
Keara dan Santi menyiapkan air hangat di bathup untuk Hyuk. Hyuk melepas kemeja hitambya yang sudah lusuh dan kotor. ada noda darah disana. Hyuk berendam di bathup dan Keara membersihkan luka di wajah dan di lengan Hyuk. Keara menggosok punggung Hyuk. Hyuk hanya terdiam tidak bicara sepatah kata pun. selesai membersihkan luka Hyuk, Keara keluar kamar mandi dan Hyuk membilas dirinya di bawah shower. ia memejamkan matanya menikmati guyuran air. Hyuk keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya. Keara bersiap dengan kotak obat. gadis itu dengan telaten mengoleskan salep di luka Hyuk.
"Aku membuatkan kau sup sayang, jadi setelah ini makan lah. karena aku harus pulang". Keara berniat memberikan waktu sendiri untuk Hyuk. hari ini pasti terasa sangat berat untuknya. Keara berdiri mengambil tasnya dan bersiap meninggalkan kamar Hyuk. lelaki itu dengan cepat menahan tangan Keara. langkah Keara terhenti. Hyuk menyandarkan kepalanya di perut Keara.
ia sedang menangis. kekasihku sedang terluka hatinya. Keara.
Keara mengusap rambut Hyuk dengan halus. Hyuk merangkulkan lengannya pada pinggang Keara.
"Jangan pergi". Pintanya lirih.
***
Bram membuka jaketnya. ia memandang Arka dan Ariani yang tertidur pulas. Bram membersihkan diri dan berganti pakaian. ia merebahkan diri di samping anak dan istrinya. pikirannya mengingat Hyuk. ia tidak menduga tuan Ma adalah ayah Hyuk yang sebenarnya. esok Bram berniat bertanya pada bibi Nam. setahunya bibi Nam lama bersahabat dengan ibu Anyelir yaitu ibu Hyuk. pasti bibi Nam tahu banyak soal mereka.
Pagi sekali Bram terbangun sebelum Ariani dan Arka juga bangun dari tidur mereka. Bram menuruni anak tangga ia berjalan menuju dapur. beberapa pelayan tertegun melihat tuan mereka pagi-pagi berada di dapur. semua berdiri kaku dan memberi salam pada Bram.
"Dimana Bibi Nam?".
"Ada apa tuan muda?". Bibi Nam muncul dengan tongkatnya. akhir-akhir ini ia harus berjalan dengan tongkat karena sakit saraf kakinya kambuh.
"Aku mau bicara Bi".
Bibi Nam melangkah pelan mengikuti Bram menuju ruang kerja Bram.
"Duduklah Bi". Bibi Nam duduk di kursi depan meja kerja Bram.
"Ada apa tuan muda sepertinya ada hal yang sangat penting sampai tuan mencari ku ke dapur?".
"Ini soal Hyuk".
__ADS_1
Bibi Nam terlihat sedikit terkejut. ia lalu tenang dan mendengarkan Bram bicara.
"Kau sudah lama berteman dengan ibu Hyuk?".
"Iya benar dari semenjak Hyuk belum terlahir".
"Berarti bibi tahu siapa ayah Hyuk sebenarnya?".
Bibi Nam terkejut, kali ini wajah tuanya terlihat sedikit kaku. Bram menatapnya lekat menunggu jawaban.
"Kenapa tuan muda menanyakan itu?".
"Ku mohon jawab saja bi".
Bibi Nam terdiam ia mengumpulkan ingatannya tentang seseorang.
"Ayah dan ibu Hyuk berpisah sewaktu Anyelir mengandung Hyuk, ayahnya memulai usaha baru dan pergi jauh ke negara lain".
"Lalu Nyonya besar, nenek mu tuan. memberikan pertolongan dan menyuruh Anyelir untuk tinggal disini menjadi kepala pelayan bersama ku".
"Apa ayah Hyuk tak pernah kembali?".
"Tidak, sampai Anyelir meninggal ia tidak muncul".
"Bibi tahu siapa namanya?".
"Dia bermarga Ma, aku tidak tahu nama aslinya".
Bram terdiam. jadi benar tuan Ma adalah ayah kandung Hyuk.
__ADS_1
Ariani di belakang pintu ruang kerja Bram ikut tertegun mendengar pembicaraan Bram dan bibi Nam. ia tidak sengaja menguping tadinya ia ingin mencari Bram karena pagi-pagi sekali sudah menghilang. Ariani tahu sedikit tentang tuan Ma dari cerita Bram. ia tahu suaminya bermasalah dengan gangster itu.
***
Hyuk membuka matanya. kepalanya sedikit pusing. ia menoleh ke sampingnya. Keara masih tertidur di lengan Hyuk. gadis itu mendengarkan tangis Hyuk semalam sampai Hyuk tertidur pulas. Hyuk menarik pelan lengannya dan turun dari atas kasur. ia berjalan mengambil air minum. di dapur Santi siap memasak sarapan. Santi tidak pulang semalam, ia menginap di rumah Hyuk karena khawatir dengan tuannya.
"Kau ada disini San?".
"Tuan sudah bangun?, akan kubuatkan teh".
Santi tak memjawab pertanyaan Hyuk. ia memasak air di ketel dan menyiapkan dua cangkir teh untuk Hyuk dan Keara.
Keara terbangun dari tidurnya. ia mencari sosok Hyuk yang sudah tak berada di kamar. Keara merapikan rambutnya dan bergegas turun ke lantai bawah. ia menghampiri Santi di dapur.
"Nona kau mencari tuan?".
"Benar dimana dia San?".
"Sepertinya tadi di halaman belakang".
Keara bergegas menuju halaman belakang sembari membawa dua cangkir teh hangat. Hyuk duduk di sebuah kursi panjang di taman itu. pandangannya menerawang jauh. Keara menyerahkan secangkir teh pada Hyuk dan ikut duduk di sebelahnya.
"Kau hari ini masuk kerja bukan?". Hyuk memulai bicara. dari semalam ia hanya terdiam.
"Benar".
"Pulanglah, aku baik-baik saja".
Keara memandang wajah Hyuk dari samping. lalu mengangguk. wajah tampan itu terlihat murung. meski ia pura-pura angkuh seperti biasanya. Keara bisa melihat sorot mata Hyuk yang terlihat tidak tenang.
__ADS_1
"Berhenti memandang ku dan pulanglah". Suara Hyuk terdengar datar dan dingin. Keara dengan cepat bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Hyuk di taman.