Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
Axel Merawat Afifah


__ADS_3

Setelah perjalanan dari rumah sakit, akhirnya mereka sampai juga di depan rumah Afifah. Axel membantu Afifah turun dari mobil dan setelah itu Afifah duduk di kursi roda. Karena tubuh Afifah yang masih lemah.


Lalu setelah itu, Axel mendorong kursi rodanya menuju rumah Afifah.


"Kuncinya mana?" tanya Axel.


"Ini." Afifah memberikan kunci yang masih tersimpan di gamis bajunya. Untunglah waktu dirinya mau buka toko, Afifah gak bawa barang-barang seperti tas, hp dan yang lainnya. Afifah hanya membawa kunci rumah dan kunci toko, untuk buka toko. Afifah gak bawa hp karena rencananya jam 11 sudah mau pulang. Karena Afifah malemnya itu kadang tidur jam 1 malam karena mencatat dan menyiapkan barang-barang yang di beli orang secara online.


Memang akhir-akhir ini, lebih banyak yang beli secara online dari pada offline. Sehingga Afifah lebih suka jualan di rumah dari pada di pasar. Di pasar Afifah buka tiap hari, karena takut ada yang menunggu dagangannya. Karena ada dari mereka yang gak tau hp seperti para emak-emak yang gak pernah megang hp, jadi kalau beli baju harus ke pasar.


\==


Setelah membuka pintunya, Axel langsung mendorong kursi rodanya masuk ke dalam.


"Aku bantu kamu berbaring di kamar ya." ujar Axel.


"Tapi ... ?"


"Gak boleh nolak, kamar kamu sebelah mana?!"


"Paling depan."


Axel langsung mendorong kursi roda masuk kamar depan (kamar utama). Lalu setelah itu, Axel membantu Afifah berbaring di atas kasurnya.


"Aku izin pinjem dapurnya boleh?"


"Buat apa?!"


"Aku ingin buat bubur untuk kamu, kamu kan belum makan siang dan kamu juga harus minum obat. Boleh ya?" izin Axel.

__ADS_1


"Kenapa buburnya gak beli di luar aja, aku gak mau ngerepotin kamu."


"Aku gak suka beli di luar. Lagian aku bisa bikin sendiri, lali kenapa haru beli. Lagian aku gak merasa di repotkan sama sekali. Aku ke dapur dulu ya."


"Iya." jawab Afifah pasrah. Walau gak di izinin, Axel tetap akan maksa ke dapur jadi mending di biarin aja.


Axel membuat bubur dengan penuh cinta dan kasih sayang.


Setelah 15 menit, akhirnya bubur pun sudah jadi.


Alexa membawa bubur itu dengan segelas air dan membawanya ke kamar Afifah


"Ini buburnya sudah matang." ujar Axel.


"Aku gak nyangka, mas bisa masak bubur juga."


"Aku bisa jika gak terlalu rumit buatnya. Aku suapin ya?"


"Aku akan pulang setelah kamu menghabiskan bubur ini dan juga setelah selesai minum obat."


"Hemm." Afifah gak terlalu menanggapinya


"Enak buburnya?"


"Lumayan." jawab Afifah cuek.


Setelah itu, Axel diam memperhatikan Afifah makan. Setelah selesai makan, Axel memberikan segelas air kepada Afifah.


"Ini minum dulu." ujar Axel.

__ADS_1


Afifah mengambil gelas itu dan meminumnya.


"Ini obatnya." ujar Axel sambil memberikan obat yang dapat dari rumah sakit tadi.


Afifah pun minum obat itu. Setelah selesai, Afifah memberikan mangkog dan gelas kepada Axel dan Axel pun menaruhnya di dapur dan tak lupa mencucinya terlebih dahulu. Axel juga membersihkan dapur yang sedikit kotor karena buat bubur tadi.


Setelah selesai semua, Axel kembali ke kamar Afifah.


"Mas Axel kenapa sih perhatian banget ke aku? Padahal aku hanya anak yatim piatu, miskin. Bahkan derajat kita itu jauh banget. Aku gak setara dengan Mas Axel. Mas Axel adalah Ceo dan pengusaha termuda yang sangat sukses bahkan kini semua usaha Mas Axel sangat maju sekali sedangkan aku, aku hanya mantan Cleaning Service di tempat Mas Axel. Tapi kenapa Mas Axel memberikan aku perhatian lebih seperti ini?"


"Karena aku mencintai kamu, Afifah. Lagian aku gak peduli kamu orang miskin ataupun orang kaya. Karena yang aku lihat, bukan seberapa banyak uang yang kamu punya melainkan seberapa tunduk nya kamu di hadapan Allah. Karena aku butuh wanita sholehah, bukan wanita kaya. Aku butuh wanita seperti kamu untuk mendidik dan membimbing anak-anak ku kelak agar mereka gak salah jalan.


Aku ingin mempunyai anak yang sholeh dan sholehah, untuk itu aku aku harus mencari istri yang sholehah juga. Istri yang bisa berbakti dan suami, menyayangi kedua orang tuaku dan bisa rukun dengan semua saudaraku serta bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku. Untuk itulah aku ingin menjaga dan melindungi kamu sampai kita sah jadi suami istri." ucap Axel panjang lebar.


"Lalu bagaimana jika ternyata aku bukan jodoh kamu mas?" tanya Afifah.


"Biarlah itu jadi urusan Allah, jika memang kamu bukan jodohku. Maka aku akan belajar ikhlas melepaskan kamu untuk orang lain. Mungkin aku belum cukup baik buat kamu."


"Tapi mas...."


"Sudahlah kamu gak usah memikirkan yang berat berat, nanti kepala kamu sakit. Aku akan pulang, kamu istirahat yang nyenyak ya."


"Iya ... Terimakasih sudah mengantarkan aku pulang dan sudah buatin aku bubur."


"Iya sama-sama, aku pulang dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Dan setelah itu Axel pun pulang, ia juga tak lupa menutup pintu rumah Afifah terlebih dahulu.

__ADS_1


Ia segera kembali ke kantor sebentar karena ini masih jam setengah 4 sore. Namun sebelum nyampek kantor, Axel singgah dulu ke masjid untuk sholat ashar.


__ADS_2