
Hari ini selepas Andi selesai operasi. Dia langsung pulang menuju rumahnya. Namun sesampai di rumahnya, ia melihat ada Edwin di sana.
"Assalamualaikum bro, tumben ke sini?" tanya Andi karena memang sobatnya itu gak ngasih tau dulu, kalau dirinya mau ke rumahnya.
"Waalaikumsalam. Iya tadi habis ngajar pulang ke rumah sebentar. Tapi di rumah sepi banget, terus jalan-jalan. Dan berhubung aku ingat kamu, jadi aku ke sini." jawab Edwin jujur.
"Oh, sudah lama di sini?" tanya Andi.
"Gak, baru aja sekitar 10 menitan." jawab Edwin.
"Iya udah, ayo masuk." ujar Andi ramah
Andi pun segera membuka pintu rumahnya, dan mempersilahkan Edwin untuk masuk. Di sini Andi maupun Edwin hidup sendiri sendiri karena mereka sebenarnya dari perantauan. Lebih tepatnya dari Situbondo.
Mereka sejak lulus SMA, berdua mencoba untuk kuliah di Jakarta dan mencari kerja di Jakarta juga. Edwin dan Andi sudah bersahabat sejak kecil bahkan bisa di bilang mereka masih tetanggaan karena mereka tinggal di dusun yang sama.
Hanya saja hidup Edwin tidak sekaya Andi. Edwin berasal dari keluarga menengah ke bawah sedangkan Andi, dari keluarga menengah ke atas Namun setiap Edwin mempunyai masalah keuangan, Andi akan membantunya dengan uang tabungannya. Karena Andi sudah menganggap Edwin seperti saudara sendiri.
Edwin juga sebenarnya sama ingin jadi dokter, tapi karena biaya kuliahnya yang tidak sedikit akhirnya Edwin memilih untuk jadi guru saja. Andi sebenarnya mau membantu Edwin untuk bisa menggapai cita-citanya jadi dokter tapi apalah daya, Edwin gak mau karena biayanya terlalu mahal dan Edwin gak mau terus menerus merepotkan sahabatnya itu.
"Bentar ya, aku mau mandi dulu soalnya gerah banget." ucap Andi sambil menaruh tas, membuka Jas putihnya dan menaruhnya di tempat biasanya. Setelah itu ia masuk kamar dan segera membuka baju, lalu ia pun segera mandi. Kebetulan kamar tidurnya ada kamar mandinya sehingga Andi gak perlu keluar kamar untuk mandi.
Sebenarnya Andi ingin mengajak Edwin untuk tinggal bersama dirinya karena kebetulan masih ada satu kamar lagi yang kosong tapi Edwin gak mau, ia memilih untuk tinggal di kosannya sendiri walaupun gak luas, tapi gak sempit sempit banget. Cuma ya gak ada dapur, ruang tamunya. Adanya cuma kamar tidur sama kamar mandi doang.
__ADS_1
Beda dengan Kosannya Andi, tapi sebenarnya lebih di bilang kontrakan sih, bukan kos kosan lagi karena Andi bayar satu tahun sebesar 15 jt. Dan itupun yang ia tempati seperti layaknya rumah. Ada kamar tidur dua, kamar mandi dua, dapur satu, ruang tamu dan parkiran mobil.
Setelah selesai mandi, Andi memakai baju koko dan sarung karena ini sudah sore dan bentar lagi Adzan Maghrib. Tasi Andi ada operasi menggantikan posisi Alexa sampai jam 4.20 (Jam 4 lewat 20 menit)
Dan nyampek kontrakannya jam 4.50 (Jam 4 lewat 50 menit) tapi karena dirinya masih mandi jadi sekarang jamnya menunjukkan pukul lima lewat 15 menit.
Untunglah tadi sebelum Andi melakukan operasi, Andi sempat sholat Ashar terlebih dahulu, takut jika nantinya waktunya gak nutut. Lagian sholat di Awal kan jauh lebih baik.
Setelah berpakaian rapi dan memakai kopiah. Andi pun duduk santai di kursi di ruang tamu.
"Nanti malam habis sholat Isya', jalan-jalan yuk Ed. Kita sudah lama gak jalan-jalan di malam hari." Ajak Andi.
"Aku gak bisa soalnya aku harus ngajar les di tempat Alexa." jawab Edwin
"Di tempat Alexa?" tanya Andi sekali lagi, takut jika pendengaran nya salah.
"Oh gitu, boleh nanti aku ikut kamu ke tempat les anak didik kamu?" tanya Andi.
"Buat apa?" tanya Edwin tak mengerti.
"Aku bosen di rumah sendirian, jadi boleh gak aku ikut kamu?" tanya Andi.
"Boleh." jawab Edwin.
__ADS_1
"Iya sudah, kamu gak usah pulang. Sholat Maghrib dan Sholat Isya' di masjid dekat rumahku aja. Biar nanti habis sholat Isya' bisa langsung berangkat." jawab Andi.
"Baiklah." ujar Edwin tersenyum. "Kenapa Andi lebih semangat dari aku, padahal kan yang mau ngajar les itu aku." Batin Edwin.
"Oh ya, aku lapar nih. Belum makan. Terakhir makan sih tadi siang Sekarang aku mau buat nasi goreng dulu. Kebetulan tadi pagi aku masak nasi aja, lauk pauknya beli di luar. Kamu mau ikut aku ke dapur? Buat nasi goreng, nanti kita makan bareng." ujar Andi.
"Boleh." jawab Edwin yang kebetulan juga sedikit lapar.
Akhirnya mereka berdua pun pergi ke dapur untuk membuat nasi goreng bersama.
"Kita mau buat nasi goreng apa?" tanya Edwin setelah mereka ada di dapur.
"Gimana kalau bikin Nasi Goreng Gulung Telur Dadar?" tanya Andi.
"Boleh, kayaknya enak tuh." ujar Edwin
Dan setelah itu mereka pun membuat Nasi Goreng Gulung Telur Dadar bersama.
Setelah selesai bikin nasi goreng, mereka berdua pun menyiapkan gelas dan mengisinya dengan air galon.
Setelah selesai mereka makan bersama.
Mereka makan sambil ngobrol dan nonton tivi.
__ADS_1
Selesai makan, mereka berdua bekerja sama cuci piring, wajan dan yang lainnya, yang kotor kotor. Setelah selesai, mereka membersihkan dapur hingga seperti semula.
Setelah selesai semua, mereka segera ambill Wudhu untuk sholat di masjid terdekat. Mereka berdua memilih untuk ambil wudhu di rumah, dari pada di masjid.