Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 7 Sang Ayah dan Sang Putri


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Eva menemukan sekelompok prajurit di tengah-tengah hutan. Dia mengenali pasukan itu. Mereka adalah pasukan Duke. Eva mengira bahwa Duke ada disana dan pergi menghampiri mereka. Dia bertemu dengan Armin, salah satu jendral kepercayaan Duke. Tapi ternyata Armin berniat untuk menangkapnya nya dan mengirimnya ke kerajaan. Dia ingin mendapatkan kredit kontribusi dan hidup tenang. Eva dan yang lainnya tidak terima sehingga pertempuran terjadi. Eva dan yang lainnya berhasil melarikan diri sambil melukai beberapa orang sementara Emerta berhasil membunuh Armin.


***


Setelah beberapa menit kemudian, mereka melihat perkemahan lainnya dari atas. Penuh dengan prajurit, yang memiliki armor yang sama dengan pasukan Duke.


"Ayo turun, ayah ada disana" kata Eva yakin.


"Kau yakin? Bagaimana kalau itu kumpulan pasukan pengkhianat Duke lainnya?" kata pangeran Erick refleks.


Eva mengangguk. Dia melihat seseorang memperhatikan nya dari bawah. Itu adalah Sayn. Dan dia juga bisa melihat beberapa jubah hitam di dalam perkemahan.


Mereka pun turun. Dan benar sekali, Duke sudah menunggu mereka di tengah pertengahan.


Eva melihat Duke dengan mata berkaca-kaca. Duke pun begitu. Akhirnya kedua ayah dan anak itu berpelukan.


"Evan dimana?" tanya Eva.


"Dia tertidur" jawab Duke pelan.


"Ibu?"


"...." Duke tidak menjawab.


Seketika Eva tahu artinya dan tanpa sadar tangisannya pecah.


Duke menepuk bahunya sambil mengelus rambutnya. Berusaha menenangkannya. Di wajahnya yang kusut terlihat banyak sekali beban. Bukan hanya tentang Diana. Dia juga harus memikirkan bagaimana caranya melarikan diri saat semuanya keluarga nya berkumpul, dan bagaimana dia harus membuat prajuritnya tetap hidup.


Bagaimana pun juga dia tidak akan mau mengorbankan semua prajuritnya yang tidak bersalah. Itu akan kelihatan sangat egois. Karena prajurit itu gugur bukan karena membela tanah air mereka tapi hanya karena masalah keluarga nya.


Walaupun Pale berkata tidak masalah. Karena mereka semua sudah bertekad untuk mengabdikan diri mereka pada Duke. Duke tetap merasa tidak enak.

__ADS_1


Eva melepaskan pelukannya dan menatap Sayn kesal.


"Kenapa kau mengabaikan telepati ku ?" tanya nya dengan mata melotot.


Sayn menggaruk kepalanya canggung. Dia tidak bermaksud mengabaikannya. Saat itu dia sedang dalam pertarungan menegangkan. Dan dia cukup kaget saat Raja Well dibunuh. Jadi dia tidak ada waktu untuk menerima telepati dari siapa pun. Dan dia murni lupa untuk menghubungi Eva setelah nya.


"Maaf..." hanya itu yang bisa dia katakan.


"Humph!" Eva tidak menerima permintaan maafnya. Dia juga tidak akan memaafkan yang lain, karena mereka semua mengalihkan panggilan nya di saat yang bersamaan!


Sementara Duke mendekati Emerta dan menundukkan kepalanya sedih. "Maafkan aku" katanya lirih. Dia sudah berjanji pada Emerta untuk menjaga putrinya. Tapi dia tidak bisa menepati janji itu.


Emerta membandingkan Duke dengan pria yang dikenalnya. Pria yang pernah dicintainya pembohong dan pria yang ditemui nya selama hidupnya berperilaku sangat buruk. Duke sebenarnya sosok pria yang cukup baik di matanya.


