
Cerita sebelumnya:
Eva pergi ke akademi untuk menghadiri acara penyambutan murid baru. Namun, hal tak terduga terjadi. Denis tiba-tiba menghampirinya, menyambutnya dengan mencium tangannya. Lalu mendeklarasikan bahwa mereka bertunangan. Yang membuat kegemparan seluruh kerumunan murid. Dan yang lebih penting, dia bahkan mencium Eva di tengah-tengah publik, yang menyebabkan kegemparan lebih besar. Eva benar-benar panik. Dia sangat malu, benar-benar sangat malu. Wajahnya memerah seperti udang rebus dan jantungnya berdegup kencang. Denis menawarkan untuk mengantarkannya ke gedung aula, tapi Eva langsung menolaknya. Untung saja pangeran kedua datang untuk memanggil Denis, sehingga Eva bisa dengan leluasa pergi dari tempat itu.
Di lantai atas gedung, sosok tidak terduga sedang mengamati. Sosok itu adalah Robert!
***
Aku masih menghentakkan kakiku, kesal, sambil mengutuk Denis dalam hati.
Aku berusaha mempercepat langkahku untuk masuk ke dalam gedung aula karena aku ingin menghindari tatapan aneh dari mereka. Bukan berarti aku tidak tahan dengan pandangan orang-orang. Hanya saja, perlakuan Denis barusan benar-benar membuatku gila! Dia benar-benar melakukan hal memalukan seperti itu di depan umum!
Tenang, Eva, Ayo coba, tenang...
Akhirnya setelah menghembuskan dan menghela napas beberapa kali, aku bisa mengatur napasku. Wajahku juga perlahan membaik dan tidak memerah lagi.
Haa~ aku menghembuskan napasku. Aula sudah di depan, aku harus masuk.
Aula di depanku terlihat cukup besar. Saat aku masuk, aku melihat bahwa aula sudah lumayan ramai dan kursi-kursi sudah cukup terisi.
Aku melihat ke kiri dan kanan. Para murid di sini terbagi menjadi dua kelompok. Sisi sebelah kanan diisi oleh para bangsawan. Kalian bisa melihat lencana masing-masing keluarga di lengan seragam mereka. Sementara di sebelah kiri adalah rakyat jelata, tidak ada lencana apa pun di lengan seragam mereka.
Ini wajar saja terjadi karena bangsawan dan rakyat jelata tidak bisa berbaur di akademi ini. Sehingga kelompok terpisah ini terbentuk dengan sendirinya.
Para orang biasa sangat takut untuk berbaur dengan bangsawan sehingga membentuk kelompok dengan orang biasa lainnya. Para bangsawan tidak mau merendahkan diri mereka untuk bergaul dengan orang biasa, sehingga mereka mengabaikannya. Karena itulah para bangsawan identik dengan sikap 'sombong' dan 'menyendiri'.
Aku ingat sekali ada event penting saat acara penyambutan. Waktu itu Reina akan membuat kegemparan dengan duduk di barisan rakyat jelata. Karena sikapnya itu, dia benar-benar menarik perhatian semua orang di aula. Tapi gadis itu bertingkah polos dan tidak tahu bahwa yang dilakukannya benar-benar menarik perhatian.
Lalu saat itu, sikap Reina juga menarik perhatian Denis. Denis sebagai ketua dewan akan memimpin acara penyambutan. Dia mulai tertarik pada gadis polos yang menarik perhatian seluruh aula. Walaupun rasa tertariknya belum mengarah ke jatuh cinta, tapi semakin lama, semakin mereka berinteraksi, Denis akan jatuh cinta pada Reina.
"Kira-kira kapan event itu akan terjadi ya? Mungkin sebentar lagi bukan?" aku bergumam kecil sambil mengamati kerumunan di depanku. Kelihatannya belum terjadi, karena aku tidak melihat kegemparan apa pun.
Ah, aku tidak mau memikirkannya. Intinya semua itu tidak berhubungan denganku. Dan aku juga belum menemui event bahaya seperti di dalam novel.
Aku segera maju dan mencari kursi untuk duduk. Aku melihat kursi yang sangat strategis karena posisinya berada di tengah. Tanpa pikir panjang aku langsung duduk di kursi itu.
Saat aku duduk, aku memperhatikan bahwa dua orang di samping kiri dan kananku terkejut.
