
Cinta mempunyai banyak definisi yang tidak semua orang bisa menjabarkan dengan sempurna dan terperinci. Bahkan kadang membuat sebuah kisah menjadi pelik. Semua itu bisa terjadi karena cinta berada tanpa batas ruang.
Ada kalanya cinta datang hanya untuk memberi luka, tanpa tahu bagaimana caranya mengobati.
Jika hati sudah terlanjur terkoyak, janganlah risau apalagi putus asa. Karena sejatinya Tuhan sedang menguji. Mempertemukan kita dengan cinta yang salah terlebih dahulu, sebelum akhirnya mendatangkan yang tepat dengan cara yang indah bahkan tak terduga. Karena Tuhan ingin hambanya lebih berhati-hati dalam menentukan pilihan.
Namun, apa pun rupa dan caranya cinta itu datang, ia memberi sejuta harapan. Meski kadang semu dan tak tentu arah.
Lantas, bagaimana dengan cinta dalam diam? Tiga kata sederhana. Namun, cukup merumitkan, bukan? Bagaimana tidak? Saat rasa cinta sudah bersarang, tetapi tak ada keberanian untuk mengutarakan. Bahkan, dibiarkan begitu saja tanpa terjamah oleh siapa pun. Berharap, ia yang dicintai akan mengerti dengan sendirinya nanti. Apakah bisa? Entahlah, sulit untuk disimpulkan. Karena manusia hanya bisa berencana, tetapi Tuhanlah yang menentukan.
Itulah yang dirasakan gadis cantik bersuara emas bernama ARA. Gadis mungil yang suka sekali bernyanyi.
Lewat lagu, Ara mampu gambarkan bagaimana ia mencintai seseorang yang sudah cukup lama ia cintai.
Lewat lagu, Ara bisa memanipulasi tentang rasa yang terpendam dalam kalbu. Dan lewat lagu pulalah, ia mampu lampiaskan kecewa, sedih, rindu, dan segala rasa yang berpadu dalam jiwanya. Bahkan kadang, sebagai pengusir rasa jenuh yang melanda.
Pada garis besarnya, lagu sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup Ara.
***
Di bawah sinar sang rembulan, yang dikelilingi oleh gemerlapan bintang-bintang yang bertaburan indah di langit. Ara duduk seorang diri di sebuah kursi panjang di suatu tempat yang sekilas terlihat seperti taman, ada beberapa bunga bermekaran di sana. Tapi, sepertinya tidak, tempat itu bukan taman. Hanya menyerupai saja.
Sesekali ia bersenandung, menikmati malam yang terasa menyenangkan. Tapi, tiba-tiba ....
DORR!
Seorang pemuda datang mengagetkan Ara.
"Ayam ayam ayam, eh ayam." Ara memang dikenal latah, meskipun tingkat latahnya masih di bawah rata-rata. Pemuda tersebut tertawa cekikikan karena sudah berhasil membuat Ara mengeluarkan senjata ampuhnya.
"Ih, Afi! Kebiasaan deh, datengnya ngagetin." Ara cemberut. Alhasil, pipinya pun sudah seperti balon saja. Sementara pemuda yang ternyata bernama Afi itu masih tetap dengan tawanya. Seakan menjadi lelucon yang berhasil memecah kesunyian.
"Sorry, Ara. Sengaja," jawab Afi cengengesan.
"Lagian, ngelamun di tempat sepi, entar dibawa gendrowolo baru tau rasa," lanjut Afi.
"Genderuwo, kali!" Ara berteriak kesal.
"Haha. Kepeleset dikit doang."
Ara hanya mendengus sebal.
"Eh, tapi beneran loh, Ra. Tadi, aku lewat jalan sana, tuh! Kamu tau, 'kan? Jalan timur rumahnya Pak Ahmad." Afi bercerita serius, Ara pun yang tadinya cemberut berubah serius. Terbawa suasana.
