Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
Kursi Gantung


__ADS_3


 


Setelah dari taman, mereka pun pergi ke toko kursi. Di sana Axel dan Alexa pun memilih milih kursi yang di inginkan.


"Sayang, mau beli kursi yang seperti apa?" tanya Adzreil.


"Kursi yang cocok untuk taman belakang kursi apa aby?" tanya balek Axel.


"Kursi gantung cocok." Ini bukan  jawaban Adzriel melainkan jawaban Zahra.


"Benarhkah? Ya sudah aku mau beli kursi gantung aja." Ujar Axel.


"Tapi bukankah di rumah sudah punya?" tanya Adzriel.


"Jelek bi, aku mau yang baru." Jawab Alexa yang di jawab kompak oleh Axel.


"Baiklah, sekarang kalian boleh pilih mana yang kalian sukai." Ujar Adzriel tersenyum.


Alexa dan Axel pun segera memilih milih kursi gantung yang mereka sukai.

__ADS_1


"Aby, aku mau beli yang ini." Ujar Alexa sambil menunjuk kursi gantung berwarna merah.



"Oke, Axel pilih yang mana?"


"Yang ini aja by."



"Oke, sekarang kita bayar ya." Ujar Adzriel.


Setelah membayar, Adzriel masih mengajak istri dan anak anaknya untuk jalan jalan.


"Yank, kenapa kamu gak jualan kayak gitu aja, buka toko mebel?" tanya Adzriel.


"Iya nanti aja, sekarang aku masih fokus untuk memajukan hotel yang sudah aku bangun dulu. Nanti kalau sudah maju dan berkembang, aku akan coba membuka toko mebel seperti yang kamu sarankan." Ujar Adzriel tersenyum ramah.


"Tapi apa kita gak terlalu rakus ya yank, kamu dan bunda sudah membuka toko kue dan resto yang sudah tersebar di berbagai kota, punya kontrakan yang sangat banyak, beberapa penginapan dan juga sekarang sudah punya hotel yang cukup besar. Kamu juga masih buka tempat les yang kini muridnya juga hampir seribu anak dan kamu juga sudah membayar beberapa pengajar professional untuk membantu kamu memberikan ilmu dan bimbingan kepada mereka. Bahkan kamu juga menjadi seorang youtuber terkenal, seorang blogger dan juga seorang selegram yang punya banyak pengikut. Kamu juga mempunyai beberapa aplikasi yang sangat menguntungkan karena banyak peminat. Bahkan fanpage facebook kamu juga menghasilkan uang. Apa kita gak terlalu rakus jadi orang?" tanya Zahra


"Gaklah sayang, aku kan bisa seperti sekarang karena mau berusaha dan terus belajar, belajar dan belajar. Gak pantang menyerah. Dan setiap ada kesempatan yang sekiranya bisa menghasilkan uang, kenapa kita gak lakukan. Semua orang punya kesempatan seperti aku hanya saja kadang mereka malas untuk berfikir dan takut rugi jadinya hidup mereka begitu begitu aja tanpa adanya kemajuan. Menjadi seperti aku juga tidaklah  mudah, karena seringkali kita jatuh bangun alias untung rugi. Kadang untung, kadang rugi. Tapi jika takut rugi, rugi n rugi maka selamanya kita tak kan bisa menjadi pebisnis handal dan tak kan bisa jadi pengusaha sukses. Semua itu tergantung pola fikir kita dan kemauan kita. Jika kita mau dan bertekat mau merubah keadaan, ya pasti hidup kita akan berubah. Tapi jika kita gak mau keluar dari zona nyaman kita, ya selamanya kita seperti ini ini aja. Semua itu tergantung kita. Dan jika kita berhasil menjadi orang yang sukses, itu karena kita mau berjuang dan berkorban. Bukan karena kita rakus. Mereka juga punya kesempatan kayak aku asal mereka mau berusaha dan berjuang jangan hanya menunggu takdir. Takdir tak akan merubah apapun jika kita hanya duduk diam. Sekarang kamu faham maksudku?" tanya Adzriel.

__ADS_1


"Iya sayang, aku bangga punya suami kayak kamu. Kamu bisa berfikir luas seperti itu."


"Kita emang harus punya pemikiran yang luas sayang, jika pemikiran kita sempit maka kita tak kan bisa menjadi seperti sekarang dan semangat kita pun bisa ciut sebelum memulai. Aku ingin kelak anak anakku bisa seperti aku sehingga jika kelak, mereka jatuh bangkrut, mereka tak perlu ambil pusing. Karena mereka bisa memanfaatkan ilmu dan pengalaman yang mereka punya untuk bangkit kembali. Makanya jangan pernah berfikir untuk memberikan warisan ke anak dan cucu kita berupa harta karena harta bisa habis kapan aja jika mereka tak mampu mengelolannya, aku ingin kelak anak dan cucu kita mewarisi kepintaran dan kecerdasan kita agar ketika mereka ada di titik terendah, mereka tak perlu bingung dan tak perlu risau. Mereka punya ilmu dan pengalaman yang bisa membuat mereka bangkit dari keterpurukan." Ujar Adzriel menasehati. Sedangkan Zahra, Axel dan Alexa hanya duduk diam mencoba untuk mencerna ucapan Adzriel.


"Iya, sekarang aku faham. Untuk itu kita harus memberikan sekolah terbaik untuk anak anak kita. Iya kan?" tanya Zahra.


"Ilmu itu tidak harus dari sekolah, bisa jadi dari orang terdekat seperti aku dan kamu. Anak anak kita bisa memperoleh ilmu itu dari kita, dari orang orang terdekat, bisa juga dari lingkungannya. Jadi jangan berfikir bahwa ilmu hanya bisa di dapat dari sekolah. Kita memang harus dan wajib memberikan sekolah dan pendidikan yang terbaik untuk mereka tapi jangan lupa kita sebagai orang tua juga harus bisa memberikan mereka ilmu tentang apa yang kita tau dan yang kita punya. Misal aku berjiwa pebisnis, maka akan aku turunkan ilmu ini kepada anak anakku. Kamu juga punya ilmu memasak dan bikin kue lezat, maka kamu bisa menurunkan ilmu itu kepada mereka. Apapun yang kita tau, kita wajib mengajari putra dan putri kita. Tapi kita juga tidak boleh terlalu keras untuk menerapkan ilmu kepada mereka, pelan pelan yang penting konsisten. Dan mereka bisa faham dan mengerti dengan ilmu yang kita ajarkan. Dan jangan memaksakan hal hal yang gak mereka suka." Ucap Adzriel.


"Iya sayang, aku faham." Ujar Zahra tersenyum.


"Syukurlah." Ujar Adzriel yang senang ketika istrinya mampu mencerna tentang apa yang ia jelaskan. Sedangkan Axel dan Alexa merasa bahagia mempunyai seorang ayah yang begitu bijak dan orang yang tak pernah pantang menyerah dan selalu merasa haus akan ilmu.


 


 



 


__ADS_1


__ADS_2