"Ah, maaf. Apakah kursi ini milik orang lain?" aku bertanya pada mereka seelah melihat ekspresi mereka tidak nyaman.
Dua orang itu langsung menggeleng dengan cepat.
Eh? Jadi bukan milik orang bukan? Kenapa ekspresi mereka seperti itu?
Aku memperhatikan kedua orang di sampingku. kenapa terasa sangat familiar ya?
"...."
AH! Aku ingat!
Aku melihat mereka bolak-balik. Rambut merah, mata merah dan kulit coklat. Keluarga Count Bastin. Si kembar api dari keluarga Bastin!
Keluarga Bastin adalah keluarga yang terkenal dengan penyihir api mereka. Satu keturunan mereka identik dengan rambut merah dan mata merah. Dan mereka terkenal sebagai keluarga penyihir api terkuat. Si kembar ini adalah kembar identik. Hanya saja mereka memiliki jenis kelamin yang berbeda, laki-laki dan perempuan.
Si kembar ini adalah tokoh utama sampingan yang lumayan terkenal di dalam novel karena mereka sering muncul, saat arc petualangan. Menjadi teman sekelompok Reina. Kedua orang ini juga musuh berat Eva! Setiap kali Reina ditindas oleh Eva, si kembar akan membantunya. Si kembar tidak takut dengan Eva, mereka bahkan mempermalukan Eva beberapa kali dan menjadikannya bahan tertawaan.
Aku tahu kenapa si kembar ini tidak duduk berdampingan dan menyisakan kursi kosong di tengah-tengah. Itu semua karena hubungan mereka tidak baik. Sikap mereka sangat berlawanan, sehingga mereka sangat sering sekali bertengkar karena perbedaan pendapat. Di samping kiriku adalah si kembar laki-laki yang sangat ahli sebagai pendekar pedang api. Dan di samping kananku adalah si kembar perempuan yang sangat ahli dengan sihir api. Untuk nama mereka, aku benar-benar sudah melupakannya. Aku tidak mengingat nama mereka dengan jelas karena mereka hanya tokoh sampingan.
"Ah!!!" tiba-tiba si kembar perempuan berteriak sambil menunjukku. "Aku tahu kau. Kau lumayan terkenal. Itu benar-benar mengejutkan. Kau tunangan putra mahkota!" katanya bodoh.
Wajahku menunduk malu. "...." aku tak berkata apa pun atas reaksinya.
"Jangan dengarkan dia nona. Dia memang tidak sopan dari lahir. Sikapnya sudah seperti itu dari dulu" kata si kembar laki-laki.
"Hum" aku mengangguk.
"Ayolah!" si kembar wanita itu langsung menepuh bahuku.
Aku benar-benar terkejut.
"Jangan begitu kaku. ternyata rumor tentangmu itu tidak benar. Sikapmu benar-benar berlawanan dari berita yang kudengar" kata si kembar wanita.
Aku mengernyitkan kening. "Rumor apa?" aku berpura-pura tidak tahu.
"Haa? Kau tidak tahu?"
Aku menggeleng.
__ADS_1
"Hahaha ini menarik" dia tertawa histeris. "Ini sudah terkenal sejak dulu bahwa kau gadis kecil yang arogan dan sombong. Tapi aku melihat kau cukup pemalu. Ayolah, perkenalkan namaku Lilac" katanya sambil tersenyum.
"Aku Eva"
"Lalu orang bodoh yang disana itu Louis" katanya dengan nada mengejek sambil menujuk si kembar laki-laki.
Louis hanya melototi adiknya, tapi dia tidak membalas ejekan adiknya.
"Kelihatannya kalian tidak akur?" aku bertanya langsung.
"Aku tidak bisa akur dengan orang bodoh" jawab Louis acuh tak acuh.
"Aku juga tidak bisa bergaul dengan orang yang lebih bodoh dariku" jawab Lilac langsung.
Haa~ inilah yang terjadi saat kedua kembar itu saling berbicara. Mereka sering sekali bertengkar.
"Kau benar-benar berbeda dari rumor" kata Lilac penasaran sambil menatapku lekat-lekat.
