
Cerita Sebelumnya:
Guru Wilson memanggil Eva ke ruangannya. Ternyata guru itu adalah seorang elf gelap yang menyamar sebagai manusia. Dan tak terduga, dia juga guru bocah elf yang sudah ditolongnya.
Lalu saat Eva menuju ke perpustakaan untuk menyelesaikan tugas rumahnya, dia bertemu Denis secara tiba-tiba. Denis memberinya undangan pesta ulang tahunnya yang keenam belas. Di pesta ini pengumuman pertunangan mereka akan dilakukan secara resmi.
***
Aku merebahkan diriku di atas kasur. Lalu mengangkat surat undangan itu ke atas sambil memandanginya.
Surat undangan ini mungkin bisa dibilang undangan pesta yang bahagia bagi Eva yang dulu karena dia telah bertunangan dengan orang yang dicintainya. Tapi baginya yang sudah mengetahui beberapa peristiwa, ini merupakan titik kejadian yang paling kritis.
Di pesta teh ini Eva akan mempermalukan dirinya karena membentak Reina dan juga sikap Denis yang dingin padanya. Semua orang bangsawan di pesta menyaksikan semua itu. Sejak itu dia dijuluki "gadis jahat" dan juga "tunangan yang tidak diinginkan"
'Hmm...bagaimana kejadian itu terjadi ya...'
Awalnya pesta berjalan dengan lancar. Eva menghadiri pesta bersama ayah dan ibunya lalu memberi hormat pada raja. Semua bangsawan itu menatap mereka. Mereka menjadi pusat perhatian.
Lalu Denis datang dan pusat perhatian itu teralihkan kepada putra mahkota. Denis memberi salam hormat kepada raja dan juga duke. Lalu hubungan pertunangan mereka pun diumumkan. Wajah Eva sangat berseri-seri. Dia benar-benar senang. Tapi raut wajah Denis sangat datar dan dia menatap gadis yang girang di sebelahnya dengan tatapan dingin.
Eva menghampiri Denis dengan semangat tinggi dan mengajaknya berdansa. Walaupun Denis tidak mau, dia tidak bisa mempermalukan nama ayahnya di depan khalayak ramai dengan sikap tidak sopan. Jadi dia terpaksa berdansa dengan Eva. Saat mereka berdansa, Denis sama sekali tidak pernah menatap Eva. Matanya mencari sekeliling aula pesta. Dan akhirnya tertuju pada satu gadis yang berdiri di sudut ruangan.
Saat dia melihat gadis itu, jantungnya langsung berdetak cepat. Dia mengakhiri dansanya dengan Eva dan pergi menghampiri gadis yang membuat rasa penasarannya semakin menggebu.
Eva yang ditinggalkan menjadi sangat linglung. Dia tahu bahwa Denis pasti sibuk menyambut bangsawan yang lain. Karena itulah dia meninggalkannya.
Tapi itu tentu saja tidak! Eva melihatnya! Dia melihat Denis dan gadis bangsawan rendah itu di antara keramaian.
"Gadis itu pasti merayunya" pikir Eva.
"Kemana mereka pergi?"
Eva mengikutinya.Dan menemukan kedua orang itu berjalan menuju halaman samping istana. Eva mendekat, dia berusaha sedekat mungkin agar mendengar apa yang mereka bicarakan.
Suara gadis itu sangat lembut. Dan kalimatnya penuh dengan terima kasih dan juga pujian untuk Denis. Lalu Denis juga membalas perkataannya dengan lembut dan halus pada gadis itu! Dan Denis tersenyum! Denis belum pernah menunjukkan senyum apa pun padanya!
'Bagaimana ini bisa terjadi! Denis selalu memperlakukannya dengan dingin. Tapi saat bersama gadis itu, dia memperlakukannya dengan lembut. Kenapa? kenapa?' Eva merasa frustasi.
'Aku yakin gadis itu menggodanya! Denis tidak akan pernah tertarik dengan gadis seperti itu!'
Dengan menguatkan tekadnya, Eva memutuskan untuk memberi gadis itu pelajaran.
Ah! Eva hampir berteriak, tapi dia langsung menutup mulutnya dengan cepat. Apa yang dia lihat? Dia melihat Reina mencium pipi Denis dengan wajah memerah malu! Gadis brengsek itu! Dia bahkan belum pernah menyentuh tunangannya! Tapi gadis itu berani-beraninya....
