
"Pagi sayang lagi ngapain ?" Tanya papa begitu duduk di kursinya, untuk menikmati sarapan pagi buatan mama.
"Kia sibuk nyari artikel tentang dirinya pa,emang dia artis apa,?" cibir Arvin .
"Kamu kan yang kemarin bilang sendiri ,kalau hari ini pasti akan muncul artikel tentang diriku!"
"Haha serasa artis banget lo,"ledek Arvin sambil menyesap kopinya.
"Kia tenang tiada artikel tentang Kia, semua sudah diatasi Raka." Ucap papa sambil mengusap kepalaku.
"Tu calon suami mu kurang apa coba, dia sudah antisipasi takut kamu tidak nyaman."
"Aku adikmu dan mas Raka itu cuma temen mu, tapi ko Lo lebih bela dia sih dari pada aku !"
"Habis kamu gak bisa jujur dengan dirimu sendiri, suka membohongi diri sendiri."
"Maksud Lo apa sih ga jelas ?"
"Emang gw ga tahu kalau Lo itu sebenarnya suka sama mas Raka."
"Sok tahu Lo ?"
"Aku tahu karena sikap mu yang suka ketus pada mas Raka. Tetapi dengan teman ku yang lain kamu biasa saja, dari sana aku simpulkan ketus mu hanya untuk menutupi perasaan mu saja."
"Aku melakukan itu untuk menjaga hatiku, kamu kan gak tahu apa yang terjadi."
Ingin sekali aku bilang kalau aku pernah di PHP dan sekarang dia ngajakin nikah, emang kamu pikir aku akan percaya.
"Makanya cerita biar aku tahu, siapa tau aku bisa ngasih solusi!"
"Udah-udah mau sarapan atau mau berantem,!" tegur mama.
"Kia berangkat dulu!"
"Tapi motor Kia masih di kafe Lo tidak bareng papa saja,"ucap mama.
"Kia bawa mobil saja ma." Ucapku sambil mencium punggung tangan mama dan papa, sebelum berangkat ke kantor.
Dengan mengendarai mobilku aku berangkat duluan meninggalkan papa. Aku merasa ada beberapa orang yang melihat kearah ku sambil berbisik-bisik, begitu aku masuk ke dalam gedung perkantoran tempat kantor papa berada .
Gedung kantor papa terletak di lantai 25 dan 24, di gedung dengan ketinggian 35 lantai ini terdapat banyak perkantoran dari berbagai bidang usaha.
"Dia kan yang keluar dari hotel pukul 3 pagi dengan Caraka Tirta Rudyatmo."
"Kira-kira pacarnya apa cuma FWB Friends with Benefits." Ucap salah satu sambil tertawa.
"Ya wajarlah Caraka Tirta Rudyatmo kan hot banget, wajahnya juga tampan. Aku juga mau kalau di beri kesempatan dekat dengan dia."
__ADS_1
"Apalagi dompetnya jangan di ragukan !"
"Ga usah di dengarkan,"ucap Raka yang tiba-tiba merangkul pinggangku. Karena terlalu mendengar ucapan mereka aku tidak sadar Raka sudah berada di sampingku .
Aku melihat para perempuan tadi melihat kagum kearah Raka, seolah mau menerkam Raka. Bahkan saat kami satu lift mereka tidak malu menggoda Raka. Begitu sampai di lantai yang kami tuju, aku langsung keluar.
"Maaf aku hanya bisa menghapus artikel pagi ini yang hendak terbit. Aku tidak bisa menghapus artikel yang sudah terbit kemarin sore." Ucap Raka yang duduk di depan meja kerjaku.
"Sudahlah mas ga usah di bahas, sudah terlanjur terbit. Meskipun bisa di hapus, mas tidak akan bisa menghapus memori orang-orang yang sudah membaca dan sudah melihat Fotoku."
"Wah pagi-pagi sudah pacaran saja," ucap Safitri yang baru datang.
"Apaan sih Lo,"ucap Raka sambil berjalan ke meja kerjanya.
"Kamu sangat beruntung baru kerja di sini langsung bisa gaet Raka. Raka itu salah satu incaran wanita Single di kantor juga di gedung ini."
"Masak sih mbak."
"Iya, apalagi setelah artikel kemarin yang menyebutkan siapa Caraka Tirta Rudyatmo." Aku hanya tersenyum tipis, menanggapi ucapan mbak Safitri.
"Pagi-pagi udah ngerumpi saja," ucap mbak Franda menegur mbak Safitri.
