
Raka bener-bener membuktikan ucapannya, hampir setiap malam menjelang tidur dan setelah sholat subuh dia akan mengajakku olahraga. Olahraga yang menyenangkan katanya, tapi membuat badanku sakit semua. Hari ini aku bisa bernafas lega karena terbebas dari kebuasan Raka, paling tidak seminggu kedepan aku bisa istirahat dari kegilaan Raka.
"Ingat jangan lama-lama kasihan adikku tidak ada yang ngasih makan." Bisik Raka membuat ku langsung melotot mendengarnya. Aku bersyukur semua orang fokus sama nenek dan mama.
"Lihat ma sepertinya anak kesayangan mu tidak rela istrinya kamu ajak pergi." Ucap Satria mengalihkan perhatian semua orang kepada kami.
"Maklum pengantin baru,"goda Risma.
"Yang baru itu Satria dan Cantika, aku lebih dulu menikah dari pada mereka berdua." Bantah Raka tidak mau kalah.
"Sudah jangan berantem, mama bawa mantu mama dulu. Kamu jangan nakal awas kamu macam-macam aku kebiri kamu sampai habis." Ucap semua orang langsung tertawa mendengarnya.
"Nenek minta maaf jika nenek selama tinggal di Indonesia sering membuat kamu marah."
"Aku sudah maklum namanya juga orang tua,"jawab Raka membuat mama melotot mendengarnya.
"Nenek gak tahu apa akan bisa ke Indonesia lagi setelah ini."
"Kenapa tidak bisa, apa kamu tidak mau mengunjungi cicit mu. Apa anakku bukan cicit mu ?"
"Tentu anak mu adalah cicitku, sama seperti anak Satria."
"Kalau begitu kamu harus menjaga kesehatan mu, jika kamu pergi sebelum melihat anak ku. Berati kamu memang tidak sayang sama aku, cuma sayang sama Satria." Ucap Raka membuatku merasakan kalau Raka dan nenek sama-sama saling menyayangi, tapi tertutup oleh ego mereka masing-masing.
"Nenek akan berusaha semoga Tuhan selalu melindungi nenek." Nenek beragama Nasrani, meski begitu dia selalu menghormati anak, menantu dan cucunya yang berbeda keyakinan. Menurut mama waktu papa pindah keyakinan sebelum menikah dengan mama Satria, nenek juga tidak marah. Keluarga besar nenek sangat saling menghormati, bahkan adik kandung nenek orang yang tidak memiliki agama. Dia bilang semua agama adalah agamanya.
Ahkirnya panggilan untuk penerbangan ke Australia, menyudahi interaksi kami semua.
Perjalanan selama lebih dari 7 jam, rencananya aku gunakan untuk tidur. Setelah tadi pagi sudah 2 kali aku di kerjain Raka , tapi ternyata hanya mimpi. Meskipun mata aku tutup dengan kacamata tidur, tetapi aku lupa memakai headset. Hingga aku bisa mendengarkan obrolan mama dan nenek.
"Kenapa kamu tidak pernah protes dengan apa yang aku perbuat padamu ?"
" Aku hanya mengagap sikap ibu adalah bentuk perhatian padaku."
"Tidak ada orang perhatian sampai memfitnahnya. Apalagi sampai berujung perceraian."
"Aku tidak menyesali apa yang ada, karena dengan kejadian itu aku bisa mengembangkan hobiku menjahit."
"Kenapa kamu menolak nafkah dari anakku, bukan secara negara kalian masih suami istri ?"
__ADS_1
"Tapi secara agama kami sudah bercerai."
"Kenapa kamu tidak menuntut cerai saja ?"
"Sudah,tapi gagal anak anda menyuap orang dalam hingga tuntutan aku di tolak." Ucap mama membuat nenek tertawa kecil.
"Dia masih mencintai mu, maafkan aku kembali lah dengan anakku. Jika kamu mau aku minta maaf secara langsung padamu aku bersedia."
"Tidak perlu anda sudah mengaku salah saja saya sudah sangat terharu."
"Berati kamu sudah memaafkan aku, orang tua ini?"
