
Aksa pergi ke Bank terdekat dengan berjalan kaki, sesampai di Bank itu ia menarik semua uangnya lalu ia membuat ATM sendiri dan memasukkan sebagian uangnya ke tabungannya. Sedangkan sebagiannya lagi akan ia gunakan untuk bayar rumah sakit dan yang lainnya.
Setelah dari bank, ia pergi ke toko untuk membeli pulsa dan setelah mengisi pulsa sebesar 100 ribu. Ia pun kembali ke rumah sakit.
Sesampai di ruangan di mana Inez di rawat,, Aksa melihat Inez lagi telvon telvonan dengan seseorang dan ia terlihat begitu bahagia.
"Siapa yang kamu telvon Nez?" tanya Aksa
"Bukan siapa siapa." Jawab Inez sambil mematikan hp nya.
"Aku baru tau kamu punya Hp dua." Ujar Aksa.
"Aku baru beli kemaren." Jawab Inez.
"Oh. Ini HP mu." Ujar Aksa sambil memberikan Hp yang telah ia pinjam.
"Udah di isi belum pulsanya?" tanya Inez sinis.
"Iya udah." Jawab Aksa berusaha untuk sabar.
"Lain kali beli Hp sendiri biar gak minjem mulu." Ujar Inez.
__ADS_1
"Iya nanti aku akan beli setelah mengantarkan kamu pulang." Ucap Aksa.
"Iya udah cepetan sana urus, aku sudah gak betah di sini." Ujar Inez.
"Oke, bentar ya. Sabar. Jangan marah marah mulu." Ucap Aksa lalu ia pun pergi ke ruangan Administrasi.
Setelah membayar semua tagihan rumah sakit, ia pun pergi ke ruangan Inez lagi.
"Ayo aku gendong, kamu kan belum sehat total." Ujar Aksa
"Gak perlu, kakiku gak pincang. Jadi jangan sok perhatian deh." Ucap Inez sinis.
"Kamu itu kenapa sih Nez, kog berubah kayak gini sejak tadi pagi?" Ujar Aksa.
"Kesel kenapa?" tanya Aksa.
"Sekarang kamu sudah kere. Lalu bagaimana kamu bisa memberikan aku uang lagi." Jawab Inez.
"Ya Allah jadi masalahnya itu. Kamu tenang aja, aku akan berusaha untuk membangun usahaku sendiri tanpa bantuan papa." Ujar Aksa.
"Aku tak yakin kau mampu membangunkannya. Jikapun ia, itu pasti membutuhkan waktu yang sangat lama. Sedangkan aku tak mau hidup dalam kesusahan." Ucap Inez.
"Terus maumu apa sekarang?" tanya Aksa.
__ADS_1
"Aku ingin kita putus." Jawab Inez.
"Kamu gila ya, dengan gampangnya kamu bilang putus setelah apa yang kita lalui selama hampir tujuh tahun ini. Aku sampai ninggaliin istriku dan membentak orang tuakku. Dan sekarang kamu mau ninggali aku setelah apa yang aku lakukan untukmu?" tanya Aksa geram.
"Aku tak memintamu untuk membentak orang tuamu. Kamunya aja yang bodoh kenapa kamu melawan mereka padahal mereka itu sumber keuangan kita." Ujar Inez.
"Jadi benar kata orang tuaku dan sahabatku. Kamu tak pernah mencintai aku, kamu hanya mencintai hartaku." Ucap Aksa.
"Wanita mana yang mau berhubungan sama orang kere. Cewek mana yang bisa hidup tanpa uang. Kamu itu mikir jangan kaya orang kuno. Ini sudah jaman modern. Semuanya butuh uang bukan cuma cinta." Ujar Inez yang mengiriz hati Aksa.
"Baiklah jika itu maumu, kita putus. Tapi aku harap setelah ini jangan pernah kau temui aku lagi, apapun yang terjadi denganmu jangan pernah kau meminta bantuanku. Inget Inez, kau telah melukai hati dan perasaanku. Jika memang kau punya rasa malu dan harga diri, jangan pernah kau tampakkan wajahmu di hadapanku lagi." Ucap Aksa.
"Siapa juga yang sudi menampakkan wajahku di depan orang sepertimu." Ujar Inez.
"Baiklah, aku akan pergi. Assalamu'alaikum." Ucap Aksa. Lalu ia pun pergi ke luar dengan tetesan air mata yang mengalir dengan derasnya. Ia tak menyangka Inez akan berubah seperti ini. Padahal baru tadi pagi, ia kehilangan semuanya dan hanya dalam hitungan jam, Inez langsung berubah total. Ia yang dulu baik dan penuh perhatian serta kelembutan kini sudah menampakkan wujud aslinya. Aksa benar benar bodoh tapi paling tidak ia bersyukur dengan adanya seperti ini, ia bisa tenang meninggalkan Inez tanpa merasa bersalah dan hidup bersama dengan istrinya. Memulai hidup baru dan melupakan kisah lama yang menyakitkan.
__ADS_1