
Cerita sebelumnya:
Setelah berbelanja artefak, Eva akhirnya masuk ke toko alat sihir dan membeli beberapa barang. Selain alat-alat sihir normal, dia membeli kertas talisman aneh untuk mengusir roh jahat. Dia juga membeli alat sihir berbentuk belati.
Setelah itu Rexus mulai merengek untuk dibelikan makanan saat mereka berada di kawasan toko ramuan. Rexus menunjuk satu toko ramuan. Sebuah toko kecil dengan plang "Toko Ramuan Ajaib". Eva pun berkunjung tanpa ragu ke toko ramuan itu.
***
Sayn sedikit kecewa. Dia awalnya ingin mengajak gadis itu berkeliling bersama. Tapi paman itu menganggu rencananya. Walaupun mereka berjalan bertiga, Sayn berusaha menikmati perjalanan mereka.
Jujur saja, ini bukan pertama kalinya dia mengunjungi Kota Sihir. Jadi dia tidak seantusias itu untuk berkeliling karena dia sudah mengetahui barang-barang yang dijual.
Saat itu dia merasakan sesuatu yang aneh. Dia mendeteksi bahwa beberapa orang mengikuti mereka. Walaupun setelah dia mengedarkan mananya kembali, dia tidak merasakan apa pun. Dia merasa bingung, takut bahwa dirinya salah. Tapi dia tetap tidak menurunkan kewaspadaannya.
Kunjungan mereka yang kedua adalah toko alat sihir. Dia melihat beberapa alat sihir yang berguna dan memutuskan untuk membelinya. Lagipula dia memerlukan alat sihir itu walaupun fungsinya sangat umum.
Tempat kunjungan ketiga mereka adalah toko ramuan. Saat mereka mencapai kawasan itu, perasaan sebelumnya semakin kuat. Dia merasa bahwa beberapa orang mengikuti mereka. Dia semakin gelisah. Apalagi kawasan yang mereka masuki ini cukup sepi. Bisa saja orang-orang itu menyergap dan menyerang mereka.
Dan terlebih lagi, ternyata bukan hanya dia yang merasa curiga. Paman menyebalkan itu juga. Mereka akhirnya saling bertatapan. Seakan mengerti isi hati satu sama lain, mereka mengangguk
***
Robert tidak akan membiarkan gadis kecilnya bersama orang lain. Apalagi bocah berbahaya itu. Dia tidak setuju saat bocah berbahaya itu mengajak Eva berkeliling. Dengan sigap dia menolak saran bocah berbahaya. AKhirnya mereka harus berkeliling bertiga sekarang.
__ADS_1
Ini juga bukan pertama kalinya Robert mengunjungi Kota sihir. Dia pernah mengunjungi kota ini beberapa tahun yang lalu bersama dengan Dean Wason. Walaupun dia tidak tahu secara spesifik kota ini, tapi dia mengetahui garis besarnya. Sehingga dia tidak terlalu antusias saat berkeliling. Lagipula tujuan utamanya memang bukan jalan-jalan tapi menjaga.
Tempat singgah pertama mereka adalah toko artefak sihir. Awalnya Robert agak tertarik. Tapi saat dia tahu kualitas artefak yang dijual bahkan lebih rendah dari miliknya, ketertarikannya langsung menghilang.
Saat mereka selesai mengunjungi toko artefak, Robert merasakan sesuatu yang menjanggal. Dia merasakan beberapa mana asing di sekitar yang tidak bergerak. Pengintaian? Tapi dia belum bisa mengambil keputusan karena tempat itu sangat ramai. Bisa saja ada beberapa orang yang melakukan sesuatu. jadi dia tidak terlalu memikirkannya.
Tempat kedua adalah toko alat sihir. Di tempat ini dia membeli beberapa alat sihir yang biasa dia gunakan sehari-hari.
Saat mereka mulai keluar toko artefak dan menuju kawasan penjualan, mana yang dia rasakan tadi ternyata masih berada di sekitar mereka. Kenapa mana asing itu terus berada di sekitar bahkan saat mereka bergerak? Ini benar-benar pengintai!