Aku merasa tidak nyaman diamati dari dekat seperti itu. "Tentu saja. Bagaimana rumor seperti itu bisa muncul"
"Mereka bilang kau mirip nenek sihir dengan rambut bergelombang, bibir merah dan bulu mata tebal" sambung Lilac. Yang membuatku melonggo kaget karena perkataannya. "Tapi kau gadis kecil yang cantik. Rumor itu benar-benar bodoh"
Mulutku berkedut. "Tentu saja...itu tidak benar...'
Nenek sihir?! Siapa yang membuat rumor seperti itu?
Walaupun aku memang cukup arogan dan bersemangat, tapi si pembuat rumor mengatakan aku seperti nenek sihir berambut gelombang?! Aku benar-benar akan membakar hidup-hidup si pembuat rumor itu.
"Berharaplah kau jangan sampai ketahuan olehku" gumamku sambil menggertakan gigi. Karena kalau aku menemukan si pembuat rumor, aku mungkin tidak bisa menahan emosiku dan menghancurkan mereka.
"Aku juga pernah mendengar rumor tentang kalian" kataku juga. "Kalian terkenal sebagai penyihir api terbaik bukan?"
"hahaha" Lilac menggaruk kepalanya malu-malu. "Belum sampai sebaik itu"
"Humph!" Louis merenggut. "Dia sama sekali bukan terbaik. Hanya aku yang terbaik. Gadis bodoh itu bahkan tidak bisa bertahan lima menit saat melawanku"
"Itu karena kau curang!" bentak Lilac. "kau menggunakan kekuatan fisik untuk melawan penyihir garis belakang!"
"Tidak ada yang namanya curang saat kau berada di medan pertempuran. Dari awal kau memang lemah dan menyusahkan"
"Kau!"
WAWAWAWA
Aku mendegar kerumunan di aula mulai berisik dan ribut.
Ah! Eventnya sudah terjadi!
Aku melihat Reina berjalan dan duduk di barisan rakyat jelata. Wajahnya sangat polos. Dia benar-benar kebingungan saat dipandangi dan wajahnya menunduk malu.
"Siapa gadis itu?"
"Dia putri count bukan?"
"Dia putri yang hilang"
"Dia benar-benar duduk di kursi itu"
"Ah, gadis yang berani"
Aku mendengar sekelilingku saling berbisik setelah melihat sikap Reina.
"Dia gadis kecil yang menarik" kata Lilac antusias.
Yah, kurasa si kembar akan berakhir menjadi patner Reina, seperti di dalam novel. Aku agak kecewa sebenarnya. Apa nanti kita semua akan menjadi musuh di masa depan?
Para rakyat jelata itu juga kaget dan ribut saat melihat Reina menghampiri mereka dan duduk.
"Siapa dia?"
"Bangsawan"
"Aku dengar dia dulu rakyat jelata"
"Ah, aku mengerti kenapa dia ingin bergabung dengan kita"
"Dia gadis yang tidak sombong, dia tidak melupakan bahwa dia pernah hidup sebagai orang biasa juga"
__ADS_1
"Dia tidak malu dengan kita"
"Dia nona yang baik"
"Dia begitu polos dan murni"
Tanggapan para rakyat jelata itu sangat baik saat melihatnya.
Yah, pada awalnya Reina memang mendapat dukungan yang kuat dari rakyat jelata. Karena itulah, dia bisa menjadi ratu dengan lancar.
Reina yang polos itu memperhatikan sekitarnya bolak-balik. Wajahnya kelihatan bingung seperti dia tidak tahu apa yang salah, sehingga semua orang menatapnya.
Lalu dia mengeluarkan jurus ampuhnya. Dia menatap kerumunan dengan mata berbinar dan tersenyum manis. Senyumnya sangat murni dan polos. Dalam sekejap, para murid laki-laki langsung terpesona karena senyum itu.
Ah~ Reina sudah menebarkan haloo tokoh utamanya
"Ah, dia dewi. Dia benar-benar dewi yang turun dari surga" aku mendengar Louis menggumam gila.
"Dasar bodoh!" gerutu Lilac. Dia benar-benar tidak tahu bahwa saudaranya sangat mudah digoda.
hmm dewi ya...
Aku belum pernah melihat dewi, jadi aku tidak tahu rupa mereka seperti apa. Tap aku pernah melihat dewa. Dan dewa itu sangat mengecewakan. Dewa yang kulihat bukanlah pria tampan dan murni, tapi hanya seekor kucing bodoh haa~
Acara sudah mau dimulai.
