
Cerita sebelumnya:
Eva dan Fram kembali ke istana. Saat sampai Ren bertanya apa yang terjadi. Eva menjelaskan semua nya. Ren mengangguk mengerti setelah mendengar penjelasannya. Ternyata raja Vien mengusulkan pertunangan antara kedua pihak. Ternyata itu adalah Fram dan Putri. Fram menolak pernikahan itu. Dia tidak menginginkan nya sehingga membuat Ren menjadi pusing.
Keesokan harinya, utusan itu benar-benar datang. Yang mengejutkan adalah sang putri menjadi utusan itu sendiri dan meminta pertunangan nya. Tapi Fram langsung menolak dengan alasan dia lebih tua dan terlalu galak. Ren pun mendukung perkataan Fram. Dia tidak akan memaksa Fram.
Putri yang frustasi melampiaskan semua itu pada Ren. Sehingga dia menggunakan kata-kata tabu untuk memaki Ren. Membuat seluruh aula kerajaan menjadi dingin karena aura Ren.
Tapi Eva menghentikan nya. Dia mengajak Ren ke suatu tempat karena dia ingin membicarakan sesuatu. Kemarahan Ren pun mereda. Tapi dia tidak akan membiarkan Fram lari dari kesalahan nya. Dalam sekejap Fram memiliki tunangan kecil.
***
Aku membawa Ren ke tempat yang nyaman untuk berbicara. Aku memikirkan taman dengan gazebo di atas danau. Itu adalah tempat yang sangat cocok.
"Kenapa?" Ren bertanya dengan ekspresi datar. Suaranya masih dingin. Mungkin masih ada amarah yang tersisa walaupun dia berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Aku ingin membicarakan sesuatu, tentang penelitian mu" aku langsung memberitahu nya inti masalah. "Aku sudah melihat desa elf milikmu dan jujur saja aku sangat kagum. Kau menciptakan banyak sekali alat sihir yang berguna dan unik" kataku dengan mata berbinar.
Ren senang saat mendengar pujian tentang hasil kerja kerasnya. Tapi dia berusaha menyembunyikan itu. "Itu bukanlah masalah besar" katanya sambil berusaha menyembunyikan wajahnya yang tersenyum.
"Tentu saja itu adalah hal yang besar. Kau tidak tahu bukan kalau semua penemuan mu bisa membuat perubahan pada dunia ini"
Ren tidak menjawab.
"Kenapa kau tidak menyebar kan semua hasil penelitian mu ke dunia luar?"
Ren mengangkat alisnya. "Kenapa aku harus melakukan nya?" dia bertanya balik.
"Kau bisa mendapatkan kekayaan dan sumber daya kalau melakukan nya" aku menjawab lugas.
"Aku tidak memerlukan hal seperti itu" jawab Ren malas. Memikirkan tentang kekayaan dan sumber daya hanya akan membuat beban kerjanya bertambah. Dia tidak ingin.
__ADS_1
"Kau memang tidak memerlukan nya. Tapi rakyat mu sangat perlu itu. Apa kau lupa bahwa kau seorang raja?" berkata dengan nada tak percaya.
"Kalau kau menjual hasil penelitian mu ke dunia luar dan mendapatkan bayaran. Kau bisa menggunakan bayaran itu untuk membuat desa elf menjadi lebih kaya. Membuat beberapa senjata pertahanan. Atau untuk menyewa beberapa seniman terampil. Lagipula uang memang penting karena semua di dunia ini membutuhkan nya" aku menjelaskannya. "Kau bisa membuatmu dirimu terkenal di seluruh dunia. Saat semua orang bertanya siapa penemu nya. Namamu lah yang tercatat di benak mereka. Bukankah ketenaran seperti itu lebih baik daripada ketenaran 'raja elf jahatmu'?"
"Kau benar..." akhirnya Ren menyetujui perkataan ku. "Aku tidak memikirkan semua itu sebelum nya karena terlalu merepotkan" tambahnya lagi.
Aku menghela napas. Tentu saja merepotkan. Itu semua karena Ren hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia tidak terlalu peduli dengan kondisi orang lain.
"Jadi bagaimana menurutmu kalau kita menjual nya ke negara lain?"
"Tidak" Ren langsung menolak.
