
Cerita Sebelumnya:
Eva sekarang sudah menginjak umur 12 tahun. Dia sudah melakukan persiapan untuk pindah ke ibu kota dan menghadiri akademi. Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, Eva pun memulai keberangkatannya menuju ibukota dengan para pelayan dan pengawal.
***
TUK TUK TUK
Kereta kuda itu terus bergerak dan satu jam sudah berlalu.
Haa~ aku menghela napas. Aku benar-benar sangat bosan.
"Nona tidak apa-apa kan?" tanya Wiya khawatir saat melihat wajah Eva tampak lemas.
Aku langsung menggeleng. "Aku tidak apa-apa" jawabku lemah.
Aku menghadapkan kepalaku keluar jendela dan melipat lenganku di sisi jendela kereta. Aku melihat kereta kuda terus berjalan sehingga menyebabkan hutan-hutan yang kulihat bergerak dengan cepat. Kapan terakhir kali aku ke ibu kota dengan kereta kuda?
Ah! Itu terjadi saat aku berusia lima tahun. Saat itu, aku ketiduran karena aku masih sangat kecil dan cepat mengantuk. Sisanya, aku kembali menggunakan sihir teleportasi karena lebih efisien. Jadi aku benar-benar tidak pernah melihat pemandangan hutan ini lagi. Semuanya sangat sunyi dan senyap. Aku sangat bosan, ah`~
Sejam berlalu lagi dengan cepat.
Untuk sampai ke ibu kota kami perlu menempuh perjalanan selama dua belas jam melintasi hutan besar ini. Itu lumayan panjang. Aku mungkin harus menginap menjelang malam untuk beristirahat.
Beberapa jam berlalu, hari sudah menjelang malam. Kami memutuskan untuk beristirahat.
Aku langsung memerintahkan beberapa prajurit untuk mencari kayu dan membuat api lalu mendirikan tenda. Lalu menyuruh para pelayan menyiapkan bahan makanan.
"Nona, ingin mandi?" tanya Wiya sambil mengedipkan matanya.
Sebenarnya aku tidak perlu mandi. Aku bisa membersihkan diriku dengan sihir. Tapi karena perjalanan jauh, aku merasa sangat gerah. Aku ingin berendam haa~
"Hmm..ayo kita mandi bersama Wiya. Apa kau menemukan mata air?"
Wiya mengangguk. Dia mendeteksi mata air yang tidak jauh dari tempat perhentian. Sebenarnya aku bisa melakukannya, tapi nanti Wiya akan kecewa kalau aku melakukannya. Wiya adalah penyihir air, dia benar-benar senang kalau dia ditugaskan. jadi aku sengaja memberinya tugas apa pun, walaupun itu hanya hal yang sepele.
Aku membawa Wiya terbang menuju mata air itu. Ahh~ ini adalah danau.
Benar-benar danau yang indah. Ini tidak terlalu besar, airnya jernih dan bulan terpantul di aliran air yang membuat pemandangan saat ini benar-benar indah.
Aku bergegas melepas semua gaunku.
"Ini menyegarkan ~" kataku senang sambil menyelupkan diri.
"Iya nona" Wiya mengangguk sambil berendam juga.
Aku mengeluarkan sesuatu dari ruang dimensi dan memberikannya pada Wiya. "Coba ini" kataku.
"Apa ini nona?"
"Sabun"
Aku mengeluarkan sabun cair itu dan mengusapnya pada tubuhku. Sebenarnya di dunia ini sudah ada sabun. Tidak mungkin bangsawan tidak menggunakan sabun dan parfum. Hanya saja aku menambahkan efek skin care pada sabunnya, seperti aroma parfum tahan lama dan melembutkan kulit. Itu benar-benar harta bagi para wanita.
Tanpa bertanya lagi Wiya juga menggunakannya. "Baunya sangat harum nona. Ini leih harum dari parfum"
"Tentu saja. Aku memasukkan minyak essensial dari bunga. Aku benar-benar mengekstrak minyak atsiri dan mencampurkannya dalam sabun itu"
Wiya memiringkan kepalanya bingung. Dia tidak mengerti perkataan tuannya. Tapi dia berpura-pura bahwa dia mengerti. "Ah, sangat menyegarkan nona. Dan kulitku juga menjadi lembut" katanya sedikit kaget.
