
Cerita sebelumnya:
Eva tiba tiga puluh menit lebih awal. Sehingga dia harus menunggu dengan bosan sampai pertandingan ini dimulai.
Tapi saat ujian pertandingan akan dimulai, sosok yang tak terduga tiba-tiba datang. Dia adalah Denis dan Jensen, yang dalam sekejap menjadi pusat perhatian semua orang.
Bahkan Denis menghampiri nya dan melakukan tindakan yang tak terduga padanya. Membuat nya menjadi pusat perhatian lagi.
Eva tidak mengerti maksud tindakan dari Denis. Dia juga bingung kenapa orang seperti nya hadir di ujian pertandingan yang sangat tidak penting ini. Bukankah harusnya dia sibuk?
***
Ujian pertandingan akhirnya dimulai. Ada lima arena di lapangan pertandingan. Jadi akan ada lima pertandingan dalam satu kali putaran.
Beruntung nya dalam putaran pertama, tidak ada seorang senior pun yang menantang ku. Jadi aku bisa bernapas lega selama lima belas menit dan menonton pertandingan secara gratis.
Tapi aku tidak terlalu berminat mengamati pertandingan mereka. Sehingga semua ini terasa sangat membosankan.
Putaran pertama pun akhirnya selesai dan putaran kedua pun dimulai. Pada putaran kedua, tidak ada yang menantang ku juga. Tapi beberapa murid tingkat satu mendapatkan tantangan. Mereka adalah Lilac dan Putra Mahkota dari Kerajaan Kano itu. Tapi dua orang itu berhasil menang dan mempertahankan kursi mereka.
Ada sepuluh kali putaran dengan total lima puluh orang murid. Pada Putaran ketiga, aku mendapatkan penantang pertama.
Aku tidak mengenal senior ini. Dia adalah seorang pria bangsawan yang aku tidak kenal sama sekali. Saat kami berhadapan, arena kami langsung menjadi pusat perhatian dibandingkan arena lainnya.
"Nona, aku mohon maaf. Aku tidak akan membuat mu sakit terlalu lama" dia berkata dengan nada percaya diri.
Aku tercengang dengan perkataan nya. Bukankah dia terlalu narsistik? Penampilan nya juga sangat mendukung. Dia mengenakan jaket putih mengkilap untuk membungkus seragamnya. Lalu rambut pirangnya yang cukup panjang, dikucir kuda dengan pita dari batu berlian. Ditambah dengan sepatunya yang terlihat mencolok dari kejauhan. Dengan penampilan nya, dia bahkan bisa terlihat menyilaukan di kegelapan malam.
"Kenapa kau diam Nona? Apa kau terpesona dengan ketampanan ku?" katanya sambil mengibaskan poni rambutnya.
Urat-urat kekesalan muncul di kepala Eva.
BAM! Dia melayangkan tinjunya tanpa menggunakan sihir apapun. Tapi tubuh pria di depannya langsung terpental keluar arena seperti kaleng minuman. Ya, dia kalah dengan satu serangan.
Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kulihat ini! Terlalu menjijikan! Dia benar-benar... seperti banci...
Aku tidak percaya orang seperti ini ada di dunia ini juga. Aku bahkan menatap tanganku tak percaya bahwa aku menyentuh benda itu dengan tanganku!
Pertandingan berakhir hanya dalam beberapa menit. Aku langsung kembali ke kursiku. Ternyata pertandingan di arena lain juga berakhir dengan cepat.
__ADS_1
Putaran ketiga dimulai dan aku mendapat tantangan lagi. Kali ini adalah seorang gadis bangsawan. Penampilan nya cukup normal, kecuali kuku panjang nya yang berwarna merah dan juga make up-nya yang terlalu berlebihan.
"Apa kau tunangan Yang Mulia Denis? Aku tidak percaya dia memilih gadis seperti papan cucian seperti mu" katanya sarkas.
