Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
Pilihan Untuk Afifah


__ADS_3

3 Hari Kemudian...............


Setelah Sam di kasih waktu 3 hari untuk mencari tau tentang identitas Afifah, kini Sam sudah mengumpulkan semua tentang apa yang berhubungan dengan Afifah termasuk kecelakaan yang menimpa kedua orang tua Afifah 6 tahun yang lalu.


"Pak, saya sudah mengumpulkan apa yang bapak minta 3 hari lalu." ujar Sam, dia memang memanggil Pak Axel jika di kantor, tapi jika di luar kantor, Sam akan memanggil Axel dengan sebutan bro.


"Mana." ujar Axel


"Ini." Sam menyerahkan beberapa kertas dan juga beberapa bukti kepada Axel.


Axel pun membacanya dengan seksama


Nama Lengkap: Afifatur Nurul Hikmah


Nama Panggilan : Afifah


Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 20 Februari


Nama Ayah : Kusnadi


Nama Ibu : Wulandari


Hobi : Membaca Novel, Makan, dan Dengerin Music


Cita Cita : Ingin Jadi Desaigner / Fashion Desainer atau perancang busana 


Keinginan : Ingin Kembali Mendapatkan Toko Sekaligus Rumah kedua orang tuanya dan memenjarakan paman dan bibi nya.


Warna kesukaan : Hitam


Makanan Favorit : Bakso dan Nasi Goreng


Minuman Favorit : Es teh


SD : Sekolah di SDN Suka Cita


SMP : Sekolah di SMP Mantra Bima


SMA : Kerja di SMA Nugraha


Film Kesukaan : Drakor (Drama Korea)


Pacar : Gak ada, belum pernah pacaran


Teman dekat SD : Sri Mukti Rahayu yang di panggil Ayu


Teman dekat SMP : Gak ada


Teman dekat SMA : Gak ada


Masa Lalu Afifah:


Sejak Afifah lahirr, ia sangat di manja oleh kedua orang tuanya. Apapun yang di inginkan oleh Afifah pasti di turuti karena Afifah adalah anak tunggal dari Kusnadi dan Wulandari. Afifah sangat bahagia, dia juga anak yang ceria dan pintar.

__ADS_1


Dari kecil, Afifah selalu di ajarkan agama oleh kedua orang tuanya, dan rencananya setelah lulus SD, Afifah akan di mondokkan di pondok pesantren di Jawa Timur.


Tapi setelah Afifah lulus SD, paman dan bibinya mempunyai niat jahat. Dia sengaja merusak rem mobil ayah dan ibunya Afifah hingga ayah dan ibunya Afifah meninggal karena kecelakaan.  Ternyata meninggalnya kedua orang tua Afifah sudah di rencanakan oleh paman dan bibinya Afifah.


Dan setelah ayah dan ibunya Afifah meninggal, paman dan bibinya Afifah mengusir Afifah dari rumahnya sendiri dan menguasai semua harta yang seharusnya milik Afifah.


Dan sejak di usir, Afifah hidupnya jadi luntang lantung di jalan karena ia gak punya uang sepeserpun. Hingga akhirnya Afifah menjadi pengemis di lampu merah. Dan dari uang pengemis itulah, Afifah mulai cari kos kosan dengan uang hasil ngamennya dan juga ia mengumpulkan uang hasil ngamen itu buat modal jual gorengan.


Afifah juga hidup hemat, agar dirinya bisa melanjutkan sekolah.


Namun di SMP, Afifah seringkali di bully karena penampilan Afifah yang kucel dan seperti tak terurus. Namun walau begitu, Afifah adalah anak yang pintar. Ia selalu mendapatkan juara satu di kelasnya dan juara itu bisa ia pertahankan sampai dia lulus SMA.


Setelah lulus SMA, Afifah bekerja di resto namun seseorang menjebaknya hingga Afifah di tuduh mencuri padahal Afifah tak bersalah, ia hanya di jebak oleh temannya sendiri. Dan Afifah pun di pecat dengan secara tak hormat.


Dan setelah itu, ia Afifah sempat menganggur satu bulan hingga akhirnya ia di terima bekerja di sini sebagai Cleaning Service.


Dan ini bukti kejahatan paman dan bibinya Afifah."


Axel melihat vidio dan sidik jari paman dan bibinya Afifah dan ternyata sama dan itu membuat rahang Axel mengeras. Axel benar benar marah kepada paman dan bibinya Afifah yang sudah tega menghancurkan kebahagiaan Afifah dan membunuh kedua orang tuanya.


"Baiklah, kamu boleh keluar." ujar Axel kepada Sam.


Sam pun hanya mengangguk lalu ia keluar dari ruangan Axel.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Axel.


"Apakah aku akan membalas dendam kepada paman dan bibinya Afifah atas apa yang telah mereka lakukan kepada Afifah." gumam Axel.


Ingin rasanya Axel membalas kesakitan yang pernah di alami oleh orang yang sangat ia cintai, tapi ia gak boleh gegabah. Axel harus membahas masalah ini dengan Afifah karena hanya dia yang berhak memutuskan semuanya. Dan apapun keputusan Afifah, Axel akan mendukungnya. APAPUN ITU!!


"Segera ke ruanganku." ujar Axel


Dan tak lama kemudian, Sam pun datang.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Sam.


"Panggilkan Afifah, suruh dia ke ruanganku sekarang juga." jawab Axel.


"Baik."


Setelah itu Sam pun memanggil Afifah sedangkan Axel hanya menunggunya di ruangannya.


Tak lama kemudian Afifah pun datang.


"Assalamu'alaikum." ucap Afifah.


