Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 5. Pertandingan Sihir: Aturan Pertandingan


__ADS_3

Cerita Sebelumnya:


Robert membawa Eva ke Menara Sihir. Mereka menemui Dean Wason untuk mendapat informasi tentang lomba. Setelah mendengarkan sedikit informasi dan mendapatkan lencananya, tiba-tiba sihir teleportasi muncul. Dan mengirim mereka ke tempat lomba dalam sekejap mata.


Saat Eva dan Robert tiba, anggota tim lainnya menghampiri mereka. Ada satu orang asing yang tidak dikenal oleh Eva. Seorang pemuda asing yang mengenakan jubah Dean. Pemuda asing itu tiba-tiba memarahi mereka dan itu membuat Eva bingung. Siapa tokoh tambahan ini?


***


Kami pun mengikuti mereka menuju titik point. Tapi, aku sedikit kesal dengan pria asing itu. Aku menatap Robert kesal "Siapa pria itu?" tanyaku dengan nada berbisik.


"Pengganti Dean Caro"


Pupil mataku langsung melebar tak percaya. Bukannya pengganti Dean Caro adalah Robert? Kenapa jadi orang asing yang tidak pernah muncul dalam novel!


"Bukankah itu master? Apa yang terjadi?" tanyaku cepat.


"Ya...banyak hal yang terjadi. Aku menolak tawarannya. Setelah kupikirkan lagi, aku lebih suka tidak terikat dan menjelajah" jelas Robert sambil menggaruk kepalanya canggung.


Aku masih tidak percaya tapi alasan ini masuk akal. Aku tahu Robert akan menjelajahi dunia setelah dia membantu Reina saat perang dengan kerajaan Kano. Walaupun semua terjadi karena dia terluka dan kekuatannya menghilang, itu juga merupakan keinginan terdalam Robert.


"Jadi begitu..."


Robert melihat Eva. Saat melihat ekspresi Eva kembali tenang, Robert hanya tersenyum. Dia tiba-tiba mendekatkan kepalanya dan berbisik ke telinga Eva.

__ADS_1


"Suatu hari nanti...maukah kau menemaniku berkeliling dunia?"


Aku melonggo kaget lagi karena sikap Robert. Napas Robert membuat daun telingaku terasa geli dan tanpa sadar wajahku memerah malu. Kenapa dia melakukan ini? Aku tidak tahu bagaimana merespon hal ini. Mengelilingi dunia mungkin menakjubkan, tapi juga melelahkan. Dan bagaimana mungkin aku mendapatkan kesempatan mengelilingi dunia? Nasibku saja masih terancam di negara sendiri. Mungkin...kalau aku berhasil selamat dari nasib tragisku, aku akan mencoba memikirkannya. Tapi bagaimana menjelaskan hal itu kepada Robert?


Melihat Eva tidak merespon, Robert tersenyum kecil. "Aku hanya bercanda...aku tidak akan memaksamu. Tapi kau bisa memikirkannya. Aku akan bertanya padamu lagi nanti"


Aku hanya mengangguk seperti kelinci terjepit. Ah~ Aku benar-benar malu kali ini.


Gara-gara percakapan canggung itu, kami terdiam selama beberapa menit. Dan akhirnya, kami tiba di titik kumpul.


Ada banyak sekali orang disini. Semua peserta dan satu orang mentor berkumpul di tempat ini. Titik kumpul ini terlihat seperti aula besar yang memiliki banyak tempat duduk dari batu. Di tengah-tengah aula ada sebuah monumen. Di atas monumen itu ada seorang kakek tua dengan jubah emas.


"Baiklah, kalian duduk dengan kelompok kalian masing-masing" titahnya.


Semua orang langsung memilih tempat duduk mereka. Aula itu cukup luas, jadi tidak perlu berebut tempat duduk.


Setelah melihat orang-orang sudah duduk dengan rapi, pria tua itu mengangguk. "Baiklah, aku akan menjelaskan aturan pertandingannya." Dia memperlihatkan sebuah dimensi buatan kepada kami semua dengan sihir.


