
Cerita sebelumnya:
Eva berusaha membujuk Ren untuk menyebarkan hasil penelitiannya ke dunia luar dengan cara menjualnya. Awalnya Ren menolaknya. Tapi Eva mulai menceritakan tentang pentingnya uang bagi seorang raja untuk membangun istananya. Akhirnya Ren setuju.
Lalu Eva memilih raja elf gelap, Vien sebagai klien pertama mereka. Ren menolak untuk yang kedua kalinya. Tapi Eva meyakinkan Ren bahwa Vien adalah orang baik. Tidak apa-apa bekerja sama dengannya. Ren setuju juga akhirnya. Di akhir pembicaraan mereka, Eva meminta oleh-oleh pada Ren. Dan Ren memberikan nya tanpa pamrih.
Sementara di sisi lain, Caca sibuk mengikuti Fram. Dan kebetulan, dia bertemu Lena. Kedua gadis elf kecil itu pun mulai bertengkar.
***
"Apa yang kau lakukan disini?" teriak Lena tidak senang. Dia tidak pernah menduga bahwa elf cahaya akan berkeliaran di tempat seperti ini.
"Aku disini karena permintaan raja. Aku akan menikah dengan salah satu elf gelap" kata Caca percaya diri.
Wajah Lena menegang. Dalam pikirannya Caca dan Ren berencana untuk menikah. Karena itu adalah pikiran yang logis "Aku tidak akan pernah mengizinkan nya!" teriaknya.
"Kenapa aku perlu izinmu untuk menikah!" jawab Caca sarkas.
"Tentu saja kau perlu. Aku adalah putri di istana ini!" kata Lena percaya diri.
"Putri? Kau membuatku tertawa. Kau hanyalah putri palsu yang bahkan tidak memiliki darah kerajaan" kata Caca sarkas. Caca cukup membenci Lena karena hal ini. Lena selalu mengatakan dirinya sebagai putri dan membuat nya jijik.
Wajah Lena menghitam karena marah. "Berani-beraninya kau!" Dia menggertakkan giginya marah. Lena tidak bisa menghina Caca di bagian ini karena Caca adalah putri asli yang terlahir dengan darah kerajaan, tidak seperti nya.
Kebencian dan amarahnya benar-benar sudah mencapai puncak sekarang. Karena itu Lena langsung maju dan menyerang Caca dengan tinju nya.
Caca sebenarnya bisa menang dengan mudah. Bagaimana pun Caca lebih kuat dan berbakat dari Lena. Tapi karena Fram ada disini, Caxa berniat menggunakan kesempatan ini.
Caca tidak bergerak dari tempatnya sehingga tinju Lena mengenai wajahnya. Caca juga terjatuh ke belakang karena pukulan itu. Dengan wajah menyedihkan dia mengusap bekas pukulan di wajahnya, tapi dia tidak menangis.
Sesuai dugaan Caca, Fram menghampirinya dengan cemas. "Kau tidak apa-apa?" tanya Fram sambil memeluk punggung nya.
__ADS_1
Wajah Caca memerah. "Tidak apa-apa" katanya malu. "Tapi itu sangat sakit..." katanya dengan suara menyedihkan.
Fram dengan cepat mengeluarkan sebuah ramuan dari ruang dimensinya. Lalu mengoleskan ramuan itu ke wajah Caca. "Itu hanya luka ringan. Jangan menangis" Fram menghibur nya.
Caca tidak akan menangis. Dia malah bersemangat sekarang. Jantung nya berdegup kencang.
"Menjijikan..." tapi Lena tiba-tiba mengeluarkan ejekan sarkas nya. "Kenapa kau menjadi selemah itu? Apa ayahmu tidak memberimu makan dengan baik?" Lena mengejeknya.
"Bisakah kau tidak menggunakan kekerasan saat bertemu orang lain?" Bukan Caca yang menjawab ejekan Lena, tapi Fram.
Fram dari dulu tidak menyukai Lena. Gadis itu selalu membuat masalah di istana. Dia aelalu memukuli orang-orang yang tidak bersalah. Terlebih lagi dia menggunakan kekuatan istana hanya untuk dendam pribadinya, seperti memanggil para pengawal istana untuk memukuli dan membunuh orang.