Denis tiba-tiba muncul, dan menyita perhatian semua orang dari Reina.
Putra mahkota itu berjalan dengan elegan menuju podium dan menyita perhatian seluruh hadirin. Saat sampai di depan podium, aku melihat sekilas bahwa Denis memperhatikan Reina. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Tapi kukira eventnya tidak bisa berubah ya. Dia tetap tertarik terhadap Reina saat acara penyambutan berlangsung.
Tapi, secara tiba-tiba Denis juga menatapku. Karena aku sedang memperhatikannya menatap Reina, mata kami tanpa sadar bertatapan. Dia menyunggingkan senyum yang membuatku bergidik.
"Ah~ tunanganmu menyapamu" Lilac menyikutku dan menggodaku.
Wajahku langsung memerah malu. Aku mengalihkan pandanganku dengan menundukkan wajahku.
Tapi itu hanya berlangsung sebentar. Aku berusaha mengatur ekspresiku dan bersikap santai, sebelum mengarahkan pandanganku ke depan podium lagi.
'Eva, kau tidak boleh tergoda oke. Tahan...tahanlah...' aku berusaha meyakinkan diriku agar tidak menjadi salah tingkah saat Denis mulai menggodaku.
Akhirnya acara penyambutan dimulai. Denis mulai membuka acara.
Acara penyambutan ini sangat membosankan. Mengingatkanku pada acara penyambutan saat aku bersekolah dulu. Penuh sekali dengan pidato, telingaku benar-benar mati rasa.
Pidato itu tidak berhenti, dari kepala sekolah kemudian menjalar ke para guru. Aku sudah menguap beberapa kali untuk menahan rasa kantuk yang benar-benar mendominasi.
Akhirnya acara puncak sudah tiba. Murid baru terbaik akan memberikan kata sambutan. Siapa lagi kalau bukan Reina? Yang memiliki sihir dengan tingkat high tier?
Saat nama Reina disebutkan sebagai murid terbaik, semua orang terkejut. Sekali lagi, gadis itu menjadi pusat perhatian. Aku melihat mata para laki-laki penuh dengan pemujaan dan rasa bangga. tapi berbeda dengan mata para wanita, terutama para bangsawan. Mata mereka penuh dengan kecemburuan.
Reina maju dengan pelan ke atas podium.
Ah! Akan ada event juga disini!
Kalau tidak salah, saat Reina maju ke depan podium, dia akan terpeleset jatuh. Tapi Denis langsung membantunya. Sehingga benih-benuh cinta antara mereka mulai tumbuh.
Ayo kita lihat~
Reina mulai maju ke atas podium dan ternyata benar, dia terpeleset!
Dan Denis juga menangkapnya! Tapi apa-apaan!
Saat Reina mulai kehilangan gravitasi dan terjatuh ke bawah, Denis melambaikan tangannya dan dalam sekejap tubuh gadis itu terbang ke atas sebelum kembali ke posisi semula. Putra mahkota ini menggunakan sihir untuk mencegah Reina jatuh!
"Kau tidak apa-apa?" tanya Denis.
"Tidak apa-apa ...yang mulia" jawab Reina lirih. Wajah Reina tertunduk, aku tidak bisa melihat ekspresinya.
Setelah insiden itu, walaupun sempat riuh sebentar, aula kembali tenang.
Reina secara perlahan mulai membacakan kata sambutannya.
Setelah beberapa menit, akhirnya acara ini selesai juga.
karena masa belajar belum dimulai, setelah acara penyambutan para murid kembali ke rumah mereka masing-masing. Kemudian kelas mereka akan diumumkan via telepati nanti oleh para guru.
Aku sebenarnya ingin kembali ke mansion, tapi tidak jadi karena aku ingin melihat asrama. Ah~ walaupun sebenarnya aku tidak memerlukan asrama karena aku punya mansion di ibu kota. Tapi kisah ini tidak akan lengkap kalau tidak ada asrama. Aku ingin merasakan rasanya tinggal di asrama, walaupun hanya beberapa bulan.
__ADS_1
Aku penasaran~
"Asrama, aku datang~" aku bernyanyi kecil sambil bersiul senang.