
Malam harinya, setelah selesai sholat Maghrib. Aksa mengajak Balqis, Axel dan Alexa untuk jalan jalan. Mereka juga mampir ke restoran milik Adzriel. Axel dan Alexa pun bertemu dengan abynya dan melepas rasa kangen karena beberapa hari gak bertemu. Pertemuan merekapun tak berlangsung lama dan hanya satu jam saja. Karena Aksa masih mau mengajak mereka ke beberapa tempat. Dan tak terasa jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Aksa pun segera mengajak mereka pulang dan sampai di rumah sudah pukul sembilan malam.
Saat mereka turun dari mobil dan mau masuk ke dalam rumah. Lagi lagi Inez datang dengan wajah sembabnya. Entahlah di apain tuh wajah hingga bisa seperti itu.
"Mas Aksa." ucap Inez.
"Apa?" Jawab Aksa dengan wajah masamnya karena kesal dengan datangnya tamu yang tak di undang.
"Aku boleh gak malam ini menginap lagi di sini. Aku takut di rumah sendirian." Ujar Inez dengan tampang yang di buat buat.
Aksa melihat ke arah Balqis dan juga Axel dan Alexa. Balqis hanya mengangkat bahunya sedangkan Axel dan Alexa menganggukkan kepala karena mereka akan mengerjai pelakor itu lagi, siapa suruh datang lagi dan membuaat suasana yang tadinya bahagia jadi seperti ini.
"Baiklah, ayo masuk." Ujar Aksa. Ia sengaja menerima Inez karena ia tau, keponakannya itu ingin sekali menjahili wanita yang ingin merusak rumah tangganya itu.
Setelah di dalam rumah, Balqis mengajak suaminya masuk dalam kamar. Sedangkan Alexa dengan sepenuh hati mengajak wanita itu masuk ke salah satu kamar yang akan ia tempati.
"Aku gak mau tidur di gudang lagi." Ujar Inez dengan wajah jengkelnya.
"Iya ya, gak lagi deh. Sana masuk." Ucap Alexa, ia memang sedikit sabar hari ini karena ia dan saudara kembarnya itu ingin memberikan kejutan lagi kepada wanita itu.
"Aku masih belum mau tidur." Ujar Inez, ia tak mungkin masuk kamar karena takut dua bocah itu akan mengerjainnya lagi. Lagian ia datang ke sini karena sudah merencanakan sesuatu dan ia berharap rencanannya akan berhasil.
"Terus ngapain ke sini kalau gak mau tidur. Aku sudah lelah dan ingin segera istirahat. Jangan bikin aku marah dan mengadukan sikap tante kepada om Aksa ya." Ancam Alexa yang sudah mulai geram.
"Baiklah, tapi aku gak mau di kunci dari luar lagi." Ujar Inez, ia harus sabar menghadapi dua bocah itu atau Aksa akan datang dan mengusirnya.
"Oke, ini kuncinya. Dan tante bisa menguncinya dari dalam." Ucap Alexa sambil memberikan kunci kamar itu kepada Inez, padahal ia sendiri sudah menyimpan satu kunci lagi yang ia taruh di saku bajunya. Untunglah setiap kamar ada kunci duplikat hingga bisa memudahkan Axel dan Alexa melancarkan aksinya.
Inez mengambil kunci itu dan langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengucapkan terima kasih. Alexa hanya bisa menghela nafas dan setelah itu langsung pergi ke kamar menemui saudara kembarnya.
"Gimana?" tanya Axel setelah melihat Alexa datang.
"Dia sudah masuk ke dalam kamarnya." Jawab Axel.
"Oke, tunggu dia tidur dulu, baru kita beraksi." Ujar Axel.
"Kayaknya dia gak akan tidur deh."
"Kenapa?" tanya Axel.
"Aku melihat dari sorot matanya, ia sedang merencanakan sesuatu." Ujar Alexa.
"Terus gimana dong?" tanya Axel.
__ADS_1
"Entahlah aku juga tidak tau kak." Jawab Alexa bingung.
"Oke, gak papa dia gak tidur. Kita bisa tetep merencakan rencana kita." Ujar Axel.
"Terserah kakak deh. Aku nurut aja gimana maunya kakak." Ucap Alexa.
Axel menghubungi seseorang, dia adalah salah satu ayah temannya. Untunglah ia punya teman yang ayahnya adalah seorang pawang ular. Dan Axel berencana mendatangkan ayah temannya itu sambil membawa ular yang paling besar namun tak berbisa karena bagaimanapun ia tak mungkin membiarkan pelakor itu mati sia sia. Ia juga tak ingin menjadi seorang pembunuh. Axel hanya sedikit memberikan pelajaran buat pelakor itu agar jera. Syukur syukur jika dia mau taubat dan tak menganggu suami orang.
Alexa dari tadi mengintip gerak gerik Inez dari CCTV. Untulah setiap ruangan ada CCTV tersendiri hingga membuat Axel dan Alexa sedikit lega karena tak perlu keluar kamar hanya untuk mencari tau apa yang di lakukan oleh Inez.
"Al?"
"Iya ka?" Jawab Alexa.