"Tentu saja. Karena aku menambahkan emolient di dalamnya." kataku bangga.
Kami berendam dengan nyaman selama beberapa menit sambil menikmati sinar bulan.
Tapi tiba-tiba
KYAAA!! Ada suara teriakan! Dan...
BRUK BRAK! Ada suara sesuatu yang hancur.
Walau pun samar-samar, itu masih terdengar jelas olehku karena suara itu terbawa angin.
Aku sempat mengira ini suara dari perkemahan kami dan aku mengkhawatirkan para pelayan. Tapi setelah mengukur jaraknya dengan angin, asal suara ini cukup jauh.
Apa yang sedang terjadi?
Au langsung keluar dari danau dan memakai pakaianku.
"Apa yang terjadi nona?" Wiya mengernyit bingung.
"Aku mendengar sesuatu Wiya" kataku. "Ayo bersiap-siap, kita akan ke sana"
"Tapi nona...." Wiya berkata ragu. "Aku takut itu berbahaya"
Aku merenggut tidak senang. "Jangan meremehkanku. Bahkan kalau sepuluh pengawal digabungkan, mereka sama sekali bukan tandinganku" kataku percaya diri.
Tapi Wiya masih ragu.
Aku takut pelayan loyal dan penakut ini akan melaporkan kelakuanku pada ayah bodoh itu. Kalau itu terjadi aku akan dihukum lagi ah...
"Jangan khawatir. Aku mendapatkan alat prlindung dari Duke, semuanya akan baik-baik saja"
Mendengar kata "Duke", akhirnya Wiya mengangguk.
Aku membawanya terbang menuju arah suara.
Saat kami sampai, aku melihat kereta dengan satu gerbong. Apa ini kereta pendagang? Tapi penampilan orang-orang itu sama sekali bukan seperti pendagang. Gaya pakaian mereka lebih seperti bandit, yang tampak berantakan dan ganas. Apa mereka bandit gunung?
Salah seorang dari mereka tiba-tiba menuju gerbong dan mengeluarkan sesuatu. Eh? Itu elf!!
Mereka menarik elf itu, melemparkannya ke sudut dan memberinya roti kering.
__ADS_1
"Makan!" kata salah satu dari mereka.
"Ada yang tidak beres" aku langsung membawa Wiya turun.
"Siapa kau?" merek berteriak panik saat melihatku dan Wiya turun.
"Berani-beraninya kalian tidak sopan terhadap putri duke" Kata Wiya dengan nada tidak senang. Tapi aku langsung menghentikannya. Dan aku menggeleng sambil menatapnya serius.
Saat mereka mendengar kata "duke", mereka menjadi ricuh. Salah seorang dari mereka, yang berkepala botak, maju menghampiri kami sambil tersenyum.
"Selamat datang bangsawan" sambutnya.
Dalam pikiran mereka semua bangsawan itu sama. Mereka memang ingin mencari bangsawan untuk menjual barang dagangan mereka. Tapi mereka merasa beruntung karena bangswan itu datang dengan sendirinya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanyaku sambil menunjuk elf kecil.
"Ah!" priaa botak itu pura-pura terkejut. "Kami menawarkan sesuatu yang menarik. Apa nona ingin membelinya. Saya berani menjamin bahwa ras yang saya jual ini tidak mengecewakan"
Aku langsung terkejut. Mereka adalah pendagang budak!
'Pendagang budak sialan ini' aku mengempalkan tanganku erat-erat dan berniat menghancurkan mereka. Tapi aku menahannya.
"Boleh aku melihat barang-barang itu?" tanyaku sambil menggertakan gigi. Aku benar-benar menahan emosiku.
Pria botak itu dengan sopan mengantarku ke gerbong kereta. Mereka membuka gerbongnya dan aku melihat lima orang anak kecil. Ada seorang elf dan empat orang beast yang berumur lima sampai enam tahun. Pendagang budak sialan ini! Mereka benar-benar menculik anak-anak kecil yang tidak bersalah.