Setelah kejadian itu, mereka berdansa. Tampilan mereka berdua sangat memukau. Gadis cantik dan pria tampan yang menari dengan harmonis. Mata mereka saling bertatapan dan keduanya tersenyum lembut.
Eva mematung melihat semua kejadian ini. Hatinya berdenyut menyakitkan. Sangat sakit. Kenapa Denis sama sekali tidak pernah memperlakukannya seperti itu? Bahkan sejak pertama kali mereka bertemu, Denis sudah memperlakukannya dengan dingin.
Eva tidak ingin melihat semua ini lagi. Di dalam hatinya dia tahu bahwa kedua orang itu saling jatuh cinta. Tapi hatinya masih menyangkalnya. Dia berusaha menyangkal semua kenyataan dan memaksakan kehendaknya untuk bersama Denis.
'Aku yakin Denis akan menerimaku. Aku adalah tunangannya. Aku yakin waktu bisa mengubahnya' pikir Eva optimis.
Saat acara pesta akan selesai, Eva melihat kedua orang itu kembali. Tanpa pandang bulu, dia langsung menghampiri Reina. Mendorongnya dan menyiramnya dengan teh di tengah-tengah aula. Semua orang menjadi ribut karena kejadian itu. Eva membentak dan memaki Reina sebagai gadis ****** yang merebut pasangan orang lain.
Tapi, tentu saja sang pahlawan datang. Denis datang dan menampar wajah Eva. Semuanya menjadi lebih ribut karena kejadian itu. Denis memarahi Eva dan mengatakan bahwa dia adalah gadis bermulut jahat. Menghina gadis baik seperti Reina, bahkan melukainya. Dia juga mengatakan bahwa Eva tidak pantas menjadi tunangannya. Gadis seperti itu hanya bisa menjadi sampah!
Mendengar semua perkataan Denis, semua orang di aula langsung menatap Eva menjijikan. Tapi Eva tidak mempedulikannya. Eva juga mempunyai pelindung, yaitu ayahnya. Dia menangis di depan ayahnya, dan duke langsung mengeluarkan aura membunuh. Duke menatap tajam Raja yang berada di depannya. Semenjak kejadian itu hubungan Duke dan Raja menjadi buruk. Sang raja tidak mau semua kejadian ini menjadi terlalu jauh dan menyebabkan insiden tidak terduga, jadi dia memaksa Denis untuk meminta maaf pada Eva. Tentu saja Denis tidak mau. Tapi saat melihat mata memohon ayahnya, Denis melakukannya dengan berat hati sambil berusaha menahan kemarahannya. Karena Denis sudah meminta maaf, rasa percaya diri Eva kembali. Dia mulai mengejar pria itu lagi.
Walaupun ayahnya sudah membujuknya untuk menyerah dan membatalkan pertunangan, tapi Eva tidak mempedulikannya. Duke sudah sangat membenci Denis, dia yakin pria itu bukan orang baik untuk putrinya. Dia pasti akan membuat hidup putrinya menderita saat mereka menikah. Tapi putrinya tetap bersikukuh dengan pilihannya, sehingga Duke Court hanya bisa pasrah.
"Sialan!" aku langsung merenggut sambil meremas surat undangan itu kuat-kuat.
Setelah mengingat kembali kejadian itu, suasana hatiku tidak baik. Aku benar-benar marah. Aku sudah mengalami kejadian itu berulang-ulang karena siklus mimpi, karena itulah aku sangat ingat kejadian yang terjadi padaku. Kehidupan Eva di masa lalu.
Aku sangat marah pada Eva bodoh itu! Dia benar-benar buta karena pria!
Aku juga sangat merah pada Denis yang memperlakukan Eva tidak baik sejak awal pertemuan mereka!
Aku juga marah pada Reina yang berpura-pura sebagai gadis polos, tapi dia mendekati pria yang sudah punya tunangan! Yah, itu memang karakternya. Dia mendekati semua pria dan semua pria itu jatuh cinta padanya, bukan hanya Denis. Ceritanya sudah diatur seperti itu.
__ADS_1
"Aku pasti tidak akan membiarkan kejadian itu terulang lagi. Aku akan menjadi gadis yang bijaksana walaupun kedua orang itu menunjukkan kedekatan mereka padaku. Aku juga tidak akan membuat malu ayahku. Pasti tidak akan!" aku menguatkan tekadku sambil meremas undangan itu lebih keras.
Saat kertas undangan itu menjadi hancur karena genggamanku, aku langsung melemparnya ke tempat sampah.
Aku akan menantikannya, pesta ulang tahun itu...
