
Cerita sebelumnya:
Eva bertarung dengan para jubah hitam. Dia mengeluarkan seluruh kemampuannya. Termasuk sihir tinggi yang dia pelajari dan berbagai elemen juga dia gunakan. Tapi tetap saja dia tidak bisa melarikan diri dan berakhir terjebak oleh alat sihir aneh dan hampir mati.
***
Robert dan yang lainnya masih mengelilingi Kota Sihir untuk mendeteksi jejak mana milik Eva. Tapi tiba-tiba suara gemuruh memekan telinga terdengar. Dan dari kejauhan mereka bisa melihat puing-puing bangunan rubuh dan juga angin yang berterbangan.
"Eva ada disana" firasat Robert mengatakan dengan pasti. Lalu dengan cepat dia menuju tempat kejadian.
Dean Wason dan yang lainnya langsung mengikuti Robert tanpa mengajukan pertanyaan apa pun.
Perjalan ke sana tidak memerlukan waktu lama, hanya beberapa menit.
Saat Dean Wason melihat ke arah tempat yang kacau itu, dia mengerutkan kening.
'Aku benar-benar merasakan keberadaan yang tidak asing' pikirnya. Lalu dia melihat titik-titik bayangan hitam di langit yang menghilang dalam sekejap.
" kalian ikut aku" kata Dean Wason mengintruksi Dean lainnya, lalu mereka terbang dengan cepat ke atas dan menghilang di langit.
Robert tentu saja tidak memperhatikan yang lain. Dia tidak peduli dengan daerah yang sangat kacau di sekelilingnya. Bangunan hancur, debu, lava, dia tidak peduli. Dia berusaha menajamkan pandangannya untuk mencari seseorang. Semuanya sangat sulit karena tanah sudah membentuk lubang yang sangat besar dengan lava sebagai dasarnya. Kalau orang awam melihat, mereka akan mengira ini danau lava. Di tambah dengan puing-puing bangunan dan debu-debu yang berterbangan karena angin. Pandangannya sedikit terganggu.
Tapi akhirnya dia menemukan targetnya. Sosok itu berada di tengah-tengah kolam lava dan terlihat seperti semut karena saking kecilnya. Robert pun melesat terbang ke arah kolam lava. Dia melihat Eva hampir pingsan dan langsung menompang tubuhnya.
***
Pandanganku sangat kabur. Aku benar-benar tidak bisa bernapas. Saat aku tidak punya tenaga untuk mempertahankan tubuhku dan terjatuh, tiba-tiba seseorang yang sangat familiar muncul di depanku.
"Robert..." gumamku lemah. Berusaha tetap menjaga kesadaran dan membuka mataku.
Robert agak tersentak. Eva belum pernah memanggil dirinya dengan sebutan nama, dia selalu memanggilnya "Master". Karena hubungan mereka memang terikat guru dan murid. Dia sangat senang dengan perkembangan ini, tapi dia juga tidak bisa menunjukkan rasa senangnya. Rasa itu hanya muncul sedetik sebelum akhirnya menghilang saat dia melihat wajah gadis itu mulai pucat dan lemah.
"Apa yang terjadi? Eva! Eva!" Robert memeluknya sambil bertanya.
"Robert...ada alat sihir aneh melilit tubuhku. Aku...tidak bisa bernapas....." kataku tergagap-gagap.
Robert mengernyitkan kening. Dia tidak melihat apa pun di tubuh Eva! Dia sama sekali tidak melihat alat sihir apa pun! Apa alat sihir itu hanya bisa dilihat Eva dan tembus pandang untuk orang lain.
__ADS_1
Robert mengedarkan mananya di tubuh Eva dan dia melihat secara samar-samar tali transparan melilit Eva di sekitar dadanya.
"Tali penghisap mana!" kata Robert kaget. Ini adalah alat sihir kuno. Robert mengetahui alat sihir ini karena dia melihatnya beberapa tahun yang lalu. Ya, beberapa tahun yang lalu saat dia mengunjungi Kota Sihir bersama Dean Wason . Mereka masuk ke rumah lelang dan melihat alat sihir langka ini dilelang. Kononnya, salah satu peserta yang masuk ke dalam Domain Sihir menemukan alat ini di reruntuhan. Tapi dia tidak tertarik dan memilih untuk melelangnya agar bisa ditukar dengan uang. Dean Wason tentu saja tertarik dan ikut mengajukan lelang, tapi dia kalah telak. Pasalnya Menara Sihir tidak menimbun begitu banyak uang karena uang bukan prioritas utama mereka. Ditambah banyak sekali orang di Menara Sihir tidak menyukai bangsawan. Para bangsawan itu selalu identik dengan uang dan kemewahan. Akibatnya mereka semakin tidak tertarik. Tapi Robert tidak ingat siapa yang membeli alat sihir ini sebelumnya.
Robert menggunakan manaya untuk menghancurkan tali itu, tapi tetap saja tidak berguna. Tapi dia merasakan sesuatu yang sangat aneh walaupun samar-samar. Ini adalah elemen gelap. Walaupun elemen gelap hanya terasa sangat samar. Tapi Robert mempunyai firasat bahwa elemen gelap ini adalah kunci kenapa tali ini tidak bisa dihancurkan.