Oke, kali ini adalah si pemuja Denis. Tapi, siapa yang papan cucian!?
BAM!
Eva menyingkirkan musuh lainnya keluar arena dengan satu serangan lagi.
Walaupun Eva berhasil mengalahkan nya, dia masih mengingat perkataan wanita itu dalam kepalanya. Tanpa sadar dia melirik ke arah dadanya. Wajahnya langsung berubah suram. Karena hal itu membangkitkan kenangan buruknya di masa lalu. Dia sudah lupa hal ini cukup lama, tapi seseorang benar-benar mengingatkan nya lagi...
Kemudian putaran selanjutnya pun berlangsung. Dari putaran ke lima sampai ke delapan, Eva harus menghadapi banyak penantang. Tapi mereka semua adalah orang aneh dan berakhir hanya dalam satu serangan.
Tapi akibatnya Eva merasa kelelahan karena dia harus bolak-balik dari kursinya menuju arena. Bahkan ada saat dimana dia hanya duduk selama satu menit dan harus berhadapan dengan penantang lainnya. Sehingga Eva merasa dia benar-benar membuang waktunya untuk hal yang tidak berguna.
Akhirnya, putaran ke sembilan pun dimulai. Kali ini lawannya adalah seorang rakyat jelata, bukan seorang bangsawan. Dia seorang gadis yang terlihat cukup normal. Rambut, seragam dan sikapnya normal. Tidak ada ornamen aneh padanya.
Aku sedikit merasa lega saat melihat Lawan di depanku. Setidaknya kalau lawanku normal, aku tidak perlu mengalami tekanan mental saat menghadapi nya.
"Kenapa kau selalu bersikap kasar pada Reina?" dia tiba-tiba memulai pembicaraan.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu. Mulai saja pertandingan nya" aku menjawab malas.
Gadis itu menggertakan giginya. "Aku melawanmu demi Reina. Sebenarnya aku tidak mau ikut ujian pertandingan ini. Tapi aku selalu melihat mu menyalahgunakan kekuatanmu untuk merendahkan orang lain. Bisakah kau hentikan itu?"
aku menatapnya bingung. Kenapa dia membicarakan masalah lain di tempat seperti ini? Ini adalah ujian akademi. Bukan pertandingan kesetiakawanan.
Aku berusaha untuk tidak mempedulikan perkataan nya. "Bisakah kita mulai pertandingan nya sekarang?"
Melihat Eva mengabaikan nya, dia meneruskan ocehannya. "Kau benar-benar.... Aku sangat membenci kalian! Apa karena kalian adalah bangsawan kalian berhak memperlakukan kami seperti ini? Aku berharap semua bangsawan di dunia ini benar-benar lenyap!" katanya penuh kebencian.
"Tu...tunggu dulu. Aku sama sekali tidak pernah melukaimu. Kenapa kau begitu membenciku?"
"Aku membencimu dan itu hakku!" katanya tajam. Saat melihat Bangsawan, kebencian dalam hatinya langsung terbakar. Dia kembali mengingat masa kecilnya saat dia menjadi budak seorang bangsawan dan diperlakukan seperti seorang binatang. Dia bersyukur saat itu Reina menolong nya dan membawanya ke akademi karena dia mempunyai bakat untuk menompang hidupnya.
"Aku berharap kau dan keluarga mu mati!" bentaknya. Lalu dia tersenyum sinis. "Bukankah ibumu adalah wanita bangsawan manja dan lemah? Dia bisa mati dengan mudah. Mungkin dengan racun? Dan bayi kecil tak berguna itu juga. Aku berharap dia bisa menjadi bahan obat bagi penyihir gelap. Lalu ayahmu, dia mungkin akan mati karena rakyat menginginkan kematian nya. Kalau itu semua terjadi, benar-benar hal yang sangat indah hahaha" dia tertawa senang seperti orang gila.