"Tau, tau. Kenapa?"
"Tadi di sana, aku liat ada kepala lewat."
"Ah, yang bener aja. Pasti kamu cuma mau nakut-nakutin aku, 'kan?"
"Benaran, Ra. Aku nggak bohong."
Afi sukses membuat Ara takut. Ara pun menggeser duduknya semakin mendekat ke arah Afi.
"Kepala lewat gimana, sih? Melayang, gitu?"
"Ya, iya, kepala lewat. Sama badan sama kaki-kakinya juga."
"Itu namanya orang lewat, begok!" Ara menjitak kepala Afi kelewat sebal. Tawa Afi pecah sejadi-jadinya.
Ya, begitulah mereka. Ara dan Afi. Dua insan yang memang sudah bersahabat semenjak lama. Umur mereka pun tak terpaut jauh, hanya kurang lebih lima menitan. Artinya, Afi lahir ke bumi, lima menit kemudian, barulah Ara. Sudah seperti anak kembar saja, 'kan? Tapi nyatanya tidak.
Dibanding Ara, Afi memang lebih rame, dan humoris. Selain karena baik dan care, mungkin itu yang membuat Ara jatuh cinta. Meski ia tahu, terkadang cinta yang tulus datang tanpa adanya syarat dan sebab. Bahkan tanpa adanya alasan.
"Ra." Setelah hening sempat tercipta selama beberapa menit, Afi kembali membuka suara.
"Hemmm," jawab Ara seadanya.
"Menurut kamu, lebih bagus mana, bintang atau bulan?"
"Pelangi."
"Nggak ada di pilihannya, Ara. pilihannya cuma dua. Bintang atau bulan," sahut Afi.
"Tapi ... aku pilih pelangi, Fi." Rara tetap kekeh dengan pendapatnya.
"Untuk pelangi, nanti kubuatkan pertanyaan lain. Sekarang jawab dulu. Bintang atau bulan?" Afi pun sama, kekeh dengan pertanyaannya.
"Tetep pelangi." Rara menjawab sembari nyengir. Memperlihatkan deretan gigi yang putih tanpa noda.
Afi mengembuskan napas berat. Lebih baik mengalah saja, daripada terus menerus berdebat dengan pertanyaan yang sebenarnya tak terlalu penting.
"Kenapa suka pelangi?" Kali ini, Afi bertanya serius. Menatap lekat mata bulat Ara. Ara pun tanpa canggung, membalas tatapan tak biasa sahabatnya itu.
__ADS_1
"Karena pelangi indah, penuh warna. Selalu terlihat ceria dan bahagia," jawab Ara.
"Kalau gitu, jadilah seperti pelangi, yang selalu ceria meski hujan telah turun sebelumnya." Tatap mata mereka beradu. Dengan tatapan yang sulit ditafsirkan.
Ini memang bukan kali pertama Afi berucap begitu. Tapi, entah kenapa selalu bisa membuat Ara termangu.
***
"Oh Tuhan. Kucinta dia, kusayang dia, rindu dia, inginkan dia.
Utuhkanlah ... rasa cinta di hatiku. Hanya padanya, untuk dia."
Siapa yang tidak kenal Ara? Gadis mungil nan ayu, berwajah imut, juga dengan suara merdu yang dimilikinya. Tak hanya pandai bernyanyi, tetapi juga piawai bermain gitar. Jari lentiknya begitu lihai memetik senar-senar gitar.
Bakat luar biasanya itu sudah berhasil membuatnya terkenal, bukan hanya satu sekolahan saja, tetapi lebih luas lagi jangkauannya.
Ya, gadis yang juga dikenal ramah itu memang cukup menarik perhatian kaum Adam. Banyak pemuda yang menyukainya, mengaguminya, bahkan ada pula yang dengan gamblangnya mengutarakan rasa.
