Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 5 Pertandingan Sihir: Babak Kedua 14


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Asap hitam misterius itu mengatakan bahwa dia menunjukkan masa depan Eva. Hal itu membuat Eva syok. Walaupun setelah nya dia berkata jangan khawatir karena rangkaian masa depan aku terus berubah tergantung tindakannya.


Lalu asap itu juga mengatakan beberapa fakta mengejutkan tentang sihir gelap dan sihir cahaya. Lalu informasi tentang asap hitam itu juga mengejutkan nya. Membuat nya sangat syok, walaupun dia berusaha untuk tenang setelah mendengar semuanya.


***


Setelah aku menenangkan pikiranku. aku mengambil tiga ramuan dewa itu dan menyimpan nya dalam ruang dimensi milikku.


Saat aku menyimpan ramuannya, peti hitam itu menghilang dan penghalang di sekitar kami pun pecah. Dan aku bisa melihat yang lain dari balik penghalang.


Aku secara perlahan menghampiri mereka. Jujur saja, aku merasa agak canggung saat melihat wajah tiga pria itu saat aku memikirkan masa depanku. Tapi aku berusaha keras untuk bersikap tenang. Mereka yang sekarang bukan musuhku, jadi aku tidak perlu takut.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Robert khawatir. Gadis kecilnya tiba-tiba mengalihkan wajah saat dia memandang nya. Ini kelihatannya tidak biasa. Entah kenapa perasaan nya tidak enak.


"Aku baik-baik saja" aku langsung menjawab dengan cepat.


"Apa yang kau temukan di dalam?" potong Reina langsung. "Apa kau menemukan banyak harta karun? Kau tidak mau memberitahukan kami tentang itu?" nada bicaranya terdengar sinis, tetapi ekspresi Reina sangatlah polos. Seakan-akan dia tidak tahu bahwa dia mengucapkan sindiran kepada orang lain.


"Aku mendapat kan ramuan ilusi" jawabku sambil mengeluarkan dua ramuan itu. Entah kenapa aku tidak mau memberitahu ramuan cahaya itu. Bukan karena aku egois. Aku hanya bersikap hati-hati. Walaupun aku dekat dengan mereka, aku harus tetap waspada. Karena aku tidak mau ramuan yang bisa menghidupkan orang mati itu menyebabkan kegemparan di dunia ini.


"Itu sihir gelap. ramuan kotor apa itu" sindir Reina tidak senang.


"Bagaimana kau bisa mengambil ramuan jahat seperti itu" sambung nya lagi.


Sebenarnya Reina sangat iri karena hanya Eva yang bisa memperoleh harta karun itu. Dia juga menginginkan bagiannya. Tapi saat dia tahu itu hanyalah ramuan ilusi dengan sihir hitam, dia mengurungkan niatnya. Dia menatap Eva dengan tatapan kasihan karena mendapat kan sampah seperti itu.


"aku tidak peduli apa pendapat mu. Aku tetap akan menyimpannya" kataku cuek sambil meletakan kembali ramuan itu ke dalam ruang dimensi ku.


"Itu memang untuk mu. Tidak ada yang akan mengambilnya" kata Robert sambil mengacak-acak rambut gadis kecilnya.


Bruk!


Gretek.... Gretek...


Bunyi gemuruh tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka.


"Lorongnya akan runtuh. Cepat pergi dari sini!" Denis berteriak.

__ADS_1


Kelima orang itu langsung berkumpul dan menggunakan sihir angin mereka. Mereka dengan cepat terbang menuju keluar goa.


Untungnya mereka tidak terlambat. Dua detik setelah mereka keluar, lorong itu mulai runtuh dan tertutup bebatuan.


"Aku tidak mengira hanya ada ramuan di sini. Harta itu sama sekali tidak berguna" Reina bergumam. Lalu dia menatap Denis. "Yang Mulia, kita juga harus mencari benda itu. Hanya sisa dua hari lagi. Aku akan membantumu"


Denis mengerjap. Dia hampir lupa tentang misi utamanya. Dia menatap Eva dengan enggan karena tidak ingin berpisah. Tapi dia tidak bisa mengabaikan misinya.


"Aku akan pergi lebih dulu" kata Denis lirih.


"Tunggu!" aku menghentikan mereka. "Kau mau menjalankan misi itu bukan? Aku akan membantumu"


Aku sudah memutuskan nya. Tujuan utama mengikuti pertandingan sihir adalah untuk mencegah Reina mendapatkan binatang sihir kuno itu. Jadi aku sama sekali tidak boleh melepaskan Reina di domain sihir ini. Aku harus mengawasi situasinya.


"Aku ingin ikut membantumu!" kataku tegas.