"Tidak masalah" kata Emerta. "Kita bisa menyelamatkan nya"


"Ya, aku berjanji akan menyelamatkan nya walaupun harus mengorbankan nyawaku" kata Duke tegas.


"Tidak" Eva langsung mengutarakan ketidaksetujuan nya. "Tidak akan ada yang berkorban. Jangan mengatakan hal seperti itu. Semuanya akan selamat" katanya dengan tatapan teguh. Eva bertekad untuk menyelamatkan semua nya. Dia tidak akan mengorbankan siapapun.


Duke memperhatikan semua orang. Dan dia melihat sosok asing di belakang Emerta.


"Siapa dia?"


"Bocah" jawab Emerta acuh.


Pangeran Erick dengan cepat menggapai tangan Duke dan menggoyang kannya. "Halo Duke. Aku sudah lama ingin bertemu denganmu. Aku penggemar mu" katanya.


Duke melihat Erick dengan tatapan aneh. "Terima kasih. Tapi aku bukan Duke lagi. Jangan memanggilku dengan nama itu"


"Um...kalau begitu?"


"Enell. Namaku Enell."

__ADS_1


"Oke, tuan Enell. Namaku Erick. Aku penggemar mu!" katanya bersemangat. Duke memang idolanya. Dia ingin bertemu dengan pria Yang dijuluki dewa perang ini saat dia mengunjungi kerajaan Well. Dan mungkin akan terjadi saat dia menyelesaikan studinya di kerajaan Kano. Siapa yang mengira bahwa dia akan bertemu dengannya secepat ini.


"Dia teman sekelas ku di akademi Kano. Dia pangeran dari kerajaan Albion" kata Eva.


"Oh?" Duke merasa tertarik. "Kerajaan Albion? Bukannya itu sangat jauh. Kenapa kau bisa ke tempat ini?"


"Aku ingin belajar. Karena itu aku mengunjungi Kano" jawab Erick langsung.


"Kalau begitu kembali ke kerajaanmu. Sedang ada perang disini. Kau tidak bisa berada di tempat ini" kata Duke serius. Dia tidak ingin membawa pangeran dari kerajaan Albion. Karena kalau pangeran itu terluka. Kerajaan itu akan menyalahkan mereka dan mereka akan mendapatkan musuh baru lagi. Duke tidak senang.


Ekspresi Erick langsung berubah murung. "Bukannya aku tidak mau kembali...Aku hanya tidak bisa. Aku tidak bisa menghubungi ayahku. Aku ingin meminjam Kristal sihir" katanya sedih.


Duke bingung. Bola kristal itu ada di mansionnya. Dia tidak membawanya. Lagipula bola kristal hanya berguna bagi seseorang yang tidak mempunyai kekuatan sihir yang cukup untuk melakukan telepati.


Sementara Duke masih bisa menghubungi prajuritnya dengan telepati. Jadi bola kristal itu tidak terlalu penting baginya.


"Maafkan aku. Itu rusak. Kita akan menemukan satu untukmu kalau kita berhasil masuk ke ibukota" kata Duke.


"Baiklah, terima kasih Tuan Enell" wajah Erick kembali ceria.


"Tapi kau tidak boleh berkeliaran di tempat ini" Duke memperingatkan. Dia tidak mau anak ini berkeliaran dan terluka.


"Tentu saja aku tidak akan! Terima kasih ~"


Lalu sesosok pria tua dengan janggut putih dan jubah hitam menghampiri Duke.


"Duke, aku ingin berbicara dengan mu"


Duke menyuruh Eva dan Emerta untuk mengikutinya. Keempat orang itu menunju ke tenda yang berada di tengah perkemahan. Ada Evan yang sedang tertidur di sana.


"Maaf, aku tidak bisa melakukan apapun..." kata pria tua itu sedih.


"Bagaimana bisa?" Duke langsung berkata dengan penuh emosi. Sekarang dia benar-benar panik.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" tanya Eva dan Emerta secara bersamaan.


__ADS_2