"Kita jual robot pembersih itu. Robot itu terlihat berguna. Robot itu juga bukan senjata atau pun sejenisnya yang digunakan untuk menyerang. Sehingga tidak akan membahayakan kaum elf" aku berusaha meyakinkan nya.
Ren terdiam. Dia berpikir sebentar. "Kepada siapa kita akan menjualnya?"
"Raja Vien bisa menjadi klien pertama" kataku kemudian.
"Ren, aku mengira Raja Vien tidak seburuk itu. Dia bahkan mengirimkan Putri nya kemari walaupun dia tahu tempat ini berbahaya. Itu artinya dia percaya padamu" Menurut ku, raja elf cahaya ini tidak terlalu buruk. Aku melihat nya sendiri di dalam novel. Tidak ada catatan buruk tentang mereka sama sekali. Lebih utamanya lagi, raja Vien sangat jarang membunuh. Dia terlalu baik. Reputasi miliknya berbanding terbalik dengan reputasi milik Ren.
"Apa kau mulai tertarik padanya?" tanya Ren tidak senang.
"Kenapa aku harus tertarik padanya?" aku mengerjap tak mengerti. "Sejak Fram dan Caca akan bertunangan. Dia bisa menjadi mitra bisnis yang baik" Aku berbicara tentang bisnis disini oke. "Dan kenapa aku harus tertarik pada orang yang tidak pernah kutemui sebelum nya?"
Ren merasa lega setelah mendengar nya. "Baiklah..." Ren akhirnya menyerah.
Mataku berbinar senang. "Tapi saat kau mendapatkan keuntungan, kita harus berbagi oke. lima puluh, lima puluh" kataku bersemangat.
Ren terdiam sambil menatap Eva lekat-lekat. "Kau ambil semuanya..." dia menjawab dengan santai.
"Tidak bisa seperti itu!" aku langsung menolak. Walaupun aku sedikit serakah, aku tidak akan mengambil lebih dari yang aku inginkan! "Kau harus mengambil nya juga. Kau yang membuat nya. Dan uang itu bisa kau gunakan untuk mengembangkan negaramu" aku menasehatinya dengan wajah tidak senang. Kalau raja yang lain mendengar usulku ini, mereka mungkin akan berteriak kegirangan.
__ADS_1
"Baiklah..." Ren mengangguk
patuh.
Aku sangat senang sekarang. Rencana ku untuk membujuk Ren berhasil. Kita bisa menjual Robot pembersih itu ke dunia luar. Aku akan mencoba untuk menawarkan robot itu ke Menara Sihir. Kakek mungkin tertarik.
"Oh iya Ren. Boleh aku minta oleh-oleh?" aku baru ingat kalau aku menginginkan beberapa barang saat aku meninggalkan desa elf.
"Oleh-oleh?" Ren mengernyit tak mengerti.
"Ya. Aku ingin robot pembersih yang lucu itu. Aku juga ingin stok daun teh hitam yang dapat meningkatkan mana gelap. Teh itu akan sangat berguna untukku dan ibu" aku menjelaskan.
"Kau bisa ambil semuanya" jawab Ren datar. Ren tidak bermasalah kalau Eva menginginkan beberapa barang. Dia akan mengirimkan semua hasil penelitian nya kepada gadis itu.
"Oke"
***
Disisi lain, Fram frustasi karena Caca terus mengikuti nya. Caca bahkan mengusir kedua pengawal nya karena dia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Fram.
"Bisakah kau berhenti mengikuti ku?" kata Fram frustasi sambil menghentikan langkahnya.
Caca ikut berhenti berjalan dan dia menatap Fram dengan ekspresi polos. "Aku tidak mau" jawabnya kekanak-kanakan.
'Kau bilang aku tidak imut bukan? Lihat sendiri bagaimana aku bertingkah imut, humph!' Caca menggerutu dalam hatinya.
Fram berbalik. Dia tidak bisa berbicara denan gadis keras kepala itu. Hanya membuat nya semakin frustasi.
"Fram, mau kemana?" Caca tidak peduli kalau Fram terganggu. Dia terus mengikuti nya. Sampai akhirnya dia berpapasan dengan seorang yang dia kenal di lorong istana. Seseorang yang sangat dia benci.
"Kau!" Caca dan Lena berbicara bersamaan saat melihat satu sama lain.
__ADS_1