
"Jadi kenapa aku tidak bisa kakek?" aku bertanya lagi. Saat ini aku sedang duduk di pangkuan Dean Wason sambil menggoyang-goyangkan kakiku.
"Hmmm" Dean Wason bergumam kecil. "Pertandingan itu hanya untuk murid yang terpilih dari para penatua. Kau tidak bisa ikut karena bukan murid penatua mana pun"
Aku melirik Robert sebentar. Aku adalah murid Robert, tapi Robert hanyalah seorang murid di Menara Sihir. Anggap saja aku murid luar dan Robert adalah murid dalam. Aku harus menjadi murid dalam untuk bisa ikut. Tapi itu adalah hal yang tidak mungkin.
Tidak ada larangan bagi bangsawan untuk bergabung dengan menara sihir. Dan memilih salah satu penatua sebagai gurunya. Tapi....aku tidak bisa mengkhianati Robert. Maksudku, aku tidak bisa menduakan masterkuu! Dan memilih master yang lain!
Aku menundukkan kepalaku agak kecewa. Tampaknya aku harus menyerah...?
Robert tiba-tiba menghampiriku. Dan mulai mengelus kepalaku. "Tidak apa-apa..." katanya lembut.
Aku mengangkat kepalaku menatapnya. "Master...?" aku memiringkan kepalaku.
"Tidak apa-apa kalau kau ingin masuk ke menara sihir dan menjadikan penatua sebagai gurumu. Aku tidak masalah. Dan juga aku tidak pernah meragukan kemampuanmu Eva..."
"...." aku hanya diam tidak menjawab.
"Mau menjadi muridku?" sela Dean Wason tiba-tiba. "Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku akan mengajarkan beberapa mantra yang berguna" Mata Dean Wason menatap Robert. "Lebih dari yang bisa diajarkan bocah itu"
Tanda-tanda kesal muncul di kepala Robert. Dia menatap Dean Wason dengan mata terbelalak, marah. "Tidak!" katanya tegas. "Eva hanya boleh menjadi murid Dean Cristal!" sanggahnya.
'Aku tidak akan membiarkan Evaku disentuh tiap hari oleh kakek-kakek itu. Menjadi muridmu? Hmph, langkahi dulu mayatku!' pikir Robert sambil menatap Dean Wason benci.
Dia benar-benar ingin menarik Eva kecilnya dari pangkuan pak tua itu dan membawanya ke dalam pangkuannya sendiri.
__ADS_1
Aku menatap pemuda dan kakek di depanku. Mereka saling bertatapan. Entah kenapa punggungku merinding. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Tapi entah kenapa aku merasa ini me...melibatkanku?
Mereka saling bertatapan selama beberapa menit.
"Baiklah" kata Dean Wason lirih. Dia menyerah. "Gadis kecil, Cristal akan menjadi gurumu mulai sekarang" katanya kepadaku sambil menatap Dean Cristal.
Dean Cristal adalah seorang perempuan paru baya. Wajahnya memiliki beberapa garis keriput yang tidak bisa menyembunyikan umurnya. Tapi entah kenapa sosoknya sangat menawan, tidak menyembunyikan kalau dia adalah seorang wanita cantik di masa mudanya. Aku pernah mendengar rumor kalau para penyihir mengetahui rahasia awet muda. Sehingga walaupun mereka berumur seratus tahun, mereka kelihatan seperti paman dan bibi yang cantik.
Tapi kenapa ketiga penatua yang aku lihat seperti kakek-kakek dan nenek. Hanya Dean Caro yang kelihatan seperti berumur pertengahan lima puluh. Apakah para penatua ini tidak memakai sihir awet muda, atau umur mereka sudah lebih dari seratus tahun? Kalau mereka memang berumur ratusan tahun, aku merasa ngeri memikirkannya. Mereka benar-benar kelihatan seperti para immortal (orang yang abadi).
Memang sudah diketahui semua orang bahwa para penyihir memiliki umur yang lebih panjang. Para bangsawan yang ada di negara ini hanya memiliki umur rata-rata, paling tua adalah 150 tahun. Sementara penyihir ada yang berumur 500 tahun atau lebih. Tapi mereka tetap tidak bisa mengalahkan keimmortalan para elf. Bangsa elf berumur ribuan tahun, dan mereka selalu awet muda, tidak pernah menua.
