Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Diana ( Final 3)


__ADS_3

Emerta membawa Diana ke suatu tempat. Diana tidak tahu dia berada dimana. Tapi saat ini mereka berada di sebuah ruangan yang tertutup.


Emerta melihat putri tunggalnya itu lekat-lekat.


"Jadi apa yang terjadi? Jelaskan semuanya" katanya dengan nada tajam.


Diana menunduk sedih dengan wajah cemberut. Lalu dia menceritakan semuanya.


Dia menceritakan bagaimana dia bertemu Enell dan sepupu nya saat mereka masih kecil. Lalu menceritakan bagaimana pertemuan mereka sekarang bisa terjadi. Serta menceritakan semua yang dia alami saat tinggal di mansion pria itu.


Diana menceritakan semuanya dengan bahagia. Seakan-akan dia menggali kenangan yang sangat berharga di dalam kepalanya. Bahkan dia sesekali tertawa saat dia mengingat beberapa hal lucu yang terjadi.


Tapi ekspresi Emerta masih datar. Dia mendengar kan cerita putrinya dengan serius. Lalu ekspresi nya semakin lama semakin dingin.


Butuh waktu hampir sejam untuk Diana menceritakan semua kisahnya. Saat Diana selesai, Emerta membuka mulutnya. "Jadi apa kau memilih ibumu atau pria itu?" katanya dingin.


Diana mengerjap tak mengerti. Ini adalah pertanyaan yang sangat sulit untuknya. "Apa maksudmu ibu? Aku tidak bisa memilih salah satu dari kalian. Kalian adalah orang yang berbeda. Kau adalah ibuku. Enell adalah sahabatku. Kalian berdua sangat penting"


"Melihat kau sangat ingin mengikuti pria asing itu, berarti kau ingin meninggalkan ku?" Emerta memastikan.


"Tidak!" Diana membantah langsung. "Aku ingin tinggal dengan ibu!"


Emerta mengernyit. "Kalau begitu tinggalkan dia. Dan ikut dengan ku kembali ke istana elf" dia memerintahkan.


"..."


Diana terdiam. Dia mengigit bibirnya untuk menekan rasa sedihnya. Lalu dia mengangguk pelan.


Emerta langsung membawanya kembali ke istana elf. Ternyata Ren memberikan ruangan khusus untuk Emerta. Dia memperlakukan nya dengan baik.


Ren juga ada di sana untuk menyambut kedatangan ibu dan anak itu.


"Kau sudah kembali dan benar-benar membawanya?" Ren menaikkan alisnya tak percaya.


Biasanya, Diana akan menyambut Ren dengan memeluknya dan bersikap manja padanya. Tapi dia tidak melakukannya kali ini karena suasana hatinya sama sekali tidak baik.


"Aku ingin beristirahat..." dia bergumam sedih sambil menundukkan kepalanya.


Emerta langsung membawa Diana ke kamarnya. kedua wanita itu melewati Ren seakan-akan dia hanya angin.


Wajah Ren cemberut. "Mereka benar-benar sudah memperlakukan istanaku sebagai rumah mereka" gerutunya. Tapi dia tidak melakukan tindakan apapun untuk pasangan ibu dan anak itu. Dia hanya menatap mereka dengan tatapan tajam sebelum kembali ke ruangannya lagi.


Emerta mengantar Diana ke kamarnya. Ruangan yang diberikan oleh Ren cukup besar sehingga bisa ditempati oleh dua orang.


"Aku akan melanjutkan penelitian ku. Istirahatlah lah" kata Emerta. Dia memberikan waktu untuk putrinya bernapas dari semua masalah ini. Setelah itu dia kembali ke laboratorium nya.


Setelah ibunya pergi, Diana melompat ke atas kasur lalu membenamkan wajahnya dalam-dalam. Dia merasa dia kehilangan orang yang paling penting dalam hidupnya. Tapi bukankah ibunya yang paling penting? Dan mereka sudah hidup bersama sekarang. Jadi kenapa dia merasa sangat sedih?


"Apa yang harus kulakukan? Kenapa aku sangat sedih? Dia memang penting. Tapi ibuku juga penting. Kalau memilih salah satu, itu..." Diana masih tidak bisa memutuskan nya. Isi kepalanya dipenuhi dengan banyak sekali pertanyaan dan kesedihan.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian, Emerta kembali dari laboratorium nya. Dia menuju kamar untuk melihat apakah gadis itu sudah tertidur atau belum.


Saat dia tiba, Diana sudah tertidur. Tapi ada yang aneh dengan kondisinya. Gadis itu mengingau sambil terus menangis.