Fram pernah membuat keluhan pada Ren tentang hal ini. Tapi Ren tidak mempedulikan nya.
"Dia hanya sedih karena kehilangan orang tuanya di umur semuda itu"
"itu hanyalah permainan anak-anak"
Ren selalu membelanya setiap ada orang yang terluka karena gadis jahat itu.
"Putri? Kau bukan putri sama sekali. Berhenti lah berhalusinasi. Kalau kakak Ren tidak mengasihanimu. Kau tidak akan tinggal di istana" kata Fram.
"Kau hanyalah anak dari bangsawan rendah. Apa hakmu mengkritik ku seperti itu? Bahkan ayahmu mati dengan menyedihkan" Lena mulai menghina ayah Fram. "Lagipula dia hanya bangsawan lemah sebelumnya. Tapi dia berlagak untuk berkelahi dan mati dengan menyedihkan"
TAK!
Fram mengigit bibirnya. Wajahnya menghitam. Bagaimana dia bisa menghina ayahnya seperti itu? Padahal mereka sama sekali tidak membicarakan tentang orang tua disini. Tapi Lena mengatakan hal itu dengan mulut jahatnya.
Fram tidak bisa menahan amarahnya dan BUK! Dia memukul Lena dengan tinjunya.
Lena yang terkena pukulan terjatuh ke belakang dengan wajah tak percaya bahwa dia sudah dipukul.
__ADS_1
Kalau orang luar melihat perkelahian mereka, mereka hanya akan berpikir bahwa ini adalah perkelahian anak-anak.
"Apa yang terjadi?" Ren muncul bersama dengan Eva di belakang nya.
Aku melihat situasi di depanku dengan wakah bingung. Aku bisa melihat dengan jelas bajwa anak-anak itu berkelahi dan Fram memukul Lena dengan tangannya, meninggalkan luka lebam di pipi kiri Lena.
Lena yang terluka melihat kehadiran Ren. Air matanya tumpah dan dia langsung memeluk Ren sambil menangis.
"Apa yang terjadi?" kali ini aku yang bertanya.
Fram tidak menjawab. Dia hanya menundukkan kepalanya. Aku langsung mengalihkan tatapan kepada Caca, meminta penjelasan nya.
Caca pun membuka mulutnya dan menjelaskan dengan nada menyedihkan. Ternyata perkelahian terjadi karena mereka saling menyindir satu sama lain.
"Apa kau juga dipukul?" aku menatap Caca tak percaya.
Caca mengangguk antusias. "Tapi Fram Sudah memberiku ramuan penyembuh"
Luka akibat perkelahian mereka memang tidak parah. Itu hanyalah pukulan ringan tanpa kekuatan sihir apapun. Tipikal perkelahian anak-anak.
"Itu salah mereka" Lena mulai membela dirinya diselingi isak tangis. "Mereka hanya pendatang, tapi mereka menghinaku seperti itu hiks...Ren, mereka orang jahat" Dia menatap Ren dengan tatapan menyedihkan. "Mereka bahkan mengatakan bahwa aku putri palsu"
"Kau juga mengatakan bahwa ayahku tidak memberiku makan dengan benar. Kau bahkan menghina ayah Fram, mengatakan bahwa dia mati dengan menyedihkan. Dasar tukang akting!" Caca mengomel panjang lebar dengan suara kerasnya.
"Itu tidak benar Ren..."
"Cukup" Ren melepas tangan Lena dari tubuhnya. Lalu dia menatap Lena dengan tatapan tajam. "Kembali ke kamarmu dan renungkan kesalahanmu" katanya serius.
"Tapi aku..."
"Lena!" Suara Ren meninggi. "Aku tidak ingin melukaimu. Jangan membuat nya semakin sulit"
__ADS_1
Lena tersentak. Ren belum pernah membentaknya seperti ini. Dia tidak ingin Ren lebih marah padanya. Jadi dia mulai menyerah dan mengangguk lemah.
Lena kembali ke kamarnya sambil menatap Ren dengan tatapan sedih. Lalu dia mengalihkan tatapannya pada Eva dan Caca. Dia menatap mereka dengan penuh kebencian sambil menggertakan giginya.