Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
171. Ini tidak Benar


__ADS_3

Sejak aku mengakui telah minum pil pencegah kehamilan dan Raka tidak marah. Malah membuatku merasa bersalah, karena itu sejak 2 bulan yang lalu aku menghentikan meminum pil pencegah kehamilan.


"Sayang nanti siang aku makan siang di rumah mama sekalian mau nyobain baju pengantin yang telah di buat mama!"


"Mau aku temani ?" Tanya Raka sambil melihat kearah ku yang sedang menyiapkan sarapan pagi buat dia.


"Tida usah aku bisa sendiri, hari ini kamu di kantor papa atau di rumah sakit ?"


"Di rumah sakit, karena hari ini ada evaluasi kinerja semu karyawan rumah sakit. Dari dokter sampai karyawan , kenapa mau mampir ke rumah sakit ?"


"Mau ngapain aku ke rumah sakit ?"


"Ya mau nemenin suami makan siang lah, mau ngapain lagi." Ucap Raka sebelum memulai mengunyah makanannya.


"Lihat saja nanti, aku gak bisa janji."


"Kasih kabar aku jika mau ke rumah sakit nanti aku sambut kamu." Ucapnya sambil tersenyum tipis.


"Emang aku tamu di sambut segala," dengusku malas.


"Ya biar semua orang tahu kalau kamu calon istriku !"


"Tidak perlu di kasih tahu, papa mengundang semua karyawan rumah sakit pasti nanti juga bakalan tahu sendiri." Raka hanya melirikku tanpa menjawab ucapanku.


Setelah Raka berangkat aku baru merapikan meja makan dan membersihkan apartemen. Setelah selesai aku langsung ke rumah mama, tanpa mampir ke cafe.


"Mama masak apa ?"


"Ikan gurame bakar dan udang balado." Ucap mama saat aku menghampiriku mama yang lagi sibuk di dapur.


"Makanan kesukaannya anak mama semua ini,"jawabku.


"Makanya nanti kita makan siang bersama di rumah sakit. Kita berikan kejutan buat para suami kita. Mama juga masak pepes ikan mas kesukaan Satria, siapa tahu dia dan Cantika mau bergabung makan siang dengan kata."


"Wah boleh ma biar seru ma makan bersama,"ucapku sambil mencicipi udang yang sudah matang. Meski cuma masakan rumahan, masakan mama Raka tidak kalah enak dengan chef yang ada di kafe ku.


"Udah selesai,sambil menunggu dingin mari kita cobain baju pengantin mu. Sudah siap 75 % jika sudah pas bajunya, tinggal memberikan aksesoris pemanis biar tambah cantik gaun pengantinmu. Seperti calon pengantin." Ucap mama sambil menarik tanganku ke ruang kerjanya.


"Kami kan sudah menikah ma, gimana sih ma masa lupa?" Ucapku sambil tersenyum, membuat mama tertawa.


"Iya ya kalian kan sudah menikah, bukan calon pengantin lagi. Oya bagaimana sudah ada tanda-tanda calon cucu mama?" Pertanyaan mama membuat jantungku berdetak sangat kencang.

__ADS_1


"Ma, jangan marah ya?" Mama menautkan kedua alisnya keatas mendengar ucapanku, yang mungkin buat mama terkesan aneh.


" Minta maaf apa, katakanlah semoga mama bisa bantu cari solusinya." Ucap mama sambil menarikku duduk.


Aku menarik nafas panjang sambil menyiapkan metal jika mana nanti marah dan kecewa dengan jalan pikiranku.


Aku mulai bercerita dari awal kesiapan pernikahan yang mendadak, karena niat awal cuma bertunangan berganti arah menjadi ijab qobul. Tentang aku yang baru bisa menjadi istri seutuhnya, setelah lebih dari sebulan kami menikah. Dan yang terakhir tentang pil KB yang aku minum. Karena merasa bersalah aku tidak berani melihat kearah wajah mama. Aku lebih memilih menundukkan kepalaku ke bawah melihat lantai, dengan tangan yang sudah mulai berkeringat dingin. Terdengar helaan nafas mama, sebelum tangannya menggenggam tanganku.


"Dengarkan mama,mama tidak marah. Mungkin Kia belum siap mama maklum, tapi jangan lama-lama ya mama juga pingin punya seorang cucu ." Ucap mama sambil mengusap-usap punggung tanganku.


"Sudah 2 bulan Kia sudah tidak meminum pil itu kok ma, Kia juga belajar mengkonsumsi makan makanan sehat." Ucapku yang langsung memeluk erat tubuh mama.