"Sabar ya,"ucap mbak Franda sambil mengusap bahuku. Tentunya setelah Safitri kembali ke meja kerjanya.
Aku tahu dampak dari fotoku yang tersebar kemarin sore, mengakibatkan pandangan buruk orang terhadapku. Seorang wanita keluar dari hotel pukul 3 pagi, dengan seorang lelaki. Aku tahu sekarang kenapa papa mengusulkan untuk menikah langsung dari pada bertunangan.
"Jangan di lihat, jangan di dengarkan anggap saja mereka tidak ada." Bisik mbak Franda saat kami masuk ke rumah makan.
Bagaimana ga didengar bisik-bisik tapi kencang, gak dilihat tapi di depan mata.
"Apapun yang kamu lakukan dengan Raka itu urusan kalian sebagai manusia dewasa, bukan hak mereka untuk menilai atau menghakiminya." Ucap Safitri yang mulai terpancing dengan tatapan mereka.
"Aku setuju, jangan di dengarkan ucapan mereka," ucap Diana. Kami makan siang hanya dengan para wanita, karena tanya kami meninggalkan para lelaki yang masih di mushola kantor.
Jujur aku gak bisa menelan makanan ku, aku juga gak bisa bersikap cuek seperti biasanya.
"Kelasnya melati bukan bintang 5 broo. Sanggup lah kantongku!"
"Cantik, kulitnya mulus bro, pasti perawatannya mahal itu."
"Karena itu dia cari sampingan , berapa sih gaji karyawan magang."
"Hahaha bener-bener."
"Boleh sana tanya tarifnya berapa perjam."
Rasanya aku ingin menghajar mulut mereka. Tapi mengingat ini di tempat umum dan mereka tidak menyebutkan namaku secara langsung, membuatku hanya bisa mencengkram sendok yang lagi ku pegang .
__ADS_1
"Ayo balik ke kantor !" Ucap mbak Franda sambil menarik tanganku.
"Hai manis boleh tahu tarifnya permalam?" Tanya seorang lelaki yang tadi juga ikut membicarakan ku. Tangannya memegang tanganku dan menghentikan langkahku.
"Bro tangannya mulus."
Brakkk !
Dengan emosi yang sudah siap meledak,aku banting tubuh Lelaki yang mencoba mengelus tanganku.
"Bangsat berani Lo dasar wanita murahan!" Ucapnya marah sambil berusaha bangun di bantu temannya.
"Ternyata dia kucing garong bro butuh bantuan gak untuk menjinakkannya ?" Ucap temannya, sambil melihat kearah ku dengan tatapan mesum.
"Kalian maju dasar banci bisanya cuma bisa merendahkan wanita." Ucapku yang ternyata langsung memancing emosi mereka bertiga.
"Kemana sih mas Ari lama sekali." Suara mbak Franda terdengar sangat cemas.
Saat mereka bertiga hendak menyerang ku muncul Raka, mas Ari, Zain, Pandu dan Bambang.
"Kalian tidak malu hendak menyerang seseorang perempuan ?" Ucap mas Ari yang sudah berdiri di depanku.
"Kalian jangan ikut campur, apa jangan-jangan kalian juga menginginkan wanita itu."
Bugh bugh bugh , brakkk bugh bugh brakkk. Suara pukulan dan suara kursi jatuh serta jeritan terdengar memenuhi ruangan. Dimulai Raka yang memukul seseorang yang baru berbicara denganku, berlanjut dengan pukulan yang membabi buta Raka. Baku hantam baru berahkir ketika pihak keamanan datang dan membawa kami ke pos pengamanan.
"Dia yang memukul saya duluan jadi saya mau semua di proses secara hukum."
"Saya setuju di proses secara hukum, karena saya yakin ada CCTV di ruang itu. Karena itu saya juga akan menuntut balik mereka, dengan tuntutan pelecehan seksual secara verbal."
"Dasar wanita murahan aku pastikan kamu meminta maaf kepada ku!"
"Aku juga akan pastikan kamu membusuk di penjara." Ucap Raka yang kedua tangannya di pegang mas Ari.
"Sayang kamu tidak apa-apa." Ucap papa yang begitu datang langsung memelukku.
"Maaf Kia membuat masalah semakin runyam." Ucapku sambil memeluk papa.
"Ternyata simpanan Om Om,"ucap pemuda tadi.
"Franda antar Kia pulang !"
"Baik pak."
"Tapi pa."
"Kia pulang sekarang sama mbak Franda !"
__ADS_1