Cinta Dalam Diam

Cinta Dalam Diam
Afifah Tinggal di Kosan Milik Adzriel


__ADS_3

Sepulang kerja, Afifah menunggu Axel di luar kantor. Axel memang ada pekerjaan dikit hingga pulangnya agak telat.


"Maaf ya nunggu lama." ucap Axel setelah ia selesai mengerjakan semua berkas, setelah itu ia segera pergi menghampiri Afifah.


"Iya gak papa." jawab Afifah. Tadi dia sambil menunggu bos nya, Afifah makan nasi sisa tadi siang (jam setengah 11). Sekarang dia kenyang jadi dia gak akan merasa lapar lagi sampai esok hari.


"Ayo." ajak Axel.


Mereka berdua berjalan menuju mobil yang terparkir di depan kantor, yah setiap Axel mau keluar. Mobil akan selalu siap di depan kantor. Dan saat Axel baru tiba, maka akan ada seseorang yang akan menaruhkan mobil itu di parkiran VVIP.


Sepanjang jalan, mereka hanya diam saja. Hanya Afifah yang sesekali memberikan petunjuk tempat kosannya.


Setelah sampai, Axel dan Alexa langsung turun.


"Di mana kosan kamu?" tanya Axel.


"Masih sekitar 300 meter. Tapi gak bisa di masuki dengan mobil karena gak muat. Kalau sepeda motor cukup tapi kalau mobil, gak bisa. Jadi kita harus jalan kaki." jawab Afifah.


"Hah! jalan kaki? Serius?" tanya Axel.


"Iya." jawab Afifah.


"Aku boleh ikut?" tanya Axel.


"Ngapain?" tanya balek Afifah.


"Aku ingin tau kosanmu." jawab Axel.


"Oh gitu, iya udah ayo ikut." ujar Afifah.


Axel pun mengangguk. Lalu mereka segera pergi berjalan menuju kosan Afifah dengan jalan kaki. Sedangkan mobilnya di parkirkan gitu aja di pinggir jalan.


"Mas, gak takut mobilnya hilang?" tanya Afifah.


"Gak, santai aja." jawab Axel padahal dalam hatinya berdoa semoga mobilnya dalam keadaan baik baik saja dan gak hilang. Tapi di mobil itu juga ada Cctv kecil jadi jika ada yang mencuri, Axel pasti tau orangnya. Karena semuanya bisa di pantau lewat hp.


"Kamu gak capek tiap pagi dan sore jalan seperti ini?" tanya Axel.


"Gak, mungkin karena sudah terbiasa. Lagian gak jauh, deket kog. Dan setelah itu kan naik angkot." jawab Afifah.


"Oh, gitu. Di sini kamu punya banyak tetangga?" tanya Axel.


"Iya tapi gak terlalu akrab karena aku sibuk cari uang dan sekolah. Tapi akhir akhir ini aku hanya fokus kerja aja. Sedangkan tetangga tetangga aku sudah banyak yang berumah tangga, tapi mereka juga sibuk bekerja tapi jarang kumpul. Yah walaupun ada sih beberapa ibu rumah tangga yang gak kerja, tapi mereka lebih suka menghabiskan waktunya di dalam rumah. Paling kalau ketemu, ucap salam dan tersenyum aja." jawab Alexa.


"Kamu betah tinggal di kosan itu?" tanya Axel.


"Betah gak betah harus di betah betahkan. Mau ngekos di tempat yang bagus, kan gak ada uang. Boro boro ngekos di tempat yang bagus, mau makan sehari hari aja susah." jawab Afifah jujur.


"Kalau hujan bocor gak?" tanya Axel.


"Iya mas, bocor. Tapi ya sudahlah gak papa. Yang penting ada tempat buat istirahat setelah pulang kerja." jawab Afifah tersenyum.


Setelah ngobrol panjang lebar akhrinya mereka juga sampai di kosan.


"Ini kosanku." ucap Afifah yang membuat Axel tercengan.


"Ya Allah, apakah ini masih layak untuk di jadikan tempat tinggal?" tanya Axel pada dirinya sendiri.


