
Mereka bertiga sudah sampai di hotel bintang lima. Mereka segera turun dari mobil dan pergi ke resepsionis.
"Assalamu'alaikum mbak." Ucap Balqis.
"Waalaikumsalam, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis itu yang berdiri sambil tersenyum ke arah Balqis.
"Apakah tadi pagi ada seseorang bernama Aksa Damian yang datang ke sini?" tanya Balqis.
"Bentar ya bu saya lihat dulu." Ucap resepsionis itu. Ia membuka buku tebal dan melihat setiap nama yang berkunjung.
"Oh ada bu, namanya Aksa Damian ya, dia sudah jauh jauh hari menyewa ruangan VVIP di resto ini." Jawab resepsionis itu tersenyum.
"Kenapa pakai buku tebal mbak, kenapa gak pakai komputer?" tanyaa Alexa heran, masalahnya ini hotel bintang 7, masa ia masih pakai buku sih untuk mencatat pengunjung yang datang.
"Hehe maaf dek, komputernya eror tadi pagi dan masih di perbaiki. InsyaAllah besok pagi sudah bisa di gunakan lagi." Jawab resepsionis itu sambil tersenyum, tak ada rasa kesal walau Alexa menanyakan hal seperti itu.
"Oh gitu toh." Jawab Alexa sambil manggut manggut.
"Tadi pagi, dia datang jam berapa ya mbak dan pulangnya jam berapa?" tanya Balqis.
"Sekitar jam 8 kurang 7 menit. Karena mulai meeting sekitar jam 8 pagi. Tapi untuk pulangnya saya kurang tau."
"Lho kog bisa gak tau, emang suami saya gak bayar dulu tah untuk tempat dan segala jamuannya yang ia pesan?" tanya Balqis.
"Dia sudah bayar satu hari sebelumnya. Lengkap dengan tempat sekaligus jamuannya." Jawab resepsionis itu.
"Lalu siapa yang mengantarkan makanannya?" tanya Balqis.
"Ada seseorang bu, namanya mbak leni." Jawab resepsionis.
"Baiklah, saya akan cari orangnya karena ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan."
"Iya bu, silahkan." Jawab resepsionis itu tanpa ada rasa ingin mencegah atau apapun.
Balqis beserta Axel dan Alexa langsung pergi ke dalam dan mencari seseorang yang bernama Leni.
"Mbak, ada yang namanya Leni?" tanya Balqis kepada seseorang yang lewat dan sepertinya dia adalah salah satu pelayan resto mengingat seragamnya sama dengan yang di pakai oleh beberapa orang yang mondar mandir melayani tamu resto.
"Iya saya sendiri bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Leni.
"Syukurlah, yang aku cari cari ternyata orangnya ada di depanku." gumam Balqis.
"Saya mau tanya, tadi pagi ada seseorang yang bernama Aksa Damian yang memesan ruang VVIP?" tanya Balqis.
__ADS_1
"Boleh saya liat fotonya kalau ada, soalnya ada banyak yang saya layani. Jadi saya bingung orangnya yang mana?" tanya pelayan itu yang bernama Leni.
"Oh ya sebentar." Balqis mengambil hp yang ada di dalam tas kecil yang ia bawa. Lalu ia pun menghidupkan hp nya dan mencari foto suaminya.
"Yang ini mbak." Ujar Balqis memperlihatkan foto dirinya bersama sang suami.
"Oh laki laki ini, dia sudah di jemput oleh tunangannya mbak." Jawab Leni.
"Tunangannya? bagaimana mungkin sedangkan saya ini adalah istrinya dan kini saya tengah hamil anaknya." Jawab Balqis yang sedikit agak emosi.
"Sabar tante, mungkin dia adalah tante Inez." ucap Axel menenangkan tantenya itu.
"Maaf mbak, boleh saya tanya?" ujar Axel.
"Iya dek, mau nanya apa?"
"Dia di jemput sama tunangannya? Apa mbak yakin?" tanya Axel pelan tanpa menggunakan nada tinggi.
"Iya, soalnya perempuan itu bilangnya seperti itu." Jawab Leni.