Denis tidak percaya gadis itu ingin ikut dengannya. Ini mengejutkannya, tapi entah kenapa hatinya berbunga-bunga.


'Apa dia khawatir padaku?' pikir Denis sambil tersipu malu. Denis berpikir Eva sudah membuka hati untuknya.


Tapi di sisi lain dia enggan membiarkan Eva untuk ikut. Dia takut tempat itu berbahaya dan hal itu bisa melukai wanita nya. Tapi kekhawatiran nya sedikit memudar saat dia tahu Eva lumayan berbakat dan kuat. Dia bahkan agak terkejut saat mengetahui kekuatan sebenarnya dari gadis itu. Jadi dia lebih memilih agar Eva menemaninya.


"Tidak akan terjadi apa pun kalau dia ikut. Lagipula dia tunanganku. Misi kerajaan bisa melibatkannya juga." Denis merespon.


"Tidak Yang Mulia! Aku tidak setuju! Yang Mulia, misi ini untuk mengahancurkan keluarga C..."


"Diam!" Wajah Denis berubah dingin.


Reina mematung. Sekejap dia ketakutan karena tatapan membunuh Denis.


"Maaf..." dia berkata lirih.


Kepalanya menunduk dan wajahnya pucat. Kekesalan dan amarahnya sangat memuncak sekarang. Saat dia nelihat Eva, timbul rasa ingin memusnahkan gadis itu dari pandangannya.


Walaupun emosinya memuncak, Reina tahu bagaimana mengaturnya. Dia mungkin membenci seseorang, tapi dia tidak akan bersikap gegabah dan mempermalukan dirinya. Reina adalah rubah kecil yang pintar. Dia bisa mengatur siasat menakjubkan dalam pikirannya.


Jadi dia memutuskan untuk mengalah kali ini. Tapi bukan berarti dia kalah. Dia akan menuntut haknya nanti.


'Aku mempunyai banyak sekutu di sana. Tidak akan kubiarkan dia mengambil harta karun lagi' pikir Reina sambil menggertakan giginya, benci. Dia ingat bahwa dia masih memiliki para senior dari Jiwa Sihir untuk membuat posisinya menjadi lebih dominan.

__ADS_1


"Baiklah, kau boleh ikut" kata Denis.


"Terima kasih Yang Mulia" kataku bersemangat. Aku pun ingin berpamitan pada Denis dan Sayn, taoi tiba-tiba...


"Aku akan ikut"


"Aku ikut"


Dua orang pria itu langsung membuat keputusan.


"Tidak" Denis langsung menentangnya dengan tatapan tajam.


"Aku tidak perlu izinmu untuk ikut. Aku hanya menjaga muridku" Robert membuat pernyataan.


"Aku juga tidak perlu izinmu. Domain sihir ini bukan milikmu, aku bisa pergi kemana pun" sambung Sayn.


Akhirnya tiga orang itu kembali perang tatapan dingin satu sama lainnya.


"Humph! terserah kalian. kuharap kalian tidak cepat mati" sindir Denis sebelum dia mulai bergerak.


"Yang mulia, tunggu aku" Reina ikut menyusul.


Lalu aku juga menyusul mengikuti mereka. Robert dan Sayn juga menyusul dan terbang di sisi kiri dan kananku.


"Apa bocah itu putera mahkota tidak berguna itu?" tanya Robert.


Aku tersenyum canggung. Bagaimana pun identitas Denis sudah terekspos saat mereka memanggil nya "Yang Mulia"


"Ya..." aku menjawabnya.


"Jadi dia tunanganmu? Bangsawan? Apa yang dilakukannya di tempat ini?" Sayn tiba-tiba bertanya.


"Dia harus melakukan misi rahasia dari kerajaan. Aku juga tidak tahu misi nya secara spesifik. Tapi mereka ingin berburu harta" aku menjelaskan secara singkat.


Sayn tidak menjawab dan dia hanya menatap punggung Denis.


'Jadi dia tunangan Eva? Aku akan lihat sehebat apa Putera mahkota dari Kerajaan Well' pikir Sayn.


'Misi kerajaan? Misi kerajaan apa yang membuat raja mengutus seorang putera mahkota?' Robert sementara lain sibuk dengan pikirannya. Entah kenapa firasatnya tidak baik.

__ADS_1


Lalu, Dia menatap Eva. 'Eva masih terlalu kecil. Dia tidak berpengalaman dengan konflik para bangsawan. Tapi aku tahu tentang hal itu. dan aku dengar perselisihan intenal terjadi di kerajaan Well. Aku takut misi kali ini berhubungan dengan duke' Robert mulai melamun karena memikirkan beberapa kemungkinan dalam pikirannya.


__ADS_2