
Aku dan Robert menyusuri lorongĀ di depan kami.
"Kenapa setiap keluar dari ruangan aku selalu menemukan lorong dan tangga?" tanyaku penasaran.
"Itu wajar. Menara sihir memiliki seratus tingkat. Itu sangat tinggi. Kalau melihat dari luar, kau akan menemukan bahwa puncaknya tertutup oleh awan" Robert menjelaskan. "Disetiap lantai ada beberapa ruangan dan selalu ada tangga penghubung dan lorong.
"Wowww, seratus tingkat..." kataku kagum. "Kenapa tidak membangun lift saja. Kau membuang tenaga untuk naik tangga sampai lantai keseratus" aku bergumam.
"Lift?" Robert mengerutkan keningnya. "Apa itu?"
"Ah!" aku benar-benar lupa kalau aku ada di dunia novel. Dan aku membicarakan hal-hal yang biasa ada di bumi tanpa sadar. Mereka pasti menganggapku aneh kalau aku terus mengucapkannya.
"Bukan apa-apa" aku menggelengkan kepalaku cepat.
"Mereka tidak perlu berjalan di tangga juga" sanggah Robert. "Mereka memakai sihir agar lebih praktis. Kau bisa terbang atau teleport dari lantau satu ke lantai lain" jawab Robert santai.
"Ah" aku menepuk keningku.
Aku benar-benar bodoh. Aku lupa kalau penghuni di tempat ini adalah para penyihir.
"Kau benar master. Aku lupa hehehe..."
"Lalu kita akan kemana sekarang?"
"Biar aku menjelaskan struktur bangunannya dulu. Dari lantai dasar sampai 30 adalah kamar para murid penyihir. Ada ribuan murid penyihir. Dan dalam satu lantai ada puluhan kamar. Lalu dari lantai 30 ke atas sampai 50 adalah ruang kelas untuk berlatih. Ada pelatihan teori dan ada beberapa pelatihan lapangan tambahan. lantai 50 ke atas sampai lantai 70 adalah ruang untuk para murid senior. Ada beberapa toko peralatan sihir, makanan, serta penemuan aneh yang bercampur di setiap lantainya. Semua itu adalah buatan para murid senior. lantai 70 ke atas sampai lantai 90 penuh dengan ruangan acak. Ada beberapa pintu teleportasi untuk ke negara lain, ke kerajaan, pasar atau pun ibu kota. Ada beberapa taman dan tempat liburan juga. Ada juga beberapa laboratorium penyihir. Intinya lantai ini penuh dengan sesuatu yang tidak terduga. Sementara sepuluh lantai teratas adalah aula dan tempat para penatua"
Ohhh, ini mirip dengan struktur sekolah bukan? Hanya saja sistem pengajarannya tidak seperti sekolah, lebih seperti organisasi. Karena tidak ada guru yang mengajar setiap mata pelajaran. Dan para murid hanya boleh mengikuti satu penatua untuk dijadikan guru dan pemimpin. Sehingga hal ini membentuk beberapa faksi atau kelompok geng.
"Lalu master sekarang kita ada di lantai berapa?"
"Kita ada di puncak. Ini lantai pribadi ketua Menara sihir"
"Oh? Ini lantai milik kakek Wason" kataku sambil melirik pintu-pintu yang sudah kulewati. "Lalu master apa posisimu?"
"Aku seorang murid senior"
"Oh? Ayo kita ke kamarmu master. Aku sangat penasaran"
__ADS_1
Robert mengangkat alisnya "kamarku?" tanyanya. "Apa yang akan kita lakukan di kamar?"
"Hmmm, aku hanya ingin melihat oke?" jawabku polos. "Tidak boleh?"
"Aku sudah memindahkan barang-barangku. Kamar itu kosong sekarang" jelas Robert. "Aku sudah pindah sebulan yang lalu. Aku membawa barang-barangku"
"Kau mau pindah kemana master?"
"Aku masih belum memikirkannya" Robert menggelengkan kepalanya. "Aku hanya menginap di ibukota. Aku berencana menjadi guru di akademi"
"Tapi, setelah aku memikirkannya kembali. Aku kira aku akan tetap disini" Robert menatap Eva lekat-lekat.
"Kau sudah menjadi bagian dari Menara Sihir. Aku tidak mungkin pergi dari sini. Setidaknya sampai pertandingan itu selesai" katanya serius.
Oh? Robert tidak jadi menjadi guru di akademi?
Scriptnya berubah bukan? Apakah ini hal yang baik. Dilihat dari tingkat Robert tampaknya ini hal yang baik. Dia sudah terpikat sekarang hehehe... Dan aku bisa menambahkan pelindung baru.