"Boleh saya tau kejadiannya seperti apa sampai dia mengaku ngaku sebagai tunangannya?" tanya Axel.
"Tadi setelah selesai meeting, tamunya Pak Aksa keluar dululan. Sedangkan Pak Aksa sendiri memilih untuk tetap diam di ruangan itu. Dan tak lama kemudian, Pak Aksa memesan minuman lagi. Saya segera mengambilnya dan memberikannya kepada Pak Aksa, setelah itu saya keluar. Dan beberapa menit kemudian, ada seorang wanita yang datang. Dia meminta bahkan memaksa saya untuk membuka pintu ruangan di mana pak Aksa berada tapi saya gak mau karena memang saya tidak di perintahkan untuk membuka pintu itu kecuali jika Pak Aksa butuh sesuatu atau memesan sesuatu. Dan selebihnya hanya pak Aksa sendiri yang boleh membukannya. Tapi wanita itu ngotot menyuruh saya membukakan pintu. Wanita itu bilang gini, Kamu gila ya, tunangan saya di sana lagi sakit dan kamu gak memperbolehkan saya masuk. Jika ada apa apa dengan tunangan saya, kamu harus bertanggung jawab. Wanita itu ngomong pakai nada tinggi sampai membuat saya ketakutan, akhirnya saya membuka ruangan itu dan ternyata benar, Pak Aksa sudah tak sadarkan diri. Wanita itu langsung mendekatinya dan menolongnya. Dia bilang gini ke saya, Lihat, aku tidak berbohong kan? Dia sudah mengirimkan aku pesan agar aku segera ke sini dan Anda malah melarang saya masuk. Jujur saya malah ketakutan, apalagi melihat Pak Aksa yang terkulai lemah. Setelah itu wanita itu, memapah Pak Aksa keluar dari ruangan ini dan membawanya ke kamar hotel yang gak jauh dari sini. Saya sempat melihatnya." Jawab Leni sambil sesekali meniru gaya bicara Inez tadi pagi.
"Kamarnya ada di mana?" tanya Axel.
"Saat Pak Aksa memesan minuman lagi, siapa yang buat minumannya?" tanya Leni.
"Mbak Dea." Jawab Leni.
"Tolong antarkan saya ke orang yang bernama Dea." Ujar Axel. Mbak Leni pun hanya menganggukkan kepala. Dan setelah itu mengantarkan Balqis, Axel dan Alexa bertemu Dea.
"De, ini ada yang mau bertemu dengan kamu." Ujar Leni.
"Siapa Len?" tanya Dea.
"Istrinya Pak Aksa yang tadi pagi memesan ruangan VVIP." Jawab Leni santai. Sedangkan Dea terkejud hingga gelas yang ia pegang sampai terjatuh. Axel yang memperhatikan raut wajahnya dari tadi tersenyum sinis. Axel seperti sudah tau apa yang terjadi.
"Mbak Dea, bisa kah kita bicara sebentar." Ujar Axel.
"Maaf dek, saya sibuk dan gak ada waktu." ucap Dea yang suaranya sedikit gemetar.
"Baiklah, saya akan meminta bos kalian untuk ke sini agar masalah ini cepat selesai." Ancam Axel, walau dia masih kecil tapi fikirannya melebihi orang dewasa. Kepintarannya jangan di tanyakan lagi.
"De, biar pekerjaan kamu, aku yang gantikan. Lebih baik kamu ikuti maunya mereka atau kamu akan di pecat dari sini." Ujar Leni.
"Iya." Dea pun hanya mengangguk lemas. Dia menghampiri Balqis, Axel dan Alexa.
__ADS_1
"Ayo ikut aku mbak." Ujar Axel, karena ia tak ingin orang lain tau tentang permasalahannya dan juga tak ingin mempermalukan Dea.
Axel, Alexa, Balqis dan juga Dea kini berada di ruang VVIP. Balqis langsung memesan ruangan yang tadi pagi sempat di pakai oleh suaminya, kebetulan juga ruangannya kosong dan belum ada yang memesan lagi.