"Sudah sekarang ibu bisa hidup tenang tidak perlu memikirkan aku dan mas Rudy."
"Bagaimana aku tidak memikirkan dia anakku satu-satunya. 10 tahun hidupnya tanpamu hanya di gunakan untuk bekerja dan bekerja. Dia seperti robot pencetak uang. Bahkan sampai sekarang Nini Nini tua itu masih gencar menjodohkan Rudy dengan anaknya si janda gatel." Ucap nenek membuat mama tertawa kecil, tapi sayangnya aku hanya bisa tersenyum tipis.
"Itu berarti karma buat ibu."Ucap mama masih dengan suara tawanya.
"Ko gitu ?"
"Ibu berharap aku berpisah dengan anak ibu, jadi sekarang ibu harus siap mendapatkan menantu pengganti ku."
Kami langsung di sambut adik nenek.
"Jony introduces Alex's wife."
"Jony."
"Dwi."
"this is my grandson-in-law,Kia!"
"Kia."
"Jony, she is Stria's wife or wife Caraka ?"
"she is Caraka's wife."
"Ayo kita kembali ke rumah. Have you cleaned my house? "(Apa rumahku sudah kamu bersihkan ?)
__ADS_1
"Sudah !" Ucap paman Jony dengan bahasa yang terdengar kaku.
"Dia baru belajar sedikit jadi harap maklum," canda nenek.
Kedatangan kami di sambut baik semua keluarga nenek. Meskipun nenek bilang sudah sedikit lupa karena terlalu lama di Indonesia, tetapi mereka tetap bersemangat menyambut nenek. Bukan rumah mewah,tapi rumah kecil yang minimalis dan memiliki halaman yang luas. Membuat terasa nyaman dan betah aku disini, setiap hari ada aja hal baru yang mereka kenalkan padaku. Apalagi sepupu Raka violin dan Celine seumuran denganku, membuat kami cepat akrab.
"Kapan kamu balik ke Indonesia ?" Tanya Raka di sebrang telpon.
"Baru juga di tinggal 3 hari sudah kaya ditinggal sebulan," cibir mama yang ikut bicara.
"Baru 3 hari tapi mantu mama melupakan anak mama. Dia tidak telpon kalau aku tidak telpon, pesanku dijawab sangat singkat."
Mama dan aku hanya menjawab dengan tertawa ngakak.
"Aku sedang menemani mama mencari bule,"Ucapku sepontan.
"Papa mantumu menemani mama mencari bule baut di jadikan papa baruku !" Teriak Raka membuatku dan mama saling pandang.
"Papa di situ?"
"Aku habis menjemput papa dari bandara,"jawab Raka sambil menujuk kameranya kearah papa.
"Hehe halo papa, "cengirku.
Sesaat aku di buat terkejut saat tiba-tiba ponselku di ambi alih nenek.
"Bukan salah Dwi tapi bulenya aja yang ganjen suka ngajak Dwi Ngobrol. Padahal ketahuan banget kalau obrolan itu hanya basa-basi." Ucap nenek membuat mama hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Aku susul mommy sekarang ! Raka hubungi Satria suruh Carikan papa tiket ke Australia sekarang !"
"Tapi papa baru sampai tidak besok saja Istirahat dulu?"
"Mas aku angkat tangan, udah ya mas. Assalamualaikum."
"Tar dulu sayang," ucap Raka yang langsung saja aku matikan. Setelahnya terdengar suara tawa nenek.
"Salah siapa sibuk kerja tidak mau mengantarkan aku," ucap nenek sambil berjalan meninggalkan aku dan mama.
"Bagaimana ini ma?"
__ADS_1
"Biarkan saja, gak mungkin papa mu nyusul kesini dia baru sampai dari penerbangan Surabaya, pasti masih kelelahan." Ucap mama santai, tetapi berbeda dengan ekspresi yang kulihat di wajah papa tadi. Papa sangat terlihat cemburu, apa kira-kira papa menyusul ke sini ya. Tapi Jakarta Australia itu tidak seperti Jakarta Surabaya.