Aku tidak bisa menahan emosiku dan manaku meledak keluar.
Para pedangan budak itu langsung panik.
"Bangsawan! Apa yang kau lakukan?" mereka berteriak tidak senang.
Aku menatap mereka. Kerumunan itu hanya berisi sekitar belasan orang. Dan aku melihat kemampuan mereka. Lemah! Aku bisa mengatasinya!
Tanpa menjawab apa pun, aku langsung memberi mereka tatapan dingin.
Aku mulai mengeluarkan sihirku dan menyerang mereka dengan sihir gabungan elemen api dan angin, sehingga menghasilkan badai api yang besar.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Sialan, serang dia!!!"
DUAR! Badai api itu langsung mengenai mereka dan menerbangkan mereka. Aku mendengar teriakan minta tolong, tapi aku mengabaikannya. Secara perlahan teriakan itu menghilang dan para pedangan budak yang terbawa badai hancur menjadi abu.
Aku melihat Wiya di sampingku. Wajahnya pucat dan tubuhnya bergetar.
"Ada apa?" aku langsung bertanya.
"Ah!" dia tersentak kaget. "Ti...tidak apa-apa nona"
"Aku kira kau tidak sehat. Kau bisa tidur lebih awal.."
"Tidak! Aku tidak apa-apa nona"
'Buah tidak jatuh dari pohonnya' Wiya berpikir. Semakin lama sikap nona mereka semakin mirip dengan Duke, dingin dan kejam...
Melihat Wiya sangat panik, aku tahu apa yang dia pikirkan.
Aku sebenarnya tidak sadar atas apa yang kulakukan. Karena terbawa emosi aku benar-benar membunuh mereka! Ah, aku membunuh banyak orang. Apakah ini baik-baik saja? Aku sangat khawatir...
Tapi kukira ini tidak apa-apa. Ya, ini tidak apa-apa! Mereka hanyalah orang jahat dan mereka hanya karakter sampingan! Aku yakin mereka pantas untuk dimusnahkan.
ps: Eva tidak menyadari bahwa dipengaruhi dengan sihir hitam, pola pikirnya akan semakin kejam. Dia akan sulit mengampuni di masa depan dan dia akan membunh semua orang yang dianggapnya musuh. Walaupun musuh itu adalah sang tokoh utama.
Aku langsung menghentikan kekhwatirkanku dan melihat anak-anak yang ada di dalam gerbang.
"Kemarilah~" aku mencoba berkata dengan manja dan lembut.
Tapi anak-anak itu masih enggan bergerak. Mereka sangat ketakutan. Ditambah teriakan dan jeritan kesakitan tadi, ketakutan mereka menjadi bertambah.
"Tidak apa-apa oke" kataku santai. "Paman-paman jahat tadi, kakak ini sudah mengusirnya" kataku bangga dengan nada kekanak-kanakan.
Anak-anak itu mulai bergerak.
Yah, ini berhasil. Saat menghadapi anak-anak kau harus bertingkah seperti anak-anak juga.
Satu per satu dari mereka mulai turun dari gerobak.
"Te..terima kasih kakak...." kata mereka terbata-bata sambil menundukkan kepala.
"Hmmm...tidak apa-apa" kataku antusias sambil megusap kepala mereka. "Kalian benar imut dan lucu~"
Aku dengan geram melihat telinga dan ekor itu. Saat aku menyentuhnya, itu begitu lembut dan hangat. AH~ ini enak. Sejak kapan aku benar-benar kecanduan bulu ya.
Ditambah anak elf yang tadi keluar, jumlah anak-anak ini ada enam. Dua orang elf, dua beast kelinci, satu anjing, satu kucing, dan dua harimau. Saat mereka berbaris, mereka benar-benar lucu.
