
Cerita sebelumnya:
Raja Albion bertemu dengan keluarga Duke. Sang raja menjelaskan rute singkat dan aman menuju Albion kepada mereka. Lalu Eva juga memberitahu yang lainnya bahwa mereka akan pindah ke kerajaan Albion serta berterima kasih pada mereka. Hal itu mengejutkan tapi mereka memberikan respon positif dan mengharapkan mereka memiliki perjalanan yang aman.
***
Perang saudara di kerajaan Well berakhir. Tapi berita itu menyebar ke seluruh dunia. Semua orang mendengar cerita yang diteruskan dari mulut ke mulut. Dan mereka semua takjub.
Mereka tahu bahwa ada keberadaan jenius seperti Eva, yang menguasai banyak elemen. Gadis kecil itu juga menguasai sihir cahaya dan sihir gelap. Dimana hal seperti itu tidak mungkin terjadi. Akibatnya semua orang mulai berpikir, apa sihir gelap memang jahat dan seburuk itu? Karena keberadaan Eva, beberapa orang memiliki pikiran terbuka tentang sihir gelap dan tidak bersikap rasis lagi terhadap sihir itu.
Mereka juga kaget saat tahu sang raja Elf yang terkenal menakutkan itu membantu Duke dan keluarganya dalam perang. Masalahnya elf sama sekali tidak pernah ikut campur dalam urusan para manusia. Raja elf mematahkan fakta itu sekarang.
Pertarungan antara raja elf dengan sekelompok penyihir cahaya juga menjadi gosip hebat. Beberapa prajurit yang melihat sendiri pertarungan itu mulai menyebarkan gosip ke seluruh penjuru. Saat semua orang mendengarnya, mereka mulai berpikir bahwa sihir cahaya tidak seagung itu. Mungkin sihir cahaya sangat menakjubkan di mata orang-orang yang hampir mati. Tapi sihir itu sangat buruk digunakan dalam pertarungan.
Di kerajaan Well, pusat dari seluruh kekacauan. Di ruangan yang berada jauh di istana kerajaan. Ada dua orang gadis yang terbaring disana, mereka adalah Vivian dan Wiya. Yang sebelumnya sudah dilukai oleh Marquis dan koma selama beberapa hari.
Wiya terlebih dulu sadar karena lukanya lebih ringan. Saat dia sadar, dia panik karena mengira dia dipenjara lagi. Tapi dia tidak melihat satu pun penjaga di ruangan itu. Dia juga melihat Vivian terbaring di kasur di sampingnya. Jadi dia merasa sedikit lega.
Tak lama kemudian, Vivian juga sadar. Walaupun dia sadar, kondisi tubuhnya masih belum membaik. Seluruh tubuhnya sakit dan dia tidak bisa banyak bergerak.
"Nona Vivian, hati-hati" Wiya membantunya untuk duduk.
"Apa yang terjadi? Berapa lama kita pingsan? Bagaimana dengan Evan?" tanya Vivian panik. "Apa kita dikurung lagi?"
"Nona tenanglah" kata Wiya. "Aku sudah memeriksa di sekitar, tidak ada penjaga sama sekali. Tapi kita masih berada di wilayah istana" Wiya sebenarnya ingin melarikan diri. Tapi Vivian belum sadar. Dia tidak tega meninggalkan gadis kecil itu sendiri dalam kondisi terluka.
__ADS_1
"Kalian sudah sadar?" tiba-tiba suara asing terdengar dari balik pintu. Kedua gadis itu sama sekali tidak sadar bahwa ada seseorang yang datang ke tempat mereka.
Pintu terbuka. Menampakkan sesosok pria tua yang membawa sebaskom air. Vivian mengenalnya.
"Tuan tabib" kata Vivian refleks. Pria tua itu adalah tabib istana.
"Luka nona sangat parah. Nona tidak bisa bergerak dulu selama beberapa hari" tabib istana berkata sambil mulai mencuci kaki Vivian yang terluka.
Vivian mengernyitkan keningnya, menahan sakit. Seluruh tubuhnya memiliki banyak luka basah dan luka lebam. Wajahnya tidak terkecuali. Organ dalamnya juga terluka. Tapi ramuan penyembuh mulai memperbaiki lukanya. Dia benar-benar dikondisi hampir mati saat itu.
"Tuan, apa yang terjadi di luar? Bagaimana dengan Duke dan keluarga?" tanya Vivian cemas.
Dia dan Wiya sama sekali tidak mengetahui apapun karena mereka pingsan saat itu.
Tabib itu mulai menatap mereka bergantian. Dia menghela napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya. Lalu dia mulai menceritakan semua yang terjadi di ibukota. Cerita ini sama sekali bukan rahasia. Hampir semua orang mengetahuinya. Jadi tabib menceritakan semuanya tanpa terkecuali. Kecuali sesuatu yang berhubungan dengan kerajaan Albion karena dunia masih belum tahu hubungan antara Duke dan mereka.
