Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 3: Akademi: Ujian Masuk


__ADS_3

Cerita Sebelumnya:


Setahun sudah berlalu. Eva sudah menginjak umur dua belas tahun. Eva sudah bersiap-siap untuk pindah ke ibu kota dan masuk ke dalam akademi kerajaan. Hari itu setelah berpamitan dengn orang tuanya, dia berangkat melalui jalur darat dengan kereta. Kereta dengan lima gerbong. Bersama dengan sepuluh orang pelayan dan lima belas orang prajurit.


Untuk sampai ke ibukota, mereka harus melintasi hutan selama dua belas jam. Saat di perjalanan, Eva tidak sengaja bertemu dengan pendagang budak yang menjual anak-anak elf dan juga beast. Eva menghancurkan para pendagang budak itu dan menyelamatkan anak-anak yang ditangkap Dia berniat mengembalikan anak-anak itu ke desa mereka. Tapi salah satu anak elf ingin mengikutinya. Anak elf itu ingin bersamanya karena tertarik dengan mana gelap dalam tubuhnya. Dan yang lebih tidak terduga, ternyata bocah itu adalah seorang elf gelap yang sedang dalam penyamaran.


Karena rasa kasihan, Eva memutuskan untuk membawa anak itu dengan syarat si anak harus menyamar menjadi anak manusia.


***


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali, para pelayan itu mulai mengemasi tenda dan sisa bahan makanan. Aku sebenarnya masih linglung dan mengantuk karena aku terlambat tidur. Tapi Wiya memaksaku bangun.


"Aku masih mengantuk Wiya~" kataku malas sambil berguling. Aku benar-benar ingin tidur lagi.


"Nona, ayo bangun. Nanti perjalanan kita bisa terlambat. Kita harus pergi sekarang agar bisa sampai nanti sore" kata Wiya tidak kenal ampun sambil menarik kasur kecilku.


"Nona, para prajurit juga ingin mengemaskan tenda. Jangan menyusahkan mereka" kata Wiya dengan pose kedua tangan di pinggangnya.


Aku pun memaksakan diri untuk bangun. Saat aku bangun, aku melihat perkemahan sudah bersih. Benar kata Wiya, hanya tendaku yang masih berdiri. Sementara tenda lainnya sudah dirapikan.


Aku pun keluar dari tenda dan masuk ke dalam kereta.


Haa~ aku mengehela napas sambil menyandarkan diri di kursi kereta. Aku masih mengantuk dan secara perlahan mataku terpejam lagi.


Tapi tiba-tiba TOK TOK TOK, aku mendengar suara ketukan dari samping kereta. Aku tidak jadi terpejam dan menoleh keluar. Lalu aku melihat bocah elf itu menatapku dengan senyum lebarnya dan mata berbinar.


"Masuklah bocah"


Bocah elf (dengan penampilan manusia) itu berlari masuk ke dalam kereta dan langsung duduk di sebelahku.


Aku kira bocah ini akan berlarian ke sana kemari, tapi ternyata tidak. Dia duduk diam di sampingku dan tidak berbicara apa pun.


"Apa kau pernah pergi ke desa manusia?" aku yang pertama kali membuka pembicaraan.


Dia dengan cepat menggeleng.


"Jangan kaget saat kau tiba di ibu kota oke. Para manusia mungkin agak berbeda dengan kalian. Dan ini yang paling penting" aku menatapnya serius. "Di ibukota ada banyak sekali budak elf, jangan melakukan apa pun yang berlebihan oke. Walaupun kau marah, kau harus bisa menahan emosimu. Atau laporkan padaku apabila kau melihat hal yang tidak pantas"


Bocah itu dengan patuh mengangguk.


"Hmm...anak baik" aku memujinya sambil mengacak-acak rambutnya.


Bocah itu langsung menundukkan wajahnya dan telinganya memerah.


Ah~ ternyata dia malu.


Bocah yang sangat imut ~


Beberapa menit kemudian, Wiya juga menyusul masuk ke dalam kereta. Awalnya Wiya agak kaget karena dia melihat seorang bocah asing duduk di samping nonanya. Tapi Eva segera memberikan isyarat bahwa ini baik-baik saja. Jadi Wiya kembali tenang.


Perjalanan kami di lanjutkan kembali.


