
Cerita Sebelumnya:
Sayn mengantarkan Eva kembali ke penginapan. Dan siapa yang mengira bahwa Robert sudah menunggunya karena dia tiba-tiba menghilang. Akhirnya, Eva pun dimarahi oleh Robert. Dia memutuskan untuk tidak keluar kamarnya karena berbuat masalah. Siapa yang tahu bahwa malamnya, Sayn datang berkunjung. Dan disaat-saat itu juga Robert datang, dan terjadilah kesalahan yang membuat kedua orang itu bertengkar.
***
"Tunggu! Tunggu!" aku berteriak panik sambil berdiri di tengah-tengah mereka.
"Kenapa dia bisa ada di kamarmu?" Robert menatap Eva dan bertanya dengan nada dingin.
"Uh... Sayn hanya berkunjung mastaa..." jawabku lirih. Sebenarnya aku juga bingung mau menjawab apa. Karena aku tidak tahu alasan spesifik orang itu kemari. Mungkin dia hanya bosan dan sebagainya.
Robert mengernyitkan kening mendengar jawaban Eva. "lain kali kau tidak boleh membawa masuk orang asing sepertinya"
"Apa urusannya denganmu paman?" Sayn ikut bicara dengan nada sarkas. "Terserah aku ingin pergi kemana. Seluruh istana ini wilayah kekuasaanku." dia menjawab dengan sombong. "Lagipula sebelumnya Eva juga pernah pergi ke tempatku. Menyelinap lagi...Dia benar-benar merindukanku..."
Uhuk! Aku langsung terbatuk saat mendengar perkataannya. Kapan aku merindukan pangeran gila itu!
"Aku tidak pernah merindukanmu! Aku hanya penasaran!" teriakku kesal dengan urat-urat kekesalan di kepalaku. Jujur saja, aku tidak tahu kalau Sayn akan senarsis ini.
"Kenapa kau selalu terlibat dengan banyak sekali pangeran gila. Mau di negara ini, mau di negara itu. Aku harap kau tidak menarik para pria seperti itu lagi" jawab Robert sambil menggelengkan kepalanya. Dia menatap Sayn dengan prihatin. Sebenarnya dia agak lucu saat mendengar perkataan Sayn "Seluruh istana ini adalah wilayah kekuasaanku". Semua orang tahu bahwa Sayn adalah pangeran yang terabaikan. Dan dia merasa prihatin pada Sayn. Mungkin anak itu berpura-pura bersikap sok berkuasa di depan Eva, dan berharap Eva tertarik padanya. Ini hal biasa yang dilakukan para bocah agar anak perempuan itu tertarik padanya. Padahal hidupnya sangat berbanding terbalik. Tentu saja Robert tidak tahu bahwa Sayn pemilik organisasi itu. Dia hanya mengira bahwa Sayn adalah salah satu anak buah organisasi, jadi dia tidak terlalu memikirkannya. Dia menganggap pangeran terlantar itu mungkin ingin mendapatkan uang.
"Lebih baik kau kembali ke tempatmu. Atau aku akan menghancurkanmu" ancam Robert.
Sayn menggertakkan gigi kesal. "Aku sama sekali tidak takut padamu!" teriaknya sambil berusaha menyerang.
"Tungguuu!" Aku berteriak sambil memandang mereka.
__ADS_1
"Kau tidak bisa menghentikanku. Orang ini terlalu menyebalkan!" Sayn benar-benar membenci tatapan meremehkan Robert. Dia ingin menghancurkannya. Dan ingin membuat orang iini berlutut di bawah kakinya!
"Aku tidak akan menghentikan kalian!" kataku kesal sambil berkacak pinggang. "Kalau ingin berkelahi. Keluar!" aku menunjuk pintu. "Jangan berkelahi di depan mataku" Ini benar-benar menggangguku, kau tahu. Satu orang pengacau saja sudah cukup penganggu. Ini ada dua orang. AKu ingin dua orang ini pergi dan berkelahi di keluar.
"...." Mendengar jawaban Eva, Robert dan Sayn langsung terdiam.
Aku melihat bahwa kedua pria itu tidak bergerak dari tempatnya. Jadi aku langsung menghampiri Sayn. Aku mendorongnya ke arah pintu.
"Oi...kau berani mengusirku? Dasar tidak tahu terima kasih. Aku memberimu hadiah waktu itu!" Sayn berteriak tidak terima.
"Terima kasih atas hadiahnya" kataku senang sambil tersenyum.
"...."
"Hmph! Bocah pemberontak memang harus diusir keluar" kata Robert bangga.
"Mastaa juga keluar!" kataku tegas.