"Master sekarang kita akan kemana?"
"Bawa aku ke lantai yang penuh dengan toko makanan oke. Lalu bawa aku ke taman, dan tempat-tempat liburan dalam menara sihir. Aku juga mau melihat beberapa pria tampan yang berlatih"
"Aku akan membawamu. Tapi tidak untuk yang terakhir" kata Robert memperkuat gengamannya.
"Cih"
"Bagaimana bisa gadis kecil sepertimu begitu genit? Untuk apa kau melihat pria-pria yang seperti unta itu?" kata Robert kesal.
"Genit?" aku menaikkan alisku. "Ini tidak genit. Lima tahun lagi aku bisa menikah"
Umur gadis untuk dewasa di tempat ini adalah lima belas tahun. Saat itu dijelaskan Eva dan Denis akan menikah saat berumur lima belas tahun, saat Eva menyelesaikan tahun pertamanya. Tapi takdir berkata lain. Saat Eva berumur 12 tahun, dan saat tahun pertamanya di akademi, tunangannya sudah direbut. Dan dia sudah meninggal saat dia berumur 16 tahun. Dia bahkan belum pernah menginjak usia dewasa 20 an.
'Sungguh Eva yang malang' aku menggeleng.
'Dan apa lagi itu unta? Pria-pria yang ada di dunia ini sangat tampan, penuh dengan visual. Lumayan untuk cuci mata. Tidak ada yang mirip unta, Robert benar-benar tidak memilik estetika' aku menatapnya kesal.
"Aku akan membawamu jalan-jalan, tapi tidak untuk melihat pria" kata Robert. "Aku tidak ingin kau merusak matamu"
__ADS_1
"Baiklah~"
"Master saja sudah cukup~" kataku genit. "Masterku sudah sangat tampan. Aku tidak perlu pria lain"
Blush.
Pipi Robert memerah.
'Huh!' aku mendengus dalam hati.
Lihat saja ekspresinya itu. Benar-benar narsistik. Apakah dia sangat suka dipuji? Setiap aku memujinya wajahnya pasti memerah?
Novel tidak pernah menjelaskan kalau Robert punya kepribadian yang narsis...hmm...
Apa ini kepribadian yang muncul baru-baru ini?
(Note: Eva tidak peka disini *-*)
"Sudahlah, aku akan membawamu ke lantai 60, disana ada beberapa toko makanan" kata Robert sambil memalingkan wajahnya.
Robert menarikku dengan lembut menuju salah satu pintu.
Saat kami memasuki pintu, cahaya membutakan pandanganku sebentar. Lalu cahaya itu mulai meredup dan menampakan sebuah ruangan besar. Ruang itu semakin mendekat saat kami berjalan maju. Dan saat kami melewati pintunya, kami tiba di tempat yang penuh dengan ruko dan para pejalan kaki.
Aku melihat ke atas, ada awan. Dan ada beberapa pepohonan di sekeliling kami. EH? Bukankah ini sebuah ruangan di menara sihir? Tapi kenapa seperti kita berkunjung ke dunia luar? Kenapa ini terlihat seperti pasar yang sesungguhnya.
Aku melihat ke bawah dan melihat tanah yang ditumbuhi rerumputan kecil.
Robert melirik Eva yang sedang kebingungan dengan lingkungannya. "Kau pasti bingung bukan?"
Aku mengangguk.
"Ini Dunia Virtual. Di sesuaikan dengan kondisi di luar. Tanaman, tanah, langit dan cahaya sudah disetting seperti kita berada di dunia luar. Padahal ini adalah ruangan kosong yang besar. Ada banyak ruangan virtual seperti ini dengan berbagai macam tema. Kau akan melihatnya nanti" jelas Robert. "Ini semua disetting menggunakan sirkuit sihir. Ada berbagai macam sihir dalam sirkuit untuk menyesuaikannya menjadi seperti lingkungan biasa di alam. Setiap sebulan sekali, para penatua akan mengisi sirkuit setiap elemen sihir agar tampilan dunia virtual ini tetap terjaga"
"Ini semua sihir...?" aku tergagap kagum.
Benar-benar menakjubkan! Berapa banyak sihir yang digunakan untuk membuat semua ini? Dan ada banyak dunia virtual seperti ini, bukan hanya satu. Sekarang aku tahu, bahwa julukan dan posisi penatua Menara Sihir itu bukan candaan. Mereka pasti punya kapasitas sihir yang besar. Sehingga bisa membuat dunia virtual ini tetap berjalan.
__ADS_1