Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
Mimpi Bayi


__ADS_3

Setelah selesai sholat Isya'. Axel dan Alexa duduk di depan rumah di kursi gantung. Mereka mengobrol setelah sekian lama jarang ngobrol berdua seperti ini.


"Gak nyangka ya kak, bentar lagi kita akan nikah," ujar Alexa tersenyum.


"Iya. Aku harap kelak keluarga kita selalu di berikan kebahagiaan," ucap Axel yang entah akhir akhir ini ia mimpi seorang bayi. Namun Axel tak tau itu bayi siapa.


"Aamiin. Aku bahagia bisa bersatu kembali dengan Mas Andi dan aku janji apapun yang terjadi, aku gak akan melepaskan Mas Andi," kata Alexa. Ia tak ingin mengulangi kesalahan yang sama.


"Iya. Harus begitu memang. Andi itu orang yang sangat baik dan juga tulus," ujar Axel tersenyum.


"Tapi kak, kenapa aku jarang lihat kakak sama Afifah?" tanya Alexa.


"Dia sibuk jualan baju kan di pasar. Lagian bentar lagi aku dan Afifah akan menikah. Ya jadinya memang jarang ketemu. Tapi nanti saat kita pergi ke butik untuk pilih baju, baru deh aku akan mengajak dia. Nanti kita berempat. Aku dan Afifah, kamu dan Andi,"

__ADS_1


"Apakah kakak bahagia dengan Afifah?" tanya Alexa yang melihat wajah saudara kembarnya seperti ada beban tersendiri.


"Aku bahagia," jawab Axel tersenyum.


"Jangan bohong kak. Kita ini saudara kembar. Aku seperti merasakan kakak tidak bahagia dan seperti ada beban tersendiri," ujar Alexa jujur.


"Aku gak kenapa-kenapa. Mungkin itu hanya perasaanmu saja,"


"Ayolah kak jujur sama aku, ada apa? Kita ini sudah sama-sama dewasa. Kakak jangan bohongin aku layaknya anak kecil," ucap Alexa.


"Apakah kakak pernah nidurin seorang wanita saat pergi keluar negeri?" tanya Alexa.


"Ngacok kamu. Mana mungkin aku nidurin seorang wanita. Saat aku di luar negeri, aku sibuk kuliah dan kerja. Bahkan gak kefikiran buat cari wanita di luar sana. Waktuku selalu habis buat belajar dan bekerja," jawab Axel jujur

__ADS_1


"Terus itu bayi siapa?" tanya Alexa.


"Mana aku tau," jawab Axel.


"Kakak mungkin pernah di jebak sama orang lain sehingga kakak gak sadar saat melakukan hubungan sama wanita lain dan sekarang wanita itu hamil," ucap Alexa.


"Gak mungkinlah. Itu sangat gak mungkin. Masalahnya aku itu gak pernah bergaul sama orang-orang kecuali orang terdekat itupun hanya beberapa orang saja. Dan aku gak pernah makan dan minum yang di kasihkan orang lain. Makanan dan minuman yang masuk ke dalam perutku sudah terjamin kehalalannya dan juga di pastikan gak ada apapun,"


"Terus bayi yang terus ada di dalam mimpi kakak itu, bayi nya siapa. Gak mungkinkan bayinya Afifah," ujar Alexa.


"Hah! Kamu tambah ngacok ngomongnya. Mana mungkin Afifah yang begitu menjaga tubuhnya agar tak tersentuh orang lain tiba-tiba hamil. Itu sangat tidak mungkin. Kita kan tau sendiri bagaimana kehidupannya selama ini. Aku juga sudah membayar orang buat menjaga dia selama aku ada di luar negeri. Bukan cuman aku, tapi Aby juga. Dia juga menjaga Afifah dengan menyewa jasa orang lain. Lalu bagaimana mungkin Afifah hamil? Jika memang iya, aku gak melihat ada keanehan di diri Afifah. Sudahlah, mungkin itu bayi orang lain. Atau itu pertanda aku akan jadi seorang ayah. Siapa tau itu anakku kelak bersama Afifah. Berfikir positif ajalah," ujar Axel yang mencoba menenangkan perasaannya sendiri dari pada berfikir negatif yang belum tentu terjadi. Axel gak mau berprasangka buruk.


"Iya deh. Kita berdoa aja sama Allah, agar semuanya baik-baik saja. Semoga Allah selalu melindungi kita semua dan menjauhkan kita dari segala marabahaya," ucap Alexa tersenyum.

__ADS_1


"Iya udah sekarang kita tidur yuk. Udah malem nih. Besok kamu harus kerja kan? Aku juga besok ada meeting jam setengah 8 pagi dan aku harus menyiapkan semuanya l, setengah jam sebelum meeting itu di mulai," ujar Axel.


"Iya udah ayo." Akhirnya mereka pun langsung pergi ke kamar tidur masing-masing.


__ADS_2