"Jangan tinggalkan aku..." Diana berkata lirih dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Emerta langsung menghampirinya dan menegang tangannya. "Ibu ada disini..." dia bergumam sambil membelai rambut Diana.


Diana perlahan menjadi tenang.


"Enell..." dia bergumam pelan sebelum kembali tenang.


"..."


Emerta tersentak. Dia menatap Diana sambil mengernyit sedih. Dia berpikir cukup lama. Lalu dia bergegas menemui Ren. Seperti nya dia merencanakan sesuatu.


"Apa kau sudah memutuskan nya?" Ren bertanya, seakan-akan dia sudah mengetahui sesuatu.


"Aku akan menjadi peneliti di laboratorium milikmu" Emerta membuat keputusan.


Ren menatapnya lekat-lekat. "Apa kau yakin? Bagaimana dengan putri mu? Kau benar-benar tidak akan berkelana lagi?"


"Aku akan mengirimnya kembali ke pria itu. m Aku tidak bisa mengurungnya di laboratorium. Dia kelihatan nya lebih hidup saat bersama anak itu" kata Diana menyesal.


Ren mengeluarkan sesuatu dari ruang dimensinya. "Ambil kunci ini. Mulai saat ini kau pemilik laboratorium itu. Aku juga akan menitipkan tempat itu sementara. Ada urusan yang harus aku lakukan"


Emerta tersentak kaget. "Kau akan pergi? Apa itu lama?" Dia tidak percaya bahwa Ren akan memberikan laboratorium itu dengan sangat mudah padanya.


Diana tersentak lagi. Dia tidak menyangka Ren akan pergi selama itu. Saat Ren kembali dia akan menjadi wanita tua. Tapi Emerta menyetujui nya tanpa perlawanan.


Dia kembali ke kamarnya untuk menemui Diana. Dia membawa Diana ke sebuah tempat dengan lingkaran transportasi. Saat itu Diana sedang tertidur lelap dan tidak tahu apa yang terjadi karena tubuhnya diterbangkan.


***


Enell saat ini termenung di meja kerjanya. Kepalanya sangat penuh dengan berbagai macam pikiran hingga dia berpikir kepalanya akan pecah.


Pertama, dia ingin mencari Diana tapi tidak tahu gadis itu ada dimana. Walaupun awalnya dia yakin bahwa Diana akan kembali. Tapi keyakinan itu memudar dengan munculnya berbagai macam keraguan dalam hatinya. Sehingga membuat nya cemas. Dia perlu berjaga-jaga untuk mencarinya kalau dia tidak kembali. Tapi masalahnya gadis itu dan ibunya adalah pengembara. Akan sulit untuk mencari mereka.


Kedua, adalah masalah pembunuhan yang dilakukan nya. Dia membunuh banyak sekali tetua dari faksi keluarga Court, keluarganya sendiri. Sehingga Bangsawan dari faksi Court sangat memusuhinya sekarang. Ayah Fifi yang masih hidup itu bahkan melapor pada anaknya dan raja. Sehingga dia menerima panggilan untuk pergi ke istana besok.


Enell tidak tahu apa yang akan dilakukan raja yang sekarang padanya.


SWOOSH!


Tiba-tiba dua sosok muncul dengan tiba-tiba di depan matanya.


Enell tersentak kaget. Pasalnya kedua orang itu muncul terlalu tiba-tiba.


"Kau?" Enell mengerjap tak percaya. Itu adalah Diana dan ibunya. Mereka bahkan belum pergi selama beberapa jam, tapi sudah kembali secepat ini.

__ADS_1


Yang lebih penting lagi, mereka tiba-tiba muncul di ruangannya! Enell bingung bagaimana mereka melakukannya!


"Bawa Dia" Emerta meletakkan Diana yang melayang secara perlahan ke pangkuan Enell.


"Aku akan mempercayakan dia padamu. Tapi kalau kau menyakitinya, aku akan kembali untuk mengambil kepalamu" katanya sinis.


Lalu dia melambaikan jubahnya dan menghilang dari depan mata Enell dalam sekejap. Enell masih tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan matanya.


Ada banyak sekali pertanyaan. Tapi dia melupakan semuanya saat melihat wajah tidur Diana.


Enell menyentuh pipi lembut gadis itu. Lalu matanya berubah penuh tekad. Seakan-akan dia sudah memutuskan sesuatu.


Keesokan paginya, Diana terbangun. Dia membuka matanya dan merasa bahwa langit-langit kamarnya terlihat sangat familiar.


"Kau sudah bangun?" suara yang familiar itu juga terdengar di telinganya.