Saat itu aku benar-benar melanjutkan tidurku yang terputus.


Dan Wiya sedang bercanda dengan bocah elf itu. Sudah kuduga Wiya memang ramah terhadap anak-anak. Dia sangat menyukai anak-anak. Aku sebenarnya sudah pernah membebaskannya untuk mencari pasangan dan menikah, lalu punya anak. Tapi Wiya masih bersikeras untuk tetap merawatku. Dia bilang dia tidak tenang meninggalkanku sendirian.


"Aku mungkin agak tenang membiarkan nona saat nona sudah menikah" itulah jawabannya. Dia menjawab dengan tegas dan serius, jadi aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Perjalanan berlangsung beberapa jam. Perjalananan ini sangat lancar. Tidak terjadi apa pun selama di perjalanan. Dan kami tiba di ibukota saat menjelang sore.


Saat sampai di depan gerbang, para penjaga langsung membiarkan kami masuk karena kereta kami memiliki lambang bangsawan duke.


Saat kami mulai masuk ke dalam ibu kota, aku tidak bisa menahan rasa ingin tahuku dan mengintip dari balik jendela kereta. Terakhir kali aku melihat pemandangan ibu kota saat aku lari dari rumah dan bertemu insiden kecelakaan itu. Tapi pemandangan yang kuinginkan tidak terjadi. Saat itu penuh dengan orang yang berlalu lalang dan ada banyak kios di tepi jalan. Tapi sekarang, tidak ada kios-kios lagi di tepi jalan, dan semua pejalan kaki yang melihat kereta kami langsung menyingkir dan menundukkan kepala mereka. Wajah mereka berkeringat dan terlihat sekali sangat ketakutan.


Cih! Ternyata reputasi rumah Duke seburuk ini di kalangan rakyat jelata. Tidak heran kalau aku sangat dibenci waktu itu. Tapi kenapa? Ayahku tidak mungkin melakukan hal yang jahat kepada rakyat. Dia juga jarang datang ke ibukota. Tapi kenapa rumor tentang kami tersebar begitu buruk. Ini tidak masuk akal. Siapa yang menyebarkannya?Hmmm...aku melihat teori konspirasi di sini....


Setelah beberapa menit, akhirnya aku sampai di mansion lamaku.


Aku cepat-cepat turun dari kereta dan meluruskan punggungku.


"Ah, aku benar-benar tidak mau naik kereta lagi. Ini terakhir kalinya" aku mengeluh sambil merenggakan tubuhku. Lain kali aku benar-benar akan menghilangkan opsi kereta. Aku lebih memilih terbang atau pun berteleportasi dengan sihir. Setelah semua, sihir memang lebih efisien.


Aku mengamati mansion di depanku. Mansion ini sudah kembali baru mengingat aku merusaknya terakhir kali.


Aku segera mengatur para pelayan untuk memindahkan barang dari gerbong ke dalam mansion. Dan merapikan semua perabotan. Aku juga menitipkan bocah elf itu pada Wiya, menyuruhnya untuk memilihkan kamar. Setelah semuanya selesai, aku langsung pergi ke kamarku.


Besok adalah hari pertama aku datang ke akademi itu.


Yah, besok adalah ujian masuk akademi. Sebenarnya semua bangsawan dibebaskan dari ujian masuk. Ujian masuk besok hanyalah formalitas.


Ujian masuk akademi lebih dikhususkan kepada rakyat jelata yang ingin belajar. Apabila mereka memperoleh nilai yang baik saat ujian masuk, mereka bisa mendapat beasiswa. Karena itulah, ujian masuk didominasi oleh para rakyat jelata.


Bagi para bangsawan, ujian masuk tidak terlalu penting. Jadi ada bangsawan yang hadir dan ada yang tidak. Eva di dalam novel juga tidak hadir dalam ujian masuk, dia lebih senang pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli baju dan aksesoris. Hanya bangsawan yang benar-benar ingin mengasah kemampuan mereka yang hadir pada ujian masuk. Karena mereka ingin tahu sampai mana kekuatan mereka berkembang.


Aku juga ingin hadir di ujian masuk ini. Aku sangat penasaran.