***
Pesta ulang tahun itu pun dimulai. Aku sudah bersiap-siap untuk berangkat dengan kereta kuda. Di dalam kereta kuda itu, kedua orang yang kusayangi sedang menunggu di dalamnya.
"Aku sangat merindukan mama~" kataku manja sambil memeluk leher ibuku. "Bagaimana keadaanmu ma? Apa tubuhmu baik-baik saja? Bayi itu tidak menyakitimu kan?" kataku khawatir saat melihat wajah ibuku yang agak pucat.
"Jangan bicara seperti itu. Bayi tidak mungkin menyakiti orang lain, mereka tidak bersalah." sanggah Diana. "Bagaimana keadaanmu sayang? Apakah akademi itu menyenangkan?~" tanya Diana lembut.
"Semuanya biasa saja" kataku datar. "Pelajaran mereka bahkan lebih mudah dari yang diajarkan master" kataku mengeluh.
"Jangan seperti itu sayang~"
"Hmm...." aku membenamkan kepalaku dalam pelukan ibuku. Setelah beberapa menit aku melepasnya dan memeluk leher Duke Court.
"Aku juga merindukanmu pa~" kataku manja.
"Belajar yang baik oke" mata Duke sangat lembut. Dia mengelus rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Hm" aku mengangguk yakin. "Ayah juga harus menjaga ibu dengan baik saat aku tidak ada oke." kataku sambil melirik Diana. Kondisinya tidak baik, aku sangat khawatir. Semua orang tahu bahwa Diana mempunyai tubuh yang lemah. Aku takut terjadi kejadian yang tidak diingankan.
Melihat wajah cemas putrinya, Duke tersenyum dan mencubit hidung gadis kecil itu. "Jangan khawatir. Kau tahu ayahmu ini sangat hebat bukan. Jangan meremehkanku, aku pasti akan melindungi Diana"
"Tentu saja, papa memang hebat~"
CUP! Aku mencium pipinya.
Kami, keluarga tiga orang, tidak, sebentar lagi empat orang, berbicang dengan bahagia di dalam kereta. Sementara kereta itu terus melaju menuju istana.
***
Akhirnya aku melihat tempat ini lagi.
Walaupun raja dan ratu cukup ramah, Denis sama sekali tidak. Dia menghabiskan waktunya lebih banyak bersama pria itu dari pada bersama raja dan ratu, sehingga perasaannya benar-benar tidak baik.
Kami sekeluarga berjalan menuju aula istana. Saat kami masuk, para pejaga menyambut kami dan semua tamu langsung mundur dan berbaris rapi. Para tamu itu memberi hormat dengan menundukkan kepala mereka, sehingga kami sekeluarga bisa melewati kerumunan itu dengan lancar.
Aku melihat di depan tahta ada raja dan ratu. Lalu di samping mereka ada selir, putra mahkota dan pangeran.
Kami menuju ke arah mereka dan memberi salam penghormatan. "Selamat malam yang mulia"
"Terima kasih sudah mengundang kami" kata Duke Court ramah.
Eh? Ternyata ayah bodoh ini juga bisa bersikap ramah dan tidak memberontak ya?
Raja tersenyum ramah. "Ayolah saudaraku. Jangan bersikap terlalu formal padaku."
Raja kemudian menatap semua tamu. "Baiklah, sekarang aku akan mengumumkannya. hari ini putr mahkota sudah berumur enam belas tahun. Dia sudah mencapai usia dimana dia akan menikah. Jadi aku dengan resmi mengumumkan pertunangan putraku, Denis dengan putri Duke Court, Eva.
Para tamu itu menjadi ribut sebentar. Tapi itu tidak terlalu berlebihan, karena sebagian besar dari mereka sudah mengetahui kabar ini.
"Baiklah karena tamu utamnya sudah datang, kalian bisa menikmati pesta ini" kata sang raja.
Para tamu mulai berhamburan dan berbaur lagi. Sebagian dari mereka membentuk kelompok kecil dan sebagian lagi menghampiri ayahku, untuk membuat hubungan politik. Dalam sekejap aku melihat para orang tua itu mengerumuni kami.
Aku khawatir dengan ibuku yang kondisi tubuhnya tidak sehat. Tapi aku menjadi tenang saat melihat ratu menariknya dan memisahkannya dari kerumunan. Lalu kedua orang wanita itu bergosip. Selir yang penasaran di sudut juga memberanikan dirinya untuk masuk dalam percakapan. Melihat mereka mengelus perut ibuku, aku yakin mereka pasti membicarakan tentang bayi.
