Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
152. Pertandingan Futsal


__ADS_3

"Sudah siap?"


"Hmm,"jawabku malas. Sesuai yang dikatakan Raka tadi sore yang akan melakukan pertandingan futsal antara dosen muda dan anggota BEM. Sebenarnya aku lebih suka di apartemen membaca novel dari ponsel atau menonton Drakor saja. Tapi karena sehabis futsal kami mau pergi ke rumah mama Raka, jadi ahkirnya aku ikut Raka sekalian dari pada bolak-balik.


Hampir sebulan kami menikah tapi aku sama sekali belum mengunjungi mama Raka. Karena mama Raka yang pulang kampung ke Cimahi, menjenguk bibi Raka yang sedang sakit dan baru pulang kemarin.


"Pakai jaket ku biar tidak dingin !"


"Kamu saja,kamu kan yang mengemudi di depan. Aku kan cuma penumpang di belakang."


"Tidak usah membantah !" Ucap Raka sambil memakaikan jaketnya padaku. "Pegangan awas jatuh !"


Dari pada meladeni Raka yang bisa berujung pertengkaran, aku memegang ujung kaosnya untuk pegangan.


Dengan kecepatan di atas rata-rata Raka membawa motornya, menerobos kemacetan ibu kota. Maklum malam Minggu banyak anak muda yang menghabiskan waktunya di luar rumah. Hingga saat di lampu merah Raka sengaja mengerem mendadak, membuat tanganku terpaksa melingkar ke pinggangnya.


"Jangan di lepas aku kedinginan, dekapan mu menghangatkan tubuhku." Ucap Raka sambil menahan ku yang hendak melepaskan tanganku yang terpaksa melingkar di pinggangnya.


Sesampainya di kampus Raka menggadeng tanganku masuk ke lapangan futsal. Sontak kedatangan kami menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di gedung olahraga.


"Wah kayanya para mahasiswa kita akan banyak yang patah hati ni, pak Raka."


"Bukan hanya mahasiswa para dosen perempuan juga pasti patah hati, apalagi Bu Nadila." Ucapan teman seprofesi Raka menyambut kedatangan kami.


"Kamu Azkia kan?" Tanya salah satu dosen pembimbingku waktu KKN dulu.


"Iya pak bener."


"Wah berati aku gak salah, kamu kan yang dulu di samperin Raka waktu KKN?"


"Iya psk."


"Bagaimana keadaanmu, bukannya kamu dulu kecelakaan lumayan parah ya. Bahkan sempat koma beberapa hari."


"Allhamdullilah sudah sehat pak."


"Sudah ayo ganti baju,"ucap Raka.


"Posesif banget ni pak Raka !" Canda mereka semua di barengi tawa renyah mereka.


"Jangan di dengarkan ucapan mereka, mereka hanya bercanda. Aku tinggal ke ruang ganti dulu ya!" Ucap Raka di ahkiri dengan kecupan kecil di kepala ku.


"Malu mas di lihat banyak orang." Ucapku sambil melihat sekeliling takut ada yang melihat kami. Raka sang tersangka hanya tersenyum tipis meninggalkan aku.

__ADS_1


Aku berjalan ke bangku penonton untuk mencari tempat duduk , sambil mengatur detak jantungku yang tidak terkontrol gara-gara kecupan Raka di kepala ku.


Aku memilih di tribun penonton yang paling atas, karena bagian depan sudah diisi oleh para mahasiswa perempuan. Sedangkan yang ditengah beberapa mahasiswa laki-laki dan dosen. Meskipun aku tidak tahu nama-nama mereka,tapi aku cukup mengenal wajah mereka.


"Aku tadi di parkiran lihat pak Raka turun dari motor dengan menggadeng seorang perempuan Lo." Ucap mahasiswa yang duduk di bangku bawahku, mereka tidak tahu yang mereka bicarakan ada di belakangnya.


"Cantik gak ?"


Pertanyaan lama ?


"Gak kelihatan begitu helmnya di lepas, sama pak Raka langsung di pakaikan topi."


"Lo lihat ?"


"Hehe enggak sih cuma denger gosip anak-anak. Tapi kita lihat saja topinya warnanya putih, itu yang aku dengar." Mereka berdua lantas berdiri dan mengamati ke sekeliling, secara spontan aku melepas topi Raka dan memasukkan ke dalam tasku.


