Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
Sambutan untuk Balqis


__ADS_3


 


Malam harinya, Dedi menelvon Adzriel dan mengatakan bahwa setengah jam lagi putrinya akan sampai di Bandara. Adzriel pun bersama dengan Zahra menjemput Balqis di bandara.


"Sayang, apakah Balqis gak benci aku lagi?" tanya Zahra saat mereka ada di dalam mobil menuju Bandara.


"Enggak sayang, ngapain dia benci kamu. Kamu gak ada salah sama dia. Lagian aku yakin kog Balqis telah berubah dan aku yakin kalian bisa akrab layaknya saudara." Jawab Adzriel.


"Ya semoga aja, aaminn." Ujar Zahra tersenyum.


Setelah 20 menit mengemudi akhirnya mereka pun sampai di bandara. Adzriel menunggu bersama istrinya dan taka lama kemudian, ia melihat Balqis dan suaminya. Walau Balqis memakai cadar tapi Adzriel bisa memastikan itu adalah Balqis apalagi ia berdampingan dengan laki laki yang mana wajahnya sudah tersebar di media sosial. Dan itu membaut Adzriel tambah yakin dengan apa yang ia lihat.


"Sayang, ayo ke sana. Itu Balqis dan suaminya." Ujar Adzriel.


"Ayo sayang." Ucap Zahra.


Adzriel dan Zahra menghampiri Balqis dan suaminya.


"Assalamualaikum." Ujar Adzriel.


"Waalaikumsalam." Jawab Balqis dan suaminya bersamaan.


"Mas Adzriel kenapa bisa ada di sini?" tanya Balqis bingung.


"Aku dan suamiku ke sini untuk jemput kamu." Jawab Zahra antusias.


"Benarkah? Dari mana kalian tau kalau kami datang malam ini?" tanya Balqis.


"Tadi papa kamu nelvon Mas Ariel dan dia bilang kalau kamu akan tiba di bandara setengah jam lagi. Jadi aku dan suamiku segera ke sini buat jemput kamu." Lagi lagi Zahra menjawab dengan penuh semangat.


"Ayo, aku bawakan tasnya." Ujar Zahra sambil mengambil tas yang di pegang oleh Balqis.


"Ayo, jangan bengong. Mas kamu gandeng suaminya ya biar dia gak ilang." Ujar Zahra sambil menggandeng Balqis dan membawakan tas kecil punya Balqis menuju mobilnya sedangkan Adzriel dan Aksa berjalan di belakangnya melihat tingkah laku Zahra yang begitu antusias sedangkan Balqis hanya menurut apa yang di katakan oleh Zahra.


Aksa duduk di depan di samping Adzriel yang lagi mengemudi sedangkan Zahra dan Balqis duduk di belakang.


"Kamu pasti lapar ya, sabar ya.....Nanti makan di rumah." Ujar Zahra sedangkan Balqis kikuk dan bingung harus berbuat apa. Walau ia pernah melakukan kesalahan di masa lalu tapi Zahra sanga welcome kepadanya bahkan Balqis bisa melihat dari sorot matanya kalau Zahra tulus berbicara padanya bahkan ia tak melihat ada dendam dan luka di matanya.


"Aku gak lapar kog." Jawab Balqis gugup. Bagaimana pun ia pernah melakukan kesalahan besar di masa lalunya dan ia masih malu atas perbuatanya di masa lalu itu.


"Oh gitu, aku fikir kamu lapar. Mulai malam ini kamu tidur di rumah kami ya." Ujar Zahra yang terus ngomong panjang lebar dan berusaha mengakrabkan diri.


"Tapi aku mau pulang ke rumah papa." Ucap Balqis sedangkan Adzriel dan Aksa hanya jadi pendengar setia tanpa ada yang mengeluarkan kata kata.


"Kenapa? Apa karena ada aku di rumah itu?" tanya Zahra dengan nada sedih yang membuat suaminya hawatir karena memang istrinya itu agak cengeng sejak ia hamil.


"Bukan....bukan karna ada kamu. Sungguh, aku cuma kangen sama rumah yang dulu pernah aku tempati." Jawab Balqis yang jadi serba salah


"Sudahlah yank, kita malam ini menginap aja di rumah mereka." Ujar Aksa yang berusaha menangahi mereka.


"Itu suamimu mau kog. Kenapa kamu gak mau? Jika kamu kangen rumah mu yang dulu, kamu bisa ke sana lain waktu. Bukankah kamu di sini dengan waktu yang sangat lama? Apa kita tak bisa jadi saudara?" tanya Zahra.


"Eh bisa bisa. Aku senang jika kamu menganggapku sebagai saudaramu. Sungguh." Jawab Balqis yang gak mau melhat Zahra sedih lagi.

__ADS_1


"Beneran? Kamu mau jadi saudaraku?" tanya Zahra.


"Iya bener." Jawab Balqis.


Zahra pun memeluk Balqis.


"Makasih ya, aku senang bisa akrab kayak gini sama kamu. Aku harap kita tak lagi ada masalah di antara kita. Aku lebih suka kita kayak gini. Tersenyum bahagia tanpa adanya rasa sakit." Ujar Zahra.