Itu memang sebanding dengan parasnya yang elok dipandang. Namun, Ara tak ada gairah dan niatan untuk menerima satu pun dari mereka tuk ia jadikan pasangan. Bukan karena dia sudah mati rasa atau tidak normal, bukan! Melainkan karena seseorang yang sudah lama bersarang dalam hati dan benaknya.
Ya, siapa lagi kalau bukan Afi. Sahabat karibnya sendiri. Sangat masuk akal bukan, jika ada dua manusia lain jenis yang menjalin persahabatan, namun akhirnya jatuh cinta?
Tapi ... bukan Ara namanya, jika dia tak pandai memendam rasa. Cukuplah dia dan Tuhan yang tahu tentang rasanya kepada Afi selama ini.
"Aku juga bisa nyanyi lagu itu." Suara yang tak asing lagi bagi Ara itu berhasil membuatnya terhenti bernyanyi. Dia menoleh ke arah suara itu berasal. Dan ternyata orang itu adalah Afi. Lelaki yang sukses membuatnya cinta.
"Iya, tapi fals," jawab Ara dengan senyum sedikit mengejek.
"Enak aja! Nggak, dong!" Afi menghampiri Ara, dan duduk di sebelahnya.
"Nih, dengerin, ya!" Afi mulai mengatur napas. Dan ....
"Oh Tuhan. Kucinta dia, sayang dia, rindu dia, dianya enggak. " Ara tertawa mendengar kalimat terakhir yang diucapkan sahabat koplaknya itu. Hingga saat Afi mulai membuka mulut tuk melanjutkan nyanyiannya, Ara dengan segera mencegah.
"Eh! Sok serius deh, tuh muka. Udah fals, lirik orang diubah-ubah, nyaring pula tu." Ara berucap dengan masih ada sisa tawanya. Dan membuat tawa Afi pecah juga.
"Hehe, nggak bagus, ya?" tanya Afi sok polos.
"Ya, menurut kamu?"
"Hancur!" jawab Afi cepat. Tawa mereka pun menyatu.
"Eh, Ra. Aku mau nanya." Ucapan Afi membuat tawa Rara terhenti. Bahkan menghilangkan sisa senyuman yang terukir sedari tadi.
Afi sedikit membelokkan badan, dan menatap lekat mata Ara yang indah. Ditatap begitu, lagi dan lagi, rasa grogi mulai menggerayangi. Jantungnya berdegup tak beraturan.
Apa yang sebenarnya ingin Afi tanyakan? Kenapa dia menatap Ara begitu?
"Tapi, kamu jawab jujur, ya!" Tatap mata Afi begitu dalam. Hingga membuat jantung Ara semakin berdetak tak berirama.
"Iya," jawab Ara. Disertai anggukan pelan.
Sejenak mereka terdiam, dengan sorot pandang yang beradu.
"Cewek lebih suka coklat apa bunga, sih, Ra?"
DEGG!
Pertanyaan apa itu? Kenapa Afi bertanya demikian? Apa mungkin dia tengah jatuh cinta? Rasanya, Ara belum siap tuk kembali patah hati.
"Kenapa kamu nanya gitu?" Sebisa mungkin Ara menyembunyikan rasa gugupnya.
"Pengen tau aja," jawab Afi singkat.
Ara mengalihkan pandangan. Menyibukkan pikirannya. Dia sendiri pun bingung harus menjawab apa. Mengingat tak semua perempuan menyukai coklat, begitupun bunga. Ara pun lebih menyukai bunga daripada coklat. Namun, haruskah Ara berterus terang akan hal itu? Tentu tidak!
"Ra. Kenapa bengong?" Afi menepuk pelan bahu Ara. Dan membuat Ara bergeliat dari lamunannya.
"Aku nggak tau, Fi," jawab Ara kemudian.
"Loh, kamu, kan, cewek"
"Terus?"
"Kalau kamu sendiri, lebih suka yang mana?"