Robert membuka ruang dimensinya dan mengambil sebuah ramuan asing. Lalu dia meminumkan ramuan itu pada Eva. Ramuan itu adalah ramuan untuk memperkuat elemen cahaya yang dimiliki seseorang.
"Eva, gunakan elemen cahayamu sebanyak yang kau bisa!" Robert memerintahkan.
Eva langsung melakukannya. Dia mengkonversikan seluruh mana dalam tubuhnya menjadi elemen cahaya.
SWISH! Cahaya perak yang menyilaukan muncul dari tubuh Eva. Cahaya itu sangat kuat, Robert bahkan harus menutup matanya karena silau. Cahaya itu terus melebar dan melebar, menutupi seluruh kota Sihir, membuat sebuah fenomena asing.. Semua penduduk di Kota Sihir mengamati fenomena menakjubkan ini.
Sebuah cahaya perak menyilaukan tiba-tiba menyinari seluruh kota! Bahkan para peserta pertandingan yang berada di penginapan pun bergegas terbang untuk melihat apa yang terjadi.
Semua orang yang terkena cahaya ini merasa tubuh mereka menjadi lebih fit. Bahkan kelelahan mereka menghilang! Beberapa orang yang memiliki luka di tubuh mereka tiba-tiba merasakan keajaiban, luka mereka menghilang secara perlahan!
"Dewa!"
"Dewa! Dewa telah datang!"
Sayangnya, fenomena itu hanya terjadi selama beberapa detik sebelum cahaya perak itu mulai meredup kembali.
Eva tidak menyadari apa yang terjadi karena dia menutup matanya saat dia melepas seluru sihirnya. Dan kejadian itu hanya berlangsung selama sepuluh detik. Lalu dia merasa mana di seluruh tubuhnya benar-benar terkuras sekarang. Walaupun tidak benar-benar kosong, dia kehilangan banyak sekali mana yang tersimpan di dalam tubuhnya. Dia perlu melakukan meditasi rutin untuk mengisi ulang lagi nanti!
Tapi cara ini sangat efektif.
Tali yang melilit tubuhku melonggar dan secara perlahan lepas dengan sendirinya. Lalu tali itu hancur menjadi serpihan-serpihan dan terbang di bawa angin.
Aku sudah bisa bernapas sekarang. Benar-benar melegakan ah~
"Terima kasih mastaa~" kataku senang sambil memeluk leher Robert.
Awalnya Robert tersenyum tapi wajahnya berubah masam saat mendengar Eva memanggilnya dengan sebutan "master" lagi. Walaupun dia tidak terlalu memikirkannya setelah ini.
"Aku sudah menggunakan elemen cahaya sebelumnya, walaupun tidak banyak. Tapi tali ini tetap tidak mau lepas" kataku menjelaskan. Yah, aku sudah menggunakan elemen cahayaku, walaupun tidak maksimal. Tapi sama sekali tidak mempan. Aku mengira elemen cahayaku tidak berguna. Bahkan aku berpikir melepaskan elemen gelapku sebelum pingsan. Kalau saja Robert tidak datang, aku pasti akan melakukannya. Aku tidak peduli kalau orang-orang itu mengerjarku, setidaknya aku bisa hidup!
__ADS_1
"Bagaimana kau mengetahuinya kalau alat ini bisa hancur dengan elemen cahaya?"
Robert tersenyum bangga. "Aku adalah gurumu. Tentu saja aku mengetahui segalanya" jawab Robert. Lalu dia menepuk kepala gadis itu dan mengacak rambutnya. "Kau harus belajar lebih banyak lagi murid kecil" katanya.
Cih! Dasar tokoh utama menyebalkan!
Aku tahu pasti dia mendapatkan cheat entah dari mana. Tapi ya sudahlah, aku sama sekali tidak peduli ~
"Aku tidak tahu kakek itu dan yang lainnya pergi kemana" kata Robert tiba-tiba sambil mencari di sekitar.
Aku menghentikan sihir yang kugunakan segera. Semua elemen yang kukeluarkan langsung hilang seketika, menyisakan tempat yang penuh dengan serpihan bangunan dan lubang yang sangat besar.
"Kakek? Dean Wason?"
Robert mengangguk.
Ah! Kakek sudah tiba rupanya!
"Dia dan dean lainnya pasti sedang mengejar orang yang menyerangmu" kata Robert. "Ayo, kita kembali ke penginapan lebih dulu. Mereka akan baik-baik saja. Hanya tanyai saja saat mereka kembali nanti."
Aku mengangguk setuju. Dean Wason sangat kuat. Aku tahu itu.
Eh?
Sepertinya aku melupakan sesuatu....
Ahhh!
Dua orang rekan dari Komunitas Pengembara itu!
Aku langsung terbang dan mencari keberadaan dua orang itu di sekitar. Tapi aku tidak menemukan mereka. Kelihatannya mereka sudah kembali atau pergi bukan?
Aku ingin meminta maaf sekaligus berterima kasih untuk terakhir kalinya karena melibatkan mereka dalam kejadian ini. Tapi kukira aku tidak bisa melakukannya sekarang.
Aku akan melakukannya nanti. Aku kira kita semua akan bertemu pada akhirnya di Domain Sihir nanti.
Ah~ Mereka benar-benar orang baik. Baru kali ini aku menemukan dua orang asing yang sangat baik padaku.
__ADS_1