"Eh itu lihat di tribun paling bawah ada yang memakai topi putih !"


"Tapi ada 3 ,si idola kampus, Bu Nadila dan sekertaris BEM. Kira-kira siapa ya?"


"Bagaimana kalau kita buat taruhan!"


"Taruhan apa?"


"Aku megang Bu Nadila, karena topik yang dia pakai terlihat ORI."


"Aku megang sekertaris BEM, karena pak Raka orang yang suka berpegang."


"Bagaimana kalau kita cari satu lagi biar seru." Ucap salah satu diantara mereka lantas melihat kesek.


"Mbak mau ikut taruhan gak?"


"Taruhan apa?" Tanyaku pura-pura tidak tahu.


"Siapa diantara wanita bertopi putih yang duduk di bangku penonton paling depan pacar pak Raka ?"


"Aku pilih tidak ada diantara mereka bertiga ?" Jawabku santai sambil memperhatikan mereka bertiga.


"Kenapa ?" Tanya mereka bersamaan.


Karena aku yang bersama pak Raka kalian.


"Karena menurutku secara pribadi jika mereka pasangan pak Raka, mereka tidak akan duduk di depan."

__ADS_1


"Kenapa begitu,bukannya duduk di depan lebih jelas bisa melihat pemain."


"Aku cuma menebak aja kita lihat saja nanti, tu para pemain sudah memenuhi lapangan." Ucapku mengalihkan pembicaraan mereka bertiga.


Pertandingan berjalan sangat seru dan sama-sama saling mengejar nilai. Aku melihat Raka sesekali saat istirahat melihat kearah ku, dan itu sukses membuat 2 mahasiswa di depanku histeris.


"Tidak rugi kita duduk di bangku belakang."


"Iya gw juga rasa begitu lihat mas Aldo , mas Krisna, pak Raka dan pak Ikbal sering melihat kearah kita."


Aku hanya bisa senyum mendengar ucapan mereka bertiga, hingga pertandingan futsal usai. Raka dan timnya menang tipis, setelah berjuang keras. Banyak para penonton yang turun ke lapangan ada yang meminta foto bersama, atau sekedar hanya memberikan selamat atas kemenangan.


Aku tetap duduk melihat Raka yang di hampir beberapa rekan dan mahasiswanya. "Bagaimana kalian akan tahu Siapa pemenangnya ?"


"Iya ya bagaimana, semuanya mendekat dan bahkan mereka juga foto berdua secara bergantian."


Aku hanya tersenyum tipis,di sisi lain aku bangga punya suami yang jadi incaran banyak kaum wanita. Tapi di sisi lain aku juga was-was kalau Raka mudah tergoda mereka.


"Ayo semuanya turun !" Ucapku sambil berjalan turun saat melihat kearah Raka sudah mulai berkurang yang mendekatinya.


"Selamat mas kerja kerasmu membuahkan hasil."


"Terima kasih sayang." Ucap Raka sambil menarik tanganku yang berniat untuk mengulurkan tangan, hingga tubuh kami sampai menempel.


"Mas ,aku mau mengucapkan selamat lo!" Kesalku saat Raka tiba-tiba mencium pucuk rambutku.


"Masak sama yang lain cuma jabat tangan," bisik Raka. Membuatku langsung memperhatikan sekitar tampak mereka semua melihat kearah ku. Bahkan saat menarikku berjalan keluar, aku melihat ada beberapa orang yang mengambil foto kami.


"Mas kita jadi pusat perhatian !"


"Tida apa-apa, semoga dengan begini tidak ada lagi yang menggagu mas."


"Kamu di ganggu bagaimana ?"


"Ada yang suka merayu ku dan menggoda ku."


"Yang bener mas!"


"Makanya jaga suami mu ini!"


"Kamu bukan barang atau mainan kamu manusia yang punya perasaan. Kamu akan bertahan jika nyaman dan pergi jika gak nyaman."


"Kalau begitu buat aku nyaman," bisik Raka.

__ADS_1


"Aku akan buat kamu nyaman setelah kamu juga bisa membuat ku nyaman." Ucapku sambil berjalan dengan rasa tidak nyaman. Tidak nyaman di lihat banyak orang, tidak nyaman dengan posisi kami yang saling menempel. Bukan masalah badan Raka yang bau keringat, tapi tatapan para wanita yang siap menerkam ku.


__ADS_2