
Cerita Sebelumnya:
Selesai makan, Denis mengikuti Dean Wason ke ruang pribadinya. Denis berpikir mereka akan berdiskusi tentang tawaran kerja sama. Tapi tiba-tiba Dean Wason langsung menyerangnya untuk menguji kemampuannya. Walaupun akhirnya, Dean Wason menyetujui tawaran itu.
Di sisi lain, Robert dan Eva masih membahas tentang pertunangan. Robert sangat bertekad membatalkan pertunangan itu.
***
"Apa yang terjadi padamu yang mulia?" tanyaku kaget.
Bagaimana bisa dia terlihat menyedihkan seperti itu?
"Tidak apa-apa. Aku tidak sengaja kehilangan kendali saat menggunakan sihir"
Denis mengelak. Dia tidak mau memberitahu Eva bahwa dia baru saja dipukuli oleh Dean. Kenapa? Karena itu sangat memalukan baginya!
Aku tidak percaya! Tidak mungkin Denis bisa kehilangan kendali atas sihirnya. Aku tahu pasti ada yang dia sembunyikan. Apa yang sebenarnya terjadi saat dia bersama Dean Wason?
Yah, karena dia tidak mau mengatakannya, mungkin itu sesuatu yang rahasia.
Aku tidak percaya, tapi aku tidak bertanya lagi.
"Yang mulia apa kau membawa baju ganti"
"Ya. aku membawanya. Ada di dalam ruang dimensi. Aku akan mengganti bajuku. Kau tunggu sebentar disini oke"
Aku mengangguk pelan.
Denis melangkah keluar ruangan.
Robert masih terdiam di tempatnya. "Eva, kau akan kembali?"
"Iya"
"Aku akan mengunjungimu nanti. Apa kau memutuskan untuk tinggal di mansion yang berada di ibukota?"
"Hmm, mungkin. Tapi tidak sekarang"
Aku akan menetap di ibukota saat aku mulai belajar di akademi. Karena akademi berada di ibukota, itu lebih efisien untuk tinggal di tempat yang sama. Untuk sekarang aku akan tetap tinggal di mansion utama. Aku merindukan orang tuaku, terutama ibuku.
Robert berdiri dan mulai memelukku "Hati-hati saat kembali oke. Aku tidak bisa mengantarmu, masih ada yang perlu kuurus di tempat ini"
Aku mengangguk "Em"
Robert kemudian mengecup keningku. Aku agak kaget saat dia melakukannya. Tapi itu hanya sebentar, karena entah mengapa aku merasa ini hal yang biasa.
Tanpa mereka sadari, Denis melihat semua itu. Dia melihat semua kejadian dan berdiri mematung di depan pintu.
"Bagaimana bisa?" Denis bergumam kecil. Dia menatap pasangan itu benci.
'Aku bahkan belum pernah mencium tunanganku, tapi dia sudah disentuh orang lain?'
Denis mengeluarkan tatapan yang sangat tajam saat dia melihat wajah Robert.
Robert menyadari aura tajam yang menyerangnya dan melihat Denis. Tapi dia tidak peduli. Dia hanya menyunggingkan senyum kemenangan dan memeluk Eva lebih erat.
Denis melihat senyum mengejek itu dan menjadi semakin kesal.
"Eva!" teriaknya.
Eh? Orang itu sudah selesai?
Aku segera melepaskan diri dari pelukan Robert saat aku mendengar suara Denis.
__ADS_1
"Ayo kembali" sahut Denis lagi.
"Selamat tinggal master" kataku berpamitan kemudian menyusul Denis.
Robert melambaikan tangannya. "Sampai jumpa gadis kecilku. Aku akan mengunjungimu nanti"
Aku hanya menoleh dan tersenyum.
'Gadis kecilku?!' urat-urat kekesalan mulai muncul di kepalanya. Tapi Denis tetap tidak menoleh. Dia langsung meraih Eva dengan cepat. Dan menghilang dari tempat itu.
