Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 7 Identitas Diana


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Raja Albion dan Emerta bertemu kembali setelah sekian lama. Mereka berdua tidak pernah menduga sama sekali tentang pertemuan ini. Raja Albion merasa bersalah dan menceritakan semuanya kepada Emerta. Raja juga mengetahui bahwa Diana adalah putrinya dan berniat untuk membawanya kembali ke kerajaan. Demi melindunginya dari pengejaran karena identitasnya sebagai penyihir gelap.


***


Pangeran Erick mendengar semuanya. Dan dia sangat terkejut. Dia bahkan lupa untuk berpikir saking terkejutnya. Dia tidak pernah mengira ayahnya dan wanita menyeramkan itu adalah sepasang kekasih di masa lalu! Dan ternyata mereka juga memiliki anak. Dan anak itu adalah sumber dari perang saudara yang terjadi di kerajaan Well!


Meskipun dia sedikit sedih saat mendengar fakta bahwa ayah dan ibunya tidak saling mencintai. Dan kehadirannya di dunia hanya karena desakan orang lain bukan keinginan kedua orang tuanya. Dia tetap merasa lega saat tahu ayahnya masih sangat peduli padanya.


Terlebih lagi dia punya saudara perempuan sekarang. Dan dia juga punya ibu. Haruskah dia memanggil wanita menyeramkan itu ibu? Tapi dia terlalu muda untuk menjadi ibu untuknya! Dia bahkan mempunyai dua keponakan kecil, dan salah satu dari mereka sangat berbakat.


Pangeran Erick merasa senang dan sedih di saat yang bersamaan. Dia merasa senang bahwa dia mempunyai saudara dan keponakan yang hebat. Tapi dia juga merasa sedih saat mengetahui keponakan kecilnya bahkan lebih hebat darinya. Dia merasa rendah diri.


Dan dia juga berpikir, andai saja dia juga bisa menggunakan sihir gelap. Mungkin keluarga mereka akan berakhir sebagai keluarga kerajaan kegelapan. Dia berpikir itu hal yang sangat menarik.


Sementara pangeran Erick sibuk memikirkan beberapa hal aneh, Emerta dan Raja Albion sudah membuat keputusan masing-masing.


"Aku tidak berjanji bisa menerima keputusanmu walaupun itu cukup bagus" kata Emerta kemudian.


"Aku tahu kau tidak percaya padaku..." kata Raja Albion sedih. "Aku benar-benar hanya ingin menolong kalian semua tanpa maksud apapun..."


"Bukan begitu." kata Emerta cepat. "Aku masih belum memberitahu semua orang tentang hal ini. Aku akan meminta pendapat mereka semua terlebih dahulu"


"Baiklah. Hubungi aku lagi kalau kau memang ingin melakukan perjalanan menuju Albion. Aku akan mengirimkan beberapa orang untuk menyambut kalian di perbatasan"


Emerta mengangguk.


"Jaga dirimu. Jaga diri kalian semua. Aku titipkan putraku yang tidak berguna itu padamu"


Emerta tidak merespon.


ZZAT! Layar di bola kristal itu langsung menghilang seakan-akan sudah kehabisan energi. Mungkin memang kehabisan energi sihir sehingga harus diisi ulang.

__ADS_1


"Ambil alat sihirmu kalau kau tidak ingin itu dicuri orang lain" kata Emerta. Dia tahu pangeran Erick bersembunyi di sekitar karena dia bisa merasakan keberadaannya. Tapi dia tidak terlalu peduli dengan hal itu.


Pangeran Erick keluar dari tempat persembunyiannya dengan canggung. Dia mengambil bola kristal itu dan memasukkannya ke dalam ruang penyimpanan miliknya.


Lalu dia tersenyum pada Emerta. "Mohon bantuannya, ibu" katanya bersemangat.


Mendengar perkataan pangeran Erick, mata Emerta melotot. Tapi kali ini Erick tidak takut dengan tatapan itu. Jujur saja pemuda itu benar-benar merindukan sosok ibu karena dia tidak pernah melihat ibunya sejak dia lahir.


"Humph!" Emerta hanya mendengus dan berbalik pergi. Dia tidak melarang pangeran Erick untuk memanggilnya ibu.


Pangeran Erick tersenyum lalu dia bergegas mengikuti Emerta dengan bersemangat.