Mata Diana langsung terbuka lebar. "Enell?" Gadis itu mengerjap tak percaya lalu bangkit dari kasur dan memeluk pria itu.


"Apa yang terjadi? Bukankah aku bersama ibu?" Diana mengernyitkan keningnya bingung.


"Ibumu membawamu kemari?"


"Ehh?" Diana berteriak tak percaya. "Kapan? Dia baru saja membawaku ke istana elf tadi malam"


"Pagi ini" jawab Enell datar. Dia tidak mempedulikan kebingungan gadis itu. Dia membelai rambut Diana dan terus menatapnya dengan melankolis. "Aku ada urusan pagi ini. Istirahatlah kembali kalau kau masih mengantuk. Atau aku bisa meminta pelayan membuatkanmu sarapan"


"Tidak perlu. Aku akan bersantai sebentar lagi" kata Diana sambil melemparakan dirinya di atas tempat tidur lagi.


"Sampai nanti" Enell perlahan keluar dan menutup pintu. Setelah berhasil keluar dari kamar, Enell bernapas lega. Dia bersyukur bahwa gadis itu tidak membuat wajah sedih dan menangis. Kalau hal itu terjadi, Enell akan kewalahan menghadapinya.


Sementara di sisi lainnya, Diana melamun sambil menatap langit-langit kamar. Diana bingung kenapa ibunya tiba-tiba pergi meninggalkan nya lagi tanpa mengatakan apapun.


Lalu dia merasakan sesuatu yang aneh di bajunya dan menemukan sebuah surat yang terselip. Diana membukanya.


Itu ternyata surat dari ibunya. Sang ibu mengatakan akan membebaskan nya dan membiarkannya hidup dengan pria yang dicintainya. Kemudian sang ibu juga mengatakan bahwa dia akan melanjutkan penelitian di istana elf. Jadi kalau terjadi sesuatu, dia bisa menghubungi nya. Terutama kalau pria itu melakukan hal yang kejam padanya. Sang ibu akan langsung datang dan membunuhnya.


Diana membaca surat itu dengan mata berkaca-kaca. Saat dia selesai membaca semuanya, tangisan pun pecah. Diana meletakkan surat itu di dadanya sambil terus menangis terisak. "Terima kasih ibu..."


Begitulah, kisah hidup mereka berdua. Setelah itu Enell akan mengambil keputusan penting. Keputusan itu adalah hukumannya karena sudah membunuh banyak Bangsawan.


Sebenarnya raja tidak ingin menghukum nya. Lagipula mereka sudah seperti saudara. Apalagi orang-orang yang dibunuh oleh Enell adalah musuh keluarganya. Tentu saja dia diuntungkan karena hal itu.


Tapi dia tidak bisa melawan keputusan dari bangsawan lainnya. Faksi keluarga kerajaan memanfaatkan kesempatan ini untuk menekan kekuatan Enell agar pria itu tidak mendapatkan popularitas yang lebih besar lagi. Dan membahayakan faksi mereka.


Enell pun dipindahkan dari ibukota ke sebuah kota kecil. Sebenarnya ini adalah kota asal Enell. Awalnya dia juga tinggal disini saat masih muda. Saat konflik antara keluarga kerajaan lama dan kerajaan baru terjadi. Sekarang dia hanya kembali ke kampung halamannya setelah membuat namanya besar di ibukota. Enell sama sekali tidak memiliki masalah tentang hal ini.


Walaupun gelar Enell sebagai duke tidak diturunkan tetap saja kekuasaan nya di ibu kota memudar. Seiring berjalannya waktu orang-orang di ibukota melupakan kehadirannya. Walaupun beberapa dari mereka juga mendengar rumor tentangnya.


Saat itulah rumor buruk tentang Enell tersebar di ibukota. Awalnya dia dipuja rakyat karena dia adalah jendral perang. Tapi sekarang beberapa orang mulai meragukan nya karena dia membunuh orang. Mereka bahkan menjuluki dirinya sebagai orang berdarah dingin dan kejam. Walaupun Enell sama sekali tidak peduli dengan rumor-rumor itu.

__ADS_1


Sementara raja dan ratu mulai berencana untuk membuat pertunangan antara anak mereka dengan anak dari Enell. Hal itu terjadi kalau anak mereka memiliki jenis kelamin yang berbeda. Raja melakukan hal ini karena dua hal. Pertama dia ingin menebus rasa bersalahnya karena tidak bisa mencegah Enell meninggalkan ibu kota. Kedua, dia ingin mencegah terjadinya konflik antara kedua faksi.


__ADS_2