Aku dan Denis menggunakan sihir teleportasi. Kami berteleportasi keluar Menara Sihir dan mendarat di hutan di dekatnya.
"Eh? Kenapa tidak langsung teleport ke ibu kota saja?" tanyaku bingung.
"Aku meninggalkan kudaku di hutan ini" jawab Denis dingin.
"Yang mulia aku ingin kembali ke mansion utama" kataku langsung. Aku ingin teleport sendiri ke kediamanku.
Tapi Denis menghentikanku.
"Ayahmu menyuruhku untuk mengantarmu pulang ke ibukota. Jangan berlarian sembarangan karena itu menyusahkan" katanya tidak senang.
Aku melihat Denis.
Ada apa dengan orang ini? Dia menjadi dingin lagi? Padahal dia berkata dengan lembut sebelumnya. Yah, tampaknya kita tidak bisa merubah sifat seseorang bukan? Dia sudah disetting untuk bersikap seperti padaku. Mungkin saja dia bersikap lembutĀ hanya untuk pencitraan di depan umum. Untung saja, dia tidak mengabaikanku dan masih menjawab perkataanku.
Suasana hati Denis saat ini sedang tidak bagus. Dia melihat kejadian yang merusak matanya dan benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Sikap dinginnya membuat Eva salah paham bahwa dia tidak menyukainya.
Saat ini Eva masih kecil, jadi dia masih bisa mentolerirnya. Kalau dia melihat kejadian ini saat Evanya beranjak dewasa, dia pasti akan membunuh pria yang menyentuhnya dan membuat Eva menjadi miliknya!
'Tapi aku tidak bisa mengawasinya' pikir Denis kesal sambil menggertakan giginya.
Setelah mengantar Eva, dia akan kembali ke akademi sihir. Dan tidak akan bisa bertemu Eva sampai dua tahun ke depan, sampai Eva memasuki akademi. Dan dia tidak akan tahu, seberapa banyak mereka bersentuhan karena dia tidak bisa melihatnya. Dia tidak menyukai ini!
"Paman?"
Oh? Maksudnya Robert.
"Dia masterku, tentu saja aku menyukainya. Dia mengajariku sejak aku berumur lima tahun"
Cih! Denis mengklik lidahnya.
Dia kesal saat memperhatikan wajah Eva yang berseri senang saat membicarakan Robert.
Uwahh! Aku tersentak kaget!
Tiba-tiba Denis mendorongku dan membuatku terjebak di salah satu pohon. Lalu perlahan dia mendekatkan wajahnya.
"Kau tahu aku tunanganmu kan?" kata Denis sambil menatap mata Eva.
Aku langsung mengalihkan mataku menghindari tatapan Denis.
"......"
Aku hanya mengangguk pelan.
"Kalau begitu jangan mendekati pria lain. Apalagi bersentuhan dengan mereka!"
Ti...tidak mungkin kan....
orang ini cemburuu?
"Kau...cemburu...?" kataku dengan mata membelalak kaget.
__ADS_1
"Apa kau punya masalah kalau aku cemburu?" kata Denis sambil menunjukkan senyum sinis. "Aku tidak suka milikku disentuh orang lain!" Denis mengakuinya secara tidak langsung.
DEG! Jantungku berdegup dan wajahku memerah.
Uwoohh, kelihatannya Eva yang sebenarnya sangat senang.
Aku benar-benar bingung, apa jiwa Eva yang asli masih dalam tubuh ini? Kenapa tubuh ini selalu bereaksi setiap Denis menunjukkan perhatiannya? Walaupun aku juga berdebar di dekat Robert, tapi ini berbeda. Perasaan ini lebih kuat. Kau tahu, Eva yang asli sangat menyukai Denis, jadi tubuh ini bereaksi berlebihan.
Denis melihat Eva memalingkan wajahnya yang memerah, dan dia tersenyum senang.
