
Maura membelikan hadiah pada ibu berupa perhiasan mewah. entah darimana ia dapatkan uang itu tapi ibu senang sekali. keduanya mengobrol dan cocok satu sama lain. bahkan ibu berfikir seharusnya dulu Bram dengan Maura saja daripada dengan Ariani. meski sepupu mereka tergolong sepupu jauh. lagipula Maura lebih cantik dan baik itu menurut ibu. Ariani dan ibu memang ada kesenjangan hubungan. karena pernikahan Bram yang mendadak membuat keduanya tidak berdekatan. ibu hanya sebentar mengenal Ariani. sebelumnya ia lebih sering bertemu dan mengenal Lisa mantan kekasih Bram yang dulu.
"Bu kenapa kak Bram bisa menikah dengan gadis seperti Ariani?". Maura mulai melancarkan kasinya. ia sebisa mungkin menghasut ibu.
"Entahlah ibu juga tidak mengerti dengan Bram, kenapa kamu tidak muncul dari dulu Maura?".
"Ah ibu, apa kak Bram tertarik padaku kalau aku datang kemari dari dulu?".
"Tentu saja setidaknya ia tidak akan gegabah dengan pernikahannya dengan gadis kalangan biasa".
Maura merasa senang ibu memihak padanya. sepertinya ibu memang kurang menyukai Ariani dan ini di manfaatkan Maura sebagai senjata.
" Kalau kak Bram menikah lagi apa ibu setuju?".
"Itu terserah Bram, ibu tidak bisa menentukan".
Maura mengangguk. ibu tidak akan keberatan kalau anak lelakinya yang tampan dan kaya itu akan menikah lagi. masa bodoh dengan istrinya itu.
"Apa ibu pernah berpikir kalau Ariani menjebak kak Bram agar kak Bram menikah dengannya?"
__ADS_1
"Entahlah, ibu kurang tahu tapi bisa jadi ada kemungkinan itu".
"Kalau aku menikah dengan kak Bram apa ibu akan suka?".
"Kalau Bram senang ibu juga akan setuju saja. dan itu juga harus ada keputusan dari Ariani".
"Bu besok ada pameran perhiasan, kita lihat yuk".
"Ayo Maura ibu senang sekali. akhirnya ada yang bisa memiliki hobi sama dengan ibu".
Maura tersenyum senang. ia bisa mengambil celah mendekati ibu. selama ini Ariani tidak bisa dekat dengan ibu, Maura memanfaatkan situasi itu.
Maura pergi ke kamarnya setelah mengobrol dengan ibu. ia sempat melihat Ariani menggendong Aska di temani bibi Nam.
Jangan salahkan aku jika kau dan si kecil itu tersingkir dari rumah ini.
"Kenapa kau melihat kakak ipar ku seperti itu?!". Petra tiba-tiba muncul sembari menenteng tas kerjanya. ia baru akan sarapan. sementara Bram dan Hyuk sudah berangkat pagi-pagi karena ada meeting.
"Bukan urusan mu".
__ADS_1
Maura pergi ke kamarnya, Petra menatap kesal dan berjalan menuju meja makan.
***
"Kak kurasa wanita itu berbahaya jika terlalu lama di biarkan tinggal bersama kita". Petra berada di ruang kerja Bram di kantor. ia sengaja menyempatkan untuk menemui kakaknya dan membahas soal Maura.
"Kurasa dia bisa menyakiti kakak ipar".
Bram juga berpikir demikian. ia sendiri cukup gelisah jika Maura leluasa menyakiti Ariani apa lagi Maura mendapat pembelaan dari ibu.
"Hyuk apa kau belum dapatkan data tentang Maura?".
"Belum tuan, Semua data tentang Mura tak bisa di akses seperti memeang sengaja di tutup. dan saya yakin Maura di lindungi seseorang yang kuat tuan".
"Apa ada kaitannya dengan saingan bisnis kita?".
"Saya curiga ke arah sana tuan".
ketiganya terdiam sibuk berpikir bagaimana mengalahkan satu wanita ini. terkadang berhadapan dengan sesama pria akan lebih mudah di banding membereskan satu wanita.
__ADS_1