
Malam harinya, Axel dan Alexa duduk santai di ruang tamu sambil nunggu Edwin datang sedangkan Ayunda memilih nunggu di kamarnya belajar sendiri sambil nunggu guru lesnya datang.
"Gimana keadaan Afifah kak?" tanya Alexa.
"Alhamdulillah, tadi waktu kakak pulang, dia sudah makan bubur dan juga sudah minum obat." jawab Axel.
"Syukurl, Alhamdulillah. Semoga setelah ini keadaan Afifah semakin membaik." jawab Alexa.
"Aamiin." jawab Axel.
Dan gak lama kemudian, Edwin datang.
"Assalamualaikum." ucap Edwin.
"Waalaikumsalam." ujar Axel
"Masuk mas." ucap Alexa.
"Maaf saya telat." ujar Edwin saat ia duduk di sofa.
"Iya gak papa, santai aja." jawab Alexa.
"Kedatangan saya kesini bukan untuk mengajar." ujar Edwin.
"Lalu?" tanya Axel datar.
"Saya kesini, cuma mau bilang. Saya mau berhenti mengajar les."
"Kenapa?" tanya Axel.
__ADS_1
"Saya harus pulang kampung." jawab Edwin.
"Kenapa pulang kampung buru-buru?" tanya Alexa
"Ibu sakit. Jadi saya ingin menjaga beliau." jawab Edwin. Memang benar, ibunya sakit. Tapi sebenarnya, alasan utamannya adalah karena ingin menghindari Alexa. Agar Alexa bisa membuka hati untuk sahabatnya, Andi.
"Oh gitu, iya sudah gak papa. Ini gaji kamu selama beberapa hari mengajar Ayunda." ujar Axel mengambil dompet di saku jaketnya dan mengambil uang sesuai kesepakatan perjamnya berapa. Axel gak perlu menghitungnya karena Axel tau kapan Edwin datang dan pulang jam berapa. Lalu berapa kali libur.
Edwin mengambil uang itu, karena memang uang itu adalah hak nya.
Setelah selesai, Edwin minta maaf dan setelah itu pamit pulang karena gak ingin terlalu lama ada di rumah itu, Edwin gak mau menatap wajah Alexa karena itu membuat hatinya sangat sakit.
Setelah kepergian Edwin, Alexa langsung lari ke kamarnya. Entah kenapa hatinya sakit saat tau kalau Edwin akan pulang ke kampung halamannya.
Axel yang faham isi hati saudara kembarnya langsung menghampiri Alexa ke kamarnya.
"Al, kamu gak boleh sedih. Kamu gak boleh nangis. Aku faham bagaimana perasaanmu sekarang. Aku sangat-sangat mengerti. Tapi ini sudah menjadi keputusan Edwin, jadi kamu harus menerimanya dengan lapang dada." ujar Axel menasehati.
"Sudahlah jangan di fikir, mungkin itu hanya perasaanmu saja. Lagian jika memang di jodoh kamu dia pasti akan kembali."
Alexa terus saja menangis, entah kenapa ia merasa Edwin sedang menyembunyikan sesuatu tapi Alexa gak tau apa yang sedang di sembunyikannya.
"Aku pamit keluar dulu ya, kamu baik-baik di rumah." ucap Axel, Alexa tak menjawabnya. Ia terus saja menangis..
Axel sebenarnya gak tega, tapi ia juga punya urusan di luar dan gak bisa di tinggalkan.
Setelah kepergian Axel, Alexa terus saja menangis hingga 15 menit kemudian, Ayunda datang.
"Kak Alexa, kenapa menangis?" tanya Ayunda kaget karena sebelumnya, ia gak pernah melihat kakaknya itu menangis.
__ADS_1
"Gak papa sayang." jawab Alexa sambil menghapus air matanya, dan pura pura tegar.
"Beneran gak papa?" tanya Ayunda.
"Iya gak papa." jawab Alexa tersenyum.
"Oh ya kak, aku mau nanya. Kenapa Pak Edwin belum datang ya?" tanya Ayunda bingung.
"Pak Edwin sebenarnya tadi sudah datang."
"Terus kenapa aku gak di panggil?"
"Pak Edwin datang bukan untuk ngajar kamu melainkan dia pamit sama kakak."
"Pamit?! ... Emang dia kenapa dan mau kemana?" tanya Ayunda penasaran.
"Dia berhenti ngajar kamu les. Karena Pak Edwin mau pulang kampung."
"Kenapa Pak Edwin pulang kampung?"
"Karena ibunya sakit, jadi Pak Edwin harus ada di dekat ibunya. Untuk itulah pak Edwin harus pulang ke kampung halamannya."
"Apakah karena itu kakak nangis?" tanya Ayunda.
"Bukan dek. Sudahlah kamu gak akan ngerti sama masalah orang dewasa, lebih baik kamu belajar aja sana. Besok ada ujiankan?" tanya Alexa.
"Iya kak ... Iya udah aku belajar dulu ya."
"Iya, sana."
__ADS_1
Setelah itu, Ayunda pergi dari kamar Alexa dan Alexa juga mengunci pintu kamarnya agar tak ada lagi yang mengganggu dirinya. Karena jujur, Alexa butuh waktu tersendiri untuk malam ini.