'Gadis kecil ini malu. Bukankah dia menyukaiku?' pikirnya.
"Cium aku" kata Denis tiba-tiba.
"Uwahh...." aku tanpa sadar berteriak kaget dan panik. Apa-apaan ini?
Aku berusaha melepaskan diri tapi Denis terus menahanku dalam kurungannya.
"Cium aku, maka aku akan memaafkanmu" tatapan Denis seperti serigala kelaparan.
Harusnya baik-baik saja kalau aku menurutinya bukan?
Aku perlahan berjinjit dan mulai mengecup pipinya.
Reaksi Denis sangat berbeda dengan Robert. Setiap sekali aku mencium Robert, wajahnya akan memerah. Tapi Denis hanya menyunggingkan senyum sinis, dan tatapan hewan pemangsa.
'Aku harus menjauh dari orang ini. Dia berbeda dari Robert, aku tidak bisa menggodanya...' pikirku.
Aku berpikir Denis sangat berbahaya. Dia cocok menjadi karakter utama karena dia punya dua kepribadian. Di dalam novel, dia tidak pernah menunjukkan kepribadiannya yang ganas di depan Reina. Dia selalu bertindak lembut, dan memanjakannya. Sudah kuduga, dia orang yang licik karena dia bisa memakai topeng.
Aku tidak boleh menurunkan penjagaanku dan jatuh cinta padanya! Tidak boleh! Aku sudah bertekad. Dia orang yang berbahaya. Bisa saja perkataannya saat ini bohong karena dia menyembunyikan sesuatu.
Denis melepaskanku, kemudian mengelap keningku dengan kasar menggunakan bajunya.
"Argh!" aku berteriak kesakitan.
"Apa-apaan kau?" kataku geram sambil memegang keningku yang memerah. Aku menggertakan gigiku kesal.
Apa ini perlakuan orang yang sedang cemburu? Dia pasti pura-pura untuk mengejekku , huh!
"Aku ingin menghapus noda di keningmu" jawabnya santai sambil menuju ke arah kuda. "Saat pulang, mandilah"
Aku hanya membalasnya dengan tatapan tajam. Aku tidak ingat keningku kotor!
Dasar pembohong! Kau yang kotor! Apa dia sama sekali tidak ingat dengan penampilannya yang compang camping itu, huh!
Denis melepaskan ikatan kudanya, lalu mulai melangkah naik. Dia langsung menghampiriku.
"Tanganmu" katanya sambil mengulurkan tangan.
Aku memegang tangannya dan dia langsung menarikku naik.
"Jangan ketiduran" kata Denis sambil menyentak kudanya.
Entah kenapa, aku merinding. Aku merasa tatapan ganas Denis menembusku. Apa yang dipikirkannya sampai dia menatapku dengan penuh hasrat seperti itu?
***
Ada sebuah ruang bawah tanah di menara sihir. Ruangan itu terletak di halaman belakang Menara. Ruangan itu gelap, hanya berhias lilin kecil sebagai penerangnya. Lantai dan dinding terdiri dari tanah liat. Ada beberapa tanaman aneh yang tergantung di dinding. Lalu ada beberapa toples berisi organ yang tidak diketahui sumbernya. Toples kaca itu tersusun rapi di rak yang lusuh. Ada beberapa alat aneh dan ramuan aneh di atas meja. Di tengah-tengah ruangan ada sebuah kuali besar dengan api berwarna hijau. Ada seseorang yang duduk sambil mengaduk kuali.
"Hehehe..." orang itu menyunggingkan senyum. "Ramuanku hampir jadi hanya kurang satu bahan saja" katanya sambil mengeluarkan sehelai rambut dan memasukkannya dalam kuali.
"Gadis itu....aku harus menyusun rencananya..."
__ADS_1
"Dan Charlotte...gadis bodoh itu akan jadi pion utamanya"