Pertanyaan itu, membuat Ara tercekat selama beberapa saat. Entah hanya sekadar basa basi, atau memang Afi benar-benar ingin mengetahui jawaban Ara.
"Aku nggak suka dua-duanya." Ara berbohong.
"Kenapa?"
"Ya, nggak apa-apa, nggak suka aja."
__ADS_1
"Kalau aku jadi cewek, sih. Aku lebih baik dikasih coklat."
Ara mengernyit heran.
"Kenapa?"
"Karena kalau coklat bisa dimakan, enak lagi. Meski kadang suka bikin sakit gigi," Jawab Afi kelewat logis.
"Tapi, kalau bunga, kan, awet?"
"Awet dari mana, sih, Ara? Iya kalau dikasih sama akar-akarnya, bisa ditanam, disiram tiap hari, terus numbuh, deh. Kalau bunga cuma sebatang doang? Dikasih pengawet pun ujung-ujungnya juga akan layu. Lagian, cowok yang suka ngasih bunga itu, aneh!"
"Kenapa gitu?"
"Iyalah. Orang ceweknya masih idup. Kalau udah jadi Almarhumah baru dikasih bunga, taburin di atas kuburannya, biar romantis."
Jawaban konyol dari Afi membuat Ara menahan tawa, meski sebenarnya sedikit kesal. Tapi, begitulah Afi. Yang mempunyai sejuta akal dengan segala pendapatnya. Pendapat yang kadang mampu membuat Ara merubah pola pikirnya yang sempit. Karena, jika dicerna dengan baik, perkataan Afi memang ada benarnya.
Berbicara masalah cinta, tentu tidak akan pernah ada habisnya. Pun, dengan Ara dan Afi. Kedua anak remaja ini mempunyai dua kesamaan dan satu perbedaan yang sangat menonjol.
Sama-sama suka makan bakso, membuat keduanya suka menghabiskan waktu sore mereka dengan menyantap bakso di pinggiran jalan. Tempat tak terlalu menjadi pertimbangan, yang terpenting rasanya.
Terkhususnya untuk Ara. Menyantap bakso di pinggiran jalan seakan menjadi kebahagiaan tersendiri untuknya. Tak lain dan tidak bukan alasannya adalah Afi. Ya, sesimple itu Ara menciptakan bahagia.
Warna biru. Menjadi warna favorit keduanya. Jadi, jangan heran, jika benda-benda yang mereka miliki notabennya berwarna biru, biru langit lebih tepatnya. Kompak, kan, mereka? Nyatanya tak selalunya begitu.
Ya, sebagai manusia biasa, berbeda sudah menjadi hal yang biasa. Jika Afi tidak suka dengan yang namanya eskrim, maka Ara kebalikannya. Sehari tidak makan eskrim, Ara seakan merasa berdosa.
"Kamu kenapa nggak suka eskrim, sih, Fi? Padahal enak tauu." Ara berucap sambil melumat eskrim yang dipegangnya. Lahap sekali.
"Justru aku yang mau nanya. Kenapa kamu bisa suka banget sama makanan aneh kayak gitu?" Afi bergidik nyilu melihat sahabatnya menyantap eskrim dengan lahapnya.
"Kamu tuh yang aneh. Lidahmu mati rasa! Masak iya eskrim nggak enak."
"Terserahlah! Yang penting bagiku rasanya aneh."
Kalau disuruh milih, Afi lebih baik membelikan Ara eskrim sebanyak apa pun itu, daripada disuruh memakannya. Aneh tapi nyata, menurut Afi eskrim itu rasanya aneh.
"Nggak suka, kok, sama eskrim. Kayak nggak ada yang lain aja. Yang lebih menantang gitu." Masih fokus dengan eskrimnya, Ara berucap kelewat logis. Membuat Afi gemas ingin menarik hidung mancungnya.
"Narik hidung kamu dosa nggak, sih, Ra?" tanya Afi.