"Mbak, jawab dengan jujur. Apakah mbak sudah memasukkan sesuatu ke minuman Pak Aksa?" tanya Axel dengan suara datar.
"Jawab aja mbak, atau masalah ini akan saya bawa ke jalur hukum." Ucap Balqis dengan suara dinginnya, ia berusaha untuk mengontrol emosinya dari tadi. Dea pun yang sebenarnya orang penakut tambah takut ketika di ancam akan di bawa ke jalur hukum.
"Maafkan saya, tadi pagi memang ada seorang wanita yang datang menemui saya. Dia memberikan uang kepada saya 10 juta asal saya mau memasukkan bubuk ke minuman Pak Aksa. Awalnya saya gak mau tapi dia terus memaksa saya dan lagi saya juga sebenarnya butuh uang itu untuk biaya oprasi ibu saya yang lagi sakit parah. Jadi mau gak mau saya menerimannya." Ujar Dea sambil menitikkan air mata.
"Kau melakukan itu semua demi ibuku yang butuh uang untuk oprasi tanpa memikirkan bahwa apa yang kamu lakukan itu bisa merugikan orang lain. Emang jika ibumu tau apa yang sudah kamu lakukan? akankah dia masih mau menerimanya. Masih banyak jalan untuk bisa membawa ibuku ke rumah sakti dan menjalani oprasi tapi tidak dengan cara kotor kayak gini." Ucap Balqis yang juga ikut menangis.
"Maafkan saya, saya menyesal." ujar Dea menunduk karena tak berani menatap ketiga orang yang ada di depannya.
"Emang dengan kamu minta maaf, semuanya bisa terselesaikan saat ini juga. Aku gak akan membawa kamu ke jalur hukum tapi aku akan mengadukan masalah ini ke atasan kamu." Ujar Balqis yang berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi bersama Axel dan Alexa.
"Ibu saya mohon, jangan laporkan masalah ini ke atasan saya." Pinta Dea memohon tapi rasa kesal di hati Balqis sudah tak bisa lagi di ajak kompromi. Ia terus berjalan tanpa sedikitppun menoleh atau menaruh belas kasihan kepada wanita yang sudah tega memberikan obat bubuk ke minuman suaminya. Axel dan Alexa sebenarnya gak tega, tapi mereka berdua juga tak bisa berbuat apa apa karena memang wanita itu salah dan harus menerima konsekuensinya.
Balqis pergi ke resepsionis lagi dan meminta dia untuk memanggil atasannya. Resepsionis itu pun tak membantah, ia langsung menurut dan memanggil atasannya untuk segera datang karena ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Namun atasannya menolak karena ada banyak kerjakan yang harus ia kerjakan.
Balqis tak tinggal diam, ia merebut telvon itu dan mengancam atasannya. Ia sudah tak peduli dengan apa yang terjadi, emosinya sudah meluap luap.
Setelah itu, Balqis bersama Axel dan Alexa segera pergi ke lantai atas dan menuju ruang BAPAK SANTOSO Selaku manager di hotel itu. Dia juga memegang tanggung jawab atas resto yang berdiri di hotel ini.
Tanpa basa basi, Balqis melempar rekaman yang tadi sempat ia rekam di ruangan VVIP.
"Silahkan di dengar dan kasih pendapat Anda, apa yang harus saya lakukan. Apakah saya perlu mengupload rekaman ini ke media sosial agar mereka tau bahwa hotel bintang 7 ini memberikan pelayan yang gak baik bahkan tega meracuni seseorang tanpa memikirkan kerugian dari orang itu sendiri." ucap Balqis dingin, sifat bar barnya sudah mulai keluar.
"Maaf, saya akan memecat karyawan itu tapi saya mohon tolong jangan menyebarkan rekaman ini." Ucap Bapak Santoso dengan wajah pucatnya. Ia sebagai penanggung jawab pasti akan di kena juga jika rekaman ini sampai terdengar oleh pak direktur.
"Baiklah tapi saya gak ingin melihat wanita itu lagi di sini." Ujar Balqis yang langsung pergi bersama Axel dan Alexa.
__ADS_1