"Wow, benar-benar canggih" aku bergumam kagum.


Kelihatannya pemuda pengganti Dean Caro mendengarku dan menatapku dengan pandangan jijik. Tapi aku tidak mempedulikannya.


"Kalian semua akan di transfer ke dimensi buatan ini. Kalian akan disebar secara acak.Kalian juga akan diberikan kartu kehidupan. Kartu kehidupan ini tidak dapat dihancurkan, dibuang atau dicuri. Kartu ini akan menunjukkan status kalian. Masing-masing kartu memiliki 200 point. Apabila 200 point kalian habis, kalian akan ditransfer keluar secara otomatis. Di hutan ini kalian harus bertahan hidup dari segala macam binatang sihir dan juga tim musuh. Setelah kalian berhasil melewati semuanya dan pergi ke titik tengah" Dia menujukan titik tengah itu. Ada sebuah altar disana dengan Empat bola kristal di atasnya.

__ADS_1


"Ada empat bola kristal yang menandakan hanya ada empat tim yang akan lolos. Kalau tim yang berkumpul di titik tengah lebih dari empat, maka kalian perlu bertarung untuk memperebutkan bola kristal. Kalian bisa menggunakan berbagai jenis sihir. Alat sihir juga tidak dilarang, tapi ada pinalti. Saat kalian menggunakan alat sihir, secara otomatis point di kartu kehidupan kalian akan berkurang. Membunuh sangat dilarang, kalian akan didiskualifikasi kalau melakukannya. Sementara kami para dewan akan mengawasi kalian dari monitor. Dan para mentor dari masing-masing organisasi akan menyaksikan pertandingan di ruangan yang berbeda. Baiklah ada pertanyaan?"


Salah satu penyihir mengangkat tangannya. "Bagaimana kalau ada orang dari satu tim yang kalah? Apa tim itu akan kalah juga?"


"Tidak. Kalian bisa lanjut bertanding. Selama ada satu orang perwakilan dari tim yang memperoleh kristal, maka kalian adalah pemenang. Baiklah, sudah jelas semuanya?"


Semua orang mengangguk.


Kakek tua itu mengangkat tangannya dan secara tiba-tiba enam gulungan perkamen terbang ke masing-masing tim.


"Itu adalah peta dari dunia buatan ini. Aku memberikannya pada kalian supaya kalian mengetahui medan perang kalian sendiri. Baiklah, pertandingannya akan dimulai besok. Kalian bisa beristirahat"


Saat kakek tua itu selesai bicara, secara tiba-tiba lingkaran sihir muncul dibawah kaki kami. Lingkaran sihir itu memenuhi seluruh aula. Dan dalam sekejap kami mulai ditransfer ke ruangan lainnya.


Eva dan kelima orang lainnya ditransfer ke dalam ruangan seperti rumah kecil. Di dalam ruangan ini ada enam ruangan lainnya. Enam ruangan lainnya itu adalah kamar masing-masing peserta. di tengah-tengah kamar yang bejejer ada ruang tamu kecil dengan meja dan kursi. Bahkan mereka menyediakan beberapa makanan di atasnya.


Baiklah, sekarang saatnya istirahat. Aku ingin tidur. Aku kira waktu sekarang benar-benar sudah larut.


Tapi saat aku ingin melangkahkan kaki ke salah satu kamar, Dean baru itu menepuk tangannya dan berteriak. "Kalian mau kemana? Sekarang saatnya kita memikirkan strategi" Katanya sambil melebarkan peta di meja ruang tamu.


Aku melonggo kesal. Ayolah, aku benar-benar mengantuk saat ini.


Melihat Eva yang sedang mendengus dan menghentakan kakinya kesal, Mata Dean baru itu menyipit. "Apa yang kalian tunggu?!" katanya sinis.

__ADS_1


Arghh!


Aku benar-benar ingin memukuli Dean Baru yang menyebalkan ini! Tapi aku tetap menuruti perkataannya dan duduk.


__ADS_2