Robert mengirimkan peringatan dengan aura membunuhnya. Dia bahkan menggunakan mananya sendiri untuk mencari jejak para pengintai. Tapi mana asing itu tiba-tiba menghilang! Robert kaget. Kelihatannya para pengintai ini sangat profesional.
Karena ini Robert mulai meningkatkan kewaspadaannya. Dan dia tidak boleh meninggalkan gadis kecilnya sekarang.
***
Karena Robert dan Sayn sibuk mendeteksi penyusup, mereka tidak sadar Eva bergumam sendiri saat dia berbicara dengan Rexus
***
Aku membuka pintu toko. Saat masuk, toko itu benar-benar sepi. Aku tidak melihat pelanggan satu pun. Mungkin ini karena tampilan depan bangunan yang tidak menarik sama sekali dan terkesan kumuh.
Sang karyawan toko tersenyum saat tahu dia mendapatkan tamu.
__ADS_1
Awalnya aku mengira karyawan tokonya seorang nenek penyendiri, tapi aku salah. Karyawan tokonya adalah seorang pemuda tampan yang kira-kira sepantaran Robert. Pemuda itu memiliki mata dan rambut coklat. Saat dia tersenyum, dia memberikan kesan yang sangat ramah.
"Selamat datang" sambut karyawan toko.
"Em" aku mengangguk. "Maaf sebelumnya, aku ingin bertanya tentang ramuan rekomendasi yang dijual di toko ini"
"Kami menjual beberapa ramuan langka yang tidak akan dijual di tempat lainnya" katanya sambil menunjukkan satu rak yang penuh dengan ramuan.
Aku melihat rak itu. Cukup besar tapi....kalau dibandingkan dengan toko ramuan yang kukunjungi di Negara Kano, jelas-jelas sangat berbeda jauh. Ramuan yang ada disini sangat sedikit. Benar-benar sedikit.
Saat aku mulai mengamati, aku sedikit bingung. Tidak ada keterangan fungsi ramuan sama sekali!
"Permisi" aku memanggil karyawan toko. "Bisakah kau beritahu apa fungsi ramuan ini?" tanyaku sambil menunjuk ramuan dengan warna biru berkilau. Warna ini benar-benar cantik sehingga ramuan ini terlihat lebih mencolok dari ramuan lainnya. Jujur saja tidak ada ramuan yang sama di rak ini. Semua ramuan ini berbeda jenis.
"Maaf nona. Ini adalah salah satu ciri khas toko kami. Kami mendapatkan ramuan bagus dan langka, tapi kami tidak mengetahui fungsinya. Karena beberapa dari mereka langka, kami tidak bisa mencoba untuk mengetahui fungsinya" jelasnya dengan nada kecewa. "Tapi jangan khawatir nona. Kami bisa menjamin ramuan yang kami jual sangat bagus. Bahkan kau bisa menemukan ramuan kuno jika kau beruntung!" katanya semangat.
Setelah mendengar penjelasannya, mulutku berkedut. Kau menjual ramuan yang sama sekali tidak kau ketahui asal dan fungsinya? Apa-apaan itu? Sekarang aku mengerti kenapa toko ini sangat sepi. Bukan karena bangunanya yang kumuh, tetapi karena toko ini sangat aneh. Bagaimana kalau konsumen mereka mengambil ramuan racun mematikan dan meminumnya? Bukankah mereka akan mati di tempat.
Toko ini sepi karena tidak ada yang mau membeli ramuan yang tidak jelas seperti ini. Karena mereka tidak mau menjadikan diri mereka korban percobaan sendiri dengan mencicipi ramuan ini.
Ha~ aku menghela napas. Haruskah aku menyerah saja? Lagipula aku tidak terlalu bergantung dengan ramuan. Jadi walaupun aku tidak membelinya juga tidak masalah.
Sampai akhirnya Rexus mulai mengeluh dan bersuara " Makanan, aku mau itu! Aku mau itu juga! Mau itu! Itu sangat enak!" teriaknya antuasias.
__ADS_1
Ah! Aku lupa bahwa tujuanku masuk ke sini untuk membeli makanan untuk Rexus. Aku pun tidak jadi meninggalkan toko itu.