terjadi?" Eva langsung terkesiap kaget. Dia bisa melihat uap hitam keluar dari tubuh ketiga orang itu.
"Sihir cahaya terkutuk ini" bahkan Ren mengumpat.
__ADS_1
Duke dan Sayn tidak merasakan efek itu tapi mereka bisa merasakan bahwa tubuh mereka melemah dan energi mereka terkuras habis.
Eva tidak merasakan efek apapun dari sihir cahaya itu. Mungkin karena dia juga penyihir cahaya jadi sihir ini tidak memberikan efek apapun padanya.
"Kalian adalah pendosa. Dengan hukuman penyucian ini, aku akan membantu para dewa untuk menyingkirkan kalian, hama yang ada di dunia!" kata Reinell bangga. Dia menjadi lebih percaya diri saat dewa berbicara padanya untuk membunuh para penyihir gelap itu.
"Bodoh" Ren mengumpat. Lalu dia ingin menggunakan sihirnya. Tapi itu terhalang oleh sangkar sihir cahaya. Dia tidak bisa menggunakan sihirnya sama sekali. Semua orang hanya bisa terdiam di tempat sambil mempertahankan tubuh mereka untuk tetap berdiri.
Eva melihat semuanya dan dia sadar bahwa hanya dia yang tidak merasakan efek apapun dari sihir aneh ini.
Lalu, dia perlahan mengangkat jarinya dan menyentuh sangkar.
"Eh?"
Dia tidak merasakan apapun! Lalu secara perlahan jarinya menembus keluar.
Eva berkedip beberapa kali karena bingung. Lalu dia mulai menyodorkan kakinya keluar sangkar, dan kakinya menembus cahaya itu dengan mudahnya.
Sangkar itu benar-benar tidak mempengaruhi sama sekali! Apa karena dia penyihir cahaya! Sangkar itu hanya mengurung penyihir lainnya dan tidak berefek apapun terhadap penyihir cahaya!
Hap! Eva melompat keluar.
Semua prajurit cahaya yang menembakkan sihir mereka membeku. Reinell melonggo bingung.
"A...apa?"
Eva tidak memberi waktu bagi mereka semua untuk sadar.
BOOM! Dia langsung menyerang semua orang dengan sihirnya dan beberapa dari mereka terlempar. Lalu dia menuju ke sisa prajurit yang masih berdiri dan mulai memukuli mereka. Pada dasarnya penyihir cahaya lemah. Mereka bahkan tidak bisa mempertahankan pukulan dari prajurit sihir. Kelebihannya hanya mereka bisa menyembuhkan diri dengan cepat. Dan saat ini mereka tidak berpikir untuk mempertahankan diri mereka. Pertahanan mereka benar-benar terbuka.
Satu demi satu prajurit cahaya yang menuangkan sihir mereka terpelanting ke belakang. Eva membuat mereka tidak sadarkan diri dengan sengaja, supaya mereka tidak bisa menyembuhkan diri mereka.
Karena tidak mendapatkan asupan sihir. Sangkar sihir itu mulai melemah dan cahayanya meredup.
"Kau! Siapa kau?!" Reinell menunjuk Eva dengan marah. Dia benar-benar tidak mengerti. Bagaimana bisa gadis kecil itu adalah penyihir cahaya? Bukannya dia keturunan penyihir gelap?
"Dewa tidak mungkin memberkati para penyihir gelap dan keturunannya dengan sihir cahaya. Ada sesuatu yang salah! Ada sesuatu yang salah disini!" Batinnya berteriak gila.
__ADS_1