"Waalaikumsalam, silahkan duduk. Sam, kamu juga duduk di sini." ujar Axel karena ia ingat dengan pesan aby nya, kalau dirinya gak boleh berbicara berdua dengan Afifah, harus ada yang menemaninya.


"Ada apa ya pak, bapak memanggil saya?" tanya Afifah, yang memanggil Pak Alex sama seperti Sam, kecuali di luar kantor.


"Aku punya dua pilihan buat kamu, jadi kamu boleh pilih salah satunya." ujar Axel.


"Pilihan apa?" tanya Afifah tak mengerti.

__ADS_1


"Aku sudah menemukan siapa yang sudah membunuh ayah dan ibu kamu." ujar Axel.


"Siapa?" tanya Afifah.


"Paman dan bibi kamulah yag merencakanan semua itu. Paman dan bibi kamu yang merusak rem mobil ayah kamu hingga ayah dan ibu kamu kecelakaan dan meninggal dunia." jawab Axel.


"Emang apa alasan paman dan bibi melakukan itu?" tanya Afifah.


"Karena mereka berdua ingin menguasai harta ayah dan ibu kamu. Untuk itulah, setelah ayah dan ibu kamu meninggal, kamu langsung di usir gitu aja. Sedangkan semua harta ayah dan ibu kamu di nikmati oleh paman dan bibi kamu." Axel.


"Terus apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Afifah.


"Jika kamu mau, aku akan membantumu merebut semua itu dari tangan paman dan bibi kamu. Karena bagaimanapun, itu adalah hak kamu. Bukan hak mereka. Ayah dan ibu kamu sudah berjuang untuk bisa mencapai semuanya dan mereka melakukan itu demi kamu, bukan demi paman dan bibi kamu itu." ujar Axel.


"Lalu bagaimana agar aku bisa merebut semua itu kembali?" tanya Afifah.


"Aku akan membantumu. Namun pilihanmu ada dua, tetap tinggal di kosan yang kini sedang kamu tempati atau kamu akan memilih untuk tinggal di rumah yang sudah di bangun susah payah oleh kedua orang tua kamu?" tanya Axel.


"Aku memilih untuk tinggal di rumah yang dulu aku tempati bersama ayah dan ibu. Hanya saja bagaimana caranya, sedangkan di rumah itu masih ada paman dan bibiku?" tanya Afifah.


"Serahkan sama aku, aku akan mengembalikan apa yang seharusnya jadi milik kamu termasuk toko baju muslim dan muslimah yang dulu di kelola oleh ayah kamu." ujar Axel.


"Benarkah? Terima kasih." jawab Afifah tersenyum bahagia.


"Aku butuh waktu 3 hari untuk melakukannya. Oh ya mengenai paman dan bibi kamu, apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Axel.


"Aku ingin mereka berdua masuk penjara atas apa yang telah mereka lakukan kepada kedua orang tuaku." jawab Afifah.


"Baiklah, aku akan mendukungmu. Besok aku pastikan mereka berdua akan masuk penjara dalam waktu yang sangat lama." ujar Axel.


"Kenapa kamu membantuku?" tanya Afifah.


"Karena kamu adalah wanita yang sangat spesial." jawab Axel.


"Maksud kamu?" tanya Afifah.


"Sudahlah gak perlu di bahas. Kamu boleh bekerja kembali." jawab Axel.


"Baik, saya permisi." ujar Afifah.


Setelah kepergian Afifah, Axel langsung ngomong berdua dengan Sam.


"Kamu dengerkan apa keinginan Afifah, jadi aku ingin kamu segera mengerjakannya dengan secepat mungkin. Bawa bukti ini ke kantor polisi dan bawa pengacara hebat agar mereka berdua mendekam di penjara dengan waktu yang sangat lama. Dan setelah itu urus dokumen penting agar rumah dan toko serta semua harta milik ayah dan ibunya jatuh ke tangan Afifah.


Aku ingin besok aku sudah mendengar bahwa paman dan bibinya sudah masuk penjaran. Dan aku ingin dalam waktu 3 hari, Afifah sudah mendapatkan haknya dan dia sudah bisa menempati rumah kedua orang tuanya dan mengurus toko milik ayahnya. Kamu mengerti kan maksudku?" tanya Axel.


"Iya saya mengerti." jawab Sam.


"Bagus, kalau gitu, pergilah dan urus semuanya dari sekarang. Semakin cepat, semakin lebih baik." ujar Axel.


"Iya. Kalau gitu, saya permisi." ujar Sam yang hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Axel.


Setelah kepergian Sam, Axel tersenyum bahagia karena ia bisa melakukan sesuatu buat orang yang ia cintai.

__ADS_1


Axel bahkan tak memperdulikan berkas berkas yang menumpuk di atas mejanya. Axel lebih suka ngelamun dari pada bekerja. Dan akhirnya, Sam lah yang harus bekerja keras menyelesaikan semuanya. Sedangkan Axel hanya terima beresnya. Axel mungkin hanya di suruh tanda tangan atau datang ke rapat yang memang sangatlah penting, jika gak terlalu penting, lagi lagi Axel menyuruh Sam lah yang datang dan mengurus semua itu. Namun Sam di gaji tiga kali lipat dari sebelumnya. Untuk itulah, Sam tak merasa keberatan karna ia di gaji sangat tinggi, yah walaupun ia juga seringkali kewalahan dan juga kelelahan yang teramat sangat.


Saat Adzan dhuhur berkumandang. Axel pun segera pergi ke masjid untuk sholat dhuhur berjamaah. Namun saat ia menuju ke masjid, ia juga melihat Afifah yang juga sedang menuju ke masjid. Axel sangat bahagia melihat Afifah yang begitu semangat untuk sholat, tidak seperti yang lain sibuk make up an karena takut bedaknya luntur.


__ADS_2