Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
148. Pindah


__ADS_3

"Bangun Kia, sholat subuh dulu." Suara seorang yang sedang memanggilku, diiringi tepukan kecil di pipiku. Aku mengerjapkan mataku untuk mengumpulkan kesadaran ku.


"Sudah subuh ya,"ucapku sambil mengucek mataku. Nampak Raka duduk dipinggir ranjang, tepat berada di sampingku. Terlihat Raka sudah fresh karena habis mandi, rambutnya juga masih terlihat sedikit basah.


"Kenapa ,heran karena aku di sini? Lupa kalau kita sudah nikah?"


"Ti.. Tidak," ucapku sedikit gugup.


"Bagus kalau gak lupa. Sekarang bangun sholat subuh, mas mau sholat jama'ah sama papa dan Arvin ." Ucap Raka sambil mengusap kepalaku sebelum pergi.


"Iya,"ucapku sambil menunduk.


Semalam Raka kedatangan sahabatnya, mereka ngobrol dengan Arvin sampai tengah malam. Kenapa aku bisa tahu, karena aku tidak bisa tidur dan sewaktu Raka masuk pun aku pura-pura tidur.


Selepas sholat subuh aku yang sebenarnya masih mengantuk, memilih bangun untuk membuat secangkir kopi .


"Mau masak buat suami,?" tanya mama.


"Enggak aku cuma mau lihat saja sambil menunggu kopi ku dingin."


"Biasanya habis sholat subuh tidur, kenapa gak tidur lagi ?"


"Nanti mama teriak-teriak kalau aku tidur lagi."


"Haha pinter kamu, gak malu sama suami apa kalau tidur lagi."


"Ma aku mulai hari ini bantu mama di kafe ya, dari pada tidak ada kegiatan."


"Masak baru nikah ko sudah langsung di tinggal kerja."


"Mama ih," Kesalku.


"Maaf mama bercanda, sayang. Dengerin mama, seorang perempuan kalau sudah menikah itu apa-apa harus minta ijin sama suaminya. Karena surganya seorang perempuan yang sudah menikah itu terletak pada suaminya. Kenapa ? Karena setelah menikah yang lebih berhak atas seorang istri adalah suaminya , bukan orang tuanya lagi."


"Kenapa baru bilang sekarang," ucapku lirih.


"Hus gak boleh ngomong begitu, Insaallah Raka anak yang tanggung jawab. Cobalah untuk menerima pernikahan ini, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Cinta akan datang seiring waktu yang berjalan, tapi jangan terlalu banyak menuntut jalani saja seperti air mengalir."


Kalau ngomongin cinta anakmu sudah cinta Ma , tapi entah mengapa ada rasa takut untuk mengakuinya.


"Ngantuk tidur di kamar, ngapain tiduran di sini?" Tanya Arvin sambil mencubit hidungku.


"Siapa juga yang ngantuk."


"Tidak ngantuk, tapi aku mengucapkan salam tidak di jawab."


"Ya gak denger."

__ADS_1


"Kamu belum mandi."


"Kenapa memang masalah buat lo?"


"Gw gak masalah tapi suamimu yang masalah." Ucap Arvin sambil tertawa kecil dan melirik Raka yang duduk di sampingku.


"Masalah apa?"


"Masalahnya suamimu terpaksa mandi air dingin di pagi hari, untuk menidurkan adik kecilnya." Ucap Arvin yang langsung di hadiahi lemparan buah apel oleh Raka.


"Ga usah di dengerkan,"ucap Raka sambil meminum kopiku.


Sesaat aku mau protes tapi mengingat kata Arvin ' adik kecil Raka ', seketika aku paham maksudnya.


"Dasar Lo piktor! Pikiran kotor!" Teriakku yang di sambut tawa renyah Arvin , yang menggema meja makan di pagi hari ini.


"Ada pa kak seneng banget tertawanya,?"tanya papa yang baru datang.


"Arvin usil pa!"


"Tidak apa-apa ko pa Kia saja yang berlebihan."


"Kalian ini gak malu sama Rak, apa?" Ucap papa sambil berjalan menuju kamarnya.


"Resek lo!"


"Iya mas ga apa-apa,"jawabku.


"Ya lebih baik kamu kerja mas ,dari pada di rumah gak ada yang di kerjain juga." Ucap Arvin sambil tersenyum menyebalkan.


"Arvin Lebih baik Lo buruan mandi, jangan ganggu gw !" Teriaku karena sebel dengan ocehan Arvin.


"Kia yang sopan nak, malu sama suami !" Tegur mama, malah membuat Arvin tertawa ngakak.


"Mas mau siap-siap ganti baju dulu." Ucap Raka sambil berdiri lalu berjalan menuju kamar ku.