Wajah Eva menghitam. Dia tidak peduli kalau ada yang mengutuk dirinya. Tapi orang ini bahkan mengutuk seluruh keluarganya untuk mati! Benar-benar keterlaluan! Eva merasakan amarah terbakar dalam hatinya.
__ADS_1
"Inferno"
Aku langsung menggunakan sihir tingkat tinggi tanpa pandang bulu. aku bahkan tidak peduli kalau aku menbunuhnya.
Lahar pun terbentuk di seluruh lapangan. Bahkan sihir Eva mulai mengacaukan arena lainnya dan pertandingan lainnya menjadi terganggu.
Tubuh gadis itu yang berada di tengah lahar panas, langsung terbakar.
"Tunggu!"
Wasit bertindak cepat dengan menghentikan Eva dan mengguyur tubuh gadis itu dengan Sihir air.
Eva pun tersadar. Dia melihat seluruh aula dengan wajah sedikit linglung.
Apa yang aku lakukan? Aku benar-benar hampir membunuh seseorang di depan publik...
Gadis di depannya masih bernapas. Tapi seluruh tubuhnya menghitam karena terkena luka bakar. Bahkan salah satu kakinya sudah menjadi abu. Dia masih bisa bernapas dan bertahan hidup karena jantungnya masih terlindungi dengan baik. Tapi penampilan nya benar-benar sangat mengerikan. Gadis itu terletak di antara hidup dan mati.
"Apa yang kau lakukan? Kau tahu bukan membunuh akan membuat mu didiskualifikasi dan bahkan dikeluarkan dari akademi!" Guru yang bertindak sebagai wasit itu memperingati nya.
"..."
Eva masih linglung.
"Tapi dia tidak mati....jadi aku tidak membunuh..." Eva memberikan pembelaan pada dirinya dengan nada gugup.
Wasit itu hanya bisa menghela napas dan menggeleng kan kepalanya.
Seluruh aula menjadi sunyi karena kejadian di depan mereka. Walaupun mereka sebelumnya sudah melihat kekejam Eva, tapi kali ini dia lebih kejam. Lebih tepatnya gadis kecil itu terlihat seperti monster dengan kekuatan nya. Mereka merinding ngeri saat melihat sosok kecil itu membunuh seseorang tanpa pandang bulu. Benar-benar kejam! Bagi mereka figur kecil Eva bukan seperti manusia tapi seperti iblis.
"Kau bisa kembali ke kursimu" Wasit itu memberitahunya.
Eva menundukkan kepalanya dan kembali berjalan menuju kursinya. Tidak ada yang bisa melihat ekspresinya sekarang karena rambut nya menutupi wajahnya.
Saat dia melangkah, suasana aula itu masih sangat sunyi. Semua orang melihat Eva dengan tatapan ketakutan dan bahkan tidak berani mengeluarkan suara mereka. Mereka takut iblis kecil itu menyerang mereka tiba-tiba karena merasa tersinggung. Dan tidak ada yang menyelamatkan mereka, sejak mereka hanyalah rakyat kecil tanpa gelar apapun.
Eva duduk di kursinya. Kursinya sedikit bergetar dan menimbulkan suara. Suara kursi itu menjadi suara satu-satunya yang berbunyi kuat di seluruh aula.
Bahkan si peringkat empat yang sebelumnya mengejeknya sekarang sangat gugup. Keringat dingin bercucuran di keningnya karena dia merasa tidak nyaman. Dia tidak tahu kenapa, tapi dia merasakan ketakutan yang sangat ekstrim saat Eva mulai duduk kembali di samping nya.
__ADS_1
Sebelum nya dia pernah memprovokasi Eva. Ada satu ketakutan di hatinya, dia takut Eva membalas dendam padanya. Melihat bagaimana mudahnya gadis itu membunuh karena dia putri duke, benar-benar membuat nya sangat tidak nyaman dan sedikit takut...