"Sudah jangan menangis nanti matamu bengkak. Anak mama nanti nyalahin mama lagi," ucap mama sambil menghapus air mataku.


"Terima kasih ma."


"Sana cobain baju pengantinmu!"


Setelah mencoba baju dan aku sedikit memberikan masukan buat hiasan baju pengantinku, ahkirnya kita berdua keluar dari ruang kerja mama.


"Ayo kita siapkan bekal makan siang bersama kita!"


Setelah semua siap dan merapikan penampilan, kami berangkat ke rumah sakit menggunakan mobilku.


"Wah ini kejutan yang sangat tidak terduga!" Ucap papa menyambutku dan mama, yang langsung masuk karena sekertaris papa sudah sangat mengenal mama. Berbeda denganku, yang sebagian karyawan rumah sakit ini masih mengenalku sebagai mantan cleaning service.


"Kami mau mengajak makan siang bersama para suami." Ucap mama sambil mencium punggung tangan papa, begitu juga aku yang mengikutinya dari belakang.


"Kamu masak banyak sepertinya ?" Tanya papa saat melihat begitu banyak tentengan yang kami bawa.


"Aku masak buat anak-anak juga!"


"Ya udah papa hubungi Satria biar membawa istrinya kemari !"


"Mas Raka biar Kia yang panggil sendiri ya pa, sekalian Kia mau tahu ruangan kerja mas Raka!"


"Tentu masih satu lantai dengan papa ,dari sini kamu lurus saja. Di pintunya ada tulisannya ko wakil direktur !"


"Makasih pa," ucapku setelah mendapatkan penjelasan dari papa.


Aku berjalan ke luar menuju ruang kerja Raka seperti arahan papa, sampai mataku menatap seorang cleaning service yang dulu sangat membantuku.

__ADS_1


"Mbak Lia! Assalamualaikum mbak!" Sapaku yang dijawab mbak Lia dengan wajah bingung.


"Walaikumsalam, siapa ya ?"


"Mbak lupa sama aku? Aku Kia yang dulu pernah jadi cleaning service di sini. Dulu aku sering kerja sama mbak, mbak Ani dan Zidane." Jelasku membuat mbak Lia langsung melotot.


"Kamu Kia anak orang kaya yang nyamar jadi cleaning service dulu ya ?"


"Iya betul,tapi biasa aja mbak bukan anak orang kaya juga aku."


"Haha aku jadi sungkan,"ucap mbak Lia sambil tersenyum kecil.


"Kenapa sungkan aku juga makan nasi kaya mbak juga kok!"


"Hai cleaning service jangan ngobrol saja, buruan kerja kamar mandi kotor itu !" Perintah seseorang yang sambil berjalan di belakangku. Saat aku menoleh untuk melihatnya dia sudah masuk ke dalam ruangan yang bertuliskan 'Wakil Direktur '.


"Siapa tadi yang lewat mbak?" Tanyaku karena meski aku tidak sempat melihat kearahnya, aku sepertinya familiar dengan suaranya.


"Dokter genit !"


"Dokter genit ?" Tanyaku bingung.


"Dokter Leora selain terkenal genit,dia juga terkenal judes kepada orang yang statusnya di bawahnya."


"Emang dia suka merayu siapa ?" Tanyaku penasaran, apalagi aku melihat dia masuk ke ruangan yang bertuliskan 'Wakil Direktur'. Membuat pikiranku dan jantungku tidak bisa tenang. Ada rasa gelisah dan takut menyergap tubuhku.


"Aku mau kerja dulu ya ,1 jam lagi jam istirahat kalau mau nemuin aku di pantry !"


"Siap mbak !"


Begitu mbak Lia pergi aku berjalan kearah ruangan yang tadi baru di masukin Leora, yang aku yakin itu ruangan Raka.


"Gila kamu!" Teriak Raka membuatku yang baru membuka pintu sedikit langsung berjingkat karena kaget.


"Aku memang gila karena aku sedang hamil. Bahkan ke dua orang tuaku memaksaku untuk mengaborsinya!" Teriak Leora tidak kalah kencang.


"Ya udah aborsi saja seperti perintah orang tuamu, supaya kamu bisa selesaikan caos mu tepat waktu. Nanti aku akan bantu masalah ijin mu biar dokter pembimbingmu tidak curiga !"


Leora hamil anak siapa, kenapa Raka harus membantunya ?


 Karena ingin memastikan langsung aku berniat masuk untuk bertanya langsung, karena sudah tidak ada suara percakapan lagi aku pikir suasananya sudah tenang.

__ADS_1


Tidak ini tidak benar.


__ADS_2