"Iya aku harap kita selamanya kayak gini." Ucap Balqis sambil membalas pelukan Zahra. Balqis merasa bahagia karena ternyata sediktipun Zahra tak ada dendam dan ia malah menganggap dirinya sebagai saudara. Padahal tadinya ia merasa malu dan takut untuk menginjakkan kaki lagi di Indonesia tapi setelah ia mendapatkan sambutan yang begitu hangat membuat Balqis bersyukur karena itu tandannya ia bisa bersama dan hidup bahagia lagi bersama orang orang yang ia sayangi.


Setelahs sampai di rumah, mereka pun langsung turun dari mobil.


"Ini rumah barumu Mas?" tanya Balqis.


"Iya, maaf karena rumahnya tak terlalu besar." Jawab Adzriel.


"Ini sudah besar bahkan lebih besar dari rumahku." Jawab Aksa.


"Ayo masuk, jangan di luar." ujar Zahra.


Mereka berempatpun masuk dan membuka pintu dan


"Kejutaaaaaannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn." Ujar Zahra sambil membuka pintu rumahnya.


"SubhanaAllah, kalian yang bikin ini semua?" tanya Balqis tak percaya melihat sambutan yang ia dapatkan dari Zahra, mantan suaminya dan juga dari bundannya.


"Ia, kamu suka gak?" tanya Zahra.


"Suka banget. Makasih ya......" Ujar Balqis sambil memeluk Zahra. Ia sangat terharu dengan apa yang ia dapatkan hari ini. Kebahagiaan yang sudah lama tak ia rasakan kini ia bisa merasakannya kembali.


Mereka melewati lorong lorong yang sudah di hias hiingga sampai di ruangan, Balqis dan Aksa di kejutkan dengan tujuh kue yang sanga mewah.


"Wau, kenapa banyak kue di sini?" tanya Balqis.


"Ini aku dan bunda yang buat. Semoga kamu suka ya." Jaawab Zahra dan tiba tiba Aulia keluar dari salah satu ruangan bersama dngan Axel dan Alexa.


"Bunda." Ujar Balqis.


"Sayang, kamu sudah sampai?" tanya Aulia.


"Iya bunda." Jawab Balqis sambil menghampiri Aulia dan memeluknya.


"Ini suamimu?" tanya Aulia setelah lepas dari pelukan Balqis.


"Iya, ini suami aku bunda. Mas, perkenalkan ini bunda aku." Ujar Balqis.


"Perkenalkan bunda, saya Aksa suami Balqis." Ucap Aksa sambil mencium tangan Aulia.


"Kamu sangat tampan nak." Puji Aulia.


"Terima kasih bunda, tapi kayaknya lebih tampanan putra bunda." Ujar Aksa tersenyum yang membuat semua di sana jadi tertawa.


"Kamu mau makan kuenya apa langsung mau istirahat?" tanya Aulia.


"Emmm kayaknya makan kue dulu deh bun, soalnya kuenya sangat menggoda. Buatan Zahra yang mana?" tanya Balqis.

__ADS_1


"Ini, 6 kue ini buatan Zahra semua sedangkan yang ini buatan bunda." Jawab Aulia.


"Baiklah, aku akan mencoba kue buatan Zahra aja. Boleh kan Zahra?" tanya Balqis.


"Boleh, kamu mau yang mana biar aku potongkan." Jawab Zahra antusias.


"Yang ini aja deh.' Ujar Balqis memilih salah satu kue yang di buat oleh Zahra.



Zahra pun memotongkan kuenya dan memberikan kepada Balqis.


"Ini." ucap Zahra sambil memberikan kua yang telah ia potong.


"Kog dua?" tanya Balqis.


"Buat kamu dan suamimu." Jawab Zahra tersenyum.


Balqis pun mengangguk dan memberikan kue itu kepada suaminya. Setelah itu ia memotong kue lagi buat Adzriel dan memotong lagi buat Aulia dan setelah itu, ia memotong lagi buat kedua buah hatinya dan setelah itu ia memotong kue untuk dirinya sendiri.


"Eh bentar, aku baru sadar ada dua anak kecil di sini." Ujar Balqis yang melihat Zahra memberikan kue untuk Axel dan Alexa.


"Oh ya ini anak anakku, namanya Axel dan Alexa." Ucap Zahra.


"Assalamualaikumm ponakan tante yang cantik dan tampan." Ujar Balqis sambil memegang kuenya dan menghampiri dua bocah itu.


"Waalaikusmalam tante." Jawab mereka beruda kompak.


"Kenalin ya, nama tante............." belum selesai balqis ngomong, Alexa pun langsug menimpali.


"Aku udah tau tan, nama tante, Tante Balqis kan dan om itu, Om Aksa." Ujar Alexa tersenyum.


"Tau dari mana sayang?" tanya Balqis lembut.


"Tadi omma menceritakan tentang tante, dulu tante sering tinggal di rumah omma pas omma kesepian. Makasih ya tante udah jaga ommaku dulu." Ucap Alexa sambil mencium pipi Balqis.


"Iya sayang sama sama." Jawab Balqis yang senang mendapatkan kecupan dari Alexa.


"Iya udah makan kuenya biar gak meleleh." Ucap Balqis melihat coklat berwarna putih yang mulai meleleh.


"Iya tante." Ujar Alexa terseyum manis yang membuat Balqis jadii gemas dan semua orang di sana tersenyum karena Alexa dan Balqis langsung akrab walau mereka tak pernah ketemu.


 


 


 


 



 


__ADS_1


__ADS_2