
POV. Raka.
Baru tadi pagi di tinggal Kia sudah terasa sepi, rasanya aku malas untuk pulang. Apalagi kalau masuk ke dalam kamar, bayangan percintaan panasku dengan Kia akan terbayang di ingatan ku membuat si Otong langsung berdiri.
Padahal kami baru melakukan hubungan suami istri belum lama, tapi kenapa rasanya sangat membekas di ingatan ku dan membuatku ketagihan. Ah gila bisa gila aku.
"Mas penghuni di sini ?" Tanya seorang perempuan yang juga lagi berdiri di depan pintu apartemen, yang letaknya di depan apartemenku.
"Iya!"
"Perkenalkan aku Stevi penghuni baru, apartemenku tepat di depan apartemen mas."
"Caraka !". Ucapku sekilas sebelum masuk.
πΌπ¬
Siapa sih bertamu malam-malam begini. Aku melirik jam dinding yang sudah menujukkan pukul 10 malam.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam,ayo masuk !"
"Aku tahu kamu kesepian ,ayo menghilangkan penat!"
"Ada apa, kamu seperti seorang yang lagi patah hati ?"
"Aku di tolak lagi !"
"Sama sekertaris mu ?"
"Iya alasannya takut tidak di Restui orang tuaku, mengingat kedua orang tuanya hanya pegawai rendahan."
"Haha berarti perjuanganmu harus lebih gigih lagi , selama janur kuning belum melengkung masih ada kesempatan."
"Temanin gw dugem , gw cum pingin joget sepuasnya sambil mendengarkan musik yang keras."
"No alkohol !"
"No alkohol."
Aku hanya mengambil jaket sebelum kami berdua pergi ke diskotik. Aku hanya melihat sambil menikmati minuman dengan kadar alkohol rendah.
"Hai mas Caraka!" Sapa seseorang yang tiba-tiba duduk di sampingku.
"Siapa ya?"
"Aku Stevi, tetangga apartemen kita berhadapan."
"Oh iya aku ingat, panggil Raka saja."
"Sendirian ?"
"Tidak sama teman, tu lagi berjoget. Sebentar aku samperin temanmu dulu."
"O, silahkan mas Raka."
"Vin balik yuk !"
"Kok buru-buru sih ?"
"Ini sudah tengah malam,ayo pulang besok masih harus kerja. Jangan sampai papa tahu Vin !"
"Oke-oke kita balik."
__ADS_1
Karena sudah tengah malam ahkirnya aku bawa Arvin pulang ke apartemenku. Lagian tidak ada Kia ini, bisa buat teman aku tidur.
βοΈπ¬
"Vin buka pintunya, gw lagi sibuk !"
"Oke!" Arvin berjalan kearah pintu, sedangkan aku masih di depan mesin pembuat kopi dan roti bakar.
"Hai Stevi,ada perlu apa ?" Tanyaku saat melihat Stevi berdiri di depan Arvin .
"Cuma mau ngasih sedikit kue sebagai salam perkenalan sebagai tetangga baru !"
"Oo terima kasih mbak! Tolong terima Vin!"
Arvin langsung mengambil dengan muka datar, membuat Stevi langsung pamit pulang.
"Tetangga baru yang modus," cibir Arvin membuatku tertawa.
Malam harinya Arvin mengajakku lagi ke diskotik,tapi kali ini juga bersama temannya. Lagi-lagi ketemu Stevi juga disana, bersama temannya juga.
Meskipun baru beberapa hari keberadaan Stevi, membuatku sedikit melupakan rasa rinduku pada Kia.
"Bagaimana mamamu sudah memberi kabar kapan pulang ke Indonesia ?"
"Belum, tapi nenek bilang paling cepat seminggu. Karena nenek mau ngajak Kia dan mama jalan-jalan dulu. Kenapa papa tidak menghubungi mama langsung ?"
"Mama selalu mengagap telpon dari papa itu tidak penting, jadi jarang sekali di angkat."
"Haha sepertinya hati mama sudah berpindah ke lain hati."
"Anak kurang ajar, suka sekali bikin orang tua emosi. Konsentrasi lihat jalan papa mau tidur, masih capek pekerjaan di Surabaya sungguh menyita tenaga dan pikiran." Aku hanya tertawa kecil melihat papa.
Sesampainya di rumah papa aku sengaja menghubungi mama, untuk mengobati rasa rindu papa.
"Baru juga di tinggal 3 hari sudah kaya ditinggal sebulan." Ucap mama sambil mencibirku.
"Baru 3 hari tapi mantu mama melupakan anak mama. Dia tidak telpon kalau aku tidak telpon, pesanku dijawab sangat singkat." Terdengar suara tawa mama dan Kia, membuat aku semakin merindukan 2 wanita kesayanganku itu.
"Aku sedang menemani mama mencari bule." Ucap Kia yang terkesan asal nyeplos.
"Papa mantumu menemani mama mencari bule baut di jadikan papa baruku !" Teriaku membuat papa langsung duduk dari posisi tidurnya.
"Papa di situ?"
"Aku habis menjemput papa dari bandara,"jawabku sambil mengarahkan kameranya kearah papa.
"Hehe halo papa," ucap Kia Sambil tersenyum canggung.
"Bukan salah Dwi tapi bulenya aja yang ganjen suka ngajak Dwi Ngobrol. Padahal ketahuan banget kalau obrolan itu hanya basa-basi." Ucap nenek membuat papa langsung melotot dan terlihat cemburu.