"Aku langsung berdiri dan memberi hormat pada Dean Cristal. "Perkenalkan saya Eva van Court, kataku sambil melebarkan gaunku. "Mohon bimbingan untuk ke depannya Guru"
Dean Cristal hanya tersenyum, membuat keriput disekitar matanya tampak lebih jelas. Dan raut wajahnya menjadi lebih ramah. Dia hanya mengangguk menyetujui salamku.
Melihat wajah Eva yang cemas, Dean Wason hanya tersenyum. "Tidak perlu cemas" katanya membujuk. "Aku sudah memberi tahu Duke Court, bahwa aku mengundangmu di Menara Sihir karena kau adalah murid Robert. Jangan cemas. Kau masih bisa berlibur sedikit lagi di sini. Tidak mau berkeliling?"
Uwahhh!! Mengelilingi Menara Sihir...
Aku tidak akan melewatkan kesempatan ini. Novel itu berkata bahwa Menara Sihir adalah organisasi yang kuat. Tapi hanya itu tidak lebih. Bahkan di dalam novel tidak sebutkan nama Penatua kedua dan penatua ketiga. Dean Leon hanya disebut 'Penatua kedua' dan Dean Cristal adalah 'Penatua ketiga'. Mereka tidak dijelaskan lebih jauh di dalam novel karena mereka hanyalah karakter pendukung kecil.
Bagaimana letak, struktur, dan orang-orang di Menara Sihir juga tidak dijelaskan secara spesifik. Itu karena Robert sudah keluar dari Menara Sihir, sehingga latar belakang kejadian lebih di akademi. Walaupun Dean Caro adalah tokoh antagonis, dia tidak pernah memiliki dialog dalam novel, hanya pendeskripsian karakter. Dan hanya muncul di satu chapter. Charlotte memiliki lebih banyak bagian. Padahal konflik Robert dan Dean Caro sangat dalam.
"Aku mau, aku mau, kakek!" aku mengangguk antusias.
__ADS_1
"Aku akan membiarkan Robert menemanimu" kata Dean Wason. "Kau bisa mencariku lagi nanti"
"Jangan lupa mencariku setelah bermain" sela Dean Cristal tiba-tiba.
Aku mengangguk "Baik guru"
Robert langsung melirikku dan memegang tanganku dengan antusias. "Ayo, aku akan mengajakmu berkeliling" katanya.
Dan mereka berdua pun meninggalkan para tua-tua itu menuju pintu keluar.
***
Ruangan itu sunyi sampai Eva dan Robert benar-benar melangkah keluar. Dan hanya tersisa para tua-tua di dalamnya.
"Bagaimana kau akan menangani Caro?" kata Dean Leon memecah kesunyian.
Dean Wason menggeleng. "Aku tidak tahu. Itu tergantung keputusan pemuda itu. Walaupun begitu mereka ayah dan anak. Aku tidak bisa seenaknya mengambil keputusan yang membuat aku dibenci banyak orang"
"Tapi, pria itu sudah terlalu jauh" Dean Cristal menimpali. "Aku takut kalau kita membiarkannya, dia akan menjadi semakin gila. Dan aku takut, saat kita mengetahuinya, semuanya sudah terlambat..."
"Aku tahu kita membiarkan ular berbisa bersarang di antara kita. Karena itulah kita harus waspada, karena kita tidak tahu apa yang dipikirkan orang itu" kat Dean Wason memperingati. "Entah kenapa aku merasa tidak enak. Aku merasa akan ada sesuatu yang besar terjadi nanti. Kita harus lebih waspada"
Dean Wason menatap Dean Cristal.
"Bagaimana cucu perempuanku?" tanyanya.
__ADS_1
"Dia tidak buruk" jawab Dean Cristal langsung. "Aku pernah mendengar rumor bahwa putri duke Court sangat jenius. Dan Robert sudah membuktikannya. Dia protektif terhadap gadis kecil itu. Kita tahu orang seperti apa Robert. Hanya orang kuat dan orang jenius yang bisa menarik minatnya. Aku tidak sabar melatihnya"
"Hm,hm, Cucuku memang tidak mengecewakan" kata Dean Wason bangga. "Hanya gadis sepertinya yang cocok menjadi cucuku"