Karena dia tidak mau merespon, aku menghampirinya. AKu mendorong punggungnya ke pintu keluar sama seperti aku mendorong Sayn.
"Kau berani mengusir gurumu?" kata Robert tidak senang.
"Keluar saja. Aku lelah. Besok kita akan kembali bukan? Aku tidak akan bisa tidur nyenyak kalau ada kalian disini. Kalau masta tidak mau, aku tidak akan berbicara padamu lagi, humph!"
"...."
Akhirnya aku berhasil mendorong kedua pengacau itu keluar kamarku. Aku menatap mereka berdua sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Silahkan bertarung sepuasnya" kataku sambil tersenyum.
BAM! Aku langsung menutup pintu kamarku dan menguncinya.
Aku tahu kedua orang ini bisa dengan mudah berteleportasi untuk masuk lagi. Tapi lihat saja kalau mereka tidak menghormati keputusanku, aku tidak akan berbicara dengan mereka lagi. Aku akan marah humph!
Tapi sebenarnya aku bingung, kenapa kedua orang itu langsung berkelahi saat bertemu? Apakah mereka bermusuhan? AKu tidak tahu itu. Karena di dalam novelnya tidak pernah dijelaskan bahwa Sayn dan Robert bermusuhan. Yah, mereka memang bermusuhan saat perang terjadi. Tapi ini kan bukan perang. Ah~ ya sudahlah. Mau mereka bermusuhan atau berkelahi pun, sama sekali bukan urusanku. Yang penting kedua orang ini tidak melibatkanku. Lagipula perkelahian mereka itu tidak sungguh-sungguh. Seperti perkelahian kucing dan anjing.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali. Semua murid sudah keluar dari kamar mereka masing-masing. Kami semua bersiap untuk ke istana dan menjemput para pangeran dan putri. Lalu memberi salam selamat tinggal kepada raja Kano.
Saat aku melihat Robert berjalan di depan untuk menuntun kami ke istana. Orang itu sangat pendiam. Kelihatannya dia sudah melupakan masalah tadi malam. Sebenarnya aku agak tidak enak mengusir kedua orang itu. AKu takut mereka marah padaku. Tapi yah...mau bagaimana lagi. Mereka tidak mungkin marah karena hal sepele seperti itu kan? Kalau itu terjadi, pasti sangat bodoh.
Akhirnya aku menginjakkan kaki di aula kerajaan ini lagi. Kali ini aku melihat para keluarga bangsawan dan keluarga kerajaan itu lagi.
Raja Kano menyampaikan pidatonya dengan penuh wibawa. Menyarankan kami untuk berhati-hati dalam perjalanan. Mungkin perjalanan ini akan memerlukan waktu dua hari agar tiba di tempat tujuan.
Setelah itu, kami menuju kereta kuda yang sudah disiapkan pihak kerajaan. Pangeran dan putri akan menempati gerbong pertama. Dan kami akan menempati gerbong kedua. Gerbong ketiga akan ditempati oleh para pelayan. Pangeran dan putri masing-masing membawa seorang pelayan bersama mereka untuk mengurus kebutuhan mereka di akademi nantinya. Lalu kami dikawal disekitar lima belas prajurit berkuda. Hanya ada sedikit prajurit, tapi ini merupakan prajurit elit. Raja Kano mengirimkan beberapa prajurit dengan level tinggi.
Aku juga melihat Sayn. Dia berjalan dengan jubahnya dan sepertinya dia juga memakai topeng sihir. Tapi itu tetap tidak akan mengelabuiku. Dan benar sekali perkataan Sayn. Orang tua dan saudara-saudaranya tidak sadar bahwa kehadirannya sudah berubah. Padahal tinggi badan dan wajahnya saja sudah berbeda dengan Sayn yang dulu. Dia benar-benar tidak diperhatikan ya...
Para murid akademi pun naik ke gerbong kereta. Gerbong ini cukup luas, walaupun kami duduk berhimpitan. Ini tidak sempit.
Robert tidak masuk ke dalam gerbong. Dia berkuda di luar kereta bersama dengan prajurit pengawal.
Tuk! Tuk! Tuk!
__ADS_1
Kuda di depan pun sudah berjalan dan kereta mulai bergerak meninggalkan istana.
Aku melihat dari luar jendela bahwa kami perlahan menuju gerbang masuk kerajaan. "Ah~ Selamat tinggal Kano. Aku harap perjalanan kami baik-baik saja" pikirku. Aku sangat menyanyangkan tidak ada portal teleportasi. Padahal kalau memakai portal kita tidak perlu berpergian sejauh ini haa~