Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 2: Takdir


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Eva dan Robert berlibur. Mereka memasuki dunia virtual dengan teman 'pantai' dan 'ladang bunga', lalu menikmati waktu mereka. Saat mereka berada di ladang bunga, mereka beristirahat di sebuah bukit. Mereka bersantai sambil melihat pemandangan. Saat itu Eva langsung merenungkan masa depannya, apakah dia masih bisa bersenang-senang seperti ini di masa depan? Dan Robert langsung menanyakan tentang mimpi buruknya pada Eva karena curiga dengan tingkah lakunya. Disisi lain, Robert berkunjung ke Menara Sihir, dan para penatua bermaksud menyambut utusan dari akademi sekaligus kerajaan itu...


***


Aku menatap Robert saling bertatapan dan terdiam selama beberapa menit.


"Ada apa...master?" tanyaku sekali lagi.


Robert mengalihkan tatapannya. Mulai menangkupkan kepalanya di atas lengan dan berbaring sambil memandang langit. "Eva, kau pernah bermimpi buruk?"


"...."


"Bermimpi buruk tentang masa depan, apa kau pernah mengalaminya?"


Aku terkejut!


Bagaimana bisa Robert menanyakan hal seperti ini padaku? Aku jadi ingat apa yang akan kualami di masa depan. Bukankah ini buruk?


"Tentu saja..." kataku lirh.


"Semua orang pernah bermimpi buruk" kataku ambigu.


Robert menatap Eva untuk memperhatikan ekspresinya, lalu dia mengeryitkan keningnya. Merasa curiga.


'Apa mimpi buruk yang kualami ada hubungannya dengan Eva? Sehingga sihir gelap Eva membuatku mengalaminya juga?'


"Mimpi apa?"


"?"


"Kau bermimpi tentang apa?"


"Ahh...aku banyak bermimpi master...aku bermimpi jadi gelandangan, tidak punya uang. Lalu aku juga bermimpi kelaparan" jawabku tak menentu.


"Hehehe...bukankah langitnya indah master?" kataku mencoba mengalihkan pembicaraan.


"...." Robert terdiam.


"Kalau begitu, aku akan menceritakan mimpiku" kata Robert tiba-tiba, yang membuat pikiranku tersentak.


Dia menatapku "karena kau tidak mau menjawab..."

__ADS_1


"...."


"Aku bermimpi tentang kehidupan yang kujalani. Dari aku kecil hingga kematianku saat dewasa. Awalnya mimpi itu berlalu seperti biasanya. Aku tumbuh di menara sihir, belajar dan menjadi gurumu. Tapi itu semua berubah saat aku mulai beranjak dewasa. Aku lari dari menara sihir untuk menghindari perebutan kekuasaan dan menjadi guru di akademi. Di akademi itu aku menemukan gadis yang amat sangat menarik, dan aku jatuh cinta padanya. Sayangnya wajah sosok gadis itu kabur, jadi aku tidak melihatnya dengan jelas. Aku juga melihat dirimu Eva, tapi Eva dalam mimpiku bukan Eva yang kukenal. Yah, sikap kalian sama saja, lincah, blak-blakan dan arogan. Tapi Eva yang kukenal di dalam mimpi lebih terkesan sebagai gadis yang egois dan sama sekali tidak menguasai sihir. Berbeda denganmu yang sekarang sangat antusias untuk belajar. Eva yang kukenal sangat tertarik dengan kekuasaan dan kemewahan. Bahkan meremehkan orang disekitarnya karena tingkat kebangsawanan yang tinggi. Hal itulah yang membuatku tidak menyukainya."


"Aku tidak ingat detailnya. Tapi aku tidak menyukainya. Bahkan saat dia berlutut meminta ampun dan bahkan saat aku menemukan mayatnya. Aku tidak memiliki simpati sedikit pun. Aku terus mengejar gadis yang kucintai itu. Membantunya setiap saat dan memanjakannya. Aku bahkan menolongnya saat terjadi perang, bahkan sampai mengorbankan kekuatanku sendiri. Tapi, cintaku bertepuk sebelah tangan. Gadis itu memilih pria lain dan hidup bahagia dengan pria itu. Aku mengalah. Karena aku tidak punya tujuan apapun untuk hidup, aku mengembara untuk mengembalikan kekuatanku. Tapi, aku mati dengan tragis. Saat aku menjadi lemah, Dean Caro membunuhku.."


Robert menatapku lagi.


"Bukankah itu...mengerikan...?" katanya sambil tersenyum. "Mimpi itu agak menyimpang dari yang kualami. Tapi aku benar-benar tidak tahu kenapa aku bisa bermimpi seperti itu"


APAA??


Aku benar-benar kaget. Aku sangat kaget kali ini. Mimpi yang dialami Robert adalah alur cerita dalam novel.