__ADS_1


Oh! Dan aku juga ingat event yang terjadi saat ujian masuk. Yah, itu bukan event Reina dan Denis, tapi event Reina dan Robert. Saat sesi pengujian kekuatan sihir, Reina mendapatkan hasil yang terduga dan membuat gempar para guru. Kebetulan yang mengawasi ujian itu adalah Robert. Jadi Robert mulai menaruh perhatian pada Reina sejak hari itu. Sayangnya Robert tidak akan menjadi guru di akademi bukan. Karena dia sudah kembali ke Menara Sihir. Jadi kukira event ini tidak akan terjadi.


"Ah~ aku benar-benar tidak sabar menanti hari besok~"


***


Keesokan harinya aku bangun pagi-pagi sekali. Aku tidak boleh terlambat saat ujian sihir ini atau aku tidak akan bisa masuk nanti, alias diusir oleh para pengawas. Jadi setelah bersiap-siap dan berpakaian, aku segera masuk ke dalam kereta dan menuju ke akademi.


Aku belum pernah ke akademi, jadi aku perlu panduan agar tidak tersesat. Karena itu aku duduk di kereta terkutuk ini! Tapi, setelah aku hapal jalan, aku pasti tidak akan memakai benda ini lagi, humph! Aku lebih memilih untuk terbang atau berjalan kaki.


"Ah bokongku~" aku meringis sedih dengan tidak nyaman memperbaiki posisi dudukku.


Yah, sebenarnya lebih efektif menggunakan sihir teleportasi saat berpergian. Tapi, sihir teleportasi sangat dilarang di akademi. Seluruh akademi dipasang array sihir sebagai penghalang sihir teleportasi. Aku dengar itu adalah array kuno yang menyelimuti seluruh bangunan dan sekitarnya. Akademi membuat sihir penghalang ini agar para penyusup dari luar tidak masuk ke dalam, seperti pencuri, pembunuh, dll. Mereka akan kewalahan kalau para penyusup itu masuk dan membuat insiden. Kenapa? Karena akademi penuh dengan para bangsawan. Sangat berbeda dengan Menara Sihir. Mereka tidak terlalu peduli saat ada penyusup yang masuk.


"Semakin banyak penyusup semakin baik. Karena itu akan melatih kekuatan dan insting para murid" begitulah kata kakek.


Inilah perbedaan anatara kaum bangsawan dan kaum biasa. Aku tidak bisa mengeluh tentang ini. Ini sudah diatur bahwa para bangsawan itu bersikap manja dan selalu bergantung. Sementara para orang biasa dituntut untuk belajar mandiri.


Akhirnya aku sampai~


Ternyata ini tidak jauh dari mansion. Aku bisa pergi berjalan kaki, tapi kemungkinan Wiya tidak akan mengizinkannya haa~


Tapi setidaknya aku bisa terbang.


Saat aku turun kereta, aku langsung disunggukan pemandangan yang menakjubkan. Tapi aku tidak terlalu terkejut, karena dibandingkan Menara Sihir, bangunan ini cukup biasa. Bangunan yang tinggi dan luas. Halaman rumput dengan taman yang sangat menyejukan mata. Dan pagar yang sangat tinggi.


"Pemandangan yang cukup indah~" aku bergumam kagum.


Bangunan ini bahkan lebih besar dari istana.


"Benar sekali, indah bukan. Aku belum pernah melihat bangunan sebesar ini. Rumahku hanya sebesar pagar depannya saja" tiba-tiba suara yang tidak kukenal muncul.


Aku menoleh dan melihat seorang anak lelaki gemuk dengan bintik-bintik di wajahnya.


"Halo, perkenalkan aku Gun" kata bocah itu sambil tersenyum lebar.


"Halo" aku membalas salamnya.


Kali ini aku memakai gaun sederhana, gaun polos berwarna coklat, yang membuatku tidak terlihat mencolok di kerumunan ini. Karena itulah bocah ini berani menegurku ya?


"Apa kau akan mengikuti ujian masuk?" tanyaku pada bocah gemuk itu.


"Iya." katanya. Tapi tiba-tiba dai tersenyum. "Tapi aku sebenarnya sudah lulus. Aku hanya mengikuti ini sebagai formalitas saja" katanya bangga.


"Oh? kau seorang bangsawan?"