Ini membuatku sadar bahwa dunia ini memiliki banyak ras yang imut. Tidak hanya manusia. Novel itu tidak pernah menceritakan ras-ras ini. Ternyata dunia ini memiliki banyak hal yang tidak kuketahui. Aku benar-benar ingin menjelajah dunia, dan pergi ke berbagai tempat saat dewasa nanti. Aku benar-benar memimpikan ini. Aku tidak ingin terjebak dalam pernikahan dan terisolasi dalam negara yang kecil sehingga tidak tahu tentang dunia luar.
Setelah itu, aku mulai menanyakan asal mereka. Bagaimana mereka bisa ditangkap dan apa yang terjadi. Karena mereka masih kecil, mereka tidak memberikan jawaban yang jelas. Jadi aku memutuskan untuk menyerahkan ini kepada para prajuritku.
Aku mulai membawa keenam anak itu ke perkemahan.
Saat tiba, aku melihat perkemahan itu sudah siap. Beberapa tenda sudah dipasang. Dan beberapa makanan sudah dimasak. Mereka semua sedang menungguku dengan membentuk kelompok-kelompok keci. Para pelayang itu saling tertawa dan bercerita. Para prajurit itu juga bercerita ria sambil meneguk alkohol.
Saat aku datang, mereka langsung sadar dan segera berbaris untuk menyambutku. Para pelayan dan prajurit sangat kaget melihat apa yang kubawa.
Aku mulai menjelaskan apa yang terjadi pada mereka. Dan aku meminta para prajurit itu mengantar anak-anak ini kembali ke tempat asal mereka. Aku tahu para prajurit itu enggan karena tugas mereka adalah mengantarku, bukan orang lain. Tapi aku dengan cepat mengancam mereka. "Kalau tidak ada yang mau mengantarkannya. Aku akan pergi sendiri!" kataku dengan nada merajuk.
Mereka langsung panik.
"Tidak apa-apa nona"
__ADS_1
"Kami akan mengantarkan mereka"
"Nona harus segera ke ibukota, sebentar lagi acara penyambutan akan dimulai"
Dalam sekejap mereka langsung menyetujuinya.
Aku mengangguk senang.
"oke saatnya makan"
Aku langsung menyuruh mereka semua makan. Keenam anak itu awalnya ragu, tapi aku mulai membujuk mereka agar mereka mau makan. Dan itu berhasil.
Setelah selesai makan malam, para pelayan mulai masuk ke dalam tenda untuk istirahat. Dan para prajutit mulai berjaga. Aku juga menyisakan satu tenda agar anak-anak itu bisa beristirahat.
Setelah semua urusan selesai, aku menuju tendaku dan mulai merebahkan diri. Aku berguling-guling karena mataku belum mengantuk. Ah~ hari ini sangat melelahkan. Aku seharian duduk di kereta itu dan bokongku benar-benar sakit. Mengurus para pendagang budak itu juga melelahkan. Tapi kenapa aku tidak mengantuk ya? Biasanya disaat keadaan tubuhku benar-benar lelah, aku akan langsung tertidur pulas.
Saat aku berguling-guling, aku tidak sengaja melihat bayangan dari balik tenda. Siapa? Apakah itu Wiya?
"Wiya?" aku menegur bayangan itu.
"Kakak..." jawab bayangan itu dengan nada lirih.
Oh? Anak-anak?
Aku langsung bangun dan membuka tenda. Di depanku ada seorang anak elf. Dia adalah elf pertama yang kulihat, elf yang dilempar keluar dari gerbong.
"Ada apa bocah?" tanyaku sambil tersenyum.
"Ada yang ingin kubicarakan..."
Aku mengernyitkan keningku karena bingung. "Baiklah, ayo masuk"
Anak elf itu masuk dengan sigap.
"Lalu, ada apa?"
"...." Anak itu terdiam sebentar.
Lalu dia mengangkat wajahnya dan menatapku serius. "Aku ingin ikut denganmu"
Puh! Hahaha! Aku langsung tertawa kecil.
"Bocah, kau terpesona denganku? Yah, aku memang cantik. Tapi itu tidak boleh oke. Orang tuamu pasti mengkhawatirkanmu karena kau menghilang dengan tiba-tiba" kataku sambil mengelus rambutnya.