Tapi aku benar-benar tidak tahu Robert juga bernasib tragis dalam cerita. Dia dibunuh oleh ayahnya sendiri. Novel itu berakhir saat Denis dan Reina hidup bahagia, menjadi raja dan ratu baru. Jadi, kisah tentang tokoh sampingan lainnya sama sekali tidak diceritakan.


Bagaimana Robert bisa bermimpi kejadian di dalam novel?


Aku menatap Robert lekat-lekat.


"Masterr..." panggilku lirih. "Bagaimana kalau kejadian di dalam mimpi itu benar-benar terjadi?" tanyaku takut-takut.


"Tidak!" bantah Robert langsung. "Kejadian itu tidak akan terjadi. Kalau pun itu terjadi, aku tidak akan membiarkannya!" jawabnya tegas.


Aku memberikan diriku bertanya lagi. "Bagaimana kalau itu takdir?"


"Aku akan melawannya!" jawab Robert tegas. "Aku tidak peduli itu takdir atau apa pun. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"


Robert bangkit tiba-tiba dan langsung memelukku.


"Aku tidak akan pernah mengabaikanmu, membencimu dan bahkan membuatmu dalam bahaya. Aku juga tidak akan pernah menjadi lemah dan membuatku mati dalam keadaan menyedihkan" katanya lirih


Aku tersentak mendengar perkataan Robert. Tanpa sadar tubuhku bergetar.


Kau tau, awalnya aku hanya menfaatkan Robert. Menjadi dekat dengannya, bersikap manja, dan menggodanya agar dia tertarik padaku. Sehingga dia bisa melindungiku. Tapi, setelah mendengar perkataan Robert yang sungguh-sungguh, aku merasa bersalah. Aku terharu Robert benar-benar akan melindungiku dan tidak membiarkanku dalam bahaya seperti di dalam novel. Tapi, memanfaatkan kebaikannya seperti ini.....bukankah aku terlalu jahat?


Saat aku merenungkan perbuatanku, tanpa sadar air mataku keluar dan aku menangis. "Maafkan...aku..."


Robert bingung. Kenapa gadis di pelukannya tiba-tiba menangis? Dia tidak memarahinya atau pun berkata kasar padanya!


"Kenapa minta maaf?"


"Aku....aku sudah memanfaatkan kebaikanmu master...."

__ADS_1


Puft! Robert menahan tawanya. Dia melepaskan pelukannya dan mengelus kepala Eva dengan lembut.


"Dasar bocah..."


"Tapi aku masih bingung. Kenapa kau bisa bermimpi seperti ini?" kata Robert.


"Eh?" aku tersentak.


Robert sudah tahu kalau mimpi buruknya berhubungan denganku? Kenapa? Aku tidak memberitahunya bukan?


Melihat wajah bingung Eva, Robert tertawa.


"Hahaha, kau benar-benar pembohong yang buruk~" ejek Robert dengan nada nakal.


"Huh!" aku merenggut cemberut.


"Jadi kenapa bisa?" tanya Robert lagi.


"Ehh...itu...aku membaca buku cerita yang mengerikan, lalu tidak sengaja memimpikannya dan membayangkannya kalau itu terjadi padaku" kataku mengelak.


Aku tidak mungkin bilang pada Robert kalau aku melihat semuanya di dalam novel. Itu jawaban yang benar-benar konyol! Aku tidak mungkin juga berkata bahwa aku melihat masa depan. Itu akan menjadi lebih konyol lagi!


Robert mengernyitkan keningnya tidak percaya. Dia tahu kalau Robert menyembunyikan sesuatu. Tapi dia menyerah bertanya lagi karena Eva tidak ingin memberitahunya.


"Masterrr...aku lapar....Ayo kembali" ajakku.


Aku tidak berbohong kali ini. Aku benar-benar lapar! Aku ingin makan daging.....


"Baiklah..."


Mereka pun keluar dari dunia virtual. Robert langsung membawa Eva ke suatu tempat.


"Masterr kita mau kemana?"


"Kita akan menuju ruang makan. Bukankah kau bilang lapar?"


Oh? ternyata ada kantin, eh tidak, tempat makan di menara sihir ya...


"Oh, oke" jawabku sambil menganggukkan kepalaku.


Robert menuntunku ke ruang makan. Saat kami melewati sebuah halaman di depan ruang makan, kami melihat para murid menara sihir membentuk sebuah lingkaran dan sedang mengerumuni sesuatu. Aku melirik kerumunan, dan melihat ujung kepala beberapa penatua di tengah-tengah kerumunan. Aku penasaran, dan bergerak maju menerobos kerumunan. Lalu aku menemukan sosok yang kukenal di pusat kerumunan.


Saat itu, mata kami langsung bertatapan.

__ADS_1


"Eva?"


"Denis..." kataku kaget. "Eh, tidak, putra mahkota. Apa yang kau lakukan disini?"


__ADS_2