Oh? Bocah ini tidak buruk! Dia benar-benar bangga dengan status kelahirannya. Bocah ini pasti anak pedagang kaya raya yang menyumbangkan banyak uang untuk akademi, makanya dia bisa masuk tanpa mengikuti ujian. Aku bisa melihat dari pakaian yang dikenakannya. Walaupun terlihat sederhana, baju dan celananya dari kulit hewan tingkat lima. Lalu pedang di pinggangnya memiliki aura yang aneh. Dan sepatunya memiliki ketahanan yang bagus. Dia memiliki banyak barang langka di tubuhnya.


"Lihat saja bangsawan itu!" tunjuk bocah itu ke samping.


Aku melihat seorang anak laki-laki bangswan dengan pakaian berwarna putih dan mewah.


"Apa-apaan! Dasar laki-laki cantik! Aku yakin dia punya kosmetik di saku bajunya. Aku yakin dia memakai bedak dan parfum. Bibir merah itu pasti memakai pewarna. Benar-benar pesolek! Dan aku yakin dia sangat lemah!" ejeknya bertubi-tubi.


Mulutku langsung berkedut tidak nyaman. Aku juga berkeringat dingin. Aku bersyukur tidak memakai gaun yang direkomendasikan Wiya, atau aku akan berakhir diejek oleh orang lain. Karena anak bangsawan itu bukan hanya menjadi perhatian bocah gemuk ini, tapi juga bocah-bocah lainnya.


"Tapi kau tidak bisa menilai seperti itu. Sangat jarang bangsawan mau mengikuti ujian masuk. Mungkin dia tidak seburuk yang kau kira" kataku berusaha menjelaskan. Para bangsawan yang mengikuti ujian masuk adalah mereka yang mau berlatih dan tidak menganggap remeh pelatihan. Aku yakin orang seperti ini tidak buruk.


"Uhh..." si gendut itu meringis malu. "Maafkan aku...."


Aku hanya menatapnya sambil tersenyum.


"Ah! Muncul satu lagi!" kata bocah gendut itu tiba-tiba.


Aku mengikuti arah pandangannya dan langsung melihat siapa yang dimaksud. yah, dia adalah orang yang kukenal. Tokoh utama novel ini, Reina.


Reina mengenangkan gaun berwarna hijau daun. Gaun itu sangat elegan yang menunjukkan identitasnya sebagai bangsawan. Tapi juga tidak terlalu mewah dan berlebihan. Dengan wajah lugu dan polosnya, dia memancarkan nona muda yang baik hati.


"Ah, yang satu ini berbeda. Dia sangat cantik" kata bocah gendut itu kagum dengan pipi memerah.


Aku hanya menggeleng saat melihat bocah itu terpesona. Dia sudah terkena haloo tokoh utama...


KRIETTT! Gerbang di depan kami perlahan terbuka, menampakan halaman berumput yang indah. Lalu ada beberapa tenda di tepi halaman dan tiga orang pengawas di depan gerbang. Semua murid yang ingin ikut tes sudah berkumpul di depan gerbang.


"Berbaris yang rapi" kata salah satu pengawas.


Kerumunan yang tidak beraturan itu langsung membentuk tiga barisan panjang. Aku terselip di tengah-tengah barisan.


Pengawas itu memanggil nama kami satu persatu. Sebelum mengikuti tes ujian masuk, kami sudah mengirim berkas berisi identitas kepada pihak akademi.


Tes itu hanya berlangsung sebentar. Hanya beberapa menit sudah berganti dari murid satu ke murid lainnya.


Setelah beberapa menit, namaku pun dipanggil.


"Eva Van Court!"


"Saya!"

__ADS_1


Wajah pengawas itu penuh keraguan. "Kau dari keluarga Court?" dia mengernyitkan kening.


Aku memiringkan kepalaku bingung. "Ya, kenapa?" aku bertanya balik.


"Bukan penipu?" katanya dengan nada mengejek.


"Tentu saja tidak!" kataku kesal sambil mengeluarkan lencana keluarga Duke Court.


Wajah pengawas itu langsung panik dan pucat. "Ma...maafkan aku..."


"Hmph!" aku hanya merenggut kesal. "Kapan aku masuk?!"


"kau bisa masuk sekarang nona" katanya sopan.


Aku pun melangkah masuk ke tenda dengan perasaan kesal. Apa-apaan itu? Dia benar-benar menganggapku penipu?