***


Eva melihat ibunya yang masih tidak sadarkan diri. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membersihkan tubuh Diana dari racun dengan sihir cahayanya. Diana baik-baik saja sekarang. Dia hanya perlu waktu untuk bangun dari tidurnya.


"Ibu baik-baik saja. Dia akan sadar sebentar lagi" kata Eva.


Tak lama kemudian, kelopak mata Diana bergerak. Diana akhirnya membuka matanya. Dia perlahan bangkit, ingin duduk. Duke langsung membantu menompang tubuhnya.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Duke.


"Aku merasa pusing tapi aku baik-baik saja" jawab Diana lemah. Bibir dan wajahnya yang pucat menambahkan kesan tidak baik tentang kondisi tubuhnya.


"Syukurlah kau baik-baik saja" Duke langsung memeluknya dengan lembut.


"Bagaimana dengan anak-anak?" kata Diana panik. Dia melihat sekeliling dan menemukan keberadaan keduanya. Dia merasa lega karena mereka tidak terluka sama sekali.


"Mereka baik-baik saja" jawab Duke.


"Maafkan aku..." kata Diana sedih dengan mata berkaca-kaca. Semua hal ini terjadi karena dirinya. Dia melukai orang lain karena kesalahannya.


Duke memeluknya. "Tidak apa-apa. Kami akan lebih sedih kalau kehilanganmu. Aku mungkin akan menjadi gila juga" katanya.

__ADS_1


"Jangan berbicara seperti itu" Ekspresi Diana langsung berubah cemberut.


"Ibu benar" Eva menambahkan. "Jangan pernah memikirkan hal yang buruk. Kita masih baik-baik saja sekarang"


Mereka bertiga saling bertatapan penuh arti satu sama lain dan berpelukan kecil.


Suasana mengharukan keluarga kecil itu hancur saat pangeran Erick menerobos masuk ke tenda dengan bersemangat.


"Halo!" dia berteriak sambil melambaikan tangannya.


"..." semua orang terdiam, tidak merespon.


Emerta masuk ke dalam tenda dan mengernyitkan keningnya. Lalu dia refleks menendang bokong pemuda itu dan membuatnya jatuh tersingkir.


"Ada yang ingin aku bicarakan" kata Emerta serius.


Lalu konferensi pertemuan keluarga secara mendadak diadakan. Duke, Diana, Emerta dan Eva berkumpul untuk mulai pembicaraan serius.


Emerta membuka pembicaraan. Dia menghela napas dalam-dalam sebelum dia menceritakan semuanya. Terutama tentang keberadaan Raja Albion dan identitas Diana.


Semua orang yang mendengar informasi itu terkejut. Hanya Emerta dan Pangeran Erick yang memiliki ekspresi datar.


Eva sangat syok. Dia tidak menyangka tentang hal ini sama sekali. Keberadaan tentang kerajaan Albion sama sekali tidak pernah dijelaskan di novel itu. Serta keberadaan Emerta dan para naga. Saat dia tahu semua kebenarannya, dia sadar bahwa dunia ini bukan sekedar dunia novel yang dia baca. Ini adalah dunia nyata yang sangat besar, di mana semua kemungkinan terjadi.


"Bagaimana? Aku meminta pendapatmu sebagai kepala keluarga?" tanya Emerta sambil memandang Duke serius.


"Apa kau yakin Albion bisa dipercaya?" Duke tidak yakin. Perjalanan menuju Albion akan menjadi perjalanan yang cukup jauh serta dia harus membawa semua pasukannya. Nyawa semua orang berada di dalam tangannya.


"Kau harus percaya pada kami kakak ipar!" Pangeran Erick menambahkan. "Aku dan ayahku bukan orang yang licik. Terlebih lagi kedatangan kalian benar-benar hal yang baik. Istana sangat sepi seperti rumah hantu dan aku benar-benar bosan disana. Dengan kedatangan kalian, tempat itu akan menjadi lebih ramai dan hidup"


Duke menatap Erick. Erick balas menatapnya dengan tatapan polos. Sehingga Duke hanya menghela napas.


"Baiklah." Duke berkata sambil menatap semua orang. "Kita akan melakukan perjalanan ke Albion"

__ADS_1


__ADS_2