"Eh?" aku merasa kaget saat aku merasa lenganku ditarik. Saat aku menoleh, itu Denis!
Pria itu menarikku dan membawaku ke tengah aula, menjauhi kerumunan orang tua yang mendekati ayahku.
"Kau tidak apa-apa?" dia bertanya.
"Aku tidak apa-apa. Aku tidak akan terluka hanya karena ditindih pria tua" kataku langsung.
__ADS_1
Denis tersenyum.
Eh? Aku agak kaget.
Akhir-akhir ini aku selalu melihat Denis tersenyum padaku. Dia tidak menggunakan tatapan tajamnya itu lagi untuk menatapku.
Alur cerita sudah berubah. Denis sudah memperlakukanku lebih baik. Aku harap kejadian buruk di masa depan atau pun saat ini tidak akan terjadi.
Denis tiba-tiba berlutut dan itu mengagetkanku. "Maukah kau berdansa denganku?" katanya dengan lembut sambil memegang tanganku dan menciumnya.
DEG! Tubuhku langsung bergetar. Aku agak bergidik ngeri saat diperlukan dengan romantis seperti ini. Tapi kurasa ini permulaan yang baik bukan.
"Tentu saja yang mulia" kataku sambil memberi hormat.
Denis menarikku dan memegang pingangku. Dalam sekejap, kami berdansa di tengah aula dan menarik perhatian semua orang.
Duke yang sedang sibuk berbicara mengalihkan perhatiannya pada kami. Begitu pula raja. Dan begitu pula ibuku dan ratu yang asyik bergosip.
Hanya karena berdansa, kami berdua menjadi pusat perhatian.
"Jangan gugup" Denis berbisik sambil mendekatkan bibirnya di daun telingaku.
Yang membuatku menjadi lebih gugup.
"Aku tidak gugup"
"Kau berdansa dengan baik" puji Denis. "Aku tidak menyangka gadis pemberontak sepertimu bisa bersikap baik seperti ini. Melihatmu seperti ini, aku berpikir kau gadis yang manis dan cantik" pujinya dengan napas yang berhembus di leherku.
DEG! DEG! DEG! Jantungku berdetak tak menentu.
Ahh!! Jangan begini Eva! Kau benar-benar tergoda karena perkataanya! Kau harus menahan dirimu!
Aku berusaha menahan diriku, walaupun wajahku sudah merah karena malu.
Melihat gadis di depannya menundukkan kepalanya malu-malu, Denis semakin senang. Ternyata gadis ini tergoda olehku! Aku masih ada kesempatan bukan?
"Aku juga minta maaf" kata Denis langsung.
"Eh?"
"Aku minta maaf karena sudah membentakmu waktu itu. Aku akan memberimu hadiah permintaan maaf" katanya kecewa. "Apakah kau akan memaafkanku?"
"Aku akan memaafkanmu..." kataku pelan dengan wajah yang sudah memerah seperti di sauna!
"Apa? Aku tidak mendengarmu?" kata Denis dengan nada nakal.
"Aku minta maaf!" kataku geram sambil menginjak kakinya.
Tapi Denis tidak marah. Dia hanya tersenyum dan terus menggoda gadis kecil itu.
Akhirnya dansa mereka berakhir. Semua orang yang berada di ruangan itu bertepuk tangan.
"Eva..." belum sempat Denis menyelesaikan perkataannya, suara lainnya muncul.
"Maaf yang mulia..." kata suara gugup itu.
Aku melihat gadis tokoh utama itu, Reina sedang menatap Denis.
Denis mengernyit tidak senang karena perkataannya di potong. Tapi dia langsung merubah ekspresinya seperti biasa. "Ada apa?"
"Ada yang ingin kubicarakan dengan yang mulia....ini sangat penting..." katanya lirih.
"Apakah lebih penting dari urusanku di istana ini?" tanya Denis mencibir.
"Ini tentang itu yang mulia...." kata Reina tidak jelas.
Tapi aku melihat Denis sedikit tersentak. Apa yang dimaksud dengan "itu" sampai bisa membuat Denis bereaksi seperti itu? Apa sesuatu yang penting?
Denis terdiam sebentar, lalu menatap Eva. "Aku akan pergi sebentar. Tunggu aku oke" katanya sebelum pergi bersama Reina meninggalkan aula utama.
__ADS_1
Cih! Dia meninggalkanku dan mengikuti tokoh utama itu! Entah kenapa aku merasa tidak senang saat mereka berjalan berdampingan.