"Mau masuk?" tanya Afifah.

__ADS_1


"Emang boleh?" tanya balek Axel.


"Boleh. Ayo." ujar Afifah.


Axel pun masuk ke dalam kosan itu.


"Kosan di sini bebas mas. Tapi maaf ya gak ada kursi, cuma karpet yang sudah sobek sana sini hehe." ujar Afifah tersenyum.


"Kamu tidur di kasur lantai itu?" tanya Axel. Yah di sana hanya ada kasur lantai yang sudah gak layak pakai. Dan di sampingnya ada dua kardus yang mungkin tempat untuk naruh baju.


"Iya mas." jawab Afifah yang masih bisa tersenyum.


"Terus kalau mandi dan masak gimana?" tanya Axel kepo.


"Aku gak pernah masak mas, selalu beli. Kalau mandi, ada di ujung sana. Kamar mandi umum." jawab Afifah.


"Ya Allah. Iya sudah, kamu sekarang siap siap." ujar Axel.


"Siap siap mau kemana mas?" tanya Afifah.


"Kamu harus pindah kosan." jawab Axel.


"Tapi aku gak punya uang mas, nunggu gajian." ujar Afifah.


"Santai aja, gak perlu bayar. Gratis. Aby punya kos kosan dan kebetulan masih ada yang kosong. Tadi aku udah chat aby dan katanya ada satu kamar yang cukup luas, nanti kamu bisa menempati kosan itu." jawab Axel.


"Gratis? Tapi aku gak mau merepotkan mas atau siapapun." ujar Afifah.


"Jika kamu gak nurut, besok kamu gak boleh kerja lagi. Kamu, aku pecat." ucap Axel dengan suara dinginnya.


"Kog itu sih, iya deh. Bentar ya aku mau siap siap dulu." ujar Afifah, ia gak mau jika sampai di pecat oleh bos nya itu.


Karena Afifah gak punya barang banyak. Dia hanya memasukkan baju bajunya ke dalam tas.


"Iya." jawab Axel.


Setelah itu Afifah keluar untuk pamit ke ibu kos dan juga kepada tetangga kanan kirinya.


Setelah selesai, Afifah pun kembali  menemui Axel.


"Sudah?" tanya Axel.


"Sudah mas." jawab Afifah.


"Iya udah ayo pergi." ujar Axel. Afifah hanya mengangguk.


Dan setelah itu, mereka berdua pun segera pergi dari kosan yang sempit itu menuju mobil Axel. Di sana Axel bisa bernafas lega. Baru beberapa menit di kosan itu, Axel gak betah lalu bagaimana bisa Afifah bisa tahan tinggal di sana selama bertahun tahun.


Setelah di dalam mobil, Axel pun segera pergi menuju kosan punya aby nya. Di sana ada kosan yang sedikit mewah, di dalam kosan sudah tersedia kamar mandi di dalam, kasur, lemari dan juga kipas serta tivi. Lengkap dengan bantal dan gulingnya juga. Karna kosan itu untuk kalangan menengah ke atas. Bahkan di kosan itu ada dapur juga. jadi kalau cuma masak bisa di kamar itu.


Memang Adzriel membangun kosan untuk menengah ke bawah dan juga menegah ke atas. Entah kenapa Axel ingin melindungi wanita yang kini ada di sampingnya itu. Mungkin benar jika cinta, rasanya ingin selalu ada di dekatnya dan ingin membahagiakannya. Axel juga merasa nyaman berada di dekat Afifah dan rasanya ada kebahagiaan tersendiri yang menyelinap ke dalam hatinya.


Setelah sampai di depan kosan, Axel dan Afifah pun langsung turun.


"Mas, yakin ini kosannya?" tanya Afifah. Kosan ini sangat bersih dan ngecling sekali. gumam Afifah.



"Iya." jawab Axel.

__ADS_1


"Kosan ini sangat luas dan pastinya mahal mas." ujar Afifah.


"Karena kosan ini khusus kalangan atas." gumam Axel yang gak bisa ngomong jujur.


