Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Ras Elf Cahaya


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Terjadi perkelahian antara Lena dan Caca, yang membuat mereka saling memukul satu sama lain. Bahkan Fram terlibat di dalamnya. Untung saja Ren datang dengan cepat untuk menghentikan perkelahian itu sebelum menjadi lebih parah.


***


Setelah beberapa hari menginap di istana, akhirnya Caca harus pulang kembali ke wilayah nya sendiri karena waktunya sebagai utusan sudah habis.


Aku dan Ren akan mengantarnya kembali dengan alasan kami akan menjawab tawaran pernikahan itu secara empat mata dengan sang raja. Ren sebenarnya enggan karena dia tidak mau bertemu langsung dengan Vien. Tapi aku membujuknya dengan keras sampai akhirnya dia menyerah.


Kami memiliki tujuan lain untuk pergi ke wilayah elf cahaya, yaitu membentuk hubungan kerja sama tentang robot pembersih itu. Aku harap Vien adalah pria dengan pikiran terbuka dan akan menyetujui penawaran kami tanpa syarat yang terlalu berat.


Caca menatap Fram dengan wajah sedih, dia tidak ingin kembali.


"Fram, selamat tinggal" katanya, hampir menangis.


"Jangan menangis!" teriak Fram dengan wajah memerah. Dia sebenarnya merasa sedih juga tapi dia langsung menyangkal perasaan itu. "Kita bisa bertemu kapan pun kita mau. Bukan berarti kita terpisah selamanya" katanya kemudian.


"Um" Caca mengangguk patuh. Matanya penuh tekad sekarang dan tangisannya terhenti. Fram benar, dia bisa kembali kalau dia ingin. Kuncinya adalah Ren!


Dia harus membujuk Ren agar mengizinkan nya keluar masuk wilayah nya dengan lingkaran sihir. Tapi hal itu mungkin sulit mengingat kedua ras mereka sama sekali tidak akur.


Tapi setelah tinggal di istana selama beberapa hari, Caca akhirnya menemukan kelemahan Ren. Caca menatap gadis manusia, yang selalu berada di samping Ren. Gadis manusia itu bisa membantunya! Caca yakin bahwa gadis manusia itu memiliki hubungan tidak biasa dengan Ren, sehingga Ren selalu menuruti perkataannya. Caca berpikir untuk mencari waktu yang tepat agar dia bisa berbicara pada Eva tentang rencananya. Dan berharap Eva bisa membantunya.


Perjalanan mereka pun dimulai. Dengan adanya Ren, mereka tidak perlu bersusah payah melintasi hutan untuk sampai ke wilayah elf lain. Ren sudah membangun titik teleportasi yang menghubungkan kedua wilayah. Jadi kita hanya perlu berteleportasi untuk menuju ke sana.


Hanya memakan waktu dua menit, kami akhirnya sampai ke wilayah elf cahaya. Tapi saat ini yang kulihat adalah hutan, aku tidak melihat desa elf apapun. Sempat aku mengira bahwa titik teleportasinya salah, tapi tidak mungkin.


"Ini segel pelindung" kata Ren kemudian. "Sama seperti di tempat kita, mereka juga memasang segel pelindung"


Aku mengangguk mengerti. Jadi begitu! Pantas saja orang luar sama sekali tidak bisa melihat desanya!

__ADS_1


Caca maju lebih dulu bersama dua pengawalnya. Dia mempunyai cara untuk membuka segel itu sejak dia adalah seorang putri.


Caca mengeluarkan sesuatu yang berbentuk seperti jarum. Lalu benda itu melayang di udara dan CRANG! Terdengar suara kaca pecah. Lalu pemandangan di depanku berubah.


Awalnya itu hanya hutan, tapi sekarang aku bisa melihat gerbang kayu yang sangat besar di depan. Gerbang itu secara perlahan terbuka dan keluarlah dua orang prajurit elf.


"Selamat datang putri" mereka menyambut kedatangan Caca dengan hormat. Saat mereka melihat kehadiran elf gelap dan juga manusia di belakang putri mereka, mereka sedikit tersentak tapi tidak mengatakan protes apapun.


Kami pun masuk, tentu saja dengan Caca yang memimpin kami di depan. Saat aku mulai memasuki kota, aku sedikit tercengang. Suasana di sini berbeda dengan desa elf gelap. Ini adalah desa elf sebenarnya yang biasanya kulihat di buku bergambar. Agak kuno, penuh dengan rumah-rumah pohon dan suasananya seperti negeri dongeng tanpa sentuhan teknologi apapun.


Bahkan aku bisa melihat peri-peri kecil berterbangan. Mereka sangat indah...


Note: Eva tidak tahu bahwa peri-peri kecil itu adalah ras elf daun yang selama ini diakusisi oleh elf cahaya.