"Selamat datang" di dalam tenda ada seorang wanita tua. Dia menyapaku dengan ramah.


"Salam, guru."


"Baiklah, letakkan tanganmu di bola kristal ini. Aku akan mengukur kekuatan manamu"


Eh? Jadi begini sistemnya. Jadi kekuatan mana kita diukur dari bola ini.


Aku mulai terpejam dan menyalurkan manaku ke dalam bola kaca itu.


Tapi ZZRTTTT! Bola kaca itu berderit. Dan PRANGGG!! Tiba-tiba hancur berkeping.


Aku langsung menjauh dan mengaktifkan sihir pelindung saat pecahannya mulai mengenaiku.


"...." aku tidak bisa berkata-kata. Kenapa bisa pecah?


"...."Pengawas itu pun kehilangan suaranya.


Dia melonggo kaget menatapku. Aku mulai merasa tidak enak.


"Guru...bola itu pasti rusak" kataku berusaha mengelak. Aku yakin ada sesuatu yang tidak benar, tapi aku tidak ingin membuat kegemparan. Apakah manaku benar-benar sekuat itu sampai akhirnya bola sihir itu tidak bisa menahannya?


Guru itu masih menatapku tidak ykin.


"Bola itu pasti rusak. Aku merasakan hal yang aneh saat aku mengeluarkan manaku guru!" kataku berusaha menyakinkannya.


"Benarkah?" dia masih bertanya ragu. "Tidak mungkin itu rusak. Kualitasnya sangat bangus."


"Uhhh...tapi itu rusak.."


"Ayo, kita akan mengujimu dengan alat lainnya" dia langsung mengajakku berpindah tempat.


"tidak, tidak perlu" aku langsung mengelak. "Tidak perlu guru, ini sudah cukup"


Arghhh! Aku tahu manaku berlebihan. Aku tidak mau membut kegemparan. Untuk saat ini aku tidak mau mengungkapkan kekuatanku. Aku tidak mau! Atau aku akan berada dalam bahaya lagi.


"Ayo!" pengawas itu tetap memaksa sambil menarik tanganku.


"Argh!" Aku langsung menjerit sambil memegang perutku. "Perutku sakit guru, aku ingin ke kamar mandi"


"...."


"Benar, benar sakit guru. Biarkan aku pergi. AKu ingin ke kamar mandi!"


"Jangan berbohong, kau..."


Belum sempat pengawas itu menyelesaikan omongannya, tiba-tiba pengawas lainnya datang dengan napas terengah-engah.


"Madam! Madam!" kata pengawas itu panik.


"Ada apa?"


"Kami menemukan hal yang mengejutkan. Sungguh mengejutkan. Kepala sekolah memanggil kita. Kami menemukan gadis kecil dengan tingkat kekuatan high tier madam."


Mata pengawas itu melonggo kaget. "Benarkah? Ayo, kita kesana!"


"Gadis kecil kau tunggu disini"


Dalam sekejap, aku benar-benar dilupakan. Dan kedua orang pengawas itu meninggalkan tenda.


Haa~ syukurlah~


Gadis kecil yang membuat gempar itu pasti Reina. Untuk sekarang, aku benar-benar berterima kasih pada tokoh utama itu.


Aku tak mempedulikan perkataan pengawas itu dan segera meninggalkan tenda.


Aku lapar....aku ingin makan.


Saat aku keluar dari tenda, aku tidak melihat tiga pengawas yang ada di depan. tampaknya semua pengawas berkumpul untuk melihat gadis jenius itu. Haa~ dia akan menjadi gadis suci nanti, tapi sekarang saja dia sudah terkenal. Sebenarnya tidak enak juga menjadi tokoh utama.Semakin terkenal, semakin banyak yang membencimu. Dan orang yang membenci Reina lebih banyak daripada yang membenci Eva. Hanya saja Reina selalu memiliki pelindung. Siapa lagi kalau bukan para tokoh utama pria. Karena itulah hidupnya selalu beruntung dan selalu selamat dalam setiap insiden buruk


"Apakah aku akan baik-baik saja?" aku menatap langit dengan sendu saat berjalan pulang. Aku benar-benar memikirkan masa depanku dalam dunia novel ini.

__ADS_1


Jangan lupa like,like,like yo~


__ADS_2