"Nggak dosa, cuma nggak baik aja," jawab Ara santai.
"Ya, udah, kalau gitu ...." Afi menggantungkan kalimatnya. Menyunggingkan senyuman jahil yang membuat Ara mulai menjaga jarak.
"Mau apa?" Ara bertanya sewot. Wajah imutnya malah semakin menggemaskan. Membuat Afi semakin ingin menunaikan rencananya. Tapi, sebelum tangan Afi menyentuh dan menarik hidung Ara, Ara lebih dulu berlari menyelamatkan diri. Tak diam sampai di situ, Afi pun mengejar Ara. Akhirnya, terjadilah aksi saling kejar mengejar antara keduanya. Sudah seperti bocah SD saja.
Saat sedang asyik-asyiknya bermain kejar-kejaran, terlintas ide jahil dalam benak Afi.
"Ra. Udah, ya! Aku capek!" Teriak Afi kepada Ara yang jaraknya memang agak jauh darinya.
"Ah, kamu payah! Katanya cowok, ngejar aku aja nggak bisa," sahut Ara antusias.
"Aku capek, Ra. Sesak napas, nih. Mending kamu ke sini," Afi berdrama. Memegang dada berpura-pura sesak napas.
"Nggak mau! Kamu pasti bohong, 'kan? Nanti kalau aku ke situ. Hidung mancungku ini kamu tarik lagi."
"Nggak, Ra. Beneran. Asmaku kambuh kayaknya." Afi semakin berdrama. Membuat Ara pun dibuat khawatir.
"Fi! Kamu beneran sesak napas? Kamu nggak lagi bercanda, 'kan?" Bukannya menjawab, Afi malah berpura-pura pingsan. Membuat mata Ara pun terbelalak kaget.
"Afi ...!" teriak Ara. Tanpa pikir panjang, dia pun berlari ke arah Afi yang sudah tergeletak.
"Afi, bangun, Fi. Nggak lucu, ih." Rasa khawatir benar-benar menyelimuti perasaan Ara. Karena memang sebenarnya, Afi mempunyai penyakit asma.
"Bangun, Fi. Maafin aku. Kalau aku tau asma kamu bakal kambuh kayak begini, aku nggak bakal lari tadi. Bangun, Fi." Ara menepuk pipi Afi. Berusaha membuat orang yang dicintainya itu sadar.
"Bangun, Fi. Jangan buat aku khawatir," ucap Ara yang mulai meneteskan air mata. Mendengar suara Ara yang sudah seperti orang menangis, Afi pun tak tega. Akhirnya ia segera mengakhiri aktingnya.
"Ciye ... yang segitu khawatirnya aku kenapa-napa. Sampek nangis gitu," ucap Afi cecengesan. Menyadari dirinya korban kejahilan Afi, Ara membulatkan matanya.
"Jadi kamu cuma pura-pura?" Ditanya begitu, Afi yang masih dalam posisi tidur, langsung nyengir tak berdosa. Membuat kekesalan Ara berlipat-lipat ganda.
"Tega banget, sih, kamu jadi orang!" Ara mencubit lengan Afi. Afi pun meringis kesakitan, dan langsung bangun dari posisi tidurnya.
"Sakit tau, Ra." Afi memegangi lenganya.
"Bodo' amat! Siapa suruh usil."
"Tapi kamu sayang; 'kan?" goda Afi. Ara hanya diam. Pipi imutnya semakin terlihat menggemaskan kalau dia cemburut. Diluar dugaan Ara, hidungnya pun berhasil Afi tarik. Setelahnya, Afi pun berlari menjauhi Ara.
"Afi ...! Awas kamu, ya!" Kelewat geram, Ara bangun dan mengejar Afi.
__ADS_1
Memang begitulah mereka. Selalu bisa menciptakan keseruan di setiap pertemuan, juga tawa dengan cara paling sederhana sekalipun.