Kami terus berjalan mengikuti Caca dan pengawalnya. Saat kami sampai di tempat yang agak ramai, kelompok kami menjadi pusat perhatian. Mungkin karena mereka antusias melihat putri atau mereka menganggap keberadaan ku dan Ren sangat asing. Aku merasa sedikit menyesal sekarang. Harusnya aku pakai jubah sebelum pergi. Setidaknya identitasku sebagai manusia bisa tertutupi sebentar.


"Tidak apa-apa" Ren merasa bahwa Eva tidak nyaman. Dia langsung membawa Eva dekat dengan nya dan menutupinya dengan tubuhnya. "Mereka tidak akan melukai kita. Kalau pun mereka ingin, aku akan membuat mereka lenyap" kata Ren kejam. Dia bahkan tidak peduli bahwa tempat ini bukan wilayahnya dan berbicara dengan arogan.


"Aku tidak akan membiarkanmu membuat kekacauan di wilayah ku" tiba-tiba suara yang sangat khas menegur kami. Kelihatannya dia mendengar ocehan Ren.


Aku menoleh dan melihat seorang elf pria yang sangat cantik berjalan mendekati kami dengan beberapa pengawal di belakang nya.


"Ayah!" Caca dengan gembira menghampiri elf itu.


Lalu para rakyat elf yang berada di tempat itu mulai berhenti dan menundukkan kepala mereka.


"Yang mulia!" kata mereka serentak.


"Kau sudah pulang" elf itu mengelus rambut putrinya.


"Um" gumam Caca manja.

__ADS_1


"Jadi itu kau" kata Ren dengan wajah tidak senang. Dia menatap jijik elf di depannya.


"Halo Ren. Kau arogan seperti biasanya. Tapi aku tidak akan membiarkan mu mengacau di wilayah ku" elf itu tersenyum tapi dia berbicara dengan nada yang sangat tajam.


Saat Vien menyebutkan nama "Ren", semua orang di tempat itu langsung membeku ketakutan. Tentu saja mereka mengenal siapa itu Ren dan juga reputasi kejamnya.


"Humph!" Ren hanya mendengus kesal. Dia benar-benar tidak ingin menginjakkan kaki ke tempat ini kalau Eva tidak memaksa nya.


"Halo, Yang Mulia Vien" kataku lembut. Aku ingin mencairkan suasana di antara mereka. Aku tidak tahu kenapa kedua orang ini menjadi musuh, tapi bukankah dari dulu kedua ras elf ini memang tidak akur satu sama lain? Jadi aku tidak bisa menyalahkan Vien atau Ren, karena aku tidak mengetahui sejarah asli dari ras elf mereka.


"Oh?" Vien menatap Eva dengan mata tertarik. Kemudian dia menatap Ren dan tersenyum "Halo nona manusia. Apa kau kekasih Ren?" katanya blak-blakan.


Uhuk!


Aku langsung tersedak! Ada apa dengan elf tua ini? Aku sekarang merasakan apa yang Ren rasakan. Kelihatannya elf ini memiliki lidah yang sangat tajam dan blak-blakan sehingga membuat orang lain frustasi karena perkataan nya.


"Bukan. Aku adalah murid nya" jawabku kemudian. Ini tidak bohong. Ren adalah guru di Akademi, jadi otomatis aku memang muridnya.


Entah kenapa wajah Ren berubah kecewa saat dia mendengar hal itu. Tapi hanya sedetik sebelum ekspresi nya kembali datar lagi.


"Oh?" Vien bahkan lebih tertarik setelah mendengar nya. "Aku tidak menyangka bahwa Ren akan mengangkat seorang murid dan itu seorang manusia" dia berkata dengan mata berbinar.


"Ceritanya panjang ..." kataku canggung. "Bukan murid seperti yang kau pikirkan"


Aku bukan murid pribadi Ren, oke. Dia hanya guruku di akademi. Itu saja. Tapi tidak mungkin aku mengatakan itu padanya. Bahwa selama ini Ren menyamar di dunia manusia dan menjadi seorang guru. Itu adalah privasi Ren lagipula.


"Baiklah." Vien berkata malas. Dia juga tidak ingin melanjutkan topik pembicaraan ini. "Ayo ke Istana. Aku yakin kalian ingin membicarakan sesuatu sejak kalian datang sendiri ke tempat ini" Dia tersenyum cantik sebelum berbalik ke depan.


Kami mengikutinya di belakang. Dan Caca memegang tangan ayahnya saat berjalan.


Istana elf cahaya tidak terletak jauh. Aku sudah bisa melihat nya dari sini. Umu, itu istana yang sangat besar...

__ADS_1


__ADS_2