"Aku susul mommy sekarang ! Raka hubungi Satria suruh Carikan papa tiket ke Australia sekarang !" Aku hanya tersenyum tipis melihat papa yang cemburu.
"Tapi papa baru sampai tidak besok saja Istirahat dulu?"
"Mas aku angkat tangan, udah ya mas. Assalamualaikum."
"Tar dulu sayang," Ucapku yang ternyata sudah di matikan oleh Kia.
"Papa yakin mau nyusul mama tidak istirahat dulu, ingat umur pa. Jangan terlalu capek."
"Papa bisa tidur di pesawat buruan pesen tiket!"
"Oke." Ucapku sebelum menghubungi Satria, untuk mencarikan tiket buat papa. Awalnya Satria sepertiku menentang keras kemauan papa. Tapi setelah papa menggunakan kekuasaannya ahkirnya sore itu papa berangkat.
__ADS_1
"Besok Sabtu pekerjaan sedikit Santai ,bagaimana kalau kita sedikit minum untuk melupakan masalah yang ada."
"Lo santai,tapi aku masih ada jadwal ngajar setelah pulang kantor."
"Kalau begitu sedikit saja untuk menemaniku."
"Menemani itu menuju kebaikan bukan ke arah keburukan."
"Gw gak mau masuk neraka sendirian !" Ucap Arvin sambil memaksa ku minum.
"Adik ipar gila Lo, gw titip Arvin ya mau balik dulu."
Saat aku melangkah keluar di lantai dansa aku melihat Stevi lagi tersenyum padaku , yang ku balas senyum singkat. Hingga sesat ada lelaki mabuk berjalan sempoyongan sambil membawa botol minum menabrak ku.
"Sial!" Umpat ku saat alkohol dalam botol tumpah mengenai bajuku.
"Mas Raka mau kemana ?"
"Mau pulang sudah mabuk !" Bohongku ,kalau hanya minum segelas tidak akan membuatku mabuk. Aku hanya segera ingin pulang, ini masih sore tidak mungkin Stevi akan pulang bersamaku mengingat baru pukul 10 lewat.
"Aku juga mau pulang bisa nebeng gak mas,aku juga bisa jadi sopir." Ucapnya karena tidak ada alasan buat menolak ahkirnya aku pasrah. Selama perjalanan aku pura-pura tidur seperti orang mabuk. Aku baru bisa bernafas lega saat sudah bisa masuk ke dalam apartemenku sendiri.
Saat aku sudah siap ingin berangkat kerja aku di kejutkan dengan seorang wanita yang tidur di sofa.
Ya Allah Kia kenapa tidur di sofa, apa gara-gara bau alkohol dari badanku. Sial kenapa semalam aku langsung tidur.
"Sayang kamu sudah pulang? Kenapa tidak bilang kamu pulang? Siapa yang menjemput mu di bandara ? Dari bandara ke sini naik apa?" Ucapku setelah membangunkan Kia.
"Sekarang pukul berapa?"
"7 Kenapa ?"
"Astaghfirullah aku ketiduran belum sholat subuh." Ucap Kia bertepatan dengan bel apartemen yang berbunyi.
"Kamu duduk dulu aku bukakan pintu."
"Selamat pagi Raka! Aku kesini hanya ingin mengantarkan sarapan dan air madu buat menghilangkan rasa mabuk mas Raka !"
Ya tuhan gencatan senjata III Di mulai.
"Tidak perlu repot-repot saya."
"Tidak repot-repot ko,aku masuk buat taruh ini."
"Masuk saja, di sana letak dapurnya!" Ucap Kia membuatku tersadar ini harus segera diakhiri.
"Kamu pasti adiknya ya, kenalkan aku Stevani apartemenku terletak di depan persis. Kami berkenalan di diskotik 3 hari lalu, maaf ya aku masuk mau menaruh ini di meja makan !"
"Silahkan,"ucap Kia sambil melirik kearahku.
"Taruh saja terima kasih, sebaiknya kamu segera pulang." Ucapku setelah Kia masuk ke dalam kamar.
"Tidak apa-apa kita bisa sarapan bersama, aku akan ambilkan nasi buat adikmu juga. Dari pada aku sarapan sendiri,aku lebi suka di sini ada temannya. Jujur meski baru 3 kali aku masuk apartemen mu, tapi aku sudah merasa nyaman."
"Stevi aku pergi dulu ada urusan mendadak, nitip kakakku!" Ucap Kia sambil memakai sepatu dan langsung pergi, tanpa meminta izin dan memandang kearahku.
"Maaf Stevi aku harus segera pergi!
"Kamu tidak mau sarapan denganku."
"Maaf."
Aku keluar dengan terburu-buru, aku ke apartemen Arvin dan menceritakan apa yang terjadi. Arvin sempat marah sebentar. Ahkirnya Arvin mau membantuku untuk mengecek Kia di rumah mama.
__ADS_1
Aku tidak bisa bekerja dengan tenang setelah Arvin bilang Kia tidak ada di rumah mama. Apalagi no ponselnya Kia tidak aktif membuatku kesulitan untuk melacak keberadaan Kia. Setelah istirahat makan siang aku nekad melacak mobil Kia, tapi setelah aku hubungi no si mbok. Si mbok bilang Kia sudah pulang.