"Coba kamu buat apa gitu, terus nanti jangan lupa kasih obat pencahar. Biar dia sakit perut terus ke kamar mandi. Nah, pas di kamar mandi kita bisa beraksi." Ujar Axel.
"Tapi kak, buat apa ya enaknya?"
"Terserah apa aja deh, yang penting enak. Kamu kan bisa bikin sesuatu, bukankah umy sudah mengajarkan cara bikin kue dan cara masak yang benar." Ucap Axel.
"Iya sudah, aku ke dapur dulu." Ujar Alexa dan Axel pun hanya bisa menjawabnya dengan anggukan kepala.
Alexa pergi ke dapur dan membuat sesuatu dengan bahan apa ada nya. Tak butuh waktu lama, hanya setengah jam saja, ia pun sudah bisa menyelesaikan semuanya. Karena Alexa hanya membuat bubur kacang hijau yang atasnya di kasih bubur mutiara. Ia juga memberikan sedikit pandan untuk membuat makanan itu harum dan membuat siapa saja yang menghirup aromannya, ingin mencoba makanan itu. Makanannya pun terlihat menggiurkan dan Alexa yakin Inez tak mungkin menolak makanan yang ia sajikan ini.
Tok....Tok...Tok
Alexa mengetuk pintuk kamar yang di tempati oleh Inez. Setelah menunggu beberapa menit, Inez pun membukakan pintunya.
"Ada apa?" tanya Inez.
"Tadi aku bikin bubur tan, aku cuma mau nawarin siapa tau tante mau." Ujar Alexa tersenyum. Ia tak ingin Inez curiga bahwa bubur itu sudah di kasih obat pencahar.
"Oh. Tapi kamu gak masukin apa apakan di makanan ini?" tanya Inez penuh selidik.
"Jangan suka berfikir negatif tante, dosa." Jawab Alexa.
"Siapa tau, kamu dan saudara kembarmu itu kan suka jail dan suka menyiksa orang." ujar Inez sinis.
"Yaelah, masih di ungkit ungkit. Aku minta maaf deh kalau salah. Ya sudah tante mau gak, kalau gak. Tak bawa ke kamar nih." Ucap Alexa sok pura pura mau pergi.
Inez pun berfikir agak lama. Sebenarnya bubur yang di bawa Alexa sangat menggoda hati apalagi penampilannya bikin orang ingin segera melahapnya. Harum dari daun pandan membuat hidung Inez kembang kempis tapi ia juga takut kalau bubur itu ada sesuatunya. Tapi melihat wajah Alexa yang biasa biasa aja akhirnya Inez pun mengambil satu.
"Oke, aku mau satu." Ujar Inez sambil mengambil bubur sebelah kanan.
__ADS_1
"Yess." Alexa pun senang karena memang yang di kasih obat pencahar cuma sebelah kanan sedangkan sebelah kiri, gak di kasih apa apa. Syukurlah, jika Inez sampai mengambil sebelah kiri, bisa bisa dia sendiri yang sakit perut dan bolak balek ke toilet. Karena takut Inez berubah fikiran, Alexa pun segera pergi menuju kamar tamu di mana Axel menunggu dirinya.
"Tan, aku kekamar dulu ya. Bye." Ucap Alexa dan segera pergi. Inez pun segera masuk ke dalam kamar dan segera makan bubur yang ia pegang. Tak butuh waktu lama bubur itupun ludes dan berpindah ke perut Inez.Namun tak lama kemudian, ia mendadak sakit perut dan langsung pergi ke toilet. Cukup lama sekitar 10 menit setelah selesai ia keluar namun lagi lagi ia balek lagi ke toilet dan kali ini cukup lama sekitar 15 menit. Inez pun geram karena lagi lagi ia kena di kerjain. Dan rencana malam ini pun terancam gagal.
Alexa sendiri tersenyum puas sambil menuju kamarnya.
"Hei kak." Ujar Alexa.
"Lama banget." Ucap Axel yang sedang sibuk main hp.
"Maaf aku kan harus buat bubur ini dan memberikannya ke wanita itu."
"Sudah di kasihkan ke dia?"
"Sudah kak."
"Dia gak curiga?"
"Awalnya sih iya tapi setelah itu ia mau mengambilnya satu. Dan ini buat kakak, tenang aja kog. Yang ini gak aku kasih obat pencahat.
"Beneran?" tanya Axel.
"Iyalah, mana mungkin sih aku ngerjai kakakku sendiri."
"Oke, aku makan. Kamu liat sana, wanita itu lagi apa sekarang." Ujar Axel sambil mengambil bubur itu dari tangan Alexa.
Alexa mengambil hp yang sudah terhubug dengan CCTV yang ada di kamar Inez. Untunglah Axel sangat mahir hingga ia bisa mengotak atik tanpa bantuan orang lain.
"Ka, wanita itu gak ada di kamar. Kayaknya ada di kamar mandi deh. Soalnya bubur yang di mangkog juga sudah habis." Ujar Alexa sambil melihat ke seluruh ruangan.
"Baiklah aku akan telvon paman untuk segera ke sini." Ujar Axel sambil meraih hp nya dan menelvon seseorang.
__ADS_1