
Afifah kini sangat bahagia, karena paman dan bibinya sudah masuk penjara atas kasus pembunuhan dan juga atas kasur penipuan.
"Gimana, apakah kamu sudah bahagia?" tanya Axel.
"Iya, mas. Sangat sangat bahagia. Karena pembunuh kedua orang tuaku sudah masuk penjara dan mereka akan mendekam seumur hidup karena menghilangkan dua orang nyawa sekaligus. Aku juga sangat bahagia karena aku kembali ke rumah orang tuaku. Rumah yang di bangun oleh ayah dan ibu aku. Aku juga sangat bahagia, karena toko ayah kini akan menjadi milikku dan aku akan mengelolanya dengan sebaik mungkin." jawab Afifah.
"Aku akan membantumu agar toko ayahmu itu bisa maju dan berkembang pesat." ucap Axel.
"Gak usah mas, aku ingin berjuang sendiri sama seperti ayah dan ibu. Aku ingin mandiri agar aku tau bagaimana caranya berjuang dalam hal berbisnis. Aku berjanji aku akan berusaha terus sampai toko ayah maju dan berkembang tanpa bantuan siapapun. Dan aku akan berhenti dari pekerjaanku. Gak papakan?" tanya Afifah.
"Gak papa, aku mengerti bagaimana keadaan kamu sekarang. Jika aku ada di posisimu, mungkin aku akan melakukan hal yang sama seperti apa yang kamu lakukan sekarang. Aku bangga, karena kamu memilih untuk berjuang sendiri dari pada menerima bantuanku. Padahal jika orang lain, pasti mereka akan langsung bilang iya tanpa berfikir dua kali. Beda dengan kamu, jujur aku salut sama kamu. Aku doakan agar kamu bisa memulai bisnis dengan baik dan aku doakan kelak kamu akan menjadi wanita yang luar biasa. Tapi jika kamu butuh bantuanku, kamu gak perlu sungkan sungkan. Karena aku pasti akan membantumu dengan sepenuh hati." jawab Axel.
"Iya mas, aku mengerti dan terima kasih karena maz mengizinkan aku untuk berhenti dari pekerjaanku. Mulai besok, aku akan pergi ke pasar. Aku ingin menjaga toko ayah. Aku akan jualan baju muslim dan muslimah seperti ayah dulu." ujar Afifah.
"Kalau boleh aku saranin, kamu jangan hanya menjual secara offline tapi juga online. Karena sekarang kebanyakan anak anak dan emak emak zaman now, lebih suka belanja online. Tapi jualan online pun juga butuh ilmu agar laku keras." jawab Axel.
__ADS_1
"Terus apa yang harus aku lakukan, agar bisnis onlineku bisa laris dan laku keras di masyarakat?" tanya Afifah.
"Pertama, kamu harus kenali nilai jual produk kamu sendiri. Kalau bisa kamu harus jual dengan harga terjangkau namun kualitas tetap harus super dan mewah agar orang gak kecewa jika beli barang sama kita. Jika mereka puas, maka mereka akan membeli barang ke kita lagi dan mereka akan menjadi pelanggan setia kita. Dan kamu juga harus buat website toko online kamu sendiri." ujar Axel.
"Baiklah nanti aku coba," balas Afifah
"Sip, jika kamu ada kekurangan biaya atau apapun. Jangan lupa hubungi aku ya." ujar Axel.
"Iya." ucap Afifah tersenyum.
Adzriel gak boleh egois, ia gak boleh memikirkan dirinya sendiri. Ia juga harus memikirkan Afifah, orang yang ia cintai. Adzriel juga akan menyurush seseorang untuk mengawasi gerak gerik Afifah, bagaimanapun ia hidup seorang diri tanpa punya keluarga atau orang dekat yang bisa melindunginya. Untuk itu, Adzriel akan menyewa jasa orang lain agar bisa mengawasinya 24 jam. Adzriel akan menjaga Afifah dari jarak jauh dan tentu tanpa sepengetahuan Afifah karena bagaimanapun jika Afifah sampai tau, dia pasti akan marah karna dia gak suka jika ada yang mengawasi gerak geriknya.
Mengapa rasanya jatuh cinta seruwet dan seribet ini. Padahal ini pertama kalinya, Axel jatuh cinta tapi rasanya seperti ini, gak bisa jalan mulus seperti di sinetron. Terlalu banyak halangan dan rintangan yang harus ia lalui.
Dan baru beberapa jam gak bertemu, rasanya Axel sudah kangen berat. Lalu bagaimana jika sampai berhari hari, atau berbulan bulan bahkan sampai bertahun tahun, akankah Axel bisa menahan rasa rindu yang seperti membuat dada terasa sangat sesak.
__ADS_1
Tapi Axel juga gak mau mengganggu Afifah. Axel ingin Afifah fokus dengan cita citanya, cita cita yang sangat ia impikan dari dulu. Impian dirinya dan juga impiran kedua orang tuanya.
Lalu bagaimana mungkin Axel akan selalu muncul dan mengganggu semuanya apalagi gerak geriknya juga di pantau oleh aby nya. Walaupun kini Axel sudah dewasa tapi apa yang ia lakukan tak perlah lepas dari pantauan ayahnya.
Axel gak ada semangat untuk mengerjakan tugas tugas kantor. Axel pun memanggil Sam.
"Sam, segera keruanganku." ucap Axel.
Dan tak lama kemudian, Sam pun datang.
"Ada apa pak?" tanya Sam.
"Kamu kerjakan semua berkas berkas ini, jika memang ada yang butuh tanda tanganku, kamu taruh aja di atas meja. Dan semua meeting hari ini, kamu yang menggantikan posisi aku kecuali meeting yang sangat penting dan gak bisa di wakilkan, kamu boleh kasih tau aku. Aku mau keluar dulu." ujar Axel menjelaskan panjang lebar.
"Iya pak." hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Sam. Seberat apapun pekerjaan Sam, ia hanya bisa berkata iya dan gak pernah membantahnya. Mengingat gajinya tiga kali lipat dari karyawan lainnya jadi wajar jika pekerjaannya pun juga berat dan sangat banyak.
__ADS_1
Axel pun segera pergi dari kantornya. Ya itulah Axel, dia adalah bos dan dia bisa melakukan apapun yang ia mau. Ia bisa keluar masuk jam berapa aja tanpa ada yang melarangnya.