
"Aku minta maaf, aku janji gak akan mengulanginya lagi. Tapi tolong hapus foto dan video semalam." Ucap Arvin memohon sambil mengikuti setiap langkahku. Membuat aku jadi kesusahan dalam bergerak, padahal aku lagi sibuk buat sarapan.
"Arvin ini kompor menyala Lo dan ini masih panas , jika aku pukulkan ke kamu kulitmu bisa melepuh lo!" Ancam Ku sambil mengacungkan sotel yang sedang ku pegang kearahnya.
"Ya udah kamu masak aku bantu ya, aku cuci perlengkapan yang kotor saja." Ucap Arvin sambil berjalan kearah wastafel.
Bahkan setelah aku selesai memasak Arvin langsung mengelap komporku sampai bersih.
"Ayo Vin kita sarapan dulu, kamu pasti capek membantu istriku memasak !" Ucap Raka sambil menyodorkan piring pada Arvin .
"Buruan habis makan cucu piring lagi." Ucapku membuat Raka hanya menggelengkan kepalanya.
Setelah selesai makan Arvin langsung mencuci piring, sedang Raka membersihkan meja makan. Sedang aku menonton televisi, karena di suruh Raka istirahat.
Semalam aku kira Arvin akan pulang ke apartemennya, atau ke rumah mama mengingat mama tidak di rumah. Ternyata dugaan ku salah Arvin mengikuti kami pulang, yang ahkirnya Arvin tidur di depan televisi dengan mengelar karpet bulu.
"Cucian sudah beres, dapur juga sudah bersih. Sekarang hapus ya!" Ucap Arvin sambil menyodorkan ponselku padaku.
"Hapus saja sendi!" Ucapku setelah membuka kunci sandi ponsel.
Cukup lama Arvin mencari," Lama banget sih Vin?"
"Tidak ada Kia!"
"Masak sih, sini coba !" Ucapku sambil mengambil ponselku di tangan Arvin .
"Iya ko ga ada," ucapku sambil melihat kearah Arvin dan Raka secara bergantian.
"Kamu yang menghampiri mas?"
"Iya mas takut ada yang menyalah gunakan saja," ucap Raka tanpa rasa bersalah.
"Bagaimana dengan sandi kuncinya kamu tahu?"
Raka tidak menjawab hanya nyengir kuda.
"Kamu hack ponselku?" Teriaku sambil berdiri dan berkaca pinggang menghadap Raka.
Raka menarik nafas panjang," Mas terpaksa, karena kemarin mas nyari kamu gak ketemu. Siapa suruh kamu pergi tanpa kabar." Ucap Raka setelah menarik nafas panjang.
"Terima kasih mas." Ucap Arvin dengan mata berbinar.
"Coba kamu pikir, jika kamu lupa menghapus dan mama melihat bukannya bahaya." Ucap Raka sambil menarikku untuk duduk kembali.
Raka mengusap-usap punggung tanganku dengan sesekali mengecupnya.
"Kapan kamu menghapusnya ?" Tanyaku sambil menatap tajam kearah Raka.
__ADS_1
"Hehe semalam waktu kamu tidur Yang."
"Hah semalam kenapa tadi mas diam saja aku memohon kepada Kia? Aku kira pas mas tadi sibuk di depan laptop ?"
"Haha aku sengaja diam biar kamu membantu Kia, hehe. Kasihan Kia Capek baru pulang dari Australia."
 Ucap Raka yang di cibir oleh Arvin .
"Sekarang sana pulang aku mau sayang-sayangan dengan istriku!"
"Aku di sini saja ,aku tidak punya teman di rumah." Ucap Arvin sambil merebahkan badannya di karpet di depan televisi.
"Tahu gitu tidak gw hapus, gw nyesel !" Dengus Raka sambil menendang kaki Arvin .
"Haha aku setuju, mendingan kamu di sini." Ucapku ikut merebahkan tubuhku di samping Arvin .
"Ya udah aku ikut tidur di sini." Ucap Raka yang langsung merebahkan tubuhnya di antara aku dan Arvin .
"Jadi sempit mas!"
"Gak papa mas suka yang sempit-sempit,"ucap Raka.
"Dasar Mesum, Lalu kenapa semalam aku kamu larang ?"