"Kia ikuti suaminya dan bantu siapin baju buat kerjanya juga."


"Bantu mandi sekalian juga gak apa-apa." Ucap Arvin menimpali ucapan mama.


"Arvin Kalau usil sama adiknya mama pukul ya!" Ucap mama yang terdengar saat aku berjalan naik ke lantai 2. Jujur aku gak tahu apa yang harus ku lakukan, tapi jika aku diam tidak beranjak bisa-bisa mama semakin menjadi ceramahnya.


Saat aku masuk ku lihat Raka sedang duduk di ranjang dengan memangku laptopnya.


"Ada apa,?" tanya Raka tanpa melihat kearah ku.


"Aku.. Aku di suruh mama menyiapkan keperluan kerja mas!"

__ADS_1


"Kia sini." Ucap Raka sambil menyingkirkan laptopnya. Dengan ragu aku berjalan mendekat dan duduk di hadapan Raka.


"Dengerin mas! Mas tidak mau memaksa Kia melakukan sesuatu hal karena terpaksa, meskipun itu hanya menyiapkan baju atau kebutuhan yang lain. Mas mau Kia melakukan itu atas dasar kemauan Kia sendiri bukan paksaan. Mas akan tunggu sampai Kia siap melakukan tugas sebagai istri !" Ucap Raka sambil menggenggam tanganku, membuatku jantung ku berdetak lebih kencang dari sebelum Raka bicara. Sedangkan aku hanya mampu menundukkan kepala dan mendengarkan semua ucapan Raka.


"Kia tidak nyaman dekat mas?" Tanya Raka yang hanya mampu ku jawab dengan menggelengkan kepalaku.


"Tapi tangan Kia dingin. Mas mau Kia tidak berubah, mas mau lihat Kia seperti biasanya. Mana Kia yang biasanya galak dan judes sama mas?" Kali ini Raka berucap Sambil mengakat daguku, hingga aku bisa melihat Raka dari jarak yang sangat dekat.


"Kia akan berusaha bersikap seperti dulu, tapi masih butuh proses. Jujur Kia belum bisa menerima ini semua, ini terlalu mendadak buatku. Seminggu yang lalu kita masih bisa biasa saja, tapi untuk sekarang maaf."


" Tidak apa-apa pelan-pelan saja." Ucap Raka sambil mengusap kepalaku.


"Kalau begitu aku mau mandi dulu mas!" Raka mengaguk sambil tersenyum tipis kepadaku. Aku masuk ke kamar mandi dengan membawa baju ganti. Setelah mengguyur seluruh tubuhku selama 30 menit aku baru keluar dari kamar mandi. Nampak Raka masih sibuk dengan laptopnya, tapi sudah memakai setelan kerjanya.


Tanpa berani melihat kearahnya aku duduk di depan meja rias, setelah siap kami turun bersama untuk bergabung di meja makan.


"Pengantin baru, ko kaya baru kenal saja sih?"


"Arvin ! Tidak usil sama adiknya,!" tegur mama.


"Kamu kalau usil nanti papa nikahkan sama sekertaris mu !"


"Iya pa nikahkan saja."


"Kenapa harus sekertaris ku?"


"Papa tau kamu sering mengajak sekertaris mu untuk mendatangi undangan pribadi. Tapi selalu menggunakan nama perusahaan."


"Wah sepertinya di kantor ku ada mata-mata papa."


"Jika suka anak gadis seorang seriusin jangan di mainkan !"


"Papa dan mama tidak marah aku jalan sama dia ?"


"Papa dan mama akan marah jika kamu menyakiti hati anak orang !" Ucap papa tegas, sebelum memulai makamnya. Karena instruksi mama melalui matanya, aku mengambilkan nasi dan lauk pauk buat Raka.


"Pa ,ma apa boleh Kia aku ajak tinggal di apartemen ?" Tanya Raka setelah nasi di piringnya habis.


"Tentu boleh, setelah kamu menjabat tangan papa dan mengucapkan ijab qobul. Sejak itu Kia adalah milikmu."


"Kalau mama terserah kalian, tapi lebih baik tanya dulu sama Kia apa Kia bersedia ?"


Mungkin lebih baik aku tinggal di apartemen aku bisa lebih bebas, aku tidak di kritik mama hehe.Jika kami tidur terpisah juga tidak akan ada yang tahu.


"Kia ngikut aja ma pa."


"Allhamdullilah !" Ucap mama,papa dan Raka bersamaan.

__ADS_1


"Mulai sekarang anak mama papa cuma aku." Ucap Arvin di ucapkan dengan suara tertawa kecil, tapi dengan mata berkaca-kaca.


__ADS_2