
Cerita sebelumnya:
Ren menghancurkan sangkar yang mengurung mereka. Lalu mulai melawan Reinell dan membungkam semua orang. Dengan ancaman yang diberikannya semua orang setuju untuk menyerah dan membiarkan pasukan Duke meninggalkan tempat itu.
***
Perkemahan mereka terletak tidak jauh. Tapi tetap memerlukan dua puluh menit perjalanan untuk sampai ke tempat itu. Ren dan yang lainnya tidak lagi menggunakan sihir terbang mereka. Mereka berjalan di depan berdampingan dengan Duke. Sementara Duke duduk di atas kuda sambil membawa Diana yang tidak sadarkan diri.
Semua orang terdiam. Suasana sangat sunyi karena keberadaan Ren. Duke yang bahkan tidak menyukai Ren sebelumnya, terdiam dan bersikap tidak nyaman. Lagipula dia melihat kekuatan Ren yang bisa menghancurkan seluruh kerajaan manusia itu dengan matanya sendiri. Dia melihat istrinya yang berada di pelukannya dan menghela napas. Siapa sangka bahwa istri dan ibu mertuanya akan berhubungan dengan mahluk seperti itu.
Eva juga terdiam. Tapi dia terus melirik ke arah Ren sembunyi-sembunyi. Saat Ren menggerakan kepalanya, dia langsung menoleh ke arah lain dengan cepat. Dia juga merasa sangat canggung. Dia tidak mengenal Ren karena kemunculan di dalam novel itu terlalu sedikit. Walaupun memang sudah dideskripsikan bahwa dia adalah elf terkuat di dunia dan berumur panjang.
"Ada masalah dengan wajahku?" Ren akhirnya membuka suaranya sambil menatap Eva.
"Eh? Tidak" jawab Eva canggung.
Ren tidak membalasnya lagi.
Suasana menjadi hening kembali. Dan akhirnya rombongan itu berhasil mencapai perkemahan kecil di tengah hutan. Kedatangan mereka sangat mencolok, jadi semua orang keluar dari tenda dan mneyambut mereka semua di depan pintu masuk. Tentu saja Pangeran Erick maju paling depan dan tersenyum ke arah mereka.
Pangeran Erick mengamati semua orang dan menemukan satu sosok asing di rombongan itu yang tidak dia kenal.
"Elf?" dia bergumam bingung.
Duke memerintahkan para pasukan untuk beristirahat di sekitar perkemahan karena perkemahan ini tidak cukup untuk menampung semua orang. Lalu dia menyuruh beberapa orang yang terluka menuju salah satu tenda agar mereka bisa diobati.
"Bagaimana keadaannya?" Duke bertanya pada pangeran Erick.
__ADS_1
Pangeran Erick sedikit tersentak. Dia memasang wajah canggung sambil sesekali melirik ke arah Ren. Lalu dia tersenyum dan menjelaskan semua yang terjadi. "Kami baik-baik saja. Tapi pasukan aneh dengan pakaian aneh muncul di tempat ini. Mereka adalah sekelompok penyihir cahaya. Tapi mereka tidak melakukan hal apapun pada kami dan hanya numpang lewat saja"
Duke mengernyitkan keningnya. Lalu dia mengangguk pelan. Dia merasa sedikit lega bahwa mereka baik-baik saja. "kerja Bagus" dia menepuk bahu pemuda itu. Duke menatapnya dengan sungguh-sungguh. "Terima kasih banyak" katanya tulus.
Pangeran Erick memerah malu. "Tidak masalah..." katanya sambil tertawa canggung.
Duke pun membawa Diana ke tenda yang sama dimana Evan tertidur. Eva dan Emerta mengikutinya. Tapi tiba-tiba pangeran Erick menghalangi Emerta. "Permisi sebentar bibi"
"Bibi" adalah panggilan yang cocok untuk Emerta daripada "Nenek" karena sosoknya memang semuda itu. Emerta menoleh ke arahnya dengan ekspresi dingin seperti biasa. "Ada apa?"
Eva juga berhenti untuk melihat keduanya bergantian. Tapi Emerta berkata "Kau bisa kesana duluan. Pastikan kondisi Diana baik-baik saja oke?" dia berkata lembut pada Eva.
"uhm" Eva mengangguk patuh dan masuk ke dalam tenda. Dia tidak terlalu tertarik karena dia memang merasa khawatir dengan kondisi ibunya.
Lalu Emerta kembali menatap Erick dengan sangat tatapan mematikan tanpa ekspresi. Erick merasakan sekujur tubuhnya merinding. Dia merasa takut tapi dia menahannya. Dia lebih takut pada ayahnya. "Bisakah kita bicara sebentar?"
"Ya!" Dia menjawab dengan lugas. Dia menatap Emerta dengan tatapan serius juga.
"Baiklah"
Erick mendesah lega. Dia menuntun Emerta ke tempat yang cukup sepi dan mengeluarkan bola kristal miliknya. "Ada seseorang yang ingin berbicara denganmu" katanya.
Emerta diam, tidak membalas. Erick menyalakan bola kristal itu dan sesosok pria tua munculĀ dari balik layar kristal.
Emerta mengernyitkan keningnya lagi. Dia saling bertatapan dengan pria tua itu. Entah kenapa pria tua itu terasa tidak asing baginya. Saat dia menatap matanya, dia merasakan hangat dihatinya. Tapi dia tidak tahu apa itu. Dia tidak ingat pernah bertemu dengan pria ini sebelumnya.
"Ayah..."
__ADS_1
"Kau bisa pergi" raja Albion memotong langsung. Pangeran Erick melonggo. Dia bahkan belum menyelesaikan perkataannya.
"Tapi..."
"Apa kau tuli?"
"...."
Dia terdiam sambil menatap ayahnya yang memiliki mood seperti wanita saat datang bulan. Dia hanya menatap pria tua itu dengan wajah cemberut. "Baiklah" dia langsung memberikan bola kristal itu kepada Emerta. Lalu melenggang pergi dengan langkah kesal. Harusnya seperti itu. Tapi dia berhenti, lalu berbelok dengan cepat dan menyembunyikan dirinya di balik tenda.
'Siapa yang cukup bodoh untuk tidak menguping di saat seperti ini?' pikirnya.
Sementara Emerta dan Raja Albion bertatapan satu sama lain. Tatapan pria tua itu penuh dengan kesedihan, matanya berkaca-kaca. Sementara tatapan Emerta penuh dengan kebingungan. Tindakan mereka sangat bertolak belakang satu sama lain.
"Maaf, siapa kau?" tanya Emerta langsung.
Raja Albion terkesiap. Dia menatap wanita cantik di depannya dengan wajah canggung. Wanita itu bahkan tidak mengingatnya sama sekali.
"Emerta... ini aku..."
Emerta mengernyitkan keningnya, bingung.
Raja Albion mengangkat tangannya dan menunjukkan sebuah gelang kecil di pergelangan tangannya. Gelang dari rotan yang sangat sederhana dan tampak sudah sangat lusuh sekali.
Mata Emerta membelalak kaget, seperti dia sedang melihat hantu. Hal yang menakutkan dalam hidupnya dan ingin dia lupakan tiba-tiba kembali muncul. Tapi itu hanya sekejap. Tatapan kebingungannya langsung berubah menjadi tatapan penuh dengan kebencian.
"Itu kau..." dia berkata, sambil berusaha menahan emosinya agar tidak menghancurkan tempat di sekelilingnya.
__ADS_1