"Sudahlah, gak perlu di fikirkan. Yang penting sekarang, kamu akan tinggal di sini dan gak boleh nolak. Ingat aku ini bos kamu, jadi kamu harus nurut sama aku." ujar Axel.


"Tapi mas..........." belum selesai Afifah ngomong, Axel langsung memotongnya.


"Gak ada kata tapi tapian ... Ayo." Ajak Axel.


Mereka pergi ke kosan paling pojok, kos kosan paling luas dan belum ada yang menempatinya.


Axel membuka kamar itu dan Afifah pun langsung tercengang.


"Ya Allah, kamarnya luas banget dan mewah." ucap Afifah yang membuat Axel hanya menggelengkan kepala.


"Ayo masuk." ujar Axel. Afifah pun masuk dan melihat sekelilingnya.


Afifah nyoba duduk di kasur yang empuk. Rasanya enak banget..


"Sprai kasurnya, ada di dalam lemar beserta bantal dan gulingnya. Sengaja di taruh di lemari biar gak kotor. Lagian kamar ini gak ada yang menempat. Dan buah yang dipinggir kasur itu, bukan buah beneran tapi cuma hiasan sama seperti bunga yang ada di samping kiri kasur, itu juga sama, hanya hiasan.


Dan nanti baju kamu bisa kamu gantung di lemari ini." ucap Axel.



"Jika kamu ingin nonton tivi, remotnya ada di lacy lemari ini. Kipasnya tinggal kamu colokin di sini. Dan jika kamu masak, bisa di ruangan sebelah. Tapi dapurnya kecil. " ujar Axel sambil menunjukkan dapurnya. Afifah hanya mengikutinya dari belakang.



"Di dapur ini peralatannya gak terlalu lengkap, jadi jika ada yang kurang, kamu harus beli sendiri." ucap Axel menjelaskan.


"Ah, bagi aku ini sudah sangat lengkap mas." jawab Afifah tersenyum.


"Dan ini kamar mandinya, jadi kalau kamu mandi gak perlu keluar kamar." ujar Axel sambil menunjukkan kamar mandi.


"Walaupun kamar mandinya kecil tapi lengkap ada WC dan juga  bathtub nya. Serta ada air dingin dan juga air hangatnya.' ujar Axel menjelaskan.


"Ini perbulannya berapa mas?" tanya Afifah.


"Kamu gak perlu tau, nanti kamu kaget. Yang jelas mulai sekarang kamu akan tinggal di sini." jawab Axel.


"Terima kasih ya mas. Mas sudah baik banget sama aku. Aku gak tau bagaimana cara membalas semua kebaikan mas." ujar Afifah.


"Gak perlu di balas, aku ikhlas membantu kamu. Oh ya ini uang buat kamu selama sebulan. Jadi mulai sekarang usahakan makan makanan yang bergizi dan sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat kerja. Mulai besok, akan ada sopir aku yang akan antar jemput kamu kerja." ucap Axel sambil memberikan uang sebesar 2 juta buat Afifah.


"Tapi mas, aku bisa naik angkot." ujar Afifah.


"Gak boleh bantah. Ya sudah aku pulang dulu ya, kamu baik baik di sini. Kalau ada apa apa kamu hubungi aku." ujar Axel.


"Tapi aku gak punya hp." ucap Afifah.


"Hah! Serius di zaman modern ini, kamu gak megang hp?" tanya Axel.


"Iya mas." jawab Afifah malu malu.


"Iya sudah besok aku belikan buat kamu. Aku pamit pulang dulu ya. Sampai ketemu besok di kantor. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


Setelah kepergian Axel, Afifah langsung mengunci pintunya dari dalam. Afifah sangat bahagia, akhirnya ada orang baik yang mau menolongnya dan melepaskan dirinya dari kemiskinan dan kelaparan yang selalu melanda. Afifah berharap Allah selalu memberikan kebahagiaan untuk bos nya itu.


Sedangkan Axel sangat bahagia karna akhirnya ia bisa membantu Afifah, mencarikan kosan. Entah kenapa Axel ingin mengenal lebih dekat dengan Afifah. Orang yang sudah diam diam sudah mencuri hatinya.


__ADS_2