"Beda, itu di depan umum. Kalau kamu mau pakai baju seksi apapun mas gak larang tapi cuma hanya mas yang boleh lihat."
"Aku setuju saran Arvin , mau aku belikan. Kalau perlu satu toko," ucap Raka santai.
"Gila semua." Ucapku bertepatan dengan bel apartemen yang berbunyi.
"Siapa yang Minggu-minggu begini berkunjung ?" Tanya Arvin melihat kearah kami.
"Mana ku tahu sana buka pintunya !"
"Hai aku di sini adalah tamu," protes Arvin saa ku suruh membuka pintu.
"Ya sudah aku aja yang membukakan pintu." Ucap Raka sambil berjalan kearah pintu.
Karena penasaran aku dan Arvin langsung duduk dan melihat kearah pintu.
"Hai mas Raka, boleh masuk !" Ucap Stevi yang langsung menerobos masuk. Aku dan Arvin langsung saling melihat tingkahnya.
"Wah hati-hati kalau di diamkan bisa jadi duri di dalam pernikahan mu."
"Pernikahan kami masih di rahasiakan,ya." Ucapku sambil memutar bola mata malas.
"Hai semua. Kalian lagi ngapain ?"
__ADS_1
"Ada perlu apa, jika tidak ada yang penting sebaiknya kamu pulang kami mau istirahat !" Ucap Raka dengan menatap tajam kearah Stevi.
"Air kamar mandi di tempatku rusak boleh aku minta tolong?"
"Kamu turun ke bagian pengelola apartemen, di sana ada petugas yang siap bekerja membantu segala permasalahanmu yang kamu alami Selama 24 jam. Jika tidak mau turun kamu bisa menghubungi mereka melalui panggilan telepon !" Ucap Raka sambil duduk di sampingku.
"Lagian ini apartemen mewah, bukan rumah susun yang airnya terkadang macet." Ucap Arvin sambil tertawa kecil.
"Yang pintar sedikit Ding dong mencari alasan." Ucapku kali ini sambil tertawa kecil.
"Sebenarnya aku memang cuma alasan saja,aku kesini cuma mau main saja!"
Wau bukannya malu dan pergi malah mengaku dan sekarang dengan santainya, ikut duduk bersama kami di atas karpet.
"Ada PS boleh dong di mainin ?" Tanyanya yang langsung mendekati tempat PS, padahal tuan rumah belum merespon.
"Ga tau malu,"ucapku sambil berdiri dan berjalan menuju kamar.
"Yang ikut aku jangan di tinggal."
"Kenapa ngikutin aku, itu tamunya ko di tinggal ?"
"Biar nemenin Arvin yang lagi kesepian, aku mau olahraga sama istriku. Kasihan sudah seminggu adikku belum dikasih makan !"
"Salah sendiri di tinggal pergi sebentar sudah ngasih harapan sama perempuan. Ini yang 3 lo."
"Ko sudah yang ketiga, kapan yang pertamanya ?"
"Yang pertama dengan Leora, kedua dengan Nadila dan sekarang Stevie. Jangan suka memberikan harapan terhadap seseorang wanita."
"Aku tidak memberikan harapan yang." Ucap Raka yang sudah mulai mendekap erat tubuhku.
"Tidak memberikan harapan tapi cuma PHP."
"Mereka saja yang terlalu baper yang." Ucap Raka yang suaranya mulai berat.
"Kalau aku hamil bagaimana, kita belum resepsi ?"
"Tidak masalah."
"Tapi umurku baru 24, masak suda punya anak saja,"kesal ku."
"Tidak masalah aku yang akan selalu ada buat kamu, sekarang kita olah raga ya. Kasihan adikku tidak makan selama seminggu." Ucap Raka yang tangannya sudah mulai bekerja, mencari-cari titik sensitif dari tubuhku.
"Kamu kecanduan mas,"kesalku.
"Iya aku sudah mabuk kepayang dengan mu, sekarang ayo kita olahraga dulu!" Ucap Raka yang sudah tidak bisa aku cegah lagi.
__ADS_1
"Aku itu sudah kecanduan sama bau kamu, ayo kita bekerja sama untuk memproduksi Raka dan Kia junior."