Wiya mengeluarkan air mata, menangis, saat dia mendengar keseluruhan ceritanya. Dia merasa bahagia sekaligus sedih saat mendengar Duke dan yang lainnya selamat. Dia merasa bahagia karena mereka selamat, tapi merasa sedih memikirkan mereka semua menginap di tengah hutan sekarang. Wiya yakin tidak akan ada kerajaan yang mau menerima mereka, mengingat ada banyak penyihir gelap di rombongan mereka.
Wiya ingin menyusul Duke dan keluarganya. Tapi Vivian menghentikannya dan berkata dia ingin ikut juga. Jadi Wiya harus menunggu sampai Vivian sembuh untuk menyusul mereka.
Setelah tabib pergi meninggalkan ruangan. Seseorang yang tak pernah diduga datang mengunjungi mereka. Itu adalah Denis! Kedua wanita itu langsung canggung saat Denis mulai menghampiri mereka.
"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Denis.
"Kami baik-baik saja" jawab kedua wanita itu serentak.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Bagaimana kalian bisa berakhir dalam kondisi seperti itu?" tanya Denis.
Vivian langsung menjelaskan semuanya. Dia berniat menyelamatkan Evan yang ditahan. Tapi Marquis tiba-tiba datang dan melukai mereka. Mengambil Evan dan berniat membunuh bayi itu.
"Yang mulia. Mereka tidak bersalah. Walaupun bibi Diana adalah penyihir gelap, dia bukan orang jahat. Dia bukan mata-mata. Sejujurnya aku malah mencurigai ayahku sebagai mata-mata karena dia melakukan sesuatu yang aneh di mansion. Dia juga bertemu dengan orang-orang aneh"
Denis diam. Dia terlihat sedang berpikir. Dia tahu bahwa maksud dari perkataan Vivian adalah eksperimen manusia yang dilakukan oleh Marquis dan oknum lainnya di ruang bawah tanah.
"Tapi penyihir gelap akan tetap menjadi orang jahat. Mereka terlahir seperti itu"
"Itu tidak benar!" Wiya langsung menyanggahnya. Dia terlihat sangat emosional. "Nyonya besar bukan orang jahat. Aku sudah hidup bersama dengannya selama bertahun-tahun. Dia adalah wanita yang baik dan lemah lembut. Dia bahkan tidak pernah marah kepada kami walaupun kami berbuat salah. Dia bahkan tidak bisa membunuh seekor semut. Bagaimana orang yang rapuh seperti itu harus menghadapi hal kejam seperti ini..." Wiya menangis.
"Tapi tetap saja..."
"Tidak benar Yang Mulia!" bantah Wiya cepat. "Orang jahat akan tetap menjadi orang jahat kalau mereka ingin berbuat jahat. Nyonya tidak bisa memilih bagaimana dia dilahirkan. Walaupun stigma bahwa penyihir gelap adalah penjahat. Bukan berarti semua penyihir gelap itu orang jahat. Beberapa dari mereka bahkan bersembunyi untuk bisa bertahan hidup. Karena dunia memusuhi mereka. Orang jahat terlahir karena sifat Mereka yang jahat. Bukan karena asal usul bagaimana mereka dilahirkan. Bagaimanapun juga semua bayi di dunia ini murni tidak bersalah walaupun mereka adalah penyihir gelap. Pikiran anda yang terlalu tertutup Yang Mulia. Sangat tertutup bahkan anda tidak bisa melihat fakta yang sebenarnya sama sekali!"
Wiya ingin mengoceh lagi tapi Vivian langsung menghentikan nya. Sehingga Wiya hanya bisa terisak dan menangis. Vivian berusaha menenangkan gadis itu dengan menghiburnya.
Denis tidak membalas pernyataan Wiya. Dia perlahan berbalik pergi, meninggalkan kedua orang itu.
Denis merasa sangat linglung sekarang. Perkataan Wiya tepat menusuk ke arah perasaannya yang terdalam. Dimana saat itu dia bertarung menggunakan perasaan dan logikanya. Tapi dia memilih logika karena dia harus tahu bahwa dia membawa nyawa banyak orang di punggungnya.
Orang jahat terlahir karena sifat mereka yang jahat. Bukan karena asal usul bagaimana mereka dilahirkan. Denis setuju dengan itu. Lagipula dia tidak bisa membuktikan bagaimana Diana melakukan perbuatan jahat.
"Apa pikiranku memang tertutup?" dia bergumam pada dirinya sendiri sambil menatap langit.
__ADS_1
Terbesit rasa penyesalan dan dia merasakan dadanya sangat sakit.
"Apa waktu bisa diputar kembali?"