Dia menundukkan kepalanya. "Aku tidak punya orang tua..." jawabnya lirih.
"..."
"Aku minta maaf.." kataku lirih. Aku benar-benar merasa bersalah karena mengatakan hal itu dengan semangat.
"Tapi, aku benar-benar ingin ikut denganmu kakak" katanya serius.
Aku menggaruk kepalaku ragu. Bagaimana aku bisa membawa seorang anak elf yang asal usulnya tidak jelas.? Bisa-bisa aku akan dituduh membeli budak saat aku membawa anak elf ini!
Bangsawan...anak elf...Mereka pasti akan mengira bahwa aku membeli budak karena statusku sebagai bangsawan. Karena ini adalah hal yang biasa. Setiap rumah bangsawan pasti memiliki setidaknya satu budak dari ras elf, dwarf, atau pun beast. Hanya saja di mansion Duke Court tidak memiliki satu budak pun. Karena ayahku benar-benar membenci hal seperti perbudakan.
"Kenapa kau ingin mengikutiku?" tanyaku serius.
"Karena kau sangat indah kakak. Mana gelapmu sangat indah" jawabnya langsung dengan mata berbinar.
Aku tersentak dengan jawabannya. Mana gelap? Bagaimana mungkin seorang elf bisa mengetahu aku penyihir gelap? Tidak ada yang bisa mengenali elemen gelap saat pengguna menyembunyikannya, kecuali bahwa kau adalah penyihir gelap. Tapi elf ini tidak mungkin penyihir gelap! Dari tampilannya, dia bukan elf gelap. Kulitnya pucat, mata hijau dan rambut kuning. Ini bukan ciri-ciri elf gelap.
"Bagaimana kau bisa melihat manaku? Kau bukan elf gelap bukan?"
Anak itu tersenyum. Dia menyentuh gelapnya dan secara bertahap hal mengejutkan terjadi!
Anak elf itu tiba-tiba berubah secara perlahan dari kepala hingga kaki. Rambut perak, mata mereh dan kulit hitam.
Tidak mungkin! Dia benar-benar elf gelap.
"Kau...." aku melonggo sesaat. Tapi aku langsung membenarkan ekspresiku. "Bagaimana kau bisa berubah? Apa ini sihir penyamaran?" tanyaku penuh selidik.
Dia menggeleng, lalu menunjukkan gelangnya. "Aku mendapatkan ini dari orang tuaku" katanya sedih. "Apa kakak membenciku?"
"Uhh...tidak,tidak"
"Tapi semua orang membenciku. Karena itulah saat mereka terbunuh, mereka memintaku memakai alat ini agar bisa berbaur di desa lainnya"
Ah! Aku kaget setelah mendengar ceritanya. Orang tuanya ternyata di bunuh! Hanya karena mereka elf gelap? Kenapa dunia ini benar-benar mengerikan!
"Apa kau bisa menyamar menjadi sesuatu yang lain?" aku bertanya padanya.
"Hum" dia mengangguk.
"Manusia"
"Hum" dia mengangguk lagi. Dalam sekejap dia berubah menjadi bocah tampan dengan rambut perak dan mata merah.
"Ini lebih baik. Baiklah, aku akan membawamu"
"Benarkah? Yeah!" dia langsung berteriak senang.
"Baiklah, baiklah" aku berusaha menenangkan dirinya yang sibuk berjingkrak-jingkrak. Mengurus anak-anak memang sulit ha~
"Kembalilah tidur, nanti pagi aku akan membawamu kembali ke ibukota. Tapi kau harus berpenampilan seperti manusia oke"
Dia mengangguk patuh dan berlari pergi.
Setelah bocah itu pergi aku merebahkan diriku lagi. Ini benar-benar gawat! Kalau terus begini bukankah penyihir gelap lain akan tahu bahwa aku penyihir gelap. Apa ada cara ampuh untuk menyembunyikan mana gelap ini ya?
Karena terus berpikir, rasa kantuk terus menyerang dan secara perlahan mataku terpejam.
__ADS_1
Jangan lupa likenya ~