
Saat Raka mengantarkan aku pulang dan melewati rumah Clara. Aku memutuskan berhenti di rumah Clara saat melihat mobil Cantika terpakir di parkiran.
Tanpa mengetuk pintu aku langsung mengucapkan salam sambil berjalan masuk. "Assalamualaikum."
"Walaikumsalam, Kia baru pulang kerja ?"
"Iya Tante, Mbak tika ada tan?"
"Ada baru sampai, keatas saja!"
"Oke Tante." Aku langsung masuk ke dalam kamar Cantika yang berada di atas. Kata Mama kamar yang di tempati Cantika adalah bekas Om Fino, sedang kamar yang di tempati Clara dulunya adalah kamar mama.
"Tika!" Uacapku begitu masuk dan merebahkan tubuhku di samping Cantika.
"Hmm!"
"Kapan rencana pernikahan mu?"
"Kenapa datang-datang bertanya seperti itu."
"Ingin tahu saja,hehe."
"Lagian siapa suruh pergi duluan saat acara baru mulai ?" Kata Cantika sambil berjalan kearah pintu kamar dan menguncinya.
"Hehe maaf. Kenapa kamu harus menikah katanya nugu dapat gelar spesialis?"
"Tadinya kami sepakat lamaran dulu, nikahnya setahun lagi. Kamu kan tahu aku masih 1 setengah tahun lagi. Tapi semua kacau saat nenek Satria, meminta kami menikah 6 bulan lagi."
"Apa 6 bulan lagi! Bukannya hubungan kalian hanya pura-pura, bagaimana dong?"
"Satria dan aku sama-sama tidak menyangka akan sampai sejauh ini. Karena itu aku dan Satria memutuskan untuk belajar saling mencintai, toh kita sama-sama Single. Dan mengenai karir dia akan mendukung ku."
"Semoga pepatah ' Tresno jalaran Soko kulino' itu benar adanya."
"Semoga saja,"jawab Cantika.
"Karena tidak ada Clara di sini. Aku siap membantumu jika kamu membutuhkan suatu bantuan."
"Tentunya, kamu harus membantuku."
"Persiapan pernikahannya bagaimana ?"
" Satria sudah menyerahkan semuanya kepada wedding organizer. Aku tinggal memilih tema apa pesta pernikahan aku inginkan , dan pihak wedding organizer yang mengerjakannya."
"Semoga kamu bisa mendapatkan kebahagiaan !"
"Terima kasih adik kecilku !" Aku hanya mendengus sambil berdiri. "Gw pulang, gw ke sini cuma memastikan ucapan Raka tentang rencana pernikahan kalian !"
"Hmm." Aku berjalan keluar kamar Cantika, ada Tante Indah dan Om Fino yang baru pulang kerja.
"Sudah Kia?"
"Sudah, cuma ada perlu dikit."
__ADS_1
"Kamu tidak mau makan malam di sini ?"
"Lain kali saja Tante, Om Kia pulang dulu!"
"Hati-hati kalau kalau ada batu minggir, kalau jatuh bangun sendiri!"
" Rumah tinggal 5 langkah doang sampai jatuh ,emang aku masih anak kecil apa!" Ucapku kesal yang disambut tawa oleh tante dan om Fino.
Rencana untuk cerita kepada mama pada malam hari gagal setelah, aku sudah terlelap tidur pada jam 10.00 malam. Menunggu mama dan papa yang pergi dari habis sholat isya membuatku ketiduran sampai pagi.
Hingga saat sarapan pagi aku baru bisa mengutarakan semua yang dikatakan mas Zain .
"Terserah kamu ,kalau kamu merasa nyaman Mama nggak masalah."
"Kalau papa dengan senang hati memberikan ijin. Semoga dengan kamu bertahan di kantor ,kamu bosa menyukai pekerjaan di kantor."
"Hmm,"jawabku membuat Arvin cekikikan.
"Bener Lo dek papa berharap kamu dapat meneruskan pekerjaan papa !"
"Lihat saja nanti pa. Aku masih belajar adaptasi dengan lingkungan kantor papa dan segala gosipnya."
Ucapku malah membuat papa dan Arvin tertawa.
"Tapi ingat bekerja dengan orang lain tidak sama dengan saat bekerja dengan papa !"
"Mas Zain tahu kamu anak papa gak ?"
"Sepertinya enggak, kenapa memang Vin ?"
"Papa setuju dengan ucapan Arvin," canda papa.
"Biarkan saja, lagian cuma sampai mas Zain dapat pengganti Diana,"ucapku.
"Yakin,"ucap Arvin sambil menyeringai. Aku hanya mengakat bahu acuh,"Kita lihat saja nanti."
Saat aku tiba di kantor dengan papa, nampak Raka sudah datang dan lagi ngobrol dengan Zain. Setelah papa masuk ruangannya, baru Zain nyamperin aku dan langsung menagih jawaban Ku.
"Bagaimana Kia sudah minta persetujuan orang tua ? Sudah di ijinkan ?"
"Mas aku tu baru datang Lo. Tak istirahat, bernafas dulu gitu !"
"Emang kamu lagi tidak bernafas apa?" Aku hanya memutar bola mataku malas, mendengar ucapan Zain.
"Jawab saja Kia, mau kamu terima gak tawaran dia. Biar mas Zain gak mati penasaran,"ucap Raka sambil tertawa kecil.
Belum sempat aku membuka suara, papa memanggilku untuk ke ruangannya. " Ada apa pa?"
"Kamu sudah persiapkan laporan dan berkas buat meting dengan PT. Bintang Digital Jaya."
"Sudah, kemarin waktu mau pulang aku siapkan dulu. Sekarang tinggal cek ulang."
"Ya udah kamu cek, papa hanya mengingatkan saja ko."
__ADS_1
"Ya udah aku cek dulu kalau begitu,"ucapku sambil berjalan keluar.
Saat aku keluar mas Zain dan Raka sudah tidak ada, membuatku bernafas lega. Tapi hanya sesaat begitu aku selesai mengecek kebutuhan buat meting mas Zain nongol lagi.
"Mas Zain gak ada pekerjaan apa?"
"Ada banyak malahan. Tapi mas harus memastikan jawaban mu bisa gak nya, biar mas tenang."
"Oke bisa, tapi sebentar saja. Sampai mas Zain mendapatkan sekertaris baru. Karena itu lebih baik mas segera mulai mencari."
"Oke nanti mas akan hubungi bagian yang menangani. Thank you for the help Kia."
"Just relax, but I beg you to immediately find a new secretary."
Aku kira hanya rapat berdua dengan papa,ternya bersama mas Pandu dan Raka.
"Ayo. Tamu sudah datang,"ucap papa mengajak kami untuk menyambut tamunya.
"Selamat datang di perusahaan kami!"
"Terima kasih atas sambutannya."
Papa dan para tamunya berjalan menuju ruang meeting dengan mengobrol ringan. Tamunya ada 3 orang lelaki seumuran Raka semuanya.
"Memang papa mengenal mereka ?" Bisik Ku pada Raka, saat melihat keluwesan papa dalam membuka obrolan.
"Tidak baru kali ini kita menjalin kerjasama dengan mereka. Tapi itulah skill yang harus di miliki pimpinan perusahaan seperti pak Alfian."
Rapat diawali papa mengenalkan kami dan dilanjutkan aku yang membagi materi rapat. Dengan luwes mas Pandu dan Raka , mempresentasikan produk yang mereka minati. Dilanjutkan dengan tanya jawab seputar aplikasi. Kurang lebih hampir 2 jam ahkirnya rapat selesai dan ditutup dengan tanda tangan kontrak.
"Semoga kerja sama ini bisa langgeng,"ucap papa.
"Semoga pak Fian. Bagaimana kalau kita lanjutkan dengan makan siang bersama di resto sekitar sini." Ucap lelaki yang tadi memperkenalkan diri bernama Dwiyanto.
"Maaf sayang sekali, saya dan sekertaris saya masih ada urusan. Bagaimana kalau kalian makan siang bersama Pandu dan Raka! Saya jamin mereka bisa menemani mas Dwi dan rekan-rekan yang lain."
Ucapan papa membuat sedikit bingung, karena setahuku papa tidak ada jadwal lagi sampai pukul 2 siang.
"Wah sayang sekali bagaimana kalau lain kali saja !"
"Boleh kalau tidak ada jadwal yang bentrok,"ucap papa sopan. "Raka, Pandu tolong jamu tamu-tamu kita!"
"Siap pak! Mari pak Dwi, pak Anto dan pak Harto." Ucap Pandu sopan.
"Memang Kita habis ini ada di tempat?"
"Tidak ada!"
"Lah Terus yang tadi berarti Papa bohong dong ?"
"Iya! Papa tidak suka anak gadis papa dilihatin dengan Pandangan mesum seperti Dwi tadi!"
Sontak aku menahan tawa," Aku tak menyangka papa masih mengagapku seperti anak kecil."
__ADS_1
"Meskipun kamu sudah 23 tahun, buat papa itu kamu seperti anak berumur 2 + 3."
"Ah papa masak aku di samakan seperti anak kecil berumur 5 